Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

MTQ dan Pemuda Bertato



Minggu , 21 April 2024



Telah dibaca :  770

الۤمّ.ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ.

Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Sudah sepuluh hari Idul Fitri telah berlalu, Pelabuhan Bandar Sri Laksamana Bengkalis masih padat. Penumpang Kapal Batam Jet dan Dumai Line masih penuh. Mungkin juga ada kaitanya acara MTQ tingkat Provinsi di Dumai, penumpang Kapal Laut menuju ke Dumai masih penuh.

Setelah sholat jumat, penulis naik Kapal Dumai Line menuju Kota Dumai. Ada tugas menjadi majelis hakim dari LTPQ Provinsi Riau. Saya mencari tempat duduk. Sudah penuh. Untung ada dua deret bangku kosong. Sebelahnya ada seorang anak muda yang sedang tidur. Segera saya duduk, dan memasang headset ke telinga sambil mendengar lagu lagu dan membantu terlinga agar tidak terlalu dingin oleh AC kapal dumai yang terasa sangat dingin.

Sekitar jam 15.30 saya sudah sampai di Pelabuhan Internasional Dumai. Mas Solihun sudah stand by menjemput saya. Ia masih saudara yang berpisah puluhan tahun. Dulu orang tuanya sering ngaji ke bapak saya di Banyumas. Mas Sholihun terlebih dahulu merantau ke Dumai, saya memilih mengelilingi Indonesia mulai dari Kebumen, Yogyakarta, Banyuwangi, Muncar, Situbondo dan Bali, terus balik ke arah barat menuju Jakarta, Lampung dan berhenti di Riau. Kami baru bisa bertemu tahun 2024 ketika Kota Dumai menjadi tuan rumah MTQ Provinsi Riau ke-42.

Kota dumai terlihat sangat indah. Kota ini mendapat julukan kota minyak. Selain penghasil minyak bumi, minyak kelapa sawit, minyak kelapa, dan gas alam. Jika dilihat dari tengah laut sudah terlihat kawasan industri yang menghiasi sepanjang bibir laut kota dumai. Kapal kapal besar dari berbagai Negara dan kota besar Indonesia juga terlihat berhenti di tengah laut. Mungkin bongkar muatnya di tengah laut. Biasanya kapal kapal kecil menjadi perantara  proses bongkar muat.

Kota Dumai semakin indah ketika melihat DIC (Dumai Islamic Center) . Pada acara MTQ, tempat ini menjadi saksi pelantikan dewan hakim. Temat ini juga akan menjadi saksi tentang  keagungan ayat ayat Al-Quran yang maha indah. Desain pintunya mengingatkan Masjid Nabawi. Suasananya membuatku rindu ingin kembali ziarah ke maqam Rasulullah Saw. Entah kapan lagi bisa ziarah ke tempat yang mulia ini. Semoga Allah memperkenankan saya untuk bisa kembali mengunjungi masjid Nabawi dan Masjid Haram di masa mendatang.

Kota Dumai ada DIC mirip Masjid Nabawi, ada juga MTQ. Semua ini mengingatkan tentang ayat ayat Al Quran sebagai  petunjuk bagi orang orang mutaqin. Siapa orang mutaqin. Saya mencoba mencari manusia-manusia mutaqin di kota Dumai. Sore hari, saya menelusuri kota dumai, berjalan di pinggir toko, melihat lihat para penjual gorengan, nasi uduk,  karyawan toko yang bersih bersih dan cantik cantik, dan beberapa pemuda yang “cangkru an” di Jok Honda prutul. Tatapan matanya yang kosong. Saya menatap mereka, mereka pun menatapku. Kami sama sama seperti orang asing bertemu orang asing, hanya tatapan dan tidak ada saling sapa.

Saya terus berjalan. Ketika terasa letih, saya masuk ke sebuah toko yang menyediakan kebutuhan rumah tangga. Setelah saya berhenti dan membeli satu buah Sisir Rambut ukuran kecil dan minuman Pocari Sweat, saya duduk di kursi  dekat kasir. Pemiliknya kelihatanya masih etnis tionghoa. Di pintu ada tulisan aksara Han, model penulisan logografik yang sangat unik dan indah (dalam Islam mungkin disebut tulisan khat). Kulitnya hitam, lebih hitam dari kulitku, tapi matanya sipit. Mungkin orang tuanya sudah menikah dengan penduduk tempatan, jadi kulitnya sudah tidak sama dengan kulit etnis tionghoa yang umumnya putih dan matanya sipit. Ia tinggal sipitnya saja. Meskpun demikian, dia sangat humble. Saya mengobrol di tokonya sekitar 15 menit. Seolah-olah kami sahabat lama, guyonan tidak karuan.

