Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

323 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menumbuhkan Optimisme dalam Setiap Aktivitas



Rabu , 22 April 2026



Telah dibaca :  70

Secara kasat mata dunia lagi tidak baik-baik saja. Dunia ini terasa sangat sesak dengan beragam berita. Sebenarnya banyak berita baik. Tapi berita buruk lebih mendominasi. Youtube banyak yang baik-baik, tapi jiwa pragmatis manusia dengan konten tidak mendidik seperti jamur di musim hujan. Berita baik saat sekarang ini malah-malah seperti sampah. Berita gosip, hoax dan sejenisnya justru menjadi idola dan laris manis seperti larisnya “es krim” di musim kemarau.

Terasa sangat sempit. Dunia yang sangat luas seolah-olah diperkecil oleh pandangan kedua mata. Fakus pada dunia mini, bukan globe tapi media sosial. Kedua mata telah terlatih melihat informasi di media sosial. Ada problem carut marut di dalam negeri, ada perang dan pembunuhan kemanusiaan di luar negeri. Semua menjadi satu dalam berita. Semua membuat pikiran semakin stress, hati semakin gelisah.

Bagi manusia yang ada masih ada cahaya “tatmainul qulub” menginginkan suatu tatanan hidup yang damai, tenang dan penuh dengan keadaban dan peradaban. Tidak ada perkelahian, tidak ada pertumpahan darah dan sejenisnya. Semua benar-benar memuji Allah dan selalu mengikuti perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Allah telah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 103 sebagai berikut:

وَلَوْ اَنَّهُمْ اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَمَثُوْبَةٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ خَيْرٌۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَࣖ ۝١٠٣

Artinya:

Seandainya mereka benar-benar beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik, seandainya mereka mengetahui(-nya).

Ayat ini merupakan respon Allah terhadap perilaku orang-orang Yahudi yang telah mendurhakai-Nya. Bahasa -firman Tuhan-merupakan gambaran suara manusia yang bersih hatinya. Selalu menginginkan orang-orang yahudi untuk beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Kadang saya sendiri-mungkin juga anda-sangat iri terhadap optimisme hidup dengan penuh ilmu pengetahuan dan karya nyata. Bangsa Yahudi atau Bani Israel mengetahui bahwa kematian pasti ada. Kehidupan pasti akan berakhir dengan kematian. Namun mereka berani melawan kematian dengan semangat hidup yang sangat tinggi. Mereka bahkan berani melawan ketentuan Allah dengan melakukan rekayasa-rekayasa aturan agama dibuat oleh mereka.

Yang saya kagumi, bukan keberanian melawan Allah. Tapi keberanian untuk menjadi manusia yang unggul telah siap menanggung resiko, termasuk mendapatkan kutukan Tuhan dan menempatkan mereka di Neraka Jahanan.

Saya-dan mungkin anda-adalah orang-orang pilihan yang telah beriman kepada Allah dan menjalankan syariat-syariat sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Saya -dan mungkin anda-telah sepakat bahwa agama Islam adalah agama pilihan Tuhan dan sebagai agama ya’ulu wala yu’la ‘alaih. Namun pengakuan kita masih sebatas pengakuan kebenaran agama, belum mampu mewujudkan realisasi ajaran agama dalam kontek sosial yang lebih luas.

Jika dipersempit, mungkin yang tidak kita punya yaitu optimisme hidup untuk selalu berkarya untuk kemaslahatan orang lain. Kita masih terlalu memikirkan kepentingan diri sendiri yang lebih mengarah kepada kepentingan materi. Nafas seperti terasa ngos-ngosan dan pikiran terkuras untuk mendapatkan impian-impian tersebut. Sehingga kita seolah-olah sudah tidak ada lagi waktu untuk mempersembahkan karya terbaiknya.

Optimisme kita sering sebatas optimisme jangka pendek. Sudah mendapatkan jabatan terasa sudah nyaman. Sudah menjadi orang kaya baru sudah terasa nyaman. Sudah mendapatkan gelar doktor atau professor sudah merasa hidup sempurna. Sudah punya pasangan hidup sudah merasa dunia milik berdua. Optimisme hidup sering dibatasi oleh syahwat-syahwat dunia semata.

Saya dan anda membutuhkan optimisme dalam diri sendiri sebuah optimisme yang terus membara seperti cahaya matahari. Ia terus hidup tanpa peduli terhadap ejekan orang atau hinaan darimanapun berada. Optimisme yang berkualitas akan terus melangkah tanpa memperdulikan segala rintangan. Toh seandainya berhenti, itu bukan menyerah. Tapi istirahat sebentar sambil mentertawakan kelucuan rintangan tersebut. Selanjutnya kita terus berjalan untuk mewujudkan impian yang lebih luas sebagai blue print ajaran Islam : “anfa’ahum li  an-nash”-memberi manfaat bagi kehidupan manusia.

Salah satu cara untuk menumbuhkan sinar-sinar optimisme memang kita butuh kumpul dengan orang-orang yang memberi inpirasi tentang hal tersebut, buku-buku atau film-film atau bahkan pengalaman dari para sesepuh atau para pendahulu kita.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   360

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   194

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   82

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   128

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895