Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mencintai Nabi dan Kisah Lima Anak Rebutan Ayah



Minggu , 01 Oktober 2023



Telah dibaca :  1175

Di bulan Maulid Nabi, umat muslim di Dunia memperingati hari kelahirannya dengan suka cinta. Hampir setiap tempat ibadah, perkantoran, tempat-tempat pendidikan  baik milik negara maupun swasta, bahkan perusahaan-perusahaan pun tidak luput melakukan hal yang sama. Ormas-ormas Islam tidak ketinggalan. Lebih tidak ketinggalan lagi para politisi dengan segala cara dan gaya mencoba meng-aktuallisasikan moment ini sebagai orang-orang yang menempatkan Nabi Muhammad sebagai orang agung dan paling mulia yang paling pantas sebagai suri tauladan dalam membentuk akhlakul karimah. Hal ini sesuai dengan sabdanya, “Saya diutus tiada lain untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Para penceramah, para pejabat dan para politisi selalu menekankan arti penting “ngurip-ngurip” Sunnah Rasul. Bahkan di luar sana, kadang terkesan “rebutan” paling sunnah dan merasa lebih mendekati perilaku nabi daripada kelompok lain. Saat yang sama, ironisnya juga menyalahkan umat Islam lain dengan ucapan tidak islami, tidak sesuai sunnah. Lebih ironisnya lagi, ketika tuduhan eklusifitas sudah masuk pada stadium-4, tuduhan bukan sebatas pada “kurang sunnah”, tapi sudah mengarah kepada persoalan iman seperti kafir, musrik, halal darahnya dan masuk Neraka. Mereka menuduh orang lain masuk Neraka, sedang kan mereka sendiri merasa Ahli Surga. Perasaan kesempurnaan pada diri mereka dengan segala atribut islami, dan keseriusan beribadah telah membuat mabuk agama laksana seorang anak kecil dari lima saudara kandung  rebutan dan mengklaim bahwa dirinya satu-satu-satunya yang punya ayah. Padahal mereka sama-sama dari satu ayah dan ibu. Tapi satu anak kecil tadi dengan wawasan yang belum utuh dan sempit, mengklaim dirinya yang punya ayah, bukan saudara-saudaranya.

Sebagian umat Islam masih ada yang memahami ajaran Islam seperti anak kecil. Pada dirinya muncul keakuan diri terlalu tinggi. Egoisme. Merasa paling baik dan paling berhak. Lalu mencoba memagari diri dengan kedua tangannya yang masih kecil dan belum kuat, serta ucapan sumpah serapah ditunjukan kepada saudara-saudaranya. Tentu saja, mereka tertawa melihat tingkah laku adiknya. Namun lama-kelamaan kadang menyebalkan. Sebab perilaku egoisme nya terkadang membuat gaduh dan situasi menjadi tidak menyenangkan. Bahkan terkadang semakin dibiarkan semakin membuat keributan di dalam Rumah Tangga. Maka hal yang tidak mungkin akan berdampak pada perselisihan, perkelahian dan sejenisnya.

Sang Guru Yang Mulia, K.H.M. Cholil Bisri berkata begini:

Misi kerasulan yang terus berlaku sampai akhir zaman harus menggelar kasih sayang dalam pergaulan hidup yang interaktif ini. Tidak hanya terhadap kalangan “sendiri”, terhadap yang dikenal saja, namun terhadap apa dari siapa saja yang termasuk al-‘alamin. Karena itu, menyikapi siapa saja dengan akhlak yang terelaborasi dengan tindakan, perbuatan dan perkataan yang terpuji, adalah keniscayaan bagi yang merasa dan mengaku sebagai “penerus” misi kerasulan kanjeng Nabi Muhammad SAW. Menimbulkan keraguan, kerusuhan, amuk, perusakan, anarkis, provokasi, kezaliman dan kebejatan tidak boleh muncul dari “pengemban” misi itu. karena itu bukan watak umat beragama dan bukan pula tempilan rahmatan lil ‘alamin(2008).

Kenapa egoisme individual, sektoral atau egoism-egoisme lain selalu muncul pada diri sebagian umat Islam. Mengapa keakuan, pengrusakan, anarkis, kezaliman selalu kadang datang dengan label-label ayat-ayat suci sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh kaum Khawarij. Kenapa juga tradisi ini semakin subur dan berkembang saat ini. mengapa hadist nabi menjadi pembenar semua perbuatan tersebut sehingga terlihat menjadi Islami dan bagian dari semangat jihad?

