
Sejak dulu persoalan politik selalu saja
gaduh. Kata malaikat,”manusia makhluk yang suka menumpahkan darah”. Prediksinya
jitu. Saya hanya bisa merenung, “kok bisa qabil membunuh saudaranya
sendiri?”. Di luar nalar. Kajian tauhid pun beragam tentang qadha dan qadar
pada persoalan tersebut. Akal tidak mampu mencerna secara tepat. Para ulama
melakukan pendekatan kajian. Hasilnya beragam.
Setelah nabi meninggal, konflik politik
terjadi di internal para sahabat. Mereka ijtihad menentukan suksesi
kepemimpinan. Seandainya nabi berwasiat, tentu sahabat tidak perlu saling
tunjuk”siapa yang pantas dan tidak pantas” menjadi penggantinya.
Seandainya nabi memberi wasiat, maka tidak perlu ada kalimat, “ suksesi dulu
atau merawat jenazah nabi dulu”. Akibatnya, sahabat terbelah menjadi
beberapa faksi menghadapi persoalan tersebut. Hasilnya, Abu Bakar menjadi
khalifah. Ali bin Abi Thalib memberi baiat kepadanya enam bulan setelah Abu
Bakar menjadi khalifah.
Kini bentuk negara berubah. Nation state. Menggunakan
pemikiran sebelum Islam; respublica. Jika menggunakan pendapat Polybius,
sistem ini paling modern dari dua sistem sebelumnya: aristokrasi dan monarchie
(Islam menggunakan istilah khilafah). Ia juga menyadari, setiap sistem
mempunyai titik kelemahan dan sering disalahgunakan. Wajar, dari semua sistem
tidak terlepas dari konflik. apapun nama dan atas alasan apapun.
Pemilihan kepala daerah bagian dari teori Polibyus.
Demokrasi. Prinsip, ada peluang memilih dan dipilih. Ada sisi positif dan
negatif. Orang baik bisa mencalon. kurang baik bisa mencalon. Tidak baik bisa
mencalon. Semua bisa menilai menilai, menyimpulkan dan memutuskan
pilihan-pilihan. Rakyat diberi peluang besar untuk menentukan siapa yang pantas
untuk menjadi pemimpin di masa mendatang.
Keputusan rakyat menentukan pemimpin tidak
sesederhana teori yang dijelaskan dalam buku-buku politik. Kental konflik
kepentingan. Suami konflik istri. Mertua konflik dengan mantu. Lebih luas,
terjadi dinamika hubungan. Teman menjadi musuh, musuh menjadi teman. Tidak ada
teman yang sejati. Yang ada, adalah kepentingan abadi.
Pilkada membuka peluang terjadi persaingan
tidak sehat. Kumpulan undang-undang dan turunannya sudah mengatur. Faktanya sering
semakin banyak aturan, semakin terbuka perdebatan. Konflik interest lebih dominan
sebagai jalan penyelesaian masalah. Akibatnya, hubungan sosial tidak harmonis. Demonstrasi.
Pengrusakan fasilitas negara, hoax dan lain-lain.
Haruskah demikian? Haruskah politik selalu
melahirkan konflik dari dulu sampai sekarang? Apakah tidak bisa mengubah
paradigma bahwa politik bagian muamalah yang bisa didesain menjadi lebih
indah lagi?.
Bisa. Semua taat terhadap peraturan. Jika semua
calon dan tim sukses patuh, potensi konflik bisa dikurangi. Siap menerima menang
dan kalah. Dan yang terakhir, semua harus menyadari bahwa para kontestan dan
tim-sukses nya sebenarnya masih saudara dalam iman, agama dan kemanusiaan. Islam
telah menekankan bahwa kita adalah saudara. Haruskah persaudaraan yang indah
sebagai ciri khas ajaran Islam yang agung harus dihancurkan hanya gara-gara
pilkada?
Semoga pilkada tahun ini bisa berjalan
damai lahir batin. Adu gagasan. Tidak ada fitnah, dan selesai pilkada silaturahim.
Saling memaafkan. Dan rekonsiliasi untuk memperkuat pembangunan berkelanjutan.
Penulis : Imam Ghozali
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876