Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menentukan Arah Mata Angin Kebahagiaan



Kamis , 08 Januari 2026



Telah dibaca :  326

Semakin kesini, arah mata angin kebahagiaan kelihatannya dititik beratkan pada unsur-unsur yang bersifat konkrit, bisa diraba, bisa dipegang, bisa dilihat dan bisa dirasakan secara fisik. Wujud kebahagiaan yang diidam-idamkan tersebut bisa berupa harta, jabatan, pekerjaan dan kekuasaan. Ketika kriteria ada pada diri mereka, maka presepsi yang ada dalam benak kita bahwa mereka telah mendapatkan kebahagiaan yang sempurna. Orang-orang yang tidak mempunyai kriteria-kriteria tersebut akan dianggap sebagai kelompok yang belum mendapatkan kebahagiaan sempurna.

Arah kebahagiaan semakin kesini lebih mengarah pada kebutuhan badaniah atau hal-hal yang bersifat fisik. Bahkan hal-hal yang bernilai spiritual pun didesain pada kepentingan yang bersifat jasmaniah. Semua aktivitas didesain dalam upaya bisa diukur dengan ukuran-ukuran kemanfaatan pada kebutuhan bersifat materi. Sistem modern mencoba membuat segala sesuatu bisa dilihat secara administrasi, termasuk program-program yang bersifat spiritual sekalipun.

Hari ini kita bisa merasakan tentang diskusi-diskusi di forum-forum resmi oleh para pakar sampai pada forum-forum kedai kopi selalu saja topik yang selalu muncul berkisar pada persoalan politik, kesenjangan sosial, kemiskinan dan hal-hal bersifat kebutuhan hidup. Bahkan kita melihat di layar TV dan media sosial perang di negara-negara timur tengah dan barat juga punya alasan sama: kesejahteraan dan kebahagiaan.

Sebab secara umum, mereka menganggap bahwa ketika kebutuhan-kebutuhan dasar manusia terpenuhi-sandang, pangan dan papan-maka kebahagiaan akan tercipta di tengah-tengah masyarakat.

Saya sering mendengar gurauan atau seloroh orang-orang yang ditemui di kedai-kedai kopi mengatakan begini,”Harimau yang garang karena kondisi sedang lapar, beri saja ia umpan, maka ia akan tenang, tidur dan tidak akan mengganggu lagi”. Ini teori simpel yang dipakai oleh mereka tentang hakikat manusia. Mereka meng-qiyas-kan manusia dengan binatang. Mungkin ada benarnya juga, karena dalam ilmu mantiq manusia sering juga disebut dengan “hayawan”-binatang, tapi “hayawanu natiq”, binatang yang mempunyai akal pikiran. Ketika akal pikiran hilang, maka manusia tidak berbeda dengan binatang-binatang pada umum nya.

Manusia sebenarnya bukan binatang. Al-Qur’an dan Hadist Nabi jelas memberikan definisi yang berbeda. Al-Qur’an dengan jelas mengatakan bahwa manusia mempunyai kedudukan yang mulia: khalifah fi al-ardh. Pada sisi lain, manusia juga diikat pola hidup “makarim al-akhlak”, ketika hidup dalam komunitas sosial.

Kata “khalifah” dan “akhlak” adalah dua kata kunci untuk membedakan kehidupan sebelum dan sesudah datang nya Islam. Ketika agama Islam belum datang, hidup manusia mengabaikan dua unsur tersebut. Siang malam mereka bekerja. Mengumpulkan harta kekayaan dan menjadi penguasa. Mereka berlomba-lomba bekerja sekuat tenaga, mengumpulkan emas permata, kedudukan dan kekuasaan. Hidup benar-benar menggunakan konsep homo homini lupus-manusia adalah serigala bagi manusia lain.

Ketika Islam belum datang, jazirah arab berisi para konglomerat. Mereka bisa sesuka hati menguasai Sumber Daya Alam dan manusia semaunya. Para pemegang kekuasaan dan kekayaan dengan sangat mudah mengatur hidup manusia dengan semaunya sendiri. Mereka bisa membeli manusia dan dijadikan budak layaknya seperti binatang. Mau diapakan mereka, terserah majikan. Para budak tersebut tidak mempunyai kekuatan sama sekali untuk melepaskan tirani kehidupan yang tercipta oleh para pemodal dan para penguasa saat itu.

