
Semakin kesini, arah mata angin kebahagiaan
kelihatannya dititik beratkan pada unsur-unsur yang bersifat konkrit, bisa
diraba, bisa dipegang, bisa dilihat dan bisa dirasakan secara fisik. Wujud
kebahagiaan yang diidam-idamkan tersebut bisa berupa harta, jabatan, pekerjaan
dan kekuasaan. Ketika kriteria ada pada diri mereka, maka presepsi yang ada
dalam benak kita bahwa mereka telah mendapatkan kebahagiaan yang sempurna. Orang-orang
yang tidak mempunyai kriteria-kriteria tersebut akan dianggap sebagai kelompok
yang belum mendapatkan kebahagiaan sempurna.
Arah kebahagiaan semakin kesini lebih
mengarah pada kebutuhan badaniah atau hal-hal yang bersifat fisik. Bahkan
hal-hal yang bernilai spiritual pun didesain pada kepentingan yang bersifat
jasmaniah. Semua aktivitas didesain dalam upaya bisa diukur dengan
ukuran-ukuran kemanfaatan pada kebutuhan bersifat materi. Sistem modern mencoba
membuat segala sesuatu bisa dilihat secara administrasi, termasuk
program-program yang bersifat spiritual sekalipun.
Hari ini kita bisa merasakan tentang
diskusi-diskusi di forum-forum resmi oleh para pakar sampai pada forum-forum
kedai kopi selalu saja topik yang selalu muncul berkisar pada persoalan
politik, kesenjangan sosial, kemiskinan dan hal-hal bersifat kebutuhan hidup. Bahkan
kita melihat di layar TV dan media sosial perang di negara-negara timur tengah
dan barat juga punya alasan sama: kesejahteraan dan kebahagiaan.
Sebab secara umum, mereka menganggap bahwa
ketika kebutuhan-kebutuhan dasar manusia terpenuhi-sandang, pangan dan
papan-maka kebahagiaan akan tercipta di tengah-tengah masyarakat.
Saya sering mendengar gurauan atau seloroh
orang-orang yang ditemui di kedai-kedai kopi mengatakan begini,”Harimau yang
garang karena kondisi sedang lapar, beri saja ia umpan, maka ia akan tenang,
tidur dan tidak akan mengganggu lagi”. Ini teori simpel yang dipakai oleh
mereka tentang hakikat manusia. Mereka meng-qiyas-kan manusia dengan binatang.
Mungkin ada benarnya juga, karena dalam ilmu mantiq manusia sering juga disebut
dengan “hayawan”-binatang, tapi “hayawanu natiq”, binatang yang
mempunyai akal pikiran. Ketika akal pikiran hilang, maka manusia tidak berbeda
dengan binatang-binatang pada umum nya.
Manusia sebenarnya bukan binatang.
Al-Qur’an dan Hadist Nabi jelas memberikan definisi yang berbeda. Al-Qur’an
dengan jelas mengatakan bahwa manusia mempunyai kedudukan yang mulia: khalifah
fi al-ardh. Pada sisi lain, manusia juga diikat pola hidup “makarim
al-akhlak”, ketika hidup dalam komunitas sosial.
Kata “khalifah” dan “akhlak”
adalah dua kata kunci untuk membedakan kehidupan sebelum dan sesudah datang nya
Islam. Ketika agama Islam belum datang, hidup manusia mengabaikan dua unsur
tersebut. Siang malam mereka bekerja. Mengumpulkan harta kekayaan dan menjadi
penguasa. Mereka berlomba-lomba bekerja sekuat tenaga, mengumpulkan emas
permata, kedudukan dan kekuasaan. Hidup benar-benar menggunakan konsep homo
homini lupus-manusia adalah serigala bagi manusia lain.
Ketika Islam belum datang, jazirah arab
berisi para konglomerat. Mereka bisa sesuka hati menguasai Sumber Daya Alam dan
manusia semaunya. Para pemegang kekuasaan dan kekayaan dengan sangat mudah
mengatur hidup manusia dengan semaunya sendiri. Mereka bisa membeli manusia dan
dijadikan budak layaknya seperti binatang. Mau diapakan mereka, terserah
majikan. Para budak tersebut tidak mempunyai kekuatan sama sekali untuk
melepaskan tirani kehidupan yang tercipta oleh para pemodal dan para penguasa saat
itu.
