
Ada dua tokoh yang menjadi idola saya; pertama Abdurrahman Wahid (Gus Dur), presiden RI ke-4. kedua Kumbakarna, tokoh pewayangan. Adik dasamuka. Dua-duanya mempunyai spirit nasionalisme terhadap negaranya. Mereka mempunyai prinsip sama,"siapapun yang mengganggu kedaulatan negara, harus dilawan!".
Sedang perbedaannya, pada persoalan tidur. Penulis akan bahas di artikel ini. Saya kira membangunkan Gus Dur dari tidur jauh lebih susah daripada membangunkan Kumbakarna.
Alkisah, saat terjadi perbedaan pandangan politik, Kumbakarna mengusulkan perlu adanya rekonsiliasi hubungan diplomatik antara Kerajaan Alengka dan Kerajaan Poncowati. Dia mengusulkan agar tahanan politik yang bernama Sinta Dewi (istri Ramawijaya) dilepaskan dan dikembalikan kepadanya. Menurutnya membangun perdamaian jauh lebih penting daripada menciptakan permusuhan.
Dasamuka tidak "nggubris" pendapat adiknya. Bagi nya, Sinta Dewi bukan sebatas tahanan politik biasa. kecantikanya membuat dirinya kehilangan akal sehat. Dia benar-benar klepek-klepek melihat kemolekanya. Laksana Srigala melihat Kijang minum di pinggir sungai. Terus menelan air ludah yang sudah kering ditenggorakan. Padahal, Dasamuka atau Rahwana telah mempunya ratusan istri dan ribuan selir. Namun semua terlihat hampa. semua dianggap sayur bening. Hanya Sinta Dewi yang mampu membuat hidup bersemangat. itu sebabnya, siapapun yang melawan keinginannya berarti menjadi musuhnya.
Kumbakarna "ngedumel", lalu "ngambek" dan keluar dari ruang rapat, langsung pergi ke kamar dan melakukan "tapa tidur".
Perang terus berkecamuk. Satu persatu pembesar kerajaan alengka gugur. mulai dari Sarpakena, Kumbakumba, Aswanikumba, Indrajit sampai Patih Prahasta pun telah mati ditangan para panglima pasukan Rama.
Dasamuka bingung. Hampir seluruh panglima habis. Tinggal Kumbakarna yang tersisa. Tapi sedang tapabrata. Dia tidak berani membangunkan. Sangat takut. Lebih baik melawan seribu musuh daripada membangunkannya yang
sedang “tapabrata tidur”. Jika sudah melakukan amalan ini, tidak ada
kekuatan apapun yang bisa membangunkan. Dipukul dengan Gada
Brahmastra tidak bisa bangun.
“Cabut bulu kaki nya” saran inteljen kepada
Dasamuka. Mendengar saran tersebut, Dasamuka ketakutan. Bingung dan panik. Tadinya tidak mau mencabut. Tapi
kondisi sudah sangat genting, akhirnya terpaksa mencabut bulu kaki sebelah kanan.
Sepontan dia pun terbangun. Marah-marah. Lalu memukul dan menghancurkan
seluruh di sekitarnya. Dasamuka ketakutan. Dia berusaha menenangkannya.
“Semua saudara mu mati, pasukan hancur,
negara dalam keadaan genting” kata Dasamuka mencoba menerangkan secara panjang
lebar.
Kumbakarna berdiri dari duduknya. Kedua tangan
mengepal. Mata melotot. Mata yang masih merah karena baru bangun tidur semakin
bertambah merah akibat kemarahan yang memuncak. Namun, dia masih bisa menahan
amarah. Dia menatap kakanya dengan tajam.
“Jadi, apa mau kakanda saat ini” tanya
kumbakarna.
“Adinda
harap ke medan perang dan melawan pasukan Rama” Jawab Dasamuka.
Kumbakarna diam sejenak.
“Dewi Sinta kembalikan ke Ramawijaya, maka
perang selesai” Saran Kumbakarna.
Namun Dasamuka sudah terlanjur jatuh cinta
kepada Dewi Sinta. Jangankan kerajaan dan harta kekayaan, jiwa nya pun akan
dipertaruhkan untuk mendapatkan Dewi Sinta.
“Sungguh tidak kusangka, ternyata saya
mempunyai adik yang tidak tergerak hatinya ketika negara nya sedang terancam. Sungguh
sangat menyesal. Adik macam apa kamu ini” kata Dasamuka mencoba membela diri
dan memainkan keahlian diplomasinya.
Kumbakarna yang masih dalam posisi berdiri
mengambil Gada. Di melangkah dan membelakangi kakaknya. Lalu dia berkata:
“Saya maju ke medan perang bukan karena
membela seorang Raja yang salah, walaupun itu kakaku sendiri. Saya bertempur karena membela
tanah air” jawab Kumbakarna. Dia pun maju ke medan pertempuran. Al-hasil, sang
patriot ini mati dalam perang membela tanah air.
Cerita di atas adalah sepenggal episode
peperangan antara Ramawijaya dan Dasamuka. Ramawijaya yang sering digambarkan
sebagai seorang kesatria adalah cermin dari situasi ruhaniah seseorang yang
sudah mencapai level pada nafsu mutmainah. Sedangkan Dasamuka cermin dari nafsu
sayyiah yang senantiasa mengajak kepada perbuatan yang buruk dan merusak.
