Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Memperkencang Ikat Pinggang, Untuk Siapa?



Rabu , 05 Februari 2025



Telah dibaca :  631

Pemerintah sangat serius melakukan efisiensi anggaran. Semua kementrian dan pemerintah daerah juga sama, harus hemat anggaran. Jika menurut pemerintah ada mata anggaran yang terlihat mubadzir atau kurang urgen menurutnya, dialihkan kepada anggaran-anggaran dianggap lebih penting dan mendukung program pemerintah Prabowo-Gibran.

Program "memperkencang ikat pinggang" sangat mengagetkan bagi kelompok [wabilkhusus] yang sudah biasa merasakan kenikmatan. Sudah terbiasa “apa-apa ada” berubah  menjadi “apa adanya”. Semua harus berusaha menumbuhkan rasa empati kepada orang lain akibat kondisi ekonomi dan keuangan dunia global yang tidak sedang baik-baik saja. Kehidupan kelompok manusia yang bergelimang harta dari berbagai kalangan  yang hidup suka pamer-pamer gaya hidup glamor sudah tidak relevan. Sangat tidak pantas jika terus-menerus dipamerkan di depan publik. Meskipun itu milik sendiri dan usaha sendiri. tetap kurang pantas. Apalagi jika hasil usaha mencuri. Lebih sangat tidak pantas.

Merubah "gaya hidup" sederhana sangat sulit, terutama yang sudah tertanam pada dirinya sebagai kelompok ya’ulu wala yu’la ‘alaih. Merasa lebih hebat dari orang lain pada umum nya. Mereka sering disebut kaum elit atau kelompok yang "mendo-mendo" seperti  kaum elit. Sebab tabiat manusia ketika mempunyai kelebihan lebih tinggi dari orang lain akan muncul keakuan diri. la akan  membangun citra "elitisme" diri untuk berkumpul dengan kelompok-kelompok yang dianggap mempunyai status sosial sama.

Hal yang sama, orang-orang biasa terpinggirkan yang merasa "tidak sederajat" dengan kelompok tersebut dan memposisikan diri  sebagai kelompok yang tertindas, kaum miskin dan terbelakang. Keduanya membentuk identitas diri dan melakukan konsolidasi dalam memperjuangkan identitas kelompok masing-masing. Jika keduanya tidak dikelola dengan baik bisa menimbulkan persoalan sosial-politik yang sangat serius.

Penulis menilai menerapkan pola hidup memperkencang ikat pinggang sangat sulit di kalangan kaum elit. Kesulitan menerima bukan karena mereka tidak pernah miskin. Tapi rasa nyaman menikmati kehidupan yang serba ada menumbuhkan parasit  kapitalisme dengan dengan ciri-ciri sebagai berikut : pertama punya watak penindasan[yadu’ul yatim]; kedua pemiskinan[laa yahuddu ‘ala ta’amil miskin], ketiga tidak peduli terhadap kepentingan masyarakat lemah [sahuun], dan keempat memposisikan diri sebagai golongan darah biru [yuroo].

Perilaku kapitalisme tersebut telah tumbuh sebagai tabiat manusia yang suka akan pengakuan diri yang tumbuh subur pada dirinya. Meskipun sebenarnya status sebagai kaum kapital terkadang masih dalam tahap pembukaan. Istilah sederhana "manusia baru baligh kaya" atau "manusia baru kaya". Tapi di zaman yang sedang musim "pamerisme" dan "kemarukisme" sangat mudah manusia memunculkan keakuan diri atas segala asesoris yang ada pada dirinya. Itulah kondisi manusia dewasa belum saatnya. Mudah tertipu oleh gebyare dunia. Sandaran-sandaran kemulyaan bertumpu pada makna modern yang bersifat mekanik semata, tidak pada perilaku dan pola hidup yang patuh kepada nilai-nilai keagungan.

Apakah perilaku keakuan diri sebagai kelompok kaum elit yang mewabah saat sekarang ini adalah bagian dari orang-orang yang tidak beragama? Bisa iya, bisa juga tidak. Rasa keagungan diri yang “kumoluhur” terjadi pada siapapun baik mereka yang beragama maupun tidak beragama. Bahkan kriteria kaum kapitalisme yang dijelaskan di atas justru terjadi pada orang-orang yang menyatakan diri menyembah kepada Allah SWT. Itu sebabnya, mereka dianggap sebagai pendusta agama oleh-Nya.

