
الۤمّ.ذٰلِكَ
الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ.
Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada
keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
Sudah sepuluh hari Idul Fitri telah
berlalu, Pelabuhan Bandar Sri Laksamana Bengkalis masih padat. Penumpang Kapal Batam
Jet dan Dumai Line masih penuh. Mungkin juga ada kaitanya acara MTQ tingkat Provinsi
di Dumai, penumpang Kapal Laut menuju ke Dumai masih penuh.
Setelah sholat jumat, penulis naik Kapal
Dumai Line menuju Kota Dumai. Ada tugas menjadi majelis hakim dari LTPQ
Provinsi Riau. Saya mencari tempat duduk. Sudah penuh. Untung ada dua deret
bangku kosong. Sebelahnya ada seorang anak muda yang sedang tidur. Segera saya
duduk, dan memasang headset ke telinga sambil mendengar lagu lagu dan membantu
terlinga agar tidak terlalu dingin oleh AC kapal dumai yang terasa sangat
dingin.
Sekitar jam 15.30 saya sudah sampai
di Pelabuhan Internasional Dumai. Mas Solihun sudah stand by menjemput
saya. Ia masih saudara yang berpisah puluhan tahun. Dulu orang tuanya sering
ngaji ke bapak saya di Banyumas. Mas Sholihun terlebih dahulu merantau ke Dumai,
saya memilih mengelilingi Indonesia mulai dari Kebumen, Yogyakarta, Banyuwangi,
Muncar, Situbondo dan Bali, terus balik ke arah barat menuju Jakarta, Lampung
dan berhenti di Riau. Kami baru bisa bertemu tahun 2024 ketika Kota Dumai menjadi
tuan rumah MTQ Provinsi Riau ke-42.
Kota dumai terlihat sangat indah. Kota
ini mendapat julukan kota minyak. Selain penghasil minyak bumi, minyak kelapa
sawit, minyak kelapa, dan gas alam. Jika dilihat dari tengah laut sudah
terlihat kawasan industri yang menghiasi sepanjang bibir laut kota dumai. Kapal
kapal besar dari berbagai Negara dan kota besar Indonesia juga terlihat
berhenti di tengah laut. Mungkin bongkar muatnya di tengah laut. Biasanya kapal
kapal kecil menjadi perantara proses
bongkar muat.
Kota Dumai semakin indah ketika
melihat DIC (Dumai Islamic Center) . Pada acara MTQ, tempat ini menjadi saksi pelantikan
dewan hakim. Temat ini juga akan menjadi saksi tentang keagungan ayat ayat Al-Quran yang maha indah. Desain
pintunya mengingatkan Masjid Nabawi. Suasananya membuatku rindu ingin kembali ziarah
ke maqam Rasulullah Saw. Entah kapan lagi bisa ziarah ke tempat yang mulia ini.
Semoga Allah memperkenankan saya untuk bisa kembali mengunjungi masjid Nabawi
dan Masjid Haram di masa mendatang.
Kota Dumai ada DIC mirip Masjid Nabawi, ada juga MTQ. Semua ini mengingatkan
tentang ayat ayat Al Quran sebagai petunjuk bagi orang orang
mutaqin. Siapa orang mutaqin. Saya mencoba mencari manusia-manusia mutaqin di kota Dumai. Sore hari,
saya menelusuri kota dumai, berjalan di pinggir toko, melihat lihat para penjual
gorengan, nasi uduk, karyawan toko yang
bersih bersih dan cantik cantik, dan beberapa pemuda yang “cangkru an” di
Jok Honda prutul. Tatapan matanya yang kosong. Saya menatap mereka,
mereka pun menatapku. Kami sama sama seperti orang asing bertemu orang asing,
hanya tatapan dan tidak ada saling sapa.
Saya terus berjalan. Ketika terasa
letih, saya masuk ke sebuah toko yang menyediakan kebutuhan rumah tangga. Setelah saya berhenti
dan membeli satu buah Sisir Rambut ukuran kecil dan minuman Pocari Sweat, saya
duduk di kursi dekat kasir. Pemiliknya kelihatanya
masih etnis tionghoa. Di pintu ada tulisan aksara Han, model penulisan logografik
yang sangat unik dan indah (dalam Islam mungkin disebut tulisan khat). Kulitnya
hitam, lebih hitam dari kulitku, tapi matanya sipit. Mungkin orang tuanya sudah
menikah dengan penduduk tempatan, jadi kulitnya sudah tidak sama dengan kulit
etnis tionghoa yang umumnya putih dan matanya sipit. Ia tinggal sipitnya saja. Meskpun
demikian, dia sangat humble. Saya mengobrol di tokonya sekitar 15 menit. Seolah-olah
kami sahabat lama, guyonan tidak karuan.