Gus Dur mengartikan bahwa orang-orang
berjenis Dasamuka atau kelompok Kurawa bukan orang-orang yang tersesat. Tetapi mereka
adalah orang-orang yang sedang mencari kebenaran tapi belum mendapatkan jalan
yang tepat. Mereka juga seperti manusia pada umum nya yang mempunyai hak untuk
dirangkul dan diberi pemahaman tepat tentang hakikat sebuah kebenaran.
Penulis artikel ini tidak tahu persis pada
wilayah “apa” seseorang disebut sebagai seorang Pandawa, Rahwana atau Kurawa. Gus
Dur tidak menjelaskan. Pendapatnya bersifat umum. Mungkin makna tersebut bisa
diterima ketika pada tataran persoalan ubudiah dan muamalah dalam
kehidupan sehari-hari. Kita bisa mengajak seseorang untuk berbuat baik dan
memperbaiki kualitas hati dan menjaganya dari sifat-sifat tercela. Wilayah-wilayah
ini saya kira sudah dipraktekan oleh para ulama dan kyai-kyai yang telah
mendirikan pesantren atau majelis ta’lim.
Pada tataran wilayah politik sangat sulit
untuk membedakan mana Ramawijaya dan mana Dasamuka, mana Pandawa dan mana Kurawa.
Semua mempresepsikan diri sebagai orang suci, baik, penuh perhatian dan pantas
untuk dipilih. Tidak peduli, pada borok di kepala dan kutil di wajah. Semua bisa
dipoles dan di dempul sehingga terlihat glowing.
Semua filsafat politik bagus. Politik yang
mempunyai arti negara kota. Lahirlah imajinasi bahasa kota sebagai lawan dari
desa yang kampungan, bodoh, dan terbelakang serta kurang berpendidikan. Padahal,
negara kota juga tidak bisa dihindari dari perbuatan yang tercela seperti
asusila, prostisusi, dan kejahatan-kejahatan serta penindasan yang tidak
berperikemanusiaan.
Filsafat politik Islam menggunakan term “al-insan
madaniyatu bitab’i”, manusia secara naluriah mempunyai peradaban. Definisi ini untuk memaknai politik. Kedua mempunyai obyek sama, yaitu al-ijtima’, yaitu zoon politicon. Manusia senantiasa
membutuhkan manusia lain. Manusia sebagai mahluk sosial.
Islam datang menawarkan konsep nilai-nilai
politik. Prakteknya sama. Di Madinah al-Munawarah ada tangisan, kelaparan, dan
kriminalitas. Manusia ada yang baik, ada juga yang tidak baik. Ada yang malam
menangis karena mengingat surga dan neraka, Ada juga yang kemudian masuk dalam
pengadilan dan di pidana karena beragam kasus.
Artinya tawaran-tawaran konsep politik
selalu saja tidak seindah dalam ruang diskusi dan catatan-catatan teoritik yang
berjibun di rak-rak perpustakaan. Selalu saja, muncul fakta bahwa politik
adalah suatu kepentingan. Dari sini, penulis artikel ini semakin kesulitan
memformulasikan garis pemisah secara jelas antara nafsu mutmainah dan nafsu
sayyiah dalam dunia politik.
Dunia politik tidak seperti dulu. Jika pada
masa nabi garis pemisah sangat jelas. Hanya ada dua; nabi Muhammad dan Abu Jahal. Tidak ada yang abu-abu. Jika toh ada kelompok yang “mendo-mendo”,
sangat mudah tertedeksi dengan cepat. Kini dunia politik adalah serasa seperti
dunia restoran. Anda boleh makan apa saja, rasa apa saja. boleh menyanjung,
boleh juga mencaci maki dengan alasan apapun yang dibuatnya. Hari ini senyum,
besok sudah manyun. Hari ini “ger-ger-an”, besok sudah “gegeran”. Masyarakat kecil
seperti saya pun dibuat bingung tidak menentu.
Jika Gus Dur masih hidup, saya akan
membangunkan. Tidak peduli, apakah dianggap kurang ajar, dan tidak punya etika.
Saya akan melakukan apa saja agar bisa bangun sebagaimana Dasamuka membangunkan
Kumbakarna. Jika kena bentak, itu sudah resiko. Yang terpenting, maksud ku bisa
tersalurkan kepadanya. Saya akan bertanya kepada nya:
“Gus, calon pemimpin yang baik dan
mempunyai nafsu mutmainah itu seperti apa? merakyat, tegas atau cerdas?”
Namun itu hanya mimpi. Gus Dur telah telah
meninggal dunia. Harapan saya untuk membangunkan dalam tidur panjang nya tidak
mungkin berhasil. Imposible. Lagian, kriteria calon pemimpin diatas sudah
ada pada masanya; yang cerdas, merakyat, tegas, dan lain-lain. Semua tidak bisa
menyelesaikan persoalan secara totalitas.
Jika belajar dari Gus Dur, nafsu mutmainah
dalam politik yang bisa diterapkan yaitu memanusiakan manusia. Seorang calon
pemimpin yang agung ketika pada dirinya telah mendedikasikan dirinya untuk
melayani rakyat dan berkorban untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara serta
agama. Disini sebenarnya makna politik sebagai jalan menempatkan martabat manusia pada tempatnya.
Saya kira semua calon pemimpin mempunyai
cita-cita sama; membahagiakan rakyat Indonesia. Sedangkan persoalan siapa calon pemimpin yang benar-benar mempunyai nafsu mutmainah, biarkan saja malaikat
yang menilai. Gitu aja kok repot !
Penulis : Imam Ghozali
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   95
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   214
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   206
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   220
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2976
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879