
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ
يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ
يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا
يَشْعُرُوْنَۗ
“Di antara
manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir,” padahal
sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang mukmin. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka
hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari”.
Akhir-akhir ini sebagian manusia
mulai membanggakan nasabnya. Ada yang membanggakan nasab karena jabatan dan kekayaan
nya dengan mengatakan bahwa harta kekayaan keluarga besarnya tidak habis sampai
tujuh turunan. Ia mencoba menyakinkan kepada setiap orang yang berada di
dekatnya agar semua yang mendengar ucapannya menyakini kebenarannya. Tujuannya agar
ia bisa mendapatkan kemulyaan sebagaimana sebagaimana keluarga besarnya. Ia
mungkin saat sekarang ini tidak mendapatkan kemuliaan sebagaimana para
leluhurnya. Bisa jadi ia keturunan generasi ke-8 atau ke-9, sehingga sudah
tidak mendapatkan limpahan harta sebagaimana yang dirasakan oleh turunan ke-1
sampai ke-7. Sebab kekayaannya baru habis pada generasi ke-7.
Ada juga sebagian orang membangun brand
dengan selalu membahas suku atau etnis tertentu. Banyak motifnya. Bisa juga
sebagai upaya membangun ashobiyah secara kolektif untuk kepentingan politik
tertentu. bisa juga untuk kepentingan pribadi agar masyarakat mengerti tentang
nasab nya akan menghormatinya dan memberi atau mempermudah fasilitas-fasilitas
mereka bersifat duniawi kepada nya seperti kehormatan dengan mendapatkan
sebutan-sebutan khususiah seperti : raja, raden, habib, sayid, ajeng
ayu, gus dan sejenisnya. Kelompok orang yang membangun brand atas nama
nasab dengan menempatkan diri sebagai kelompok priyayi atau kelompok-kelompok
darah biru adalah dalam rangka untuk membangun status sosial di masyarakat
lebih baik. Ma’lum bangsa Indonesia sering disebut sebagai penganut Budaya
Timur sangat menjunjung tinggi “unggah-ungguh” dan memberi penghormatan
kepada orang-orang yang dianggap pantas dihormatinya. Hal ini karena orang
tersebut mempunyai status sosial yang baik seperti yang penulis sebut di atas.
Mereka mencoba membangun legitimasi sosial dengan beragam cara agar masyarakat
mempercainya sebagai orang baik, punya derajat tinggi dan nasab nya bagus.
Ironisnya sebagian kelompok yang
menyebutnya sebagai orang-orang yang bernasab baik terkadang tidak bisa menjaga
diri membawa status keluarga besarnya. Kadang ucapannya dan perilakunya tidak
mencerminkan nasab yang dibangga-banggakan. Namun, ia tidak menyadari hal tersebut.
Adanya perasaan tinggi nasabnya telah lupa interopksi diri secara mendalam
terhadap apa yang dilakukan baik berkaitan ucapan dan perbuatannya. Semua tertutup
oleh brand yang dibanggakan. Hal yang demikian ini membuat masyarakat
sedikit-demi sedikit menjaga jarak dengan orang-orang tersebut, bahkan
terkadang “jengah” terhadap ucapanya dan perilakunya terkesan “over
acting”.
Ketidaksukaan sebagian masyarakat
terhadap oknum yang mengaku dirinya sebagai keturnan darah biru atau
orang-orang mulia pada masa dulu bukan karena iri dengki. Tidak sama sekali. Bisa
jadi, orang-orang yang tidak menyukainya terhadap perilakunya adalah
orang-orang yang juga mempunyai nasab yang sama, yaitu sebagai keturunan
orang-orang mulia pada masa dulu. Sebab secara historis, penyebaran manusia dan
interaksi yang terjadi pada masa dulu telah membuka lebar bahwa masyarakat
sekarang ini pada satu sisi mempunyai persaudaraan nasab. Mereka bertemu
kemudian menikah, lalu kemudian berpindah-pindah dan menikah dengan orang
tempatan begitu seterusnya. Hal yang wajar jika ada mata rantai darah biru yang
tidak serta hanya dimiliki oleh segelintir orang lalu kemudian merasa dirinya
paling darah biru dibandingkan kelompok lain dan seterusnya. Klaim-klaim
demikian sangat merusak tatanan kehidupan sosial, apalagi jika telah dibubuih
sebagai orang yang merasa paling pantas dihormati, jelas telah melahirkan antipati
sebagian masyarakat yang tidak suka melihat perilaku yang demikian.