Ketika kami tengah ngobrol, ada seorang perempuan tua berumur sekitar 65-an tahun. Terlihat sudah susah berjalan. Karena letih, ia pun duduk di lantai Toko. Kami mempersilahkan untuk duduk di kursi, tapi tidak mau. Ia tetap di lantai dan mengungkapkan maksudnya membeli beras satu kampit ukuran 5 kg. Setelah membeli, sang ibu tadi kesulitan membawa berasnya. Penjaga toko pun membantu mengangkat dan menaruhnya di atas kepala ibu tua tadi. Sungguh pemandangan sangat menyentuh hati.

“ Rumah ibu tadi jauh dari sini pak?” tanyaku.

“Tidak, di belakang sana. Suaminya sudah meninggal. Ia hidup dengan anak-anak dan cucu-cucunya” jawabnya.

“Anak dan mantunya tidak bekerja. Yang bekerja ibu tua tadi. Setiap hari ibu tadi menjadi pengemis untuk menyambung kebutuhan hidup sehari-hari” jelasnya pemilik toko tersebut.

Saya termenung, apakah ibu tua yang menjadi pengemis seorang mutaqin? Apakah saya yang sering berprasangkan jelek kepada para pengemis yang statusnya saat ini menjadi majelis hakim juga bagian dari mutaqin atau jangan-jangan mutaqin kawe?. Apakah kita yang sering berprasangkan jelek dan menuduh para pengemis hakikatnya sudah kaya dan tidak mau bekerja dan hanya mencari jalan pintas sebagai peminta-minta? Banyak pikiran yang sering bersliweran dalam pikiran kita tentang mereka. Kita kadang lebih sibuk mengurus status mereka dan menambah beban kita sendiri dengan menuduh mereka sebenarnya orang baik-baik saja dengan cara kerja yang tidak baik, lalu kita menempatkan diri seolah-olah baik-baik saja, padahal bisa juga sebaliknya jika dilihat dari sudut hati yang paling dalam.

Saya sudah membaca ciri khas mutaqin, yaitu :

Firman allah menjelaskan ciri orang muttaqin “ الذين يومنون بالغيب mereka yang beriman kepada ghaib. Kata yu’minun mempunyai arti yushodaquna atau membenarkan. Qatadah mengatakan bahwa orang beriman adalah bukan orang pemalas, tapi orang yang senantiasa bekerja keras memenuhi kebutuhan hidupnya, serta mempunyai semangat tinggi untuk mencapai suatu cita-cita.

Ciri orang mutaqin Juga “ ويقيمون الصلوة“, mendirikan sholat, artinya melaksanakan sholat dengan memenuhi rukun dan syarat-syaratnya, juga melaksanakan sunnah-sunnahnya. Mendirikan sholat juga mempunyai arti melaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Jika terlambat atau habis waktunya, maka tetap dilaksanakan dengan meng-qadha nya.

Ciri mutaqin selanjutnya   “ رزقنهم ينفقون”, menafkahkan sebagian rezkinya sebagian rizki yang telah kami berikan kepada mereka. menurut ahlu sunnah rezeki apa yang dapat dimanfaatkan, baik halal dan haram. Kaum Mu’tazilah menilai sesuatu yang haram bukan rezeki. Sebab Allah tidak boleh memberi rezeki yang haram. Dari pendapat tersebut, kiranya penulis melihat realita kehidupan bahwa manusia mendapatkan rezeki dengan cara yang benar dan yang salah. Keduanya akan mendapatkan pertanggungjawaban sesuai dengan apa yang telah dilakukan.

