Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Musuh Dalam Selimut



Minggu , 06 Oktober 2024



Telah dibaca :  858

Saya bukan pengamat Internasional. Namun serangan rudal Iran ke Israel mengingatkan ku pada perang Iran-Irak pada tahun 1980-1988, dan Irak-Kuwait pada tahun 1990-1991. Dampak yang terlihat sama yaitu sama-sama harga minyak dunia menjadi naik. Diprediksi harga minyak dunia tembus 100 dolar per barel akibat perang Israel-Iran. Salah satu dampaknya yang dirasakan yaitu menggerus daya beli sehingga berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi.

Ada pertanyaan yang menggelitik dalam hatiku;” kenapa satu-satu negara Islam di dunia yang secara terang-terangan berani melawan Israel secara face to face hanya Iran?”. Padahal, mayoritas muslim di negara tersebut itu Syiah. Penguasa syiah. Sunni minoritas. Kenapa negara yang berani membombardir negara Israel bukan Arab Saudi atau Timur Tengah lainnya. Bahkan saat rudal Iran menuju Israel melewati wilayah Yordania, serta-merta tentara yordania menembaknya. Ketika Tindakan tersebut mendapat reaksi keras dari masyarakat karena dianggap membela Israel, pemerintah Yordania mengatakan;” Wilayah kami bukan tempat untuk persinggahan perang”.

Iran memang tidak pernah akur dengan Israel. Para tokoh Iran yang mati akibat serangan tentara Israel antara lain; Jendral Abbas Nilfoushan bersamaan meninggalnya pemimpin Hisbullah Hassan Nasrallah, Ismail Haniyeh, Mohsen Fakhrizadeh, Jendral Tehrani Moghaddam dan lain-lain. Iran pun satu-satu nya negara yang berani melawan Amerika. Salah satu Jenderal Iran meninggal dunia yang pernah menggegerkan dunia adalah Mayor Jenderal Qasem Soleimani.

Ironis nya diinternal Islam, Syiah selalu menjadi musuh bebuyutan Sunni. Peristiwa Perang Siffin dan trategi berdarah keluarga Husein di Padang Karbala benar-benar telah membuat garis pemisah ketidakharmonisan hubungan syiah dan sunni sepanjang sejarah. Keduanya telah melahirkan pandangan ideologi dan politik yang berbeda. Itu sebabnya, ketika Iran menyerukan kepada negara-negara islam untuk melawan dan menyerang Israel, respon dari negara-negara Islam biasa-biasa saja. Meskipun hingga kini, semua negara Islam mengutuk zionisme Israel. Hasil nya nihil. Israel tetap saja membantai warga Palestina. Bukan hanya umat Islam, tapi juga umat kristen.

Jadi hubungan di internal Islam sangat unik, jlimet. Seperti mengurai benang kusut. Dibiarkan semrawut, ditarik sebelah sini, sebelah sana malah “tercekik”. Iran marah kepada Israel. Negara-negara Islam marah kepada Israel. Disisi lain, negara-negara Islam tidak suka Iran. Baik Iran maupun negara-negara Islam ingin sama-sama memerdekakan Palestina, tapi keduanya tidak akur. Akhirnya jalan sendiri-sendiri. Iran head to head perang dengan Israel.

Iran tidak cengeng. Dulu perang Iran-Irak. AS membantu Irak. Iran dikeroyok oleh negara barat. Meskipun kalah, Iran tetap harus diacungkan jempol. Bayangkan saja, melawan Irak dan sekutunya bisa bertahan selama 8 tahun. Luarbiasa. Iran memang petarung sejati.

Penulis hanya bisa berandai-andai kenapa Iran begitu gagah berani melawan AS atau Israel pada saat sebagian negara-negara Islam lainnya justru menjadi boneka kedua negara tersebut:

Pertama, negara Iran adalah satu-satu nya negara Islam yang mempunyai warga negara Yahudi terbesar nomor dua setelah negara Israel. Jumlah nya sekitar 25.000 jiwa. Profesi mereka banyak bergerak di bidang perekonomian. Persis etnis Cina di wilayah Asia, juga perekonomian. Negara Iran memang memberi kemerdekaan dan perlindungan hukum kepada seluruh warga negara termasuk keturunan Yahudi. Semua sama. Meskipun pada beberapa bagian tertentu konstitusi melarang warga Yahudi menjadi prajurit ke atas (hanya bagian yang rendahan saja) dan bagian pemerintahan. Ini hampir mirip-mirip Indonesia masa orde baru terhadap pembatasan etnis Tionghoa masuk di politik dan pemerintahan.

Jadi baik Iran maupun Israel sebenarnya sama-sama mempunyai kekuatan kunci pada warga yahudi. Kedudukan warga yahudi yang masuk pada wilayah bisnis bisa mem-back up jaringan bisnis internasional. Bisa jadi keduanya pada wilayah tertentu ada kesamaan kepentingan dan terjadi konflik ketika kepentingan tersebut tidak ada titik temu. Orientasi bisnis dan politik. Maka wajar jika ada sebagian pengamat mengatakan perang Iran-Israel sebenarnya sedang “unjuk gigi” kehebatan teknologi perang masing-masing negara.

