
Ada seorang ayah menasehati anaknya yang
sudah selesai kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan. Menurutnya bekerja apapun
tidak menjadi persoalan, yang penting halal dan tidak melanggar syariat.
Apalagi saat sekarang ini, persaingan semakin banyak dan ketat, sedangkan lowongan
pekerjaan seperti mencari Jarum dalam Sekam. Toh jika ada, terkadang masih ada
unsur nepotisme yang dilakukan oleh oknum pejabat. Dengan bekerja
apapun, orang tua berharap agar anaknya terbiasa mandiri dan mengerti
pekerjaan. Jika sudah mengerti pekerjaan, ketika sudah berumah tangga tidak
bingung lagi mencari rizki.
Namun anaknya kurang merespon. Apalagi dia
merasa sebagai mahasiswa lulusan Perguruan Tinggi ternama dan bergengsi. Dia
merasa melakukan pekerjaan yang bukan bidangnya, adalah suatu aib yang tidak
dibenarkan dalam dunia perkuliahan yang senantiasa mengajarkan pentingnya, “the
right man on the right job”. Dia bersikukuh tetap tidak menerima saran dan
terus sibuk mencari lowongan pekerjaan seraya berharap mendapat panggilan pekerjaan
dari kantor maupun perusahaan.
“Nak, orang tua mu ini berharap selesai
kuliah bukan hanya semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan. Tapi bertambah
dewasa dalam menyikapi hidup yang serba sulit saat ini” kata orang tua nya.
Anak nya tetap diam. Mata nya terus menatap
Android. Hampir setiap hari, Android telah menjadi teman terdekat dalam
menghibur diri dengan hiburan yang disajikan didalamnya. Dia terlena. Waktu
terus berjalan. Umur semakin berkurang. Tapi sang anak yang katanya sebagai
bagian “kaum intelektual” atau golongan “agen perubahan” terlena oleh
mimpi-mimpi tinggi di alam khayalan.
“Jika cara hidup seperti ini nak, sampai Upin-Ipin
berkumis pun belum tentu kamu mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian
mu” kata orang tua nya kesal.
Cerita di atas sebenarnya jalan untuk
mem-visualisasi-kan tentang beratnya melatih nafsu yang ada pada diri sendiri
agar bisa naik kelas bertambah dewasa. Tidak peduli, kita masih remaja, dewasa
atau sudah berumur tua, Nafsu senantiasa merasa muda. Para cerdik pandai
mengatakan, “an-nafsu ka tifl”, nafsu seperti anak kecil. Kita bisa
melihat tingkah laku anak kecil, jika dia meminta sesuatu maka dia memaksa
orang tuanya. Jika tidak mendapatkannya, dia akan menangis tanpa memperdulikan
sekelilingnya. Jika orang tuanya menuruti, maka dia akan meminta lagi kepada
nya untuk membelikan mainan lagi atau makanan yang dia suka. Begitu seterusnya.
Anak tidak memperdulikan efek dari perbuatannya. Apa yang dia minta sebenarnya
bisa membahayakan kesehatan fisik atau psikis. Seperti seorang anak yang minta
minuman dingin, manis-manis dan makanan ringan yang gurih-gurih. Jika dituruti
akan memperlemah daya tahan tubuh dan menimbulkan penyakit-penyakit yang
berbahaya. Ketidak mampuan berfikir sejauh ini, disebabkan anak hanya
memikirkan nafsu tanpa disertai akal.
Manusia pada fase remaja atau dewasa akan
berperilaku seperti anak-anak ketika pertimbangan-pertimbangan yang diucapkan
atau dilakukan sebatas pertimbangan nafsu semata. Nafsu sebagaimana anak kecil
selalu menghadirkan nuansa keindahan dan kenikmatan. Saat ia bekerja, seluruh
tubuh akan lumpuh bekerja secara normal. Hanya akal yang bisa melepaskan diri
dari cengkraman nya. Namun lagi-lagi, akal sering diselimuti oleh nafsu,
sehingga dia nyaman dalam kehangatan nya. akal baru sadar saat siang sudah
datang, dan orang-orang sekitarnya telah pergi bekerja. Akal baru sadar saat
kegagalan terjadi padanya dan melihat orang-orang sekitarnya telah sukses. Akal
baru sadar saat masa tua tidak bisa berbuat apa-apa saat teman-temanya telah
bahagia bersama anak-anak dan cucu nya serta pekerjaannya. Akhirnya, akal
menyesal di penghujung hidupnya. Sesal kemudian tidak ada gunanya.
Nafsu adalah ciri khas ada pada diri
manusia dan iblis. Namun ada perbedaan, manusia diberi akal untuk mengontrol
dan mengimbangi perilaku nafsu. Dua komponen ini yang dimiliki oleh manusia.
Kedua faktor ini yang kemudian Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di
dunia. Tanpa adanya nafsu, maka tidak ada dorongan inovasi untuk menciptakan
suatu peradaban di dunia.
Pertarungan nafsu dan akal terlihat dalam
kisah Nabi Adam. Allah menciptakan Nabi Adam berasal dari tanah. Sedang iblis
dari api dan malaikat dari cahaya. Filosofisnya dari sini jelas, bahwa Allah
mendesain Adam sebagai khalifah harus berasal dari unsur tanah. Sebab tanah
merupakan simbol kesuburan. Darinya muncul tumbuh-tumbuhan. Di atasnya adanya
air laut yang memberi manfaat bagi kelangsungan hidup. dari dalam nya ada emas,
nikel dan sumber daya alam lain yang memberi kemanfaatan untuk kemakmuran.
