Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Nafsu; Anak Kecil yang Tidak Beranjak Dewasa



Rabu , 27 Desember 2023



Telah dibaca :  1264

Ada seorang ayah menasehati anaknya yang sudah selesai kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan. Menurutnya bekerja apapun tidak menjadi persoalan, yang penting halal dan tidak melanggar syariat. Apalagi saat sekarang ini, persaingan semakin banyak dan ketat, sedangkan lowongan pekerjaan seperti mencari Jarum dalam Sekam. Toh jika ada, terkadang masih ada unsur nepotisme yang dilakukan oleh oknum pejabat. Dengan bekerja apapun, orang tua berharap agar anaknya terbiasa mandiri dan mengerti pekerjaan. Jika sudah mengerti pekerjaan, ketika sudah berumah tangga tidak bingung lagi mencari rizki.

Namun anaknya kurang merespon. Apalagi dia merasa sebagai mahasiswa lulusan Perguruan Tinggi ternama dan bergengsi. Dia merasa melakukan pekerjaan yang bukan bidangnya, adalah suatu aib yang tidak dibenarkan dalam dunia perkuliahan yang senantiasa mengajarkan pentingnya, “the right man on the right job”. Dia bersikukuh tetap tidak menerima saran dan terus sibuk mencari lowongan pekerjaan seraya berharap mendapat panggilan pekerjaan dari kantor maupun perusahaan.

“Nak, orang tua mu ini berharap selesai kuliah bukan hanya semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan. Tapi bertambah dewasa dalam menyikapi hidup yang serba sulit saat ini” kata orang tua nya.

Anak nya tetap diam. Mata nya terus menatap Android. Hampir setiap hari, Android telah menjadi teman terdekat dalam menghibur diri dengan hiburan yang disajikan didalamnya. Dia terlena. Waktu terus berjalan. Umur semakin berkurang. Tapi sang anak yang katanya sebagai bagian “kaum intelektual” atau golongan “agen perubahan” terlena oleh mimpi-mimpi tinggi di alam khayalan.

“Jika cara hidup seperti ini nak, sampai Upin-Ipin berkumis pun belum tentu kamu mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mu” kata orang tua nya kesal.

Cerita di atas sebenarnya jalan untuk mem-visualisasi-kan tentang beratnya melatih nafsu yang ada pada diri sendiri agar bisa naik kelas bertambah dewasa. Tidak peduli, kita masih remaja, dewasa atau sudah berumur tua, Nafsu senantiasa merasa muda. Para cerdik pandai mengatakan, “an-nafsu ka tifl”, nafsu seperti anak kecil. Kita bisa melihat tingkah laku anak kecil, jika dia meminta sesuatu maka dia memaksa orang tuanya. Jika tidak mendapatkannya, dia akan menangis tanpa memperdulikan sekelilingnya. Jika orang tuanya menuruti, maka dia akan meminta lagi kepada nya untuk membelikan mainan lagi atau makanan yang dia suka. Begitu seterusnya. Anak tidak memperdulikan efek dari perbuatannya. Apa yang dia minta sebenarnya bisa membahayakan kesehatan fisik atau psikis. Seperti seorang anak yang minta minuman dingin, manis-manis dan makanan ringan yang gurih-gurih. Jika dituruti akan memperlemah daya tahan tubuh dan menimbulkan penyakit-penyakit yang berbahaya. Ketidak mampuan berfikir sejauh ini, disebabkan anak hanya memikirkan nafsu tanpa disertai akal.

Manusia pada fase remaja atau dewasa akan berperilaku seperti anak-anak ketika pertimbangan-pertimbangan yang diucapkan atau dilakukan sebatas pertimbangan nafsu semata. Nafsu sebagaimana anak kecil selalu menghadirkan nuansa keindahan dan kenikmatan. Saat ia bekerja, seluruh tubuh akan lumpuh bekerja secara normal. Hanya akal yang bisa melepaskan diri dari cengkraman nya. Namun lagi-lagi, akal sering diselimuti oleh nafsu, sehingga dia nyaman dalam kehangatan nya. akal baru sadar saat siang sudah datang, dan orang-orang sekitarnya telah pergi bekerja. Akal baru sadar saat kegagalan terjadi padanya dan melihat orang-orang sekitarnya telah sukses. Akal baru sadar saat masa tua tidak bisa berbuat apa-apa saat teman-temanya telah bahagia bersama anak-anak dan cucu nya serta pekerjaannya. Akhirnya, akal menyesal di penghujung hidupnya. Sesal kemudian tidak ada gunanya.

Nafsu adalah ciri khas ada pada diri manusia dan iblis. Namun ada perbedaan, manusia diberi akal untuk mengontrol dan mengimbangi perilaku nafsu. Dua komponen ini yang dimiliki oleh manusia. Kedua faktor ini yang kemudian Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di dunia. Tanpa adanya nafsu, maka tidak ada dorongan inovasi untuk menciptakan suatu peradaban di dunia.

Pertarungan nafsu dan akal terlihat dalam kisah Nabi Adam. Allah menciptakan Nabi Adam berasal dari tanah. Sedang iblis dari api dan malaikat dari cahaya. Filosofisnya dari sini jelas, bahwa Allah mendesain Adam sebagai khalifah harus berasal dari unsur tanah. Sebab tanah merupakan simbol kesuburan. Darinya muncul tumbuh-tumbuhan. Di atasnya adanya air laut yang memberi manfaat bagi kelangsungan hidup. dari dalam nya ada emas, nikel dan sumber daya alam lain yang memberi kemanfaatan untuk kemakmuran. Semua kekayaan ini hanya bisa dikelola oleh kelompok makhluk yang mempunyai bahan sama yaitu tanah.