Kedua, bangsa Yahudi dan bangsa Iran (dulu Persia) mempunyai keyakinan akidah hampir mirip, tapi tidak serupa. Kita sering mendengar “tembok ratapan”. Disitu, warga yahudi meluapkan kesedihan dengan rela melukai dirinya sampai keluar darah. Mereka menyesal bait suci hancur. Mereka yakin Tuhan tidak akan meninggalkan tembok tersebut. Mereka menangis dan meminta kepada Tuhan untuk mengembalikan kembali bait suci yang hancur. Yahudi juga menyakini dirinya sebagai anak Tuhan. Selain Yahudi anak terlahir di dunia. Anak Tuhan dengan anak dunia tidak sama. Ini yang kemudian menjadikan dirinya sombong.

Pemahaman akidah kaum syiah yaitu berkaitan dengan konsep Imam duabelas yaitu Muhammad bin Hasan Al-Askari atau Imam Mahdi. Imam yang terakhir ghaib. Ia akan kembali dan menyelamatkan manusia. Itu sebabnya seluruh pemimpin Iran harus terus berjuang mewujudkan tugas suci tersebut sampai kedatangan imam ke-duabelas. Para pemimpin Iran juga harus berperilaku syuhud, hidup sederhana dan hidupnya untuk melayani umat. Wajar saja, jika kita melihat seluruh presiden Iran hidupnya sangat sederhana sekali. Bisa jadi lebih sederhana dari pejabat di Indonesia setingkat kecamatan. Pemimpin Iran harus meneladani Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Zahra. Tidak boleh bersenang-senang dengan jabatan pada saat peristiwa Husein di Padang Karbala terukir di jiwa yang paling dalam. Tidak etis bersenang-senang dalam kesedihan. Salah satu ajaran ini sangat memprovokasi dan membekas di kalangan kaum Syiah.

Penulis bisa melihat kesederhanaan presiden Iran. Paling tidak dua presiden iran; ayatollah khumaini dan Mahmoud Ahmadinejad. Berikut kisah reportase Khadijah yang ditulis oleh Diah Rahmafauziana-Izzudin Irsam Mujib dalam bukunya sebagai berikut:

“Rumah nya imam (ayatollah khumeini) memiliki tiga ruangan. Didalamnya ada Kasur dan sandaran duduk, serta sofa sederhana tempat imam duduk dan tidur. Dapur memanfaatkan ruangan di bawah tangga. Makanan sang imam terdiri dari kentang rebus, sebutir jeruk, dan sekerat roti. Para wartawan dari dalam dan luar negeri bertanya kepada istri imam, “Dimana kalian tidur?”. Istri imam menjawab polos,”persis di tempat kami duduk”.

“Tak ada pembantu rumah tangga di rumah imam. Para tamu biasanya dilayani oleh keluarga imam, biasanya kedua anak-anak perempuannya, yant tak mengizinkan ibunya untuk melakukan apa-apa, hanya demi ingin membuat hidup si ibu senyaman mungkin”.

Ketiga, baik yahudi dan bangsa Iran (Persia pada masa dulu) sama-sama mempunyai sejarah panjang sebagai penyangga peradaban pada masa lalu. Dalam Al-Qur’an ada kisah perang Romawi dan Persia. Meskipun perang keduanya silih berganti yang menang. Tapi terakhir yang dimenangkan oleh Allah adalah Romawi. Kita harus melihat sejarah, bahwa kemenangan Romawi adalah legitimasi kebenaran agama-agama samawi. Sebab Romawi adalah generasi keturunan yang dirunut sampai nabi-nabi garis keturunan yahudi. Jadi kaum yahudi melakukan diaspora saat mereka dikutuk oleh Allah sehingga tidak punya negara. Salah satu negara tempat tujuan yaitu Roma. Disini mereka mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi sehingga mewarnai perjalana sejarah romawi sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Sedangkan Persia (sekarang Iran) terletak di Mesopotamia yang sangat maju peradaban. Daerah tersebut sering disebut sebagai “the cradle of civilization” atau lahirnya peradaban. Wilayah kekuasaan sangat luas. Darius agung mampu memperluas wilayah Persia hingga ke India, Mesir, Yunani, Asi Kecil (Turki). Dari sini penulis bisa menggambarkan bahwa Persia sudah menjadi pusat peradaban sebelum pra sejarah.

Jadi wajar, jika terjadi persaingan Israel dan Iran saat sekarang ini sebenarnya pengulangan sejarah masa lalu. Mereka sudah terlatih perang sejak dulu, bersaing sejak berabad-abad lamanya. Sedangkan negara-negara Islam lain tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Itu sebabnya sikap negara-negara Islam terhadap konflik Israel dan Iran biasa-biasa saja. Begitu juga penyelesaian terhadap Palestina-Israel pun terlihat lebih soft daripada Iran yang berani menyerang Israel secara frontal.

Ada sedikit yang unik. Para Jendral Iran dan orang-orang hebat iran sering terbunuh di negara-negara timur Tengah. Kenapa?. Jawaban sederhannya karena yahudi hampir semua ada di wilayah Timur Tengah. Saya tidak tahu apakah Yahudi yang berada di Libanon, Maroko, Iran dan lain-lain benar-benar menjadi warga negara tersebut atau malah sebaliknya. Jangan-jangan mereka justru menjadi “musuh dalam selimut”. Ngeri juga ya?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Mara

Tertulis para pemimpin Iran juga harus berperilaku syuhud, sebenarnya adalah zuhud

   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   120

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   279

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   259

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   229

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   253

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13820


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4868


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3272