Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Melihat Konflik dari Sudut Pandang Hikmah



Rabu , 26 November 2025



Telah dibaca :  391

Perbedaan pandangan bagian dari sunnatullah yang tidak bisa dihindari. Sejak dulu manusia selalu mengalami nya. Ada perbedaan pandangan karena persoalan agama, ekonomi, politik, pasangan hidup dan masih banyak lagi. Perbedaan-perbedaan tersebut menjadi sumber konflik berkepanjangan.

Bagi sebagian orang melihat kejadian-kejadian tersebut di atas akan mengernyitkan dahi sambil berkata: “Kok bisa berkelahi, padahal satu agama, satu organisasi”.

Perkiraan komentar-komentar seperti di atas memungkinkan muncul ketika melihat konflik terjadi di tengah-tengah masyarakat yang sangat heterogen dengan latarbelakang pemikiran dan kepentingan.

Jika dipersempit konflik pada unit terkecil yaitu keluarga. Kita yang sudah mempunyai pasangan hidup. Kita tidak bisa mengartikan keluarga sakinah mawadah wa rahmah dengan kondisi rumah tangga tanpa adanya konflik, tidak ada suara omprengan istri, tidak ada tangis, tidak ada piring terbang. Jika kita mempersempit makna harmonis dengan keluarga terlihat rukun, tidak ada suara keras, tenang dan terlihat hening, maka itu rumah tangga orang bisu atau kuburan. Hanya dua kelompok ini yang tempat nya terlihat hening. Justru karena hening dan terlihat damai malah bisa bisa menyimpan bom waktu yang sangat mengerikan.

Kita sering melihat secara sepintas keluarga yang tenang tanpa konflik. Sangat ideal. Ingin rasanya kita mempunyai kondisi keluarga demikian. Rasanya sungguh bahagia.

Pandangan tersebut tidak selalu demikian. Kadang terlihat tenang, sekali ada masalah langsung hancur. Sebab di antara kedua belah pihak-atau salah satunya- memahami keharmonisan terlalu dipersempit pada makna “tidak terjadi konflik”. Ketika ada badai persoalan tidak siap menerimanya. Ia mengumpulkan bibit-bibit konflik ditabung dalam hati setiap waktu. Lalu persoalan tersebut meledakan pada saat-saat tertentu dan kemudian menghancurkan kehidupan berkeping-keping.

Keluarga Nabi sering dijadikan role model keluarga sakinah mawadah wa rahmah bagi umat Islam. Tapi kisah seorang Aisyah menjatuhkan piring ke lantai sehingga pecah berkeping-keping gara-gara ia mendengar sang nabi sedang memuji salah satu istri nya, dan Aisyah cemburu tingkat tinggi.

Nabi tersenyum. Padahal saat itu ada para sahabat di dekatnya. Nabi berkata kepada para sahabat : “Lihat ibu mu lagi marah”. Para sahabat melihat peristiwa tersebut tersenyum. Meskipun ada juga sebagian sahabat  salah tingkah dan merasa tidak enak kepada nabi melihat peristiwa tersebut. tapi nabi enjoy saja. Melihat kejadian dengan cara positif. Semua kejadian selalu ada sisi kebaikan.

Kita mungkin tidak mampu membaca hal-hal seperti itu. Kita sering menghadapi kejadian secara dramatis dengan kalimat-kalimat penuh arogansi: dasar perempuan susah dididik, tidak tahu adab, tidak berbakti kepada suami!!”. Atau sebaliknya sikap istri terhadap suaminya.

Dalam kehidupan sosial politik, peristiwa yang membekas pada diri nabi antara lain saat terjadi Perang Uhud. Ada perbedaan pandangan dalam memahami instrukti nabi dalam pertempuran tersebut. Celakanya, perbedaan pandangan ini hampir saja nabi terbunuh oleh kaum kafir qurays. Bahkan perang ini sering dijadikan sebagai simbol perang yang tidak satu komando dan sebagian sahabat terlalu bernafsu untuk mengejar ghonimah. Akibatnya, korban di pihak umat islam sangat banyak. Nabi melihat kejadian ini sangat sedih. betapa mengerikan sekali dalam suatu pertempuran sering terjadi konflik of interest.

Apakah kesalahan ini menyebabkan nabi dan sahabat tercoreng wajah nya? tidak sama sekali. Saya justru melihat kejadian ini sebagai bagian watak asli manusia yang selalu menginginkan kebahagiaan dan kejayaan. Sebagian sahabat nabi sebagaimana manusia pada umum nya. Mereka ikut perang juga ingin menikmati hasil perang berupa ghonimah. Mereka menyadari bahwa istri dan anak-anak nya sedang menunggunya pulang dari medan pertempuran dan mengharapkan ada oleh-oleh berupa ghonimah tadi.