Ketika kami tengah ngobrol, ada seorang
perempuan tua berumur sekitar 65-an tahun. Terlihat sudah susah berjalan. Karena
letih, ia pun duduk di lantai Toko. Kami mempersilahkan untuk duduk di kursi, tapi
tidak mau. Ia tetap di lantai dan mengungkapkan maksudnya membeli beras satu kampit
ukuran 5 kg. Setelah membeli, sang ibu tadi kesulitan membawa berasnya. Penjaga
toko pun membantu mengangkat dan menaruhnya di atas kepala ibu tua tadi. Sungguh
pemandangan sangat menyentuh hati.
“ Rumah ibu tadi jauh dari sini pak?”
tanyaku.
“Tidak, di belakang sana. Suaminya sudah
meninggal. Ia hidup dengan anak-anak dan cucu-cucunya” jawabnya.
“Anak dan mantunya tidak bekerja. Yang
bekerja ibu tua tadi. Setiap hari ibu tadi menjadi pengemis untuk menyambung
kebutuhan hidup sehari-hari” jelasnya pemilik toko tersebut.
Saya termenung, apakah ibu tua yang
menjadi pengemis seorang mutaqin? Apakah saya yang sering berprasangkan jelek
kepada para pengemis yang statusnya saat ini menjadi majelis hakim juga bagian
dari mutaqin atau jangan-jangan mutaqin kawe?. Apakah kita yang sering
berprasangkan jelek dan menuduh para pengemis hakikatnya sudah kaya dan tidak
mau bekerja dan hanya mencari jalan pintas sebagai peminta-minta? Banyak pikiran
yang sering bersliweran dalam pikiran kita tentang mereka. Kita kadang
lebih sibuk mengurus status mereka dan menambah beban kita sendiri dengan
menuduh mereka sebenarnya orang baik-baik saja dengan cara kerja yang tidak
baik, lalu kita menempatkan diri seolah-olah baik-baik saja, padahal bisa juga
sebaliknya jika dilihat dari sudut hati yang paling dalam.
Saya sudah membaca ciri khas
mutaqin, yaitu :
Firman allah menjelaskan ciri orang
muttaqin “ الذين يومنون
بالغيب “ mereka yang
beriman kepada ghaib. Kata yu’minun mempunyai arti yushodaquna atau
membenarkan. Qatadah mengatakan bahwa orang beriman adalah bukan orang pemalas,
tapi orang yang senantiasa bekerja keras memenuhi kebutuhan hidupnya, serta
mempunyai semangat tinggi untuk mencapai suatu cita-cita.
Ciri orang mutaqin Juga “ ويقيمون الصلوة“, mendirikan sholat, artinya melaksanakan
sholat dengan memenuhi rukun dan syarat-syaratnya, juga melaksanakan
sunnah-sunnahnya. Mendirikan sholat juga mempunyai arti melaksanakan sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan. Jika terlambat atau habis waktunya, maka
tetap dilaksanakan dengan meng-qadha nya.
Ciri mutaqin selanjutnya “ رزقنهم ينفقون”, menafkahkan sebagian rezkinya sebagian
rizki yang telah kami berikan kepada mereka. menurut ahlu sunnah rezeki apa
yang dapat dimanfaatkan, baik halal dan haram. Kaum Mu’tazilah menilai sesuatu
yang haram bukan rezeki. Sebab Allah tidak boleh memberi rezeki yang haram. Dari
pendapat tersebut, kiranya penulis melihat realita kehidupan bahwa manusia
mendapatkan rezeki dengan cara yang benar dan yang salah. Keduanya akan
mendapatkan pertanggungjawaban sesuai dengan apa yang telah dilakukan.
