Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mencari Format Pilkada Damai Lahir Batin



Rabu , 28 Agustus 2024



Telah dibaca :  465

Sejak dulu persoalan politik selalu saja gaduh. Kata malaikat,”manusia makhluk yang suka menumpahkan darah”. Prediksinya jitu. Saya hanya bisa merenung, “kok bisa qabil membunuh saudaranya sendiri?”. Di luar nalar. Kajian tauhid pun beragam tentang qadha dan qadar pada persoalan tersebut. Akal tidak mampu mencerna secara tepat. Para ulama melakukan pendekatan kajian. Hasilnya beragam.

Setelah nabi meninggal, konflik politik terjadi di internal para sahabat. Mereka ijtihad menentukan suksesi kepemimpinan. Seandainya nabi berwasiat, tentu sahabat tidak perlu saling tunjuk”siapa yang pantas dan tidak pantas” menjadi penggantinya. Seandainya nabi memberi wasiat, maka tidak perlu ada kalimat, “ suksesi dulu atau merawat jenazah nabi dulu”. Akibatnya, sahabat terbelah menjadi beberapa faksi menghadapi persoalan tersebut. Hasilnya, Abu Bakar menjadi khalifah. Ali bin Abi Thalib memberi baiat kepadanya enam bulan setelah Abu Bakar menjadi khalifah.

Kini bentuk negara berubah. Nation state. Menggunakan pemikiran sebelum Islam; respublica. Jika menggunakan pendapat Polybius, sistem ini paling modern dari dua sistem sebelumnya: aristokrasi dan monarchie (Islam menggunakan istilah khilafah). Ia juga menyadari, setiap sistem mempunyai titik kelemahan dan sering disalahgunakan. Wajar, dari semua sistem tidak terlepas dari konflik. apapun nama dan atas alasan apapun.

Pemilihan kepala daerah bagian dari teori Polibyus. Demokrasi. Prinsip, ada peluang memilih dan dipilih. Ada sisi positif dan negatif. Orang baik bisa mencalon. kurang baik bisa mencalon. Tidak baik bisa mencalon. Semua bisa menilai menilai, menyimpulkan dan memutuskan pilihan-pilihan. Rakyat diberi peluang besar untuk menentukan siapa yang pantas untuk menjadi pemimpin di masa mendatang.

Keputusan rakyat menentukan pemimpin tidak sesederhana teori yang dijelaskan dalam buku-buku politik. Kental konflik kepentingan. Suami konflik istri. Mertua konflik dengan mantu. Lebih luas, terjadi dinamika hubungan. Teman menjadi musuh, musuh menjadi teman. Tidak ada teman yang sejati. Yang ada, adalah kepentingan abadi.

Pilkada membuka peluang terjadi persaingan tidak sehat. Kumpulan undang-undang dan turunannya sudah mengatur. Faktanya sering semakin banyak aturan, semakin terbuka perdebatan. Konflik interest lebih dominan sebagai jalan penyelesaian masalah. Akibatnya, hubungan sosial tidak harmonis. Demonstrasi. Pengrusakan fasilitas negara, hoax dan lain-lain.

Haruskah demikian? Haruskah politik selalu melahirkan konflik dari dulu sampai sekarang? Apakah tidak bisa mengubah paradigma bahwa politik bagian muamalah yang bisa didesain menjadi lebih indah lagi?.

Bisa. Semua taat terhadap peraturan. Jika semua calon dan tim sukses patuh, potensi konflik bisa dikurangi. Siap menerima menang dan kalah. Dan yang terakhir, semua harus menyadari bahwa para kontestan dan tim-sukses nya sebenarnya masih saudara dalam iman, agama dan kemanusiaan. Islam telah menekankan bahwa kita adalah saudara. Haruskah persaudaraan yang indah sebagai ciri khas ajaran Islam yang agung harus dihancurkan hanya gara-gara pilkada?

Semoga pilkada tahun ini bisa berjalan damai lahir batin. Adu gagasan. Tidak ada fitnah, dan selesai pilkada silaturahim. Saling memaafkan. Dan rekonsiliasi untuk memperkuat pembangunan berkelanjutan.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876