
Seorang psikolog dari Jerman, Spranger
mengatakan ada dua jenis manusia yaitu: pertama, manusia religius dan manusia
politik. Manusia religius. Orang ini memperoleh kebahagiaan dalam mendekati Tuhan,
dalam berpadu dengan kosmos, dalam pengalaman mistikal. Ia tidak lagi
menghiraukan ilmu, kekayaan, keindahan, kasih-sayang, atau kekuasaan. Ia
memandang semuanya sebagai hal-hal yang duniawi.
Manusia religius dalam kontek kehidupan
sosial mempunyai beragam jenis. Ia bisa juga hanya memfokuskan diri memperbaiki
kualitas diri baik dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dalam kehidupan
sehari-hari, ia sangat disiplin sekali melaksanakan perintah-perintah Allah
yang wajib dan yang sunnah-sunnah. Ia berusaha semaksimal mungkin melaksanakan
perintah-perintah-Nya secara totalitas. Kecintaan terhadap-Nya telah mewakafkan
hidupnya semata-mata mencari Ridha Allah SWT.
Manusia religius ada juga diwujudkan dalam
kehidupan sosial. Ia bisa terlibat dalam organisasi agama, gerakan-gerakan
keagamaan atau kegiatan sosial kemasyarakatan yang mempunyai tujuan mendidik masyarakat agar status khalifah fi
al-ardhi benar-benar memberi dampak positif dalam upaya meningkatkan
keimanan, ketakwaan dan amal sholeh semata-mata mengharap ridha-Nya.
Orang yang sudah pada maqam manusia religius selalu memandang segala sesuatu dengan pandangan cinta. Ia benar-benar ingin belajar tentang keindahan sifat-sifat Alloh dan Rasul-Nya yang selalu menebarkan kasih-sayang. Maka kehadirannya selalu saja mengajak -kepada siapapun -untuk selalu membuat bangunan peradaban masyarakat dengan ketulusan saling mencintai atau saling menyayangi-diistilahkan oleh nabi-seperti satu bangunan-atau seperti satu tubuh. Ketika bagian tubuh sakit, maka sakit tubuh lainnya.

Kedua, manusia politis. Orang ini tidak
selalu bekerja sebagai politisi atau penguasa. Siapa saja yang terutama sekali
tertarik pada kekuasaan dan pengaruh adalah manusia politis. Ia memperoleh
kenikmatan dalam mengalahkan saingan atau kontestan lain. Untuk kekuasaan, ia
bisa saja mengorbankan persahabatan,
kekayaan, atau keindahan.
Manusia politis mempunyai kamus tersendiri.
Ia lahir tidak selalu dari rahim jurusan sospol dengan beragam teori dan strategi
kekuasaan dari tradisional sampai modern di bangku kuliah. Manusia politis
mempunyai lompatan pemikiran yang melebihi teori-teori yang ada dalam buku.
Bahkan untuk mencapai suatu kekuasaan, kadang tidak perlu belajar ilmu-ilmu
politik di bangku kuliah. Pengalaman hidup dan peraulan panjang dengan
masyarakat telah melahirkan indera keenam tentang bagaimana untuk mendapatkan
kekuasaan. Ilmu politik adalah ilmu praktek mempengaruhi seseorang.
Standarisasi terletak kepada ketajaman intuisi membaca denyut nadi persoalan
masyarakat. Orang-orang yang mempunyai kemampuan seperti ini yang akan menjadi
penguasa.
Sejak berdiri negara Indonesia hingga saat
sekarang ini tidak ada presiden lulusan jurusan politik. Presiden AS dari dulu
hingga kini juga bukan lahir dari lulusan sosial politik. Anda juga bisa
membaca biografi gubernur, walikota/bupati atau para legislator yang
benar-benar lulusan dari sosial politik. Rasa-rasanya sangat sedikit. Kadang kita
ingin tertawa ada eksekutif dan legislatif lulusan kedokteran, apoteker,
dakwah, tarbiyah dan paket C. Ini realita. Manusia politis tidak selalu
berbanding lurus dengan latarbelakang pendidikannya. Sebab manusia politis sebenarnya bagian dari naluri manusia sebagai insan madaniyatu bitab'i.
Dari dua jenis manusia tersebut, penulis bisa memahami bahwa manusia religius mempunyai orientasi tujuan hidup sebagai hamba Allah yang mulia. Sedangkan manusia politis mempunyai orientasi tujuan hidup untuk mendapatkan kekuasaan sebagai ukuran kemuliaannya.

Dalam perkembangannya, manusia religius
tidak serta-merta sepi dari persoalan politik. Ini yang mungkin sering disebut
religius politis yaitu strategi untuk mencapai kekuasaan-baik kekuasaan maupun
ormas-dengan pendekatan religius baik berupa nilai-nilai agama, simbol-simbol
agama dalam upaya mempengaruhi public. Kekuasaan bisa saja dalam pengertian negara
dan pemerintahan atau bisa saja dalam pengertian ormas-ormas seperti ormas
agama, buruh dan lain-lain. Semua bisa menjadi jalan untuk meraih kekuasaan
dengan mobilisasi atau manipulasi data dan sebagainya. Jadi manusia religius
politis bisa saja dalam pengertian tujuan positif bisa jadi bergeser pada
tujuan negatif.
Hal yang sama juga manusia politis bisa
berubah menjadi politis religius, yaitu suatu strategi kekuasaan menggunakan
kedok agama. Semua yang berbau agama, mulai dari simbol, ayat-ayat suci dan
tempat-tempat ibadah dikapitalisasi dalam rangka untuk mencapai kepentingan
politiknya.
Kelompok manusia politis religius ini yang
sering tidak konsisten antara artibut keagamaan dengan perilaku sehari-hari. Atribut
keagamaan sebatas media untuk manipulasi tujuan-tujuan utama dalam rangka
mencapai kekuasaan. Ketika sudah tercapai, maka atribut tersebut akan
dicampakan begitu saja. Simbol-simbol agama sebatas asesoris tanpa ada kekuatan
ruh nilai-nilai kebaikan yang diperjuangkan.
Kini saya melihat-mungkin perasaan ku saja-bahwa partai
politik atau ormas sudah kehilangan arah ideologi nya. Orang-orang yang ingin berkuasa
sudah tidak penting lagi memahami seluk beluk aturan main partai atau ormas. Seolah-olah
aturan main bisa diselesaikan di Kedai Kopi. Orang-orang
sudah tidak lagi memikirkan nilai-nilai ideologi atau lebih parah lagi tidak lagi menghidupkan ideologi politik atau organisasi, tapi lebih memilih
hidup pada organisasi. Ini yang sering membuat manusia hidup di zona nyaman. Oportunis
dan pragmatis. Mencari jalan pintas untuk meraih kekuasaan tanpa perlu memahami secara mendetail arah tujuan dari ideologi nya.
Tentu saja selalu saja ada manusia atau
orang yang konsisten pada nilai-nilai religius atau religius politis. Manusia sejenis ini hadir di
sekitar kita dan kita sering tidak menyadarinya. Wajar saja, sebab orang-orang seperti ini kadang bekerja
dalam kesunyian. Kata orang dulu,”sepi ing pamrih, rame ing gawe”.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   119
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   279
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   259
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   229
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   252
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13818
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3863
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3518
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3266