Ibu tua tadi tentu saja tidak memahami Al-Qur’an
secara lebih kaffah sebagaimana kelompok orang-orang yang dianugerahi ilmu (‘alim)
dan orang-orang yang telah dibuka pintu hati dan pemahamannya (hikmah). Penulis
melihat bahwa ia telah mempunyai ciri khas unsur keimanan yaitu adanya
kemampuan kuat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di sisa umur dan
tenaga, ia bekerja sesuai kondisinya. Benar bahwa Islam tidak memperkenankan
menjadi “peminta-minta”. Islam menganjurkan untuk bekerja. Etika Islam mengajurkan
adanya etos kerja. Tapi apa yang telah dilakukan oleh seorang ibu tua tadi
bagian dari definisi etos kerja pada aspek lain. Dia sudah tidak mempunyai tenaga
bekerja, ia juga tidak mempunyai modal untuk membuka lapak kecil-kecilan. Sedangkan
ia harus memenuhi kebutuhan hidup setiap hari dengan segera mungkin. Salah satu
jalan yang bisa dilakukan yaitu bekerja melalui “pintu darurat” sebagai peminta-minta
di pinggir jalan. Cara ini jauh lebih mulia ketimbang ia berdiam diri tidak
bekerja atau bekerja dengan cara-cara yang tidak benar seperti mencuri dan
sebagainya. Bahkan pada aspek lain, Ibu tua tadi juga telah menjadi penolong
bagi orang-orang yang ingin menyalurkan rezekinya secara langsung. Sebab ada
sebagian orang yang kadang kurang sreg ketika menyalurkan pada ormas-ormas
tertentu yang secara pertanggungjawaban keuangan tidak transparan.
Penulis tidak melihat apakah ibu tua yang
menggunakan jilbab warna hitam tersebut ahli sholat. Hal ini pun tidak penting
bagi ku untuk menilai standar mutaqin. Penulis hanya bisa melihat pada ibu
tersebut ada unsur keyakinan akan rezeki dari Allah Yang Maha Luas, bekerja
dengan caranya dan menyalurkan hasil nya untuk menghidupi anak, menantu dan
cucu nya. Agak sedih memang mendengar kisah hidupnya ketika seorang anak,
menantu membiarkan orang tua nya bekerja sedangkan mereka hidup dengan santai
dan menikmati hasil jerih payah ibu nya sekaligus juga mertuanya. Tapi, ini
persoalan lain dan etika bagi anak dan menantunya. Saya hanya ingin melihat
bahwa perjuangan seorang ibu akan kasih sayang terhadap anak sepanjang masa
adalah bukti bahwa makna mutaqin bukan sebatas pada kehidupan ukuran-ukuran
normal manusia. Perjuangan ibu tadi telah mewakili orang-orang pinggiran penuh
perjuangan untuk bisa eksis bertahan hidup dengan keterbatasan rezeki yang ada.
Mereka sudah tidak lagi memimpikan punya rumah mewah dan uang trilyunan rupiah.
Mereka hanya ingin hidup bisa bekerja dan berpenghasilan secara wajar, jika
tidak bisa pun di bawah kewajaran sedikit tidak menjadi persoalan. Sebab persaingan
hidup di dunia modern sering terjadi dan terkadang berwujud seperti hukum
rimba. Mereka bisa jadi bagian dari orang yang kurang beruntung dalam kehidupan
dunia. Bisa jadi, mereka telah mencatat bagian dari mutaqin yang tidak sempurna
dalam pandangan manusia, tapi Tuhan yang mempunyai hak untuk melihat sisi
kesempurnaan dengan cara-Nya.
Walhasil, saya dan para majelis hakim bisa
mempunyai kesempatan mendengarkan lantunan-lantunan ayat Al-Qur’an. Kita mungkin
kualitas iman dan takwanya semakin meningkat. Namun di sisi lain, ibu tua tadi
dan orang-orang senasib dengan nya hanya bisa melantunkan musik suara garpu dan
sendok di atas piring serta nyanyian perut kosong karena belum terisi makanan
seharian.
Saya kadang merasa sedih melihat ibu
tersebut hingga hilang dalam pandanganku. Lalu saya keluar dari toko dan
mendekati penjual gorengan. Saya membeli beberapa ribu. Setelah selesai, saya
membalikan badan. Ada tiga pemuda yang tangan nya penuh tato dan kaos oblong terlihat kotor. Saya mendekati dan memberikan gorengan pisang kepada mereka. Saya
melihat wajah mereka sangat bahagia menerima bingkisan dariku yang tidak
seberapa, tapi berarti bagi mereka. Saya berdoa, “Ya Allah, jika mereka belum
bisa mulia di dunia, muliakan mereka di sisi-Mu”.
Penulis : Imam Ghozali
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876