Era sekarang sering disebut dengan era
modern. Ini ditandai dengan semakin modern output kecerdasan manusia
berupa saint dan teknologi. Seolah-olah modern tersebut adalah puncak kemuliaan
suatu peradaban. Pandangan tersebut persis pada masa jahiliyah dalam berfikir
dan mengeksekusi pikiran tersebut dalam ucapan dan tindakan. Orientasinya sama,
yaitu sama-sama memperoleh kemakmuran di dunia. Karena sama, maka daya rusak
nya pada tatanan moral pun sama, yaitu sama-sama melupakan kesadaran kita
kepada Allah SWT.
Saya dalam beberapa kesempatan membaca
hadist atau sirah nabi dan sirah para sahabat. Mereka bisa membangun rasa
kebahagiaan dengan keterbatasan fasilitas duniawi. Saya hanya bisa
membayangkan, betapa rilek nya nabi merespon jawaban Aisyah ketika tidak ada
makanan yang bisa dimakan hari itu dengan jawaban berkualitas, “Kalau begitu
hari ini saya berpuasa”.
Saya juga membaca seorang sahabat yang baru
saja melepaskan status lajangnya. Saat di bulan Ramadhan, ia melakukan hubungan
suami-istri. Ia melaporkan hal tersebut. nabi menjawab agar keduanya berpuasa
dua bulan berturut-turut. Sahabat tadi tersenyum dan menjawab bahwa jangankan dua
bulan puasa, satu bulan saja pun sudah tidak kuat menahan nafsunya. Nabi tersenyum
dan menyuruh untuk bersedekah kepada tetangganya. Ia pun menjawab bahwa ia
tidak mempunyai makanan untuk disedekahkan kepada tetangganya.
Lalu Nabi memberi satu keranjang kurma dan
memerintah kepadanya agar disedekahkan kepada tetangganya yang miskin. Sahabat tadi
pun menjawab bahwa diantara tetangga nya, yang paling miskin adalah dirinya
sendiri. nabi pun tersenyum dan memberikan kurma kepada nya.
Kedua kisah tersebut tentu saja bukan
dilihat sebagai jalan hidup kita mengabaikan kebutuhan hidup. Tidak sama
sekali. Islam tidak mengajarkan agar umat nya mengabaikan tentang kesejahteraan
dan kebahagiaan. Islam mengajarkan agar umatnya bisa meraih kebahagiaan sejati
baik di dunia dan di akherat. Pola kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan sistem
hidup yang senantiasa mengabdi dirinya kepada Allah SWT. Outputnya kesadaran
diri sebagai hamba Allah, bukan hamba kekayaan, perusahaan, jabatan dan
kekuasaan.
Walhasil arah kebahagiaan kita terletak
pada jalan kehidupan yang kita pilih. Jika benar-benar orientasi kebahagiaan
mencari ridha-Nya maka seluruh program kehidupan -dhohir dan batin- akan selaras
dengan ajaran-ajaran keagungan-Nya.
Sebaliknya, jika jalan hidup semata-mata
mencari kebahagiaan hal-hal yang bersifat duniawi, maka bayang-bayang
penderitaan akan terus datang sepanjang hidupnya. Hari-harinya penuh dengan
ketakutan, kegelisahan dan kekecewaan atas segala kejadian dan peristiwa yang
tidak sesuai dengan harapan. Kondisi jiwa yang demikian memungkinkan manusia
berubah menjadi homo homini lupus-manusia menjadi serigala manusia
lainnya.
Perang terjadi saat sekarang ini sebenarnya
cermin dari jiwa-jiwa yang rapuh karena bersandar kepada kekuasaan dunia
semata. Mereka mungkin tidak sadar, bahwa semua sandaran yang mereka gunakan
akan ada batas akhirnya. Kita akan sama-sama menjadi saksi bahwa sandaran
tersebut akan masa nya seperti daun-daun yang akan melewati musim semi dan
musim gugur.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   110
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870