Ibu tua tadi tentu saja tidak memahami Al-Qur’an secara lebih kaffah sebagaimana kelompok orang-orang yang dianugerahi ilmu (‘alim) dan orang-orang yang telah dibuka pintu hati dan pemahamannya (hikmah). Penulis melihat bahwa ia telah mempunyai ciri khas unsur keimanan yaitu adanya kemampuan kuat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di sisa umur dan tenaga, ia bekerja sesuai kondisinya. Benar bahwa Islam tidak memperkenankan menjadi “peminta-minta”. Islam menganjurkan untuk bekerja. Etika Islam mengajurkan adanya etos kerja. Tapi apa yang telah dilakukan oleh seorang ibu tua tadi bagian dari definisi etos kerja pada aspek lain. Dia sudah tidak mempunyai tenaga bekerja, ia juga tidak mempunyai modal untuk membuka lapak kecil-kecilan. Sedangkan ia harus memenuhi kebutuhan hidup setiap hari dengan segera mungkin. Salah satu jalan yang bisa dilakukan yaitu bekerja melalui “pintu darurat” sebagai peminta-minta di pinggir jalan. Cara ini jauh lebih mulia ketimbang ia berdiam diri tidak bekerja atau bekerja dengan cara-cara yang tidak benar seperti mencuri dan sebagainya. Bahkan pada aspek lain, Ibu tua tadi juga telah menjadi penolong bagi orang-orang yang ingin menyalurkan rezekinya secara langsung. Sebab ada sebagian orang yang kadang kurang sreg ketika menyalurkan pada ormas-ormas tertentu yang secara pertanggungjawaban keuangan tidak transparan.

Penulis tidak melihat apakah ibu tua yang menggunakan jilbab warna hitam tersebut ahli sholat. Hal ini pun tidak penting bagi ku untuk menilai standar mutaqin. Penulis hanya bisa melihat pada ibu tersebut ada unsur keyakinan akan rezeki dari Allah Yang Maha Luas, bekerja dengan caranya dan menyalurkan hasil nya untuk menghidupi anak, menantu dan cucu nya. Agak sedih memang mendengar kisah hidupnya ketika seorang anak, menantu membiarkan orang tua nya bekerja sedangkan mereka hidup dengan santai dan menikmati hasil jerih payah ibu nya sekaligus juga mertuanya. Tapi, ini persoalan lain dan etika bagi anak dan menantunya. Saya hanya ingin melihat bahwa perjuangan seorang ibu akan kasih sayang terhadap anak sepanjang masa adalah bukti bahwa makna mutaqin bukan sebatas pada kehidupan ukuran-ukuran normal manusia. Perjuangan ibu tadi telah mewakili orang-orang pinggiran penuh perjuangan untuk bisa eksis bertahan hidup dengan keterbatasan rezeki yang ada. Mereka sudah tidak lagi memimpikan punya rumah mewah dan uang trilyunan rupiah. Mereka hanya ingin hidup bisa bekerja dan berpenghasilan secara wajar, jika tidak bisa pun di bawah kewajaran sedikit tidak menjadi persoalan. Sebab persaingan hidup di dunia modern sering terjadi dan terkadang berwujud seperti hukum rimba. Mereka bisa jadi bagian dari orang yang kurang beruntung dalam kehidupan dunia. Bisa jadi, mereka telah mencatat bagian dari mutaqin yang tidak sempurna dalam pandangan manusia, tapi Tuhan yang mempunyai hak untuk melihat sisi kesempurnaan dengan cara-Nya.

Walhasil, saya dan para majelis hakim bisa mempunyai kesempatan mendengarkan lantunan-lantunan ayat Al-Qur’an. Kita mungkin kualitas iman dan takwanya semakin meningkat. Namun di sisi lain, ibu tua tadi dan orang-orang senasib dengan nya hanya bisa melantunkan musik suara garpu dan sendok di atas piring serta nyanyian perut kosong karena belum terisi makanan seharian.

Saya kadang merasa sedih melihat ibu tersebut hingga hilang dalam pandanganku. Lalu saya keluar dari toko dan mendekati penjual gorengan. Saya membeli beberapa ribu. Setelah selesai, saya membalikan badan. Ada tiga pemuda yang tangan nya penuh tato dan kaos oblong terlihat kotor. Saya mendekati dan memberikan gorengan pisang kepada mereka. Saya melihat wajah mereka sangat bahagia menerima bingkisan dariku yang tidak seberapa, tapi berarti bagi mereka. Saya berdoa, “Ya Allah, jika mereka belum bisa mulia di dunia, muliakan mereka di sisi-Mu”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876