Salah satu penyebab yang jelas-jelas terilhat dalam perjalanan sejarah yaitu persoalan politik; kekuasaan dan ghonimah. Saya tidak habis pikir kaum Khawarij pada masa itu membawa ayat-ayat Al-Qur’an dan mengakui mencintai Nabi, tapi pada saat yang sama menyerang keluarga nabi, sahabat nabi. Bahkan lebih ekstrem lagi, kaum Khawarij dengan lantang mengatakan bahwa sebagian dari sahabat dan druriyat nabi adalah tersesat dan masuk Neraka. Ayat-ayat suci dan hadist yang agung menjadi senjata ampuh untuk menyerang kelompok yang tidak disukai dan cara efektif untuk menampilkan diri mereka di depan publik sebagai orang-orang yang suci dan pembela agama. Namun saat evolusi politik berlangsung, semakin terlihat dengan jelas bahwa semua apa yang dilakukan mempunyai tujuan yang sama; kekuasaan dan kekayaan.

Watak dari politik memang demikian. Kanjeng Nabi dan para ulama telah memberi nasehat bahwa politik sejatinya bukan sebatas meraih kekuasaan semata. Namun ada yang lebih penting yaitu kemanusiaan. Guru saya K.H. Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa puncak dari politik adalah kemanusiaan. Jika hilang esensi tersebut, maka kekuasaan hanya sebatas robot belaka yang tidak bisa membedakan benar dan salah(2011). Hal ini bernangkat dari agama Islam itu sendiri, bahwa watak dasar dari agama adalah kemanusiaan. Karena itu bertujuan agama mengajarkan cara hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat. Dari sini kemanusiaan tidak berdiri sendiri. Ia bukan hanya membentuk kebahagiaan dunia dengan segala jabatan, harta dan kewibawaan, tetapi semua itu harus benar-benar mencerminkan ajaran Islam yang membawa kesadaran kepada Allah SWT (Nurcholish Madjid, 1992).

Para guru-guru kita di atas adalah cermin dari ajaran agung dari Nabi Muhammad SAW yang melihat manusia dari sudut cinta. Semua adalah keluarga. Kita diberi tugas oleh nabi Muhammad untuk menebarkan kebaikan, “khairun nas anfa’ahum linnas, sebaik-baik manusia yang memberi kemanfaatan bagi orang lain”.

Begitu banyak ajaran kemanusiaan dalam dimensi kehidupan, termasuk dalam politik. Namun semua ajaran tersebut terlihat seperti debu-debu yang mengotori mata  ketika kepentingan kekuasaan dan ghonimah menjadi tujuan utama. Semua berubah liar dan sering menghalalkan segala cara. Media berubah menjadi sangat buas. Laksana berjalan di hutan yang angker di sore hari, setiap langkah berisi ketakutan. Rasa semakin takut memuncak ketika, malam hari datang. Suara binatang malam, dan desahan suara ular semakin menyiutkan nyali untuk meneruskan perjalanan selanjutnya.

Namun saya tetap optimis, bangsa ini akan lahir orang-orang yang mencintai Nabi bukan sebatas di Podium, seminar dan seremonial tanpa makna. Entah kapan, tapi saya percaya bahwa akan lahir masyarakat muslim yang melakukan aktivitas, berpolitik dan sejenisnya benar-benar mengagungkan Allah dan Rasul-Nya. Ucapanya memberi kesejukan, dan perbuatannya memberi kemanfaatan.

Sebagai penutup Mahatma Ghandi (2013) mengajarkan tentang arti kemanusiaan dalam aspek yang sangat luas, “Bagi orang yang tanpa kekerasan, seluruh dunia adalah satu keluarga. Dengan demikian, ia tidak akan takut akan siapa pun ataupun orang lain tidak akan takut kepada-nya”. kenapa tidak ada rasa takut? Sebab didirinya hanya ada cinta yang tertanam dalam hati dan menyinari seluruh kehidupanya.

Semoga Maulid Nabi bisa menghapus tradisi anak kecil yang egoisme dan menyadarkan akal dan memperluas wawasan keagamaan, bahwa ada kesamaan visi-misi umat Islam yaitu membangun persaudaraan yang tulus dalam pilihan-pilihan politik yang berbeda. Sulit memang, tapi mencoba terus-menerus adalah langkah bijak untuk mempercepat mencapai tujuan yang mulia.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   173

Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   179

Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   149

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14346


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6060


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5500


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4435