Semua kekayaan ini hanya bisa dikelola oleh kelompok makhluk yang mempunyai
bahan sama yaitu tanah.
Ketika Iblis dan Malaikat melakukan semacam
interupsi atas keputusan Allah menjadikan adam sebagai khalifah dengan alasan
status penciptaan yang lebih hebat dan lebih suci, Allah tidak menerimanya.
Sebab persoalan khalifah bukan sebatas kehebatan asal pencitaan dan bukan juga
persoalan ahli ibadah, tapi persoalan intelektual dan kemampuan
mengoperasionalkan ide-ide atau gagasannnya dalam alam nyata. Kemampuan ini
hanya ada pada diri Nabi Adam. Itu sebabnya ketika melakukan uji kelayakan dari
ketiga makhluk tersebut, adam mengungguli Malaikat dan Iblis
Nafsu selalu aktif. Ia senantiasa terus
bergerak seperti partikel-partikel air. Sangat aktif sekali. Ketika Nabi Adam berada
di surga dan mendapatkan fasilitas yang lengkap, Allah memberi warning
agar jangan mendekat kepada “pohon khuldi” yang sering diartikan sebagai
pohon kekekalan. Sebab secara ilmu akidah, yang kekal hanya Allah dan makhluk-Nya
semua fana. Adam sangat patuh. Namun rivalitas antara iblis dan adam terus
berlangsung. Ia mencoba melakukan pendekatan kepada nabi adam dan istri serta
menyakinkan dengan asma Allah bahwa larangan yang dilakukan oleh-Nya hanya
sebatas himbauan semata. Dorongan nafsu dan argumentasi iblis dengan menyebut
asma Allah membuat adam melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya. dari sini
sebenarnya, kita bisa bisa melihat watak dari manusia selalu ingin sempurna
dengan apa yang dia inginkan. Drama kosmis ini ditutup dengan Allah menurunkan
Adam dan Hawa dari surga. Meskipun seolah-olah salah, tapi itu bagian dari
desain Allah untuk merealisasikan firman-Nya bahwa mereka merupakan khalifah di
bumi.
Realiasi firman Allah terhadap firman-Nya
bahwa manusia menjadi khalifah tidak lepas berkaitan dengan unsur dan
penyebutan manusia itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, manusia mempunyai
bermacam-macam istilah. Pertama manusia disebut al-insan yang mempunyai arti
jinak lawan kata dari liar ( khilaf al-washshaf). Kedua, manusia disebut dengan
abshara yang mempunyai arti “penampakan sesuatu yang baik dan indah”. Itu sebabnya
dari definisi tersebut, manusia mempunyai arti makhluk secara potensial
memiliki watak yang jinak serta harmoni dan secara empiric dapat dilihat serta
diketahui. Ketiga, manusia sering disebut dengan bani adam yang artinya bapak
dari segala manusia( Nabi Adam dan Hawa)
Proses penciptaan manusia berasal dari
tanah. Ini merupakan jenis benda yang mempunyai potensi baik dan tidak baik dan
membutuhkan proses pengelolaan yang berfariasi. Hal sama sebagaimana manusia
membutuhkan proses untuk menjadi manusia yang baik. Meskipun dalam proses nya,
ada yang berhasil dan tidak berhasil. Ini yang dalam Al-Qur’an disebut “afalasaa
filiin” dan lawan nya “aamanu wa ‘alamilu as-sholihah”. Kedua unsur
ini lahir karena ada dua dimensi pada diri manusia yaitu jasad dan roh
Proses penciptaan manusia yang dijelaskan
secara mendetail ayat tersebut di atas dan beberapa ayat-ayat lainnya
sebenarnya mengajarkan kepada manusia bahwa ada potensi-potensi manusia yang
tidak dipunyai oleh makhluk lain seperti malaikat dan iblis. Proses penciptaan
yang dijelaskan secara gamblang menunjukan bahwa manusia sebenarnya tidak
mempunyai kekuatan apapun kecuali atas anugerah dari-Nya. Meskipun demikian, Allah
memberi kewenangan terbatas kepada manusia untuk melakukan segala aktivitas kemaslahatan
bersama di dunia. Hal ini bagian dari visi-misi Tuhan menciptakan manusia untuk melahirkan kehidupan
dalam suasana baldatun toyibatun yang lahir dari nilai-nilai Syariah
Islam. Proses menjalankan kewenangan terbatas ternyata tidak mudah. Ada sebagian
manusia menyadarinya dan selalu patuh terhadap rambu-rambu syariah. Ada juga
yang justru menabrak aturan-aturan-Nya. Semua ini terjadi karena pada diri
manusia ada yang disebut nafsu yang senantiasa ingin bebas tanpa batas untuk
melakukan apa saja yang ia inginkan. Hanya orang-orang yang mempunyai komitmen
kuat yang bisa mengendalikan nafsu menjadi “mutmainah”.
al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam
Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .
Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam .
Jakarta Selatan : Paramadina .
Munawar-Rachman, B. (2008). Ensiklopedi Nurcholish Madjid. Indramayu :
Yayasan Pesantren Indonesia Al-Zaitun .
Rahman, F. (1996). Major Themes of The Qur'an, terj; Anas Mahyuddin.
Bandung : Pustaka .
Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .
Yusuf, K. M. (2008). Analisis Qur'ani
terhadap Pemikiran Ibn Sina dan al-Ghazali Mengenai Dimensi Rohani dan
Pembentukan Perilaku. Pekanbaru: Suska Press.
Penulis : Imam Ghozali
Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   173
Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   179
Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   149
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14345
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6059
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5499
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4673
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4435