Berkaitan dengan hal tersebut,
penulis artikel bersyukur mempunyai dokumentasi silsilah yang telah diterbitkan
oleh Mas Ahmad, anaknya Bulik Zainah (adik bapak ku). Ia menulis biografi
silsilah keluarga besar kami dan dibuat buku setebal 600 halaman. Penulis artikel
ini bersyukur dan mencoba tidak larut mendewa-dewakan keturunan. Penulis
teringat ada seorang ulama bernama Syaikh Al-Ghoyalin mengatakan,”Pemuda
sejati bukan yang mengatakan inilah bapakku, tapi pemuda sejati dengan tegas
mengatakan inilah aku”. Ucapan ini benar adanya. Hukum syariat dan hukum
sosial tidak melihat genetika tertentu. Semua mendapatkan status sama. Yang berbeda
hakikatnya pada takwa nya. Nabi juga mengatakan, “Manusia hakikatnya hamba
nya manusia”. Artinya ketika kita memulyakan orang lain, maka orang lain
akan memulyakan kita. semakin kita mencintai orang lain, maka mereka akan
mencintai kita setulus hati. Orang-orang yang mulia pada masa lalu karena
sangat mencintai masyarakat nya sebagaimana nabi Muhammad saw. Saat ia akan
meninggal dunia, kata yang terucap dari lisan yang mulia yaitu, “Umat ku,umatku…”.
Penulis juga bertemu dengan seorang
profesor pendidikan Islam yang secara genetika mempunyai garis keturunan darah
biru sampai pada ulama-ulama yang menyebarkan agama. Mereka sering disebut
dengan kelompok “Wali Sanga”. Meskipun secara tertulis tidak termaktub, tapi
budaya lisan dan budaya identitas nasab terkadang tidak dihilangkan dari generasi
ke generasi baik dalam bentuk rumah atau tanaman-tanaman khas yang hanya
diketahui oleh anak turunannya. Mereka meninggalkan simbol-simbol tersebut agar
anak keturunannya melakukan dua hal; pertama merahasiakan status dirinya di
depan public tentang garis keturunan keluarganya; kedua ia mempunyai kewajiban
menyampaikan misi keulamaan leluhurnya sebagaimana yang telah dilakukan oleh
nenek moyang nya.
Misi nabi,para sahabat dan ulama Islam
pada masa dulu dan sekarang yaitu meruntuhkan berhala-berhala dalam segala
jenisnya. Ada berhala dalam pengertian factual seperti patung-patung yang telah
dihancurkan oleh Nabi Ibrahim dan juga telah dilenyapkan oleh nabi Muhammad saw.
Ada berhala dalam pengertian majazi seperti membanggakan garis keturunan, suku,
etnis, jabatan, kekayaan, cantik, ganteng dan mempunyai pengaruh luas di
tengah-tengah masyarakat. Berhala baik nyata atau majazi mempunyai kesamaan
yaitu merusak akidah dalam rangka memurnikan ta’abud kepada Allah swt. Kita
dalam satu sisi telah menyatakan diri beriman dan berislam dengan melaksanakan
perintah-perintah-Nya. Tapi terkadang bahkan bisa jadi terlalu sering ketakutan
menghadapi kehidupan ini lebih besar pada persoalan dunia ketimbang ketakutan
kita terhadap status kebenaran, keikhlasan dalam beribadah dan beramal sholeh. Namun
sebagian kita tidak menyadari hal tersebut. bahkan sebagian kita lebih sibuk
menilai orang lain dan menganggap diri sendiri lebih sempurna dari orang lain.
Status “Nasab” sebenarnya seperti
Jam Tangan. Kita bisa berbangga diri karena harganya cukup mahal dan terbuat
dari intan berlian. Namun semahal apapun Jam Tangan akan dimakan oleh waktu,
dan terlihat “jadul” pada masa akan datang dan masuk dalam Museum. Kita sering
melupakan esensi Jam Tangan sebagai penunjuk perjalanan waktu secara
terus-menerus. Pemilik Jam Tangan telah terlena oleh indahnya asesoris dan lupa
bahwa dirinya telah dilumatkan oleh waktu yang terus berjalan. Jam Tangan akan
menjadi saksi siapa yang untung dan rugi dalam perjalanan sejarah. Islam tidak
menempatkan nasab dan sejenisnya sebagai indicator kemuliaan, tapi Islam
menempatkan kemuliaan pada tiga hal; keimanan, karya nyata yang menginspirasi
dan adanya keterbukaan saling berdiskusi dalam kebaikan.
Maka saat anda mempunyai bonus
keluarga mempunyai nasab, jabatan dan segala bagus sebenarnya sebagai
peringatan bahwa anda dilahirkan bukan untuk membanggakan diri, tapi wujud
tanggungjawab anda mempertahankan kewibawaan keluarga besar anda dengan karya
yang jauh lebih baik dari leluhur anda. Jika ada melakukan hal demikian, maka
anda akan memperoleh dua kemuliaan; nasab nya terjaga martabatnya dan nasib
anda di dunia terlihat mulia.
Penulis : Imam Ghozali
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2961
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876