
Ajaran Islam yang sangat terkenal dalam
kontek muamalah-kehidupan sosial-adalah manusia “kal jasadil wahid”. Manusia
seperti satu tubuh. Kita sudah mafhum, saat kepala sakit, maka seluruh
tubuh ikut merasakan panas-dingin akibat sakit tersebut.
Situasi dunia saat sekarang ini sedang
tidak baik-baik saja. Dunia adalah tubuh peradaban. Jika yang perang Iran-Israel,
lambat ataupun cepat negara-negara lain ikut “gregesi”, kepala pusing,
dan mata berkunang-kunang. Itu adalah gejala alamiah, seberapa lama demam,
tergantung “imun” bangsa Indonesia itu sendiri. Kalau rakyat Indonesia masih
bisa “guyon”, “cangkru an”, ngopi dan menikmati rokok tingwe-nglinting
dewe-, berarti Indonesia masih baik-baik saja. Tapi jika selera humor hilang,
emosian, stress, dan hilang selera ngopi dan merokok maka warga negara Indonesia
sedang tidak baik-baik saja. Imun tubuh nya lagi sedikit menurun. Berarti
itu tanda-tanda demam disebabkan perang Israel-Iran sudah mulai merasuk pada
tubuh dan mulai menyebar virus-virus kanker-kantong kering- dan perlu ekstra
kuat menjaga agar jangan sampai masuk ke stadium-4.
Saya hari ini membaca status di platform
X dari Dina Sulaeman tanggal 22 Juni 2025. Ia mengatakan bahwa salah satu kartu
truf Iran adalah menutup Selat Hormuz. Sekitar 70 hingga 100 kapal minyak dan
komersial lewati Selat itu perhari. Selat ini jalur air paling strategis di
dunia, membawa hampir 20% pasokan minyak global. Penutupan berdampak buruk pada
ekonomi dunia.
Status X milik poin&opini menjawab
dampak dari Selat Hormus ditutup sebagai berikut:Pertama, jalur ekspor
minyak dan gas dunia terganggu, termasuk pasokan dai Arab Saudi, Iran, Irak dan
Qatar. Kedua, harga minyak dunia melonjak. Ketersediaan minyak global
turun dratis sementara permintaan tinggi. Ketiga,harga impor minyak
mentah dan LPG ke Indonesia ikut naik. Keempat, BBM dalam negeri ikut
naik. Kelima, biaya distribusi dan ongkir naik.
Sebagian masyarakat Indonesia sudah ada
yang tahu, belum tahu dan tidak mau tahu. Bagi sebagian warga Indonesia Raya
tidak memperdulikan persoalan perang. Kurang asik. Mendingan membahas ijazah
berjilid-jilid. Itu terasa lebih nikmat. Meskipun Jokowi sudah tidak lagi
menjadi presiden, tapi menguliti sisi kehidupan Jokowi sudah cukup sebagai
sumber penghidupan. Bahkan mungkin, kiamat kurang satu hari ijazah Jokowi belum
clear. Terlalu sulit untuk dilupakan.
Pertanyaan selanjutnya, apakah masyarakat Indonesia
raya sudah sedewasa masyarakat Iran?. Wallahu a’lam.
Saat Indonesia sudah menyiapkan tinggal
landas pada masa orde baru, pada tahun 1980 Iran sedang perang melawan Irak. Tahun
1988 ia hancur lebur akibat digempur AS.
Namun dalam waktu yang relatif cepat, Iran
sudah berdiri dengan gagah perkasa. Masyarakat Iran tidak cengeng. Bahkan semakin
sering perang, semakin berani melawan AS. Anak-anak Iran berusia 11 tahun sudah
hapal Al-Qur’an. Mereka punya cita-cita sangat mengagetkan: ingin menjadi
martil dan mati sahid untuk kejayaan Iran.
Para siswa setingkat SLTP saat berkunjung
atau ziarah ke makam Ayatollah Khomaini sudah terbiasa menangis tersedu-sedu. Mereka
mampu meresapi perjuangan pemimpin revolusi iran tersebut. mereka menjiwai
sejak remaja tentang arti sebuah jihad untuk kejayaan bangsa Iran.
Jelas pemandangan seperti ini sangat berbeda
di Indonesia. Para peziarah makam para ulama atau pahlawan Indonesia bukanya
menangis meresapi perjuangan mereka. Malah foto selfi dan mengirim status “Ziarah Kubur Mantan Pacar, assiiikkk”.
Lebih parah lagi, malah ada yang melarang
ziarah kubur karena takut iman nya luntur. Masa sih, sama kuburan saja takut
luntur iman nya?. Maka nya biar tidak luntur imannya, ke kuburan membaca yasin
dan tahlil supaya dimanapun berada, Al-Qur’an senantiasa langgeng di mulut dan
hatinya. Dimanapun berada kalimat tauhid selalu terpatri dalam hatinya. Maka saat
di lokasi kubur, canel tauhid langsung hidup. Itulah makna dzikir sejati:”Dimanapun
berada selalu ingat Allah”.
Pendidikan di Iran memang menarik sekali. Pendidikan
anti ngeluh ketika kanker (kantong kering). Menurut Prof.Dr.Kh. Said
Aqil Munawar, pendidikan agama anak-anak di Iran sudah sangat maju sekali.
ditambah lagi pendapat dari Prof. Dr. Alaidin Koto, bahwa pendidikan filsafat
juga sudah mendarah daging dalam kurikulum. Integrasi agama dan ilmu sudah
sangat berhasil. Outputnya sebagai ilmuwan sekaligus ulama. Wajar jika negara Iran
mendapat julukan negeri para mullah.
Sebagian dari generasi Indonesia raya masih
sebatas generasi tik-tokers, joget-joget, jalan-jalan, meskipun tidak punya
uang. masih suka boros membeli hal-hal yang kurang bermanfaat. Kurang sensitif
terhadap kondisi dunia semakin tidak menentu. Para generasi ingin hidup selalu happy
dan tidak mau merasakan penderitaan.
Kondisi yang menurutku sangat membahayakan.
Saat dunia sedang kacau balau dan saat kemungkinan semua akan mengalami dampak
perang yang tidak menentu, generasi-generasi tersebut yang akan mudah terkena
dampak penderitaan yang serius.
Saya kira, sudah saat nya orang tua mulai
memperkenalkan budaya kesederhanaan kepada anak-anak. Mereka mulai lagi
diperkenalkan budaya orang tua kita dulu yang pagi hari sudah pergi ke pasar
jualan kangkung, setelah subuh sudah noreh getah. Orang tua mulai memikirkan
tentang pentingnya tanah-tanah kosong perlu ditanami tumbuh-tumbuhan yang
bermanfaat. Anak-anak mulai diperkenalkan tentang makna etos kerja, latih cara
berdagang dan jualan agar mempunyai jiwa tanggung di masa depan.
Tentu saja, yang tidak boleh dilupakan
yaitu memperkenalkan ajaran agama kepada mereka dengan sebaik-baiknya. Agar mereka
mengenal hidup di dunia, juga mengenal Sang Pencipta dengan baik.
Dua hal penting tersebut merupakan jalan
yang sangat bagus agar anak-anak [termasuk orang tuanya] melatih diri untuk
siap-siap menghadapi dampak dari situasi dunia yang tidak menentu.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875