
Secara kasat mata dunia lagi tidak
baik-baik saja. Dunia ini terasa sangat sesak dengan beragam berita. Sebenarnya
banyak berita baik. Tapi berita buruk lebih mendominasi. Youtube banyak yang
baik-baik, tapi jiwa pragmatis manusia dengan konten tidak mendidik seperti
jamur di musim hujan. Berita baik saat sekarang ini malah-malah seperti sampah.
Berita gosip, hoax dan sejenisnya justru menjadi idola dan laris manis seperti
larisnya “es krim” di musim kemarau.
Terasa sangat sempit. Dunia yang sangat
luas seolah-olah diperkecil oleh pandangan kedua mata. Fakus pada dunia mini,
bukan globe tapi media sosial. Kedua mata telah terlatih melihat informasi di
media sosial. Ada problem carut marut di dalam negeri, ada perang dan pembunuhan
kemanusiaan di luar negeri. Semua menjadi satu dalam berita. Semua membuat
pikiran semakin stress, hati semakin gelisah.
Bagi manusia yang ada masih ada cahaya “tatmainul
qulub” menginginkan suatu tatanan hidup yang damai, tenang dan penuh dengan
keadaban dan peradaban. Tidak ada perkelahian, tidak ada pertumpahan darah dan
sejenisnya. Semua benar-benar memuji Allah dan selalu mengikuti
perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Allah telah
berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 103 sebagai berikut:
وَلَوْ
اَنَّهُمْ اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَمَثُوْبَةٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ خَيْرٌۗ لَوْ
كَانُوْا يَعْلَمُوْنَࣖ ١٠٣
Artinya:
Seandainya
mereka benar-benar beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik,
seandainya mereka mengetahui(-nya).
Ayat ini
merupakan respon Allah terhadap perilaku orang-orang Yahudi yang telah
mendurhakai-Nya. Bahasa -firman Tuhan-merupakan gambaran suara manusia yang
bersih hatinya. Selalu menginginkan orang-orang yahudi untuk beriman dan
bertakwa kepada-Nya.
Kadang saya sendiri-mungkin
juga anda-sangat iri terhadap optimisme hidup dengan penuh ilmu pengetahuan dan
karya nyata. Bangsa Yahudi atau Bani Israel mengetahui bahwa kematian pasti
ada. Kehidupan pasti akan berakhir dengan kematian. Namun mereka berani melawan
kematian dengan semangat hidup yang sangat tinggi. Mereka bahkan berani melawan
ketentuan Allah dengan melakukan rekayasa-rekayasa aturan agama dibuat oleh
mereka.
Yang saya
kagumi, bukan keberanian melawan Allah. Tapi keberanian untuk menjadi manusia
yang unggul telah siap menanggung resiko, termasuk mendapatkan kutukan Tuhan
dan menempatkan mereka di Neraka Jahanan.
Saya-dan
mungkin anda-adalah orang-orang pilihan yang telah beriman kepada Allah dan
menjalankan syariat-syariat sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Saya -dan
mungkin anda-telah sepakat bahwa agama Islam adalah agama pilihan Tuhan dan
sebagai agama ya’ulu wala yu’la ‘alaih. Namun pengakuan kita masih
sebatas pengakuan kebenaran agama, belum mampu mewujudkan realisasi ajaran
agama dalam kontek sosial yang lebih luas.
Jika dipersempit,
mungkin yang tidak kita punya yaitu optimisme hidup untuk selalu berkarya untuk
kemaslahatan orang lain. Kita masih terlalu memikirkan kepentingan diri sendiri
yang lebih mengarah kepada kepentingan materi. Nafas seperti terasa ngos-ngosan
dan pikiran terkuras untuk mendapatkan impian-impian tersebut. Sehingga kita
seolah-olah sudah tidak ada lagi waktu untuk mempersembahkan karya terbaiknya.
Optimisme kita
sering sebatas optimisme jangka pendek. Sudah mendapatkan jabatan terasa sudah
nyaman. Sudah menjadi orang kaya baru sudah terasa nyaman. Sudah mendapatkan
gelar doktor atau professor sudah merasa hidup sempurna. Sudah punya pasangan
hidup sudah merasa dunia milik berdua. Optimisme hidup sering dibatasi oleh syahwat-syahwat
dunia semata.
Saya dan anda
membutuhkan optimisme dalam diri sendiri sebuah optimisme yang terus membara
seperti cahaya matahari. Ia terus hidup tanpa peduli terhadap ejekan orang atau
hinaan darimanapun berada. Optimisme yang berkualitas akan terus melangkah tanpa
memperdulikan segala rintangan. Toh seandainya berhenti, itu bukan menyerah. Tapi
istirahat sebentar sambil mentertawakan kelucuan rintangan tersebut. Selanjutnya
kita terus berjalan untuk mewujudkan impian yang lebih luas sebagai blue print
ajaran Islam : “anfa’ahum li an-nash”-memberi
manfaat bagi kehidupan manusia.
Salah satu
cara untuk menumbuhkan sinar-sinar optimisme memang kita butuh kumpul dengan
orang-orang yang memberi inpirasi tentang hal tersebut, buku-buku atau
film-film atau bahkan pengalaman dari para sesepuh atau para pendahulu kita.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   360
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   194
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   82
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   128
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3591
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3008
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895