Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mengantisipasi Penyakit Kanker Dampak Perang Iran-Israel



Senin , 23 Juni 2025



Telah dibaca :  523

Ajaran Islam yang sangat terkenal dalam kontek muamalah-kehidupan sosial-adalah manusia “kal jasadil wahid”. Manusia seperti satu tubuh. Kita sudah mafhum, saat kepala sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan panas-dingin akibat sakit tersebut.

Situasi dunia saat sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Dunia adalah tubuh peradaban. Jika yang perang Iran-Israel, lambat ataupun cepat negara-negara lain ikut “gregesi”, kepala pusing, dan mata berkunang-kunang. Itu adalah gejala alamiah, seberapa lama demam, tergantung “imun” bangsa Indonesia itu sendiri. Kalau rakyat Indonesia masih bisa “guyon”, “cangkru an”, ngopi dan menikmati rokok tingwe-nglinting dewe-, berarti Indonesia masih baik-baik saja. Tapi jika selera humor hilang, emosian, stress, dan hilang selera ngopi dan merokok maka warga negara Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Imun tubuh nya lagi sedikit menurun. Berarti itu tanda-tanda demam disebabkan perang Israel-Iran sudah mulai merasuk pada tubuh dan mulai menyebar virus-virus kanker-kantong kering- dan perlu ekstra kuat menjaga agar jangan sampai masuk ke stadium-4.

Saya hari ini membaca status di platform X dari Dina Sulaeman tanggal 22 Juni 2025. Ia mengatakan bahwa salah satu kartu truf Iran adalah menutup Selat Hormuz. Sekitar 70 hingga 100 kapal minyak dan komersial lewati Selat itu perhari. Selat ini jalur air paling strategis di dunia, membawa hampir 20% pasokan minyak global. Penutupan berdampak buruk pada ekonomi dunia.

Status X milik poin&opini menjawab dampak dari Selat Hormus ditutup sebagai berikut:Pertama, jalur ekspor minyak dan gas dunia terganggu, termasuk pasokan dai Arab Saudi, Iran, Irak dan Qatar. Kedua, harga minyak dunia melonjak. Ketersediaan minyak global turun dratis sementara permintaan tinggi. Ketiga,harga impor minyak mentah dan LPG ke Indonesia ikut naik. Keempat, BBM dalam negeri ikut naik. Kelima, biaya distribusi dan ongkir naik.

Sebagian masyarakat Indonesia sudah ada yang tahu, belum tahu dan tidak mau tahu. Bagi sebagian warga Indonesia Raya tidak memperdulikan persoalan perang. Kurang asik. Mendingan membahas ijazah berjilid-jilid. Itu terasa lebih nikmat. Meskipun Jokowi sudah tidak lagi menjadi presiden, tapi menguliti sisi kehidupan Jokowi sudah cukup sebagai sumber penghidupan. Bahkan mungkin, kiamat kurang satu hari ijazah Jokowi belum clear. Terlalu sulit untuk dilupakan.

Pertanyaan selanjutnya, apakah masyarakat Indonesia raya sudah sedewasa masyarakat Iran?. Wallahu a’lam.

Saat Indonesia sudah menyiapkan tinggal landas pada masa orde baru, pada tahun 1980 Iran sedang perang melawan Irak. Tahun 1988 ia hancur lebur akibat digempur AS.

Namun dalam waktu yang relatif cepat, Iran sudah berdiri dengan gagah perkasa. Masyarakat Iran tidak cengeng. Bahkan semakin sering perang, semakin berani melawan AS. Anak-anak Iran berusia 11 tahun sudah hapal Al-Qur’an. Mereka punya cita-cita sangat mengagetkan: ingin menjadi martil dan mati sahid untuk kejayaan Iran.

Para siswa setingkat SLTP saat berkunjung atau ziarah ke makam Ayatollah Khomaini sudah terbiasa menangis tersedu-sedu. Mereka mampu meresapi perjuangan pemimpin revolusi iran tersebut. mereka menjiwai sejak remaja tentang arti sebuah jihad untuk kejayaan bangsa Iran.

Jelas pemandangan seperti ini sangat berbeda di Indonesia. Para peziarah makam para ulama atau pahlawan Indonesia bukanya menangis meresapi perjuangan mereka. Malah  foto selfi dan mengirim status “Ziarah  Kubur Mantan Pacar, assiiikkk”.

Lebih parah lagi, malah ada yang melarang ziarah kubur karena takut iman nya luntur. Masa sih, sama kuburan saja takut luntur iman nya?. Maka nya biar tidak luntur imannya, ke kuburan membaca yasin dan tahlil supaya dimanapun berada, Al-Qur’an senantiasa langgeng di mulut dan hatinya. Dimanapun berada kalimat tauhid selalu terpatri dalam hatinya. Maka saat di lokasi kubur, canel tauhid langsung hidup. Itulah makna dzikir sejati:”Dimanapun berada selalu ingat Allah”.

Pendidikan di Iran memang menarik sekali. Pendidikan anti ngeluh ketika kanker (kantong kering). Menurut Prof.Dr.Kh. Said Aqil Munawar, pendidikan agama anak-anak di Iran sudah sangat maju sekali. ditambah lagi pendapat dari Prof. Dr. Alaidin Koto, bahwa pendidikan filsafat juga sudah mendarah daging dalam kurikulum. Integrasi agama dan ilmu sudah sangat berhasil. Outputnya sebagai ilmuwan sekaligus ulama. Wajar jika negara Iran mendapat julukan negeri para mullah.

Sebagian dari generasi Indonesia raya masih sebatas generasi tik-tokers, joget-joget, jalan-jalan, meskipun tidak punya uang. masih suka boros membeli hal-hal yang kurang bermanfaat. Kurang sensitif terhadap kondisi dunia semakin tidak menentu. Para generasi ingin hidup selalu happy dan tidak mau merasakan penderitaan.

Kondisi yang menurutku sangat membahayakan. Saat dunia sedang kacau balau dan saat kemungkinan semua akan mengalami dampak perang yang tidak menentu, generasi-generasi tersebut yang akan mudah terkena dampak penderitaan yang serius.

Saya kira, sudah saat nya orang tua mulai memperkenalkan budaya kesederhanaan kepada anak-anak. Mereka mulai lagi diperkenalkan budaya orang tua kita dulu yang pagi hari sudah pergi ke pasar jualan kangkung, setelah subuh sudah noreh getah. Orang tua mulai memikirkan tentang pentingnya tanah-tanah kosong perlu ditanami tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat. Anak-anak mulai diperkenalkan tentang makna etos kerja, latih cara berdagang dan jualan agar mempunyai jiwa tanggung di masa depan.

Tentu saja, yang tidak boleh dilupakan yaitu memperkenalkan ajaran agama kepada mereka dengan sebaik-baiknya. Agar mereka mengenal hidup di dunia, juga mengenal Sang Pencipta dengan baik.

Dua hal penting tersebut merupakan jalan yang sangat bagus agar anak-anak [termasuk orang tuanya] melatih diri untuk siap-siap menghadapi dampak dari situasi dunia yang tidak menentu.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875