
Saya bukan pengamat Internasional. Namun serangan
rudal Iran ke Israel mengingatkan ku pada perang Iran-Irak pada tahun
1980-1988, dan Irak-Kuwait pada tahun 1990-1991. Dampak yang terlihat sama
yaitu sama-sama harga minyak dunia menjadi naik. Diprediksi harga minyak dunia
tembus 100 dolar per barel akibat perang Israel-Iran. Salah satu dampaknya yang
dirasakan yaitu menggerus daya beli sehingga berpotensi memperlambat pemulihan
ekonomi.
Ada pertanyaan yang menggelitik dalam
hatiku;” kenapa satu-satu negara Islam di dunia yang secara terang-terangan
berani melawan Israel secara face to face hanya Iran?”. Padahal,
mayoritas muslim di negara tersebut itu Syiah. Penguasa syiah. Sunni minoritas.
Kenapa negara yang berani membombardir negara Israel bukan Arab Saudi atau Timur
Tengah lainnya. Bahkan saat rudal Iran menuju Israel melewati wilayah Yordania,
serta-merta tentara yordania menembaknya. Ketika Tindakan tersebut mendapat
reaksi keras dari masyarakat karena dianggap membela Israel, pemerintah Yordania
mengatakan;” Wilayah kami bukan tempat untuk persinggahan perang”.
Iran memang tidak pernah akur dengan Israel.
Para tokoh Iran yang mati akibat serangan tentara Israel antara lain; Jendral
Abbas Nilfoushan bersamaan meninggalnya pemimpin Hisbullah Hassan Nasrallah,
Ismail Haniyeh, Mohsen Fakhrizadeh, Jendral Tehrani Moghaddam dan lain-lain. Iran
pun satu-satu nya negara yang berani melawan Amerika. Salah satu Jenderal Iran meninggal
dunia yang pernah menggegerkan dunia adalah Mayor Jenderal Qasem Soleimani.
Ironis nya diinternal Islam, Syiah selalu
menjadi musuh bebuyutan Sunni. Peristiwa Perang Siffin dan trategi berdarah
keluarga Husein di Padang Karbala benar-benar telah membuat garis pemisah
ketidakharmonisan hubungan syiah dan sunni sepanjang sejarah. Keduanya telah
melahirkan pandangan ideologi dan politik yang berbeda. Itu sebabnya, ketika Iran
menyerukan kepada negara-negara islam untuk melawan dan menyerang Israel,
respon dari negara-negara Islam biasa-biasa saja. Meskipun hingga kini, semua
negara Islam mengutuk zionisme Israel. Hasil nya nihil. Israel tetap saja
membantai warga Palestina. Bukan hanya umat Islam, tapi juga umat kristen.
Jadi hubungan di internal Islam sangat unik,
jlimet. Seperti mengurai benang kusut. Dibiarkan semrawut, ditarik sebelah sini,
sebelah sana malah “tercekik”. Iran marah kepada Israel. Negara-negara Islam
marah kepada Israel. Disisi lain, negara-negara Islam tidak suka Iran. Baik Iran
maupun negara-negara Islam ingin sama-sama memerdekakan Palestina, tapi keduanya
tidak akur. Akhirnya jalan sendiri-sendiri. Iran head to head perang dengan Israel.
Iran tidak cengeng. Dulu perang Iran-Irak. AS
membantu Irak. Iran dikeroyok oleh negara barat. Meskipun kalah, Iran tetap
harus diacungkan jempol. Bayangkan saja, melawan Irak dan sekutunya bisa
bertahan selama 8 tahun. Luarbiasa. Iran memang petarung sejati.
Penulis hanya bisa berandai-andai kenapa Iran
begitu gagah berani melawan AS atau Israel pada saat sebagian negara-negara Islam
lainnya justru menjadi boneka kedua negara tersebut:
Pertama, negara Iran adalah satu-satu nya
negara Islam yang mempunyai warga negara Yahudi terbesar nomor dua setelah negara
Israel. Jumlah nya sekitar 25.000 jiwa. Profesi mereka banyak bergerak di
bidang perekonomian. Persis etnis Cina di wilayah Asia, juga perekonomian. Negara
Iran memang memberi kemerdekaan dan perlindungan hukum kepada seluruh warga
negara termasuk keturunan Yahudi. Semua sama. Meskipun pada beberapa bagian
tertentu konstitusi melarang warga Yahudi menjadi prajurit ke atas (hanya
bagian yang rendahan saja) dan bagian pemerintahan. Ini hampir mirip-mirip Indonesia
masa orde baru terhadap pembatasan etnis Tionghoa masuk di politik dan
pemerintahan.
Jadi baik Iran maupun Israel sebenarnya
sama-sama mempunyai kekuatan kunci pada warga yahudi. Kedudukan warga yahudi
yang masuk pada wilayah bisnis bisa mem-back up jaringan bisnis internasional. Bisa
jadi keduanya pada wilayah tertentu ada kesamaan kepentingan dan terjadi
konflik ketika kepentingan tersebut tidak ada titik temu. Orientasi bisnis dan
politik. Maka wajar jika ada sebagian pengamat mengatakan perang Iran-Israel sebenarnya
sedang “unjuk gigi” kehebatan teknologi perang masing-masing negara.
