Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Manusia Religius dan Manusia Politik



Senin , 08 Desember 2025



Telah dibaca :  461

Seorang psikolog dari Jerman, Spranger mengatakan ada dua jenis manusia yaitu: pertama, manusia religius dan manusia politik. Manusia religius. Orang ini memperoleh kebahagiaan dalam mendekati Tuhan, dalam berpadu dengan kosmos, dalam pengalaman mistikal. Ia tidak lagi menghiraukan ilmu, kekayaan, keindahan, kasih-sayang, atau kekuasaan. Ia memandang semuanya sebagai hal-hal yang duniawi.

Manusia religius dalam kontek kehidupan sosial mempunyai beragam jenis. Ia bisa juga hanya memfokuskan diri memperbaiki kualitas diri baik dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, ia sangat disiplin sekali melaksanakan perintah-perintah Allah yang wajib dan yang sunnah-sunnah. Ia berusaha semaksimal mungkin melaksanakan perintah-perintah-Nya secara totalitas. Kecintaan terhadap-Nya telah mewakafkan hidupnya semata-mata mencari Ridha Allah SWT.

Manusia religius ada juga diwujudkan dalam kehidupan sosial. Ia bisa terlibat dalam organisasi agama, gerakan-gerakan keagamaan atau kegiatan sosial kemasyarakatan yang mempunyai tujuan mendidik masyarakat agar status khalifah fi al-ardhi benar-benar memberi dampak positif dalam upaya meningkatkan keimanan, ketakwaan dan amal sholeh semata-mata mengharap ridha-Nya.

Orang yang sudah pada maqam manusia religius selalu memandang segala sesuatu dengan pandangan cinta. Ia benar-benar ingin belajar tentang keindahan sifat-sifat Alloh dan Rasul-Nya yang selalu menebarkan kasih-sayang. Maka kehadirannya selalu saja mengajak -kepada siapapun -untuk selalu membuat bangunan peradaban masyarakat dengan ketulusan saling mencintai atau saling menyayangi-diistilahkan oleh nabi-seperti satu bangunan-atau seperti satu tubuh. Ketika bagian tubuh sakit, maka sakit tubuh lainnya.


Kedua, manusia politis. Orang ini tidak selalu bekerja sebagai politisi atau penguasa. Siapa saja yang terutama sekali tertarik pada kekuasaan dan pengaruh adalah manusia politis. Ia memperoleh kenikmatan dalam mengalahkan saingan atau kontestan lain. Untuk kekuasaan, ia bisa saja mengorbankan persahabatan,  kekayaan, atau keindahan.

Manusia politis mempunyai kamus tersendiri. Ia lahir tidak selalu dari rahim jurusan sospol dengan beragam teori dan strategi kekuasaan dari tradisional sampai modern di bangku kuliah. Manusia politis mempunyai lompatan pemikiran yang melebihi teori-teori yang ada dalam buku. Bahkan untuk mencapai suatu kekuasaan, kadang tidak perlu belajar ilmu-ilmu politik di bangku kuliah. Pengalaman hidup dan peraulan panjang dengan masyarakat telah melahirkan indera keenam tentang bagaimana untuk mendapatkan kekuasaan. Ilmu politik adalah ilmu praktek mempengaruhi seseorang. Standarisasi terletak kepada ketajaman intuisi membaca denyut nadi persoalan masyarakat. Orang-orang yang mempunyai kemampuan seperti ini yang akan menjadi penguasa.

Sejak berdiri negara Indonesia hingga saat sekarang ini tidak ada presiden lulusan jurusan politik. Presiden AS dari dulu hingga kini juga bukan lahir dari lulusan sosial politik. Anda juga bisa membaca biografi gubernur, walikota/bupati atau para legislator yang benar-benar lulusan dari sosial politik. Rasa-rasanya sangat sedikit. Kadang kita ingin tertawa ada eksekutif dan legislatif lulusan kedokteran, apoteker, dakwah, tarbiyah dan paket C. Ini realita. Manusia politis tidak selalu berbanding lurus dengan latarbelakang pendidikannya. Sebab manusia politis sebenarnya bagian dari naluri manusia sebagai insan madaniyatu bitab'i.

Dari dua jenis manusia tersebut, penulis bisa memahami bahwa manusia religius mempunyai orientasi tujuan hidup sebagai hamba Allah yang mulia. Sedangkan manusia politis mempunyai orientasi tujuan hidup untuk mendapatkan kekuasaan sebagai ukuran kemuliaannya.


Dalam perkembangannya, manusia religius tidak serta-merta sepi dari persoalan politik. Ini yang mungkin sering disebut religius politis yaitu strategi untuk mencapai kekuasaan-baik kekuasaan maupun ormas-dengan pendekatan religius baik berupa nilai-nilai agama, simbol-simbol agama dalam upaya mempengaruhi public. Kekuasaan bisa saja dalam pengertian negara dan pemerintahan atau bisa saja dalam pengertian ormas-ormas seperti ormas agama, buruh dan lain-lain. Semua bisa menjadi jalan untuk meraih kekuasaan dengan mobilisasi atau manipulasi data dan sebagainya. Jadi manusia religius politis bisa saja dalam pengertian tujuan positif bisa jadi bergeser pada tujuan negatif.

Hal yang sama juga manusia politis bisa berubah menjadi politis religius, yaitu suatu strategi kekuasaan menggunakan kedok agama. Semua yang berbau agama, mulai dari simbol, ayat-ayat suci dan tempat-tempat ibadah dikapitalisasi dalam rangka untuk mencapai kepentingan politiknya.

Kelompok manusia politis religius ini yang sering tidak konsisten antara artibut keagamaan dengan perilaku sehari-hari. Atribut keagamaan sebatas media untuk manipulasi tujuan-tujuan utama dalam rangka mencapai kekuasaan. Ketika sudah tercapai, maka atribut tersebut akan dicampakan begitu saja. Simbol-simbol agama sebatas asesoris tanpa ada kekuatan ruh nilai-nilai kebaikan yang diperjuangkan.

Kini saya melihat-mungkin perasaan ku saja-bahwa partai politik atau ormas sudah kehilangan arah ideologi nya. Orang-orang yang ingin berkuasa sudah tidak penting lagi memahami seluk beluk aturan main partai atau ormas. Seolah-olah aturan main bisa diselesaikan di Kedai Kopi. Orang-orang sudah tidak lagi memikirkan nilai-nilai ideologi atau lebih parah lagi tidak lagi menghidupkan ideologi  politik atau organisasi, tapi lebih memilih hidup pada organisasi. Ini yang sering membuat manusia hidup di zona nyaman. Oportunis dan pragmatis. Mencari jalan pintas untuk meraih kekuasaan tanpa perlu memahami secara mendetail arah tujuan dari ideologi nya.

Tentu saja selalu saja ada manusia atau orang yang konsisten pada nilai-nilai religius atau religius politis. Manusia sejenis ini hadir di sekitar kita dan kita sering tidak menyadarinya. Wajar saja,  sebab orang-orang seperti ini kadang bekerja dalam kesunyian. Kata orang dulu,”sepi ing pamrih, rame ing gawe”.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   119

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   279

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   259

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   229

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   252

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13818


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3266