
Puasa telah mengajarkan kepada umat Islam
untuk berselancar pada imajinasi kemanusiaan tanpa batas. Zakat Fitrah menjadi
simbol ajaran kemanusiaan. Untuk tetangga kita yang secara syariat Islam berhak
mendapatkan. Ada saudara kita yang mungkin tidak pernah bertemu secara tatap
muka, tapi penderitaanya terasa dalam dada. Mereka adalah saudara-saudara kita
di Palestina.
Jika kita mempunyai beras 1 kg, bisa berbagi.
Mungkin tidak kenyang. Tapi setidak bisa untuk “ganjel” perut saudara
kita, tetangga kita dekat maupun jauh. 1 kg dibagi: 1 ons untuk tetangga, 1 ons
untuk tetangga agak jauh, dan 1 ons untuk saudara kita yang ada di Palestina. Selebihnya
untuk makan keluarga kita.
Kesedihan warga Palestina terasa sampai di dinding-dinding
rumah umat Islam di Indonesia. Ormas-ormas Islam seperti NU, Muhamadiyah dan
lain-lain menggalang donatur untuk disalurkan kepada warga Palestina. Baznas nasional
pun telah melakukan konsolidasi nasional. Mengumpulkan sebagian rezeki
saudara-saudara muslim di Indonesia.
Warga Palestina tentu masyarakat pada umum nya. Ada yang baik ada yang kurang baik. Sebagian dari warga Palestina yang
oportunis juga banyak. Sebagian mereka menjual tanah-tanah nya ke warga Yahudi dengan
harga mahal. Mereka menjual tanah secara diam-diam. Akhirnya semakin hari tanah
Palestina semakin sempit.
Apa yang terjadi di Palestina, juga terjadi di berbagai daerah kita. Tanah-tanah sudah mulai menyempit. Pada tahun 2000-an, saya masih bisa melihat rumah-rumah warga Selatpanjang di pinggir jalan. Kini pinggir-pinggir jalan sudah berdiri Ruko. Di dunia ada dua penguasa: Asia dikuasi etnis Cina. Barat dikuasai etnis Yahudi.
Sebagian warga palestina juga ada yang menjadi pejabat negara Israel dan mendapatkan fasilitas seperti Masjid. Mereka mendapatkan kenikmatan dunia. Fasilitas tempat ibadah dan gaji sangat besar dan membuat sebagian warga Palestina berpindah menjadi warga Israel. Mereka terutama, warga arab yang masih mempunyai keturunan warga yahudi.
Sebagian lagi, ada yang sangat keras
memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Banyak pahlawan dan para suhada yang
telah meninggal dunia. Mereka juga marah dan mengikrarkan perang akibat aksi
penyerobotan tanah-tanah warga Palestina. Jadi, ada dua persoalan tanah. Satu sisi
sebagian warga menjual tanah nya, sebagian lagi karena persoalan politik yang sangat
komplek terhadap Kaum Yahudi. Disini persoalan administrasi tidak sebatas
persoalan internal mereka, tetapi persoalan administrasi agraria telah
berkaitan dengan persoalan internasional. Keberhasilan berdirinya negara Israel
bagian dari persoalan administrasi internasional ikut campur di dalam nya.
Para aktivis yang berfikir jernih siap
mengorbankan jiwa dan raganya. Salah satu akitvis yang terkenal yaitu Muna
Al-Kurd, seorang perempuan cantik sarjana bidang komunikasi dan jurnalistik. Ia
seorang perempuan Singa Podium. Ia membakar semangat pemuda dan pemudi
palestina. Ia mengajak berjihad kepada seluruh komponen masyarakat palestina. Melalui
pidatonya, tulisannya, ia berhasil menggerakan demonstrasi besar-besaran dan
pertempuran selama 11 hari akibat pengusiran warga Palestina dari Sheikh
Jarrah. Termasuk tempat tinggal nya. Aksi nya, telah mengantarkan ia
mendapatkan penghargaan dari Majalah Times. Ia termasuk 100 orang berpengaruh pada
tahun 2021.
Muna Al-Kurd merupakan seorang perempuan. Cantik
rupawan. Tapi sifat nya “rajulun”, berani menggunakan mimbar,
forum-forum lokal dan internasional memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Tulisan-tulisannya
mampu menggerakan massa melawan Israel. Ia perempuan secara fisik, tapi rajulun
secara subtansi.
Muna Al-Kurd tentu bukan satu-satunya perempuan
cantik yang pemberani di Palestina. Itu sudah karakter yang terbangun karena
kondisi negara nya.
Suatu hari saat saya duduk agak jauh pas searah
depan Multazam, ada dua anak-anak
berumur 13-14 tahunan. Laki-lai dan perempuan. Dan seorang ibu muda cantik. Anak
Perempuan itu sangat khusu’ sholat sunnah dan berdoa di depan Ka’bah. Saya perhatikan
dengan sungguh-sungguh. Ia benar-benar mengangkat kedua tangannya bermunajat
kepada Allah. Setelah selesai, saya bertanya asal negara nya. ia menjawab:
“Saya dari Palestina”.
Saya melihat mereka (apalagi ibunya)
sungguh sangat menarik hati. Paras nya cantik. Tapi mereka sudah terlanjur jatuh
cinta kepada Sang Maha Indah yaitu Allah SWT. Mereka umat Rasul kekinian yang
sangat mencintai Allah. Hanya Dia yang paling indah di dunia. Semua selain-Nya
terlihat fana. Sedangkan diriku masih sebatas melihat keindahan fisik. Betapa hina
nya diriku.
Walhasil, kita nampaknya harus banyak belajar
dari Muna Al-Kurd dan perempuan-perempuan menghabiskan waktunya beribadah di
depan Ka’bah. Dalam segala keterbasan negaranya, mereka bisa menemukan cinta
sejati di Masjidil Haram, yaitu cinta kepada Sang Kekasih terbaik yaitu Allah SWT.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871