Kedua, bangsa Yahudi dan bangsa Iran (dulu Persia)
mempunyai keyakinan akidah hampir mirip, tapi tidak serupa. Kita sering
mendengar “tembok ratapan”. Disitu, warga yahudi meluapkan kesedihan dengan
rela melukai dirinya sampai keluar darah. Mereka menyesal bait suci hancur. Mereka
yakin Tuhan tidak akan meninggalkan tembok tersebut. Mereka menangis dan
meminta kepada Tuhan untuk mengembalikan kembali bait suci yang hancur. Yahudi juga
menyakini dirinya sebagai anak Tuhan. Selain Yahudi anak terlahir di dunia. Anak
Tuhan dengan anak dunia tidak sama. Ini yang kemudian menjadikan dirinya
sombong.
Pemahaman akidah kaum syiah yaitu berkaitan
dengan konsep Imam duabelas yaitu Muhammad bin Hasan Al-Askari atau Imam Mahdi.
Imam yang terakhir ghaib. Ia akan kembali dan menyelamatkan manusia. Itu sebabnya
seluruh pemimpin Iran harus terus berjuang mewujudkan tugas suci tersebut
sampai kedatangan imam ke-duabelas. Para pemimpin Iran juga harus berperilaku syuhud,
hidup sederhana dan hidupnya untuk melayani umat. Wajar saja, jika kita melihat
seluruh presiden Iran hidupnya sangat sederhana sekali. Bisa jadi lebih
sederhana dari pejabat di Indonesia setingkat kecamatan. Pemimpin Iran harus
meneladani Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Zahra. Tidak boleh bersenang-senang
dengan jabatan pada saat peristiwa Husein di Padang Karbala terukir di jiwa
yang paling dalam. Tidak etis bersenang-senang dalam kesedihan. Salah satu ajaran
ini sangat memprovokasi dan membekas di kalangan kaum Syiah.
Penulis bisa melihat kesederhanaan presiden
Iran. Paling tidak dua presiden iran; ayatollah khumaini dan Mahmoud Ahmadinejad.
Berikut kisah reportase Khadijah yang ditulis oleh Diah Rahmafauziana-Izzudin
Irsam Mujib dalam bukunya sebagai berikut:
“Rumah nya imam (ayatollah khumeini)
memiliki tiga ruangan. Didalamnya ada Kasur dan sandaran duduk, serta sofa
sederhana tempat imam duduk dan tidur. Dapur memanfaatkan ruangan di bawah
tangga. Makanan sang imam terdiri dari kentang rebus, sebutir jeruk, dan
sekerat roti. Para wartawan dari dalam dan luar negeri bertanya kepada istri
imam, “Dimana kalian tidur?”. Istri imam menjawab polos,”persis di
tempat kami duduk”.
“Tak ada pembantu rumah tangga di rumah imam.
Para tamu biasanya dilayani oleh keluarga imam, biasanya kedua anak-anak
perempuannya, yant tak mengizinkan ibunya untuk melakukan apa-apa, hanya demi
ingin membuat hidup si ibu senyaman mungkin”.
Ketiga, baik yahudi dan bangsa Iran (Persia
pada masa dulu) sama-sama mempunyai sejarah panjang sebagai penyangga peradaban
pada masa lalu. Dalam Al-Qur’an ada kisah perang Romawi dan Persia. Meskipun perang
keduanya silih berganti yang menang. Tapi terakhir yang dimenangkan oleh Allah
adalah Romawi. Kita harus melihat sejarah, bahwa kemenangan Romawi adalah
legitimasi kebenaran agama-agama samawi. Sebab Romawi adalah generasi keturunan
yang dirunut sampai nabi-nabi garis keturunan yahudi. Jadi kaum yahudi
melakukan diaspora saat mereka dikutuk oleh Allah sehingga tidak punya negara. Salah
satu negara tempat tujuan yaitu Roma. Disini mereka mendapatkan kedudukan yang
sangat tinggi sehingga mewarnai perjalana sejarah romawi sebagaimana dijelaskan
dalam Al-Qur’an.
Sedangkan Persia (sekarang Iran) terletak
di Mesopotamia yang sangat maju peradaban. Daerah tersebut sering disebut
sebagai “the cradle of civilization” atau lahirnya peradaban. Wilayah kekuasaan
sangat luas. Darius agung mampu memperluas wilayah Persia hingga ke India,
Mesir, Yunani, Asi Kecil (Turki). Dari sini penulis bisa menggambarkan bahwa Persia
sudah menjadi pusat peradaban sebelum pra sejarah.
Jadi wajar, jika terjadi persaingan Israel dan
Iran saat sekarang ini sebenarnya pengulangan sejarah masa lalu. Mereka sudah
terlatih perang sejak dulu, bersaing sejak berabad-abad lamanya. Sedangkan negara-negara
Islam lain tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Itu sebabnya sikap negara-negara Islam
terhadap konflik Israel dan Iran biasa-biasa saja. Begitu juga penyelesaian terhadap
Palestina-Israel pun terlihat lebih soft daripada Iran yang berani menyerang Israel
secara frontal.
Ada sedikit yang unik. Para Jendral Iran dan
orang-orang hebat iran sering terbunuh di negara-negara timur Tengah. Kenapa?. Jawaban
sederhannya karena yahudi hampir semua ada di wilayah Timur Tengah. Saya tidak
tahu apakah Yahudi yang berada di Libanon, Maroko, Iran dan lain-lain
benar-benar menjadi warga negara tersebut atau malah sebaliknya. Jangan-jangan
mereka justru menjadi “musuh dalam selimut”. Ngeri juga ya?
Penulis : Imam Ghozali
Mara
Tertulis para pemimpin Iran juga harus berperilaku syuhud, sebenarnya adalah zuhud
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   120
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   279
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   259
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   229
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   253
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13820
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4868
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3863
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3522
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3272