
Di bulan Maulid Nabi, umat muslim di Dunia
memperingati hari kelahirannya dengan suka cinta. Hampir setiap tempat ibadah,
perkantoran, tempat-tempat pendidikan
baik milik negara maupun swasta, bahkan perusahaan-perusahaan pun tidak
luput melakukan hal yang sama. Ormas-ormas Islam tidak ketinggalan. Lebih tidak
ketinggalan lagi para politisi dengan segala cara dan gaya mencoba
meng-aktuallisasikan moment ini sebagai orang-orang yang menempatkan Nabi Muhammad
sebagai orang agung dan paling mulia yang paling pantas sebagai suri
tauladan dalam membentuk akhlakul karimah. Hal ini sesuai dengan
sabdanya, “Saya diutus tiada lain untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.
Para penceramah, para pejabat dan para
politisi selalu menekankan arti penting “ngurip-ngurip” Sunnah Rasul. Bahkan
di luar sana, kadang terkesan “rebutan” paling sunnah dan merasa lebih
mendekati perilaku nabi daripada kelompok lain. Saat yang sama, ironisnya juga
menyalahkan umat Islam lain dengan ucapan tidak islami, tidak sesuai sunnah. Lebih
ironisnya lagi, ketika tuduhan eklusifitas sudah masuk pada stadium-4,
tuduhan bukan sebatas pada “kurang sunnah”, tapi sudah mengarah kepada
persoalan iman seperti kafir, musrik, halal darahnya dan masuk Neraka. Mereka
menuduh orang lain masuk Neraka, sedang kan mereka sendiri merasa Ahli Surga.
Perasaan kesempurnaan pada diri mereka dengan segala atribut islami, dan
keseriusan beribadah telah membuat mabuk agama laksana seorang anak kecil dari
lima saudara kandung rebutan dan mengklaim
bahwa dirinya satu-satu-satunya yang punya ayah. Padahal mereka sama-sama dari
satu ayah dan ibu. Tapi satu anak kecil tadi dengan wawasan yang belum utuh dan
sempit, mengklaim dirinya yang punya ayah, bukan saudara-saudaranya.
Sebagian umat Islam masih ada yang memahami
ajaran Islam seperti anak kecil. Pada dirinya muncul keakuan diri terlalu
tinggi. Egoisme. Merasa paling baik dan paling berhak. Lalu mencoba memagari
diri dengan kedua tangannya yang masih kecil dan belum kuat, serta ucapan
sumpah serapah ditunjukan kepada saudara-saudaranya. Tentu saja, mereka tertawa
melihat tingkah laku adiknya. Namun lama-kelamaan kadang menyebalkan. Sebab
perilaku egoisme nya terkadang membuat gaduh dan situasi menjadi tidak
menyenangkan. Bahkan terkadang semakin dibiarkan semakin membuat keributan di
dalam Rumah Tangga. Maka hal yang tidak mungkin akan berdampak pada
perselisihan, perkelahian dan sejenisnya.
Sang Guru Yang Mulia, K.H.M. Cholil Bisri berkata
begini:
Misi kerasulan yang terus berlaku sampai
akhir zaman harus menggelar kasih sayang dalam pergaulan hidup yang interaktif
ini. Tidak hanya terhadap kalangan “sendiri”, terhadap yang dikenal saja, namun
terhadap apa dari siapa saja yang termasuk al-‘alamin. Karena itu,
menyikapi siapa saja dengan akhlak yang terelaborasi dengan tindakan, perbuatan
dan perkataan yang terpuji, adalah keniscayaan bagi yang merasa dan mengaku
sebagai “penerus” misi kerasulan kanjeng Nabi Muhammad SAW. Menimbulkan keraguan,
kerusuhan, amuk, perusakan, anarkis, provokasi, kezaliman dan kebejatan tidak
boleh muncul dari “pengemban” misi itu. karena itu bukan watak umat beragama
dan bukan pula tempilan rahmatan lil ‘alamin(2008).
Kenapa egoisme individual, sektoral atau egoism-egoisme
lain selalu muncul pada diri sebagian umat Islam. Mengapa keakuan, pengrusakan,
anarkis, kezaliman selalu kadang datang dengan label-label ayat-ayat suci
sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh kaum Khawarij. Kenapa juga tradisi
ini semakin subur dan berkembang saat ini. mengapa hadist nabi menjadi pembenar
semua perbuatan tersebut sehingga terlihat menjadi Islami dan bagian dari
semangat jihad?