Era sekarang sering disebut dengan era modern. Ini ditandai dengan semakin modern output kecerdasan manusia berupa saint dan teknologi. Seolah-olah modern tersebut adalah puncak kemuliaan suatu peradaban. Pandangan tersebut persis pada masa jahiliyah dalam berfikir dan mengeksekusi pikiran tersebut dalam ucapan dan tindakan. Orientasinya sama, yaitu sama-sama memperoleh kemakmuran di dunia. Karena sama, maka daya rusak nya pada tatanan moral pun sama, yaitu sama-sama melupakan kesadaran kita kepada Allah SWT.

Saya dalam beberapa kesempatan membaca hadist atau sirah nabi dan sirah para sahabat. Mereka bisa membangun rasa kebahagiaan dengan keterbatasan fasilitas duniawi. Saya hanya bisa membayangkan, betapa rilek nya nabi merespon jawaban Aisyah ketika tidak ada makanan yang bisa dimakan hari itu dengan jawaban berkualitas, “Kalau begitu hari ini saya berpuasa”.

Saya juga membaca seorang sahabat yang baru saja melepaskan status lajangnya. Saat di bulan Ramadhan, ia melakukan hubungan suami-istri. Ia melaporkan hal tersebut. nabi menjawab agar keduanya berpuasa dua bulan berturut-turut. Sahabat tadi tersenyum dan menjawab bahwa jangankan dua bulan puasa, satu bulan saja pun sudah tidak kuat menahan nafsunya. Nabi tersenyum dan menyuruh untuk bersedekah kepada tetangganya. Ia pun menjawab bahwa ia tidak mempunyai makanan untuk disedekahkan kepada tetangganya.

Lalu Nabi memberi satu keranjang kurma dan memerintah kepadanya agar disedekahkan kepada tetangganya yang miskin. Sahabat tadi pun menjawab bahwa diantara tetangga nya, yang paling miskin adalah dirinya sendiri. nabi pun tersenyum dan memberikan kurma kepada nya.

Kedua kisah tersebut tentu saja bukan dilihat sebagai jalan hidup kita mengabaikan kebutuhan hidup. Tidak sama sekali. Islam tidak mengajarkan agar umat nya mengabaikan tentang kesejahteraan dan kebahagiaan. Islam mengajarkan agar umatnya bisa meraih kebahagiaan sejati baik di dunia dan di akherat. Pola kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan sistem hidup yang senantiasa mengabdi dirinya kepada Allah SWT. Outputnya kesadaran diri sebagai hamba Allah, bukan hamba kekayaan, perusahaan, jabatan dan kekuasaan.

Walhasil arah kebahagiaan kita terletak pada jalan kehidupan yang kita pilih. Jika benar-benar orientasi kebahagiaan mencari ridha-Nya maka seluruh program kehidupan -dhohir dan batin- akan selaras dengan ajaran-ajaran keagungan-Nya.

Sebaliknya, jika jalan hidup semata-mata mencari kebahagiaan hal-hal yang bersifat duniawi, maka bayang-bayang penderitaan akan terus datang sepanjang hidupnya. Hari-harinya penuh dengan ketakutan, kegelisahan dan kekecewaan atas segala kejadian dan peristiwa yang tidak sesuai dengan harapan. Kondisi jiwa yang demikian memungkinkan manusia berubah menjadi homo homini lupus-manusia menjadi serigala manusia lainnya.

Perang terjadi saat sekarang ini sebenarnya cermin dari jiwa-jiwa yang rapuh karena bersandar kepada kekuasaan dunia semata. Mereka mungkin tidak sadar, bahwa semua sandaran yang mereka gunakan akan ada batas akhirnya. Kita akan sama-sama menjadi saksi bahwa sandaran tersebut akan masa nya seperti daun-daun yang akan melewati musim semi dan musim gugur. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   110

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870