Ketika Iblis dan Malaikat melakukan semacam interupsi atas keputusan Allah menjadikan adam sebagai khalifah dengan alasan status penciptaan yang lebih hebat dan lebih suci, Allah tidak menerimanya. Sebab persoalan khalifah bukan sebatas kehebatan asal pencitaan dan bukan juga persoalan ahli ibadah, tapi persoalan intelektual dan kemampuan mengoperasionalkan ide-ide atau gagasannnya dalam alam nyata. Kemampuan ini hanya ada pada diri Nabi Adam. Itu sebabnya ketika melakukan uji kelayakan dari ketiga makhluk tersebut, adam mengungguli Malaikat dan Iblis (Munawar-Rachman, 2008).

Nafsu selalu aktif. Ia senantiasa terus bergerak seperti partikel-partikel air. Sangat aktif sekali. Ketika Nabi Adam berada di surga dan mendapatkan fasilitas yang lengkap, Allah memberi warning agar jangan mendekat kepada “pohon khuldi” yang sering diartikan sebagai pohon kekekalan. Sebab secara ilmu akidah, yang kekal hanya Allah dan makhluk-Nya semua fana. Adam sangat patuh. Namun rivalitas antara iblis dan adam terus berlangsung. Ia mencoba melakukan pendekatan kepada nabi adam dan istri serta menyakinkan dengan asma Allah bahwa larangan yang dilakukan oleh-Nya hanya sebatas himbauan semata. Dorongan nafsu dan argumentasi iblis dengan menyebut asma Allah membuat adam melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya. dari sini sebenarnya, kita bisa bisa melihat watak dari manusia selalu ingin sempurna dengan apa yang dia inginkan. Drama kosmis ini ditutup dengan Allah menurunkan Adam dan Hawa dari surga. Meskipun seolah-olah salah, tapi itu bagian dari desain Allah untuk merealisasikan firman-Nya bahwa mereka merupakan khalifah di bumi.

Realiasi firman Allah terhadap firman-Nya bahwa manusia menjadi khalifah tidak lepas berkaitan dengan unsur dan penyebutan manusia itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, manusia mempunyai bermacam-macam istilah. Pertama manusia disebut al-insan yang mempunyai arti jinak lawan kata dari liar ( khilaf al-washshaf). Kedua, manusia disebut dengan abshara yang mempunyai arti “penampakan sesuatu yang baik dan indah”. Itu sebabnya dari definisi tersebut, manusia mempunyai arti makhluk secara potensial memiliki watak yang jinak serta harmoni dan secara empiric dapat dilihat serta diketahui. Ketiga, manusia sering disebut dengan bani adam yang artinya bapak dari segala manusia( Nabi Adam dan Hawa) (Yusuf, 2008).

Proses penciptaan manusia berasal dari tanah. Ini merupakan jenis benda yang mempunyai potensi baik dan tidak baik dan membutuhkan proses pengelolaan yang berfariasi. Hal sama sebagaimana manusia membutuhkan proses untuk menjadi manusia yang baik. Meskipun dalam proses nya, ada yang berhasil dan tidak berhasil. Ini yang dalam Al-Qur’an disebut “afalasaa filiin” dan lawan nya “aamanu wa ‘alamilu as-sholihah”. Kedua unsur ini lahir karena ada dua dimensi pada diri manusia yaitu jasad dan roh (Rahman, 1996). Q.S. Al-Sajadah (32:7) berbunyi: “Dia yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian dia menjadikan keturunan manusia itu dari saripati air yang hina. Kemudia dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuh) manusia itu roh ciptaan-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, pengilhatan dan fu’ad, tetapi sedikit sekali yang bersyukur”.

Proses penciptaan manusia yang dijelaskan secara mendetail ayat tersebut di atas dan beberapa ayat-ayat lainnya sebenarnya mengajarkan kepada manusia bahwa ada potensi-potensi manusia yang tidak dipunyai oleh makhluk lain seperti malaikat dan iblis. Proses penciptaan yang dijelaskan secara gamblang menunjukan bahwa manusia sebenarnya tidak mempunyai kekuatan apapun kecuali atas anugerah dari-Nya. Meskipun demikian, Allah memberi kewenangan terbatas kepada manusia untuk melakukan segala aktivitas kemaslahatan bersama di dunia. Hal ini bagian dari visi-misi Tuhan  menciptakan manusia untuk melahirkan kehidupan dalam suasana baldatun toyibatun yang lahir dari nilai-nilai Syariah Islam. Proses menjalankan kewenangan terbatas ternyata tidak mudah. Ada sebagian manusia menyadarinya dan selalu patuh terhadap rambu-rambu syariah. Ada juga yang justru menabrak aturan-aturan-Nya. Semua ini terjadi karena pada diri manusia ada yang disebut nafsu yang senantiasa ingin bebas tanpa batas untuk melakukan apa saja yang ia inginkan. Hanya orang-orang yang mempunyai komitmen kuat yang bisa mengendalikan nafsu menjadi “mutmainah”.

Bibliography

al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .

Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam . Jakarta Selatan : Paramadina .

Munawar-Rachman, B. (2008). Ensiklopedi Nurcholish Madjid. Indramayu : Yayasan Pesantren Indonesia Al-Zaitun .

Rahman, F. (1996). Major Themes of The Qur'an, terj; Anas Mahyuddin. Bandung : Pustaka .

Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .

Yusuf, K. M. (2008). Analisis Qur'ani terhadap Pemikiran Ibn Sina dan al-Ghazali Mengenai Dimensi Rohani dan Pembentukan Perilaku. Pekanbaru: Suska Press.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   173

Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   179

Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   149

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14345


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6059


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5499


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4435