Artinya revolusi sosial yang dilakukan oleh Nabi Muhammad pada 14 abad yang lalu, tentang kesetaraan derajat manusia dan kesederhanaan hidup di kalangan pejabat, konglomerat, hartawan dan bangsawan tidak bertahan lama. Umur nya pendek. Ketika Nabi meninggal dunia,perilaku kampitalisme pada masa jahiliah mulai hidup lagi. Semua itu sudah diperingatkan oleh Allah dalam Q.S. Al-Ma’un ayat 1-7  tentang orang-orang yang beragama tetapi kehilangan esensinya.

Seorang ilmuwan muslim Ahmad Amin mengatakan sebagai berikut: “ Orang-orang yang memperbudak sesama manusia berarti ingin menjadi Tuhan, padahal tidak ada Tuhan selain Allah. Orang yang berkeinginan menjadi tirani berarti ingin menjadi Tuhan, padahal tidak ada Tuhan selain Allah. Kita menghargai setiap manusia apapun keadaannya dan dari mana pun asalnya, asal bisa menjadi saudara bagi sesamanya…”.

Pada masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz kehidupan egaliter dengan menghidupkan sistem budaya pemerintah yang penuh kesederhanaan. Berhasil. Padahal pada pemerintahan sebelumnya sangat hedonisme. Ia benar-benar mampu mengembalikan kehidupan penuh kesederhanaan yang telah dipraktekan pada masa Nabi Muhammad SAW.

Kebijakan khalifah memang sangat revolusoner. Mengencangkan ikat pinggang dari atas dan diikuti rakyat biasa. Pada khalifah dan bangsawaan yang bajunya dengan branding kain baju termahal saat itu, berubah menjadi kain-kain baju yang kasar dan murah laksana kain kafan berwarna putih. Semua pejabat hidup sederhana. Sangat sulit membedakan antara pejabat dan rakyat biasa saat mereka berkumpul pada moment-moment tertentu. Sayangnya, kehidupan yang mencerminkan kehidupan pada masa nabi ini pun tidak bertahan lama. Penggantinya kembali hidup dengan penuh kemewahan.

Apakah penghematan pemerintah sekarang ini sudah benar-benar sebagai suatu jalan untuk merubah gaya hidup atau hanya sebatas karena kondisi ekonomi dunia tidak menentu? Dua hal yang berbeda. Kalau alasan pada persoalan ekonomi, maka siapapun sebenarnya mempunyai hak untuk mengekspresikan gaya hidup sesuai dengan kemampuan masing-masing. Namun jika pemerintah menginginkan adanya perubahan cara pandang hidup tentang penting arti dari sebuah kesederhanaan, maka kondisi saat sekarang ini sangat tepat untuk sama-sama melakukan revolusi mental dan spiritual untuk kembali lagi mengenal hakikat jati diri manusia yang dari lahir tidak membawa apa-apa dan akan meninggalkan dunia dengan tidak membawa apa-apa kecuali beberapa lembar kain kafan.

Jika ingin merubah gaya hidup menuju kesederhanaan, pertanyaannya apakah pemerintah dan kaum elit siap menerima? Sangat sulit. Jangan sampai program tersebut terlihat indah tapi hanya sebatas “omon-omon” karena tidak ada suri tauladan dari para pembesar. Sangat sulit memang menyamakan presepsi makna “kesederhanaan” antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpin.

Pada masa Kanjeng Nabi Muhammad  sebagai pemimpin mampu menyatukan  kaum bangsawan dan rakyat jelata.  Mereka bisa makan kurma bareng dalam satu majelis. Mereka happy, dan tidak ada istilah stratifikasi sosial sebagai penghalang di antara mereka. Egoisme benar-benar mampu divaksinasi dan dilumpuhkan dengan vaksin kalimat tauhid. Tumbuh kesederhanaan dan kesetaraan.

Membunuh egoisme keakuan diri sangat sulit. Butuh Satgas [Satuan Petugas] spiritual diri agar semua rakyat indonesia bisa merasakan dengan nyaman makanan satu porsi  harga Rp. 10.000 satu bungkus. Sangat sulit merubah selera lidah yang sudah mempunyai status selera sendiri-sendiri. Tapi sesulit apapun jika mempunyai tujuan baik dan manfaat besar, tidak salah jika program hidup sederhana diterapkan sebagai pembelajaran agar jiwa empati rakyat Indonesia kembali tumbuh kuat sebagaimana pada saat ketika sama-sama menderita dijajah oleh imperialisme pada masa lalu. Dulu bisa, masa sekarang tidak bisa. 

 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? Notification; + 0,75192015 BTC. Withdraw => h

ce9nze

   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872