Allah dan Nabi telah mengajarkan tentang makna jihad semata-mata lillahita’ala-jihad fisabilillah. Lagi-lagi penerimaan makna fisabilillah mempunyai penterjemahan yang beragam di kalangan sahabat. Mereka melihat ajaran tersebut tidak sebatas sebagai “agama kematian”, tapi juga mengajarkan tentang makna “agama kehidupan” melalui jalan peperangan. Jika perang tanpa adanya peralatan senjata yang kuat, kuda yang hebat, pikiran yang cerdas, dan tubuh yang sehat, maka ruh agama sendiri menjadi hilang. Itu sebabnya, jihad fi sabilillah sebagai tolak ukur untuk menunjukan kekuatan yang komplementer yang tidak hanya melulu soal kepasrahan jiwa menghadap Sang Pencipta. Di perang tersebut ada pesan yang sangat penting tentang makna filosofis kehidupan yang unggul sebagai pembawa obor peradaban yang sering kita kenal dengan khalifah fi al-ardh.

Perbedaan pandangan yang terkadang yang menimbulkan ekses terlihat negatif seperti tidak saling sapa, saling curiga, memutuskan hubungan atau bahkan sampai pada konflik atau peperangan memang terdengar sesuatu yang sangat menyakitkan sekali dan terdengar sangat memilukan.

Peristiwa konflik yang sangat tragis dan sangat memilukan pada masa Ali bin Abi Thalib. Saya-mungkin juga anda-sangat sulit menerima fakta sejarah tentang konflik antara Aisyah vs Ali dan Muawiyah vs Ali. Konflik antar sahabat utama Nabi bukan sebatas konflik. Penyelesaiannya bukan dengan dialog, tapi dengan perang. Ribuan sahabat meninggal dunia pada dua perang tersebut-Perang Jamal dan Perang Sifin. Tragedi konflik dalam Islam sering dikenal dengan “fitnatul akbar”.

Ali bin Abi Thalib berusaha menggunakan pendekatan perdamaian-abritase. Usul dialog sebagai jalan mengahiri peperangan tujuan mulia. Namun siapa tahu maksud hati seseorang. Tujuan mulia Ali bin Abi Thalib ada yang memanfaatkan untuk kepentingan politik. Lawan politik benar-benar memahami situasi tersebut. Di internal kubu Ali, terjadi konflik yang berujung pada perpecahan dua golongan besar: Syi’ah dan Khawarij.

Pada peristiwa abritase tersebut, saya justru tidak melihat kondisi Ali bin Abi Thalib yang babak belur menghadapi dua kekuatan sekaligus: Muawiyah dan Khawarij. Saya justru melihat dari ekses negatif nya, yaitu muncul budaya saling menjatuhkan di internal umat Islam. Kaum Syiah menjelek-jelekan Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan yang dianggap telah merebut kursi Kekuasaan Ali. Kaum Khawarij menjelek-jelekan Utsman dan Ali sebagai tokoh yang dianggap perusak ajaran Islam. tradisi ini terus berlangsung hingga saat sekarang ini.

Pada masa itu ada kelompok muslim yang mencoba menghindari konflik dan menghindari kebiasaan saling menjelak-jelekan sesama muslim. kelompok ini merupakan kelompok muslim terbesar. Mereka ingin sekali pemerintahan islam agar segera islah. Mereka pun tidak ikut campur tangan dalam persoalan politik. Dikondisi gonjang-ganjing yang tidak menentu, kelompok mayoritas Islam saat itu justru sibuk melakukan kaderisasi Islam tanpa kenal lelah. Hingga kemudian Islam menyebar ke seluruh belahan dunia.

Wajar jika Islam yang tersebar ke berbagai benua seperti di Asia Tenggara, watak umat Islam sangat ramah dan tidak pemarah. Dakwah dengan sangat santun. Pola dakwah yang kemudian menjadi karakter umat Islam-khusus Indonesia-yang sangat sopan, egaliter dan senantiasa menjaga hidup penuh dengan kebersamaan. Itu yang saya rasakan sejak dulu hingga sekarang ini.

Mungkin ada sedikit berbeda. Saat ini saya melihat wajah sebagian umat Islam di Indonesia sudah ada sedikit bergeser dari pola Islam ramah sedikit bergeser menjadi Islam pemarah. Sudah tidak malu lagi melucuti baju saudara nya sendiri sehingga terlihat auratnya. Setelah itu ditertawakan dan dipertontonkan kepada orang lain. Sedih. Semoga ada saudara kita yang punya mata batin jernih untuk selalu memasangkan baju kepada sesama saudaranya agar tidak terlihat auratnya. Itulah hakikat persaudaraan sejati.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   176

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   228

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   303

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   149

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13818


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3266