Salah satu penyebab yang jelas-jelas
terilhat dalam perjalanan sejarah yaitu persoalan politik; kekuasaan dan
ghonimah. Saya tidak habis pikir kaum Khawarij pada masa itu membawa ayat-ayat Al-Qur’an
dan mengakui mencintai Nabi, tapi pada saat yang sama menyerang keluarga nabi,
sahabat nabi. Bahkan lebih ekstrem lagi, kaum Khawarij dengan lantang
mengatakan bahwa sebagian dari sahabat dan druriyat nabi adalah tersesat dan
masuk Neraka. Ayat-ayat suci dan hadist yang agung menjadi senjata ampuh untuk
menyerang kelompok yang tidak disukai dan cara efektif untuk menampilkan diri
mereka di depan publik sebagai orang-orang yang suci dan pembela agama. Namun
saat evolusi politik berlangsung, semakin terlihat dengan jelas bahwa semua apa
yang dilakukan mempunyai tujuan yang sama; kekuasaan dan kekayaan.
Watak dari politik memang demikian. Kanjeng Nabi dan para ulama telah
memberi nasehat bahwa politik sejatinya bukan sebatas meraih kekuasaan semata. Namun
ada yang lebih penting yaitu kemanusiaan. Guru saya K.H. Abdurrahman Wahid mengatakan
bahwa puncak dari politik adalah kemanusiaan. Jika hilang esensi tersebut, maka
kekuasaan hanya sebatas robot belaka yang tidak bisa membedakan benar dan
salah(2011). Hal ini bernangkat dari agama Islam itu sendiri, bahwa watak dasar
dari agama adalah kemanusiaan. Karena itu bertujuan agama mengajarkan cara
hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat. Dari sini kemanusiaan
tidak berdiri sendiri. Ia bukan hanya membentuk kebahagiaan dunia dengan segala
jabatan, harta dan kewibawaan, tetapi semua itu harus benar-benar mencerminkan
ajaran Islam yang membawa kesadaran kepada Allah SWT (Nurcholish Madjid, 1992).
Para guru-guru kita di atas adalah cermin
dari ajaran agung dari Nabi Muhammad SAW yang melihat manusia dari sudut cinta.
Semua adalah keluarga. Kita diberi tugas oleh nabi Muhammad untuk menebarkan
kebaikan, “khairun nas anfa’ahum linnas, sebaik-baik manusia yang
memberi kemanfaatan bagi orang lain”.
Begitu banyak ajaran kemanusiaan dalam
dimensi kehidupan, termasuk dalam politik. Namun semua ajaran tersebut terlihat
seperti debu-debu yang mengotori mata
ketika kepentingan kekuasaan dan ghonimah menjadi tujuan utama. Semua berubah
liar dan sering menghalalkan segala cara. Media berubah menjadi sangat buas. Laksana
berjalan di hutan yang angker di sore hari, setiap langkah berisi ketakutan. Rasa
semakin takut memuncak ketika, malam hari datang. Suara binatang malam, dan
desahan suara ular semakin menyiutkan nyali untuk meneruskan perjalanan
selanjutnya.
Namun saya tetap optimis, bangsa ini akan
lahir orang-orang yang mencintai Nabi bukan sebatas di Podium, seminar dan
seremonial tanpa makna. Entah kapan, tapi saya percaya bahwa akan lahir
masyarakat muslim yang melakukan aktivitas, berpolitik dan sejenisnya
benar-benar mengagungkan Allah dan Rasul-Nya. Ucapanya memberi kesejukan, dan
perbuatannya memberi kemanfaatan.
Sebagai penutup Mahatma Ghandi (2013) mengajarkan
tentang arti kemanusiaan dalam aspek yang sangat luas, “Bagi orang yang tanpa
kekerasan, seluruh dunia adalah satu keluarga. Dengan demikian, ia tidak akan
takut akan siapa pun ataupun orang lain tidak akan takut kepada-nya”. kenapa
tidak ada rasa takut? Sebab didirinya hanya ada cinta yang tertanam dalam hati
dan menyinari seluruh kehidupanya.
Semoga Maulid Nabi bisa menghapus tradisi
anak kecil yang egoisme dan menyadarkan akal dan memperluas wawasan keagamaan,
bahwa ada kesamaan visi-misi umat Islam yaitu membangun persaudaraan yang tulus
dalam pilihan-pilihan politik yang berbeda. Sulit memang, tapi mencoba
terus-menerus adalah langkah bijak untuk mempercepat mencapai tujuan yang
mulia.
Penulis : Imam Ghozali
Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   173
Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   179
Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   149
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14346
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6060
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5500
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4673
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4435