Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Nasab dan Nasib



Sabtu , 04 Mei 2024



Telah dibaca :  563

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ

يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَۗ

“Di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang mukmin. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari”.

Akhir-akhir ini sebagian manusia mulai membanggakan nasabnya. Ada yang membanggakan nasab karena jabatan dan kekayaan nya dengan mengatakan bahwa harta kekayaan keluarga besarnya tidak habis sampai tujuh turunan. Ia mencoba menyakinkan kepada setiap orang yang berada di dekatnya agar semua yang mendengar ucapannya menyakini kebenarannya. Tujuannya agar ia bisa mendapatkan kemulyaan sebagaimana sebagaimana keluarga besarnya. Ia mungkin saat sekarang ini tidak mendapatkan kemuliaan sebagaimana para leluhurnya. Bisa jadi ia keturunan generasi ke-8 atau ke-9, sehingga sudah tidak mendapatkan limpahan harta sebagaimana yang dirasakan oleh turunan ke-1 sampai ke-7. Sebab kekayaannya baru habis pada generasi ke-7.

Ada juga sebagian orang membangun brand dengan selalu membahas suku atau etnis tertentu. Banyak motifnya. Bisa juga sebagai upaya membangun ashobiyah secara kolektif untuk kepentingan politik tertentu. bisa juga untuk kepentingan pribadi agar masyarakat mengerti tentang nasab nya akan menghormatinya dan memberi atau mempermudah fasilitas-fasilitas mereka bersifat duniawi kepada nya seperti kehormatan dengan mendapatkan sebutan-sebutan khususiah seperti : raja, raden, habib, sayid, ajeng ayu, gus dan sejenisnya. Kelompok orang yang membangun brand atas nama nasab dengan menempatkan diri sebagai kelompok priyayi atau kelompok-kelompok darah biru adalah dalam rangka untuk membangun status sosial di masyarakat lebih baik. Ma’lum bangsa Indonesia sering disebut sebagai penganut Budaya Timur sangat menjunjung tinggi “unggah-ungguh” dan memberi penghormatan kepada orang-orang yang dianggap pantas dihormatinya. Hal ini karena orang tersebut mempunyai status sosial yang baik seperti yang penulis sebut di atas. Mereka mencoba membangun legitimasi sosial dengan beragam cara agar masyarakat mempercainya sebagai orang baik, punya derajat tinggi dan nasab nya bagus.

Ironisnya sebagian kelompok yang menyebutnya sebagai orang-orang yang bernasab baik terkadang tidak bisa menjaga diri membawa status keluarga besarnya. Kadang ucapannya dan perilakunya tidak mencerminkan nasab yang dibangga-banggakan. Namun, ia tidak menyadari hal tersebut. Adanya perasaan tinggi nasabnya telah lupa interopksi diri secara mendalam terhadap apa yang dilakukan baik berkaitan ucapan dan perbuatannya. Semua tertutup oleh brand yang dibanggakan. Hal yang demikian ini membuat masyarakat sedikit-demi sedikit menjaga jarak dengan orang-orang tersebut, bahkan terkadang “jengah” terhadap ucapanya dan perilakunya terkesan “over acting”.

Ketidaksukaan sebagian masyarakat terhadap oknum yang mengaku dirinya sebagai keturnan darah biru atau orang-orang mulia pada masa dulu bukan karena iri dengki. Tidak sama sekali. Bisa jadi, orang-orang yang tidak menyukainya terhadap perilakunya adalah orang-orang yang juga mempunyai nasab yang sama, yaitu sebagai keturunan orang-orang mulia pada masa dulu. Sebab secara historis, penyebaran manusia dan interaksi yang terjadi pada masa dulu telah membuka lebar bahwa masyarakat sekarang ini pada satu sisi mempunyai persaudaraan nasab. Mereka bertemu kemudian menikah, lalu kemudian berpindah-pindah dan menikah dengan orang tempatan begitu seterusnya. Hal yang wajar jika ada mata rantai darah biru yang tidak serta hanya dimiliki oleh segelintir orang lalu kemudian merasa dirinya paling darah biru dibandingkan kelompok lain dan seterusnya. Klaim-klaim demikian sangat merusak tatanan kehidupan sosial, apalagi jika telah dibubuih sebagai orang yang merasa paling pantas dihormati, jelas telah melahirkan antipati sebagian masyarakat yang tidak suka melihat perilaku yang demikian.

Berkaitan dengan hal tersebut, penulis artikel bersyukur mempunyai dokumentasi silsilah yang telah diterbitkan oleh Mas Ahmad, anaknya Bulik Zainah (adik bapak ku). Ia menulis biografi silsilah keluarga besar kami dan dibuat buku setebal 600 halaman. Penulis artikel ini bersyukur dan mencoba tidak larut mendewa-dewakan keturunan. Penulis teringat ada seorang ulama bernama Syaikh Al-Ghoyalin mengatakan,”Pemuda sejati bukan yang mengatakan inilah bapakku, tapi pemuda sejati dengan tegas mengatakan inilah aku”. Ucapan ini benar adanya. Hukum syariat dan hukum sosial tidak melihat genetika tertentu. Semua mendapatkan status sama. Yang berbeda hakikatnya pada takwa nya. Nabi juga mengatakan, “Manusia hakikatnya hamba nya manusia”. Artinya ketika kita memulyakan orang lain, maka orang lain akan memulyakan kita. semakin kita mencintai orang lain, maka mereka akan mencintai kita setulus hati. Orang-orang yang mulia pada masa lalu karena sangat mencintai masyarakat nya sebagaimana nabi Muhammad saw. Saat ia akan meninggal dunia, kata yang terucap dari lisan yang mulia yaitu, “Umat ku,umatku…”.

Penulis juga bertemu dengan seorang profesor pendidikan Islam yang secara genetika mempunyai garis keturunan darah biru sampai pada ulama-ulama yang menyebarkan agama. Mereka sering disebut dengan kelompok “Wali Sanga”. Meskipun secara tertulis tidak termaktub, tapi budaya lisan dan budaya identitas nasab terkadang tidak dihilangkan dari generasi ke generasi baik dalam bentuk rumah atau tanaman-tanaman khas yang hanya diketahui oleh anak turunannya. Mereka meninggalkan simbol-simbol tersebut agar anak keturunannya melakukan dua hal; pertama merahasiakan status dirinya di depan public tentang garis keturunan keluarganya; kedua ia mempunyai kewajiban menyampaikan misi keulamaan leluhurnya sebagaimana yang telah dilakukan oleh nenek moyang nya.

Misi nabi,para sahabat dan ulama Islam pada masa dulu dan sekarang yaitu meruntuhkan berhala-berhala dalam segala jenisnya. Ada berhala dalam pengertian factual seperti patung-patung yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim dan juga telah dilenyapkan oleh nabi Muhammad saw. Ada berhala dalam pengertian majazi seperti membanggakan garis keturunan, suku, etnis, jabatan, kekayaan, cantik, ganteng dan mempunyai pengaruh luas di tengah-tengah masyarakat. Berhala baik nyata atau majazi mempunyai kesamaan yaitu merusak akidah dalam rangka memurnikan ta’abud kepada Allah swt. Kita dalam satu sisi telah menyatakan diri beriman dan berislam dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Tapi terkadang bahkan bisa jadi terlalu sering ketakutan menghadapi kehidupan ini lebih besar pada persoalan dunia ketimbang ketakutan kita terhadap status kebenaran, keikhlasan dalam beribadah dan beramal sholeh. Namun sebagian kita tidak menyadari hal tersebut. bahkan sebagian kita lebih sibuk menilai orang lain dan menganggap diri sendiri lebih sempurna dari orang lain.

Status “Nasab” sebenarnya seperti Jam Tangan. Kita bisa berbangga diri karena harganya cukup mahal dan terbuat dari intan berlian. Namun semahal apapun Jam Tangan akan dimakan oleh waktu, dan terlihat “jadul” pada masa akan datang dan masuk dalam Museum. Kita sering melupakan esensi Jam Tangan sebagai penunjuk perjalanan waktu secara terus-menerus. Pemilik Jam Tangan telah terlena oleh indahnya asesoris dan lupa bahwa dirinya telah dilumatkan oleh waktu yang terus berjalan. Jam Tangan akan menjadi saksi siapa yang untung dan rugi dalam perjalanan sejarah. Islam tidak menempatkan nasab dan sejenisnya sebagai indicator kemuliaan, tapi Islam menempatkan kemuliaan pada tiga hal; keimanan, karya nyata yang menginspirasi dan adanya keterbukaan saling berdiskusi dalam kebaikan.

Maka saat anda mempunyai bonus keluarga mempunyai nasab, jabatan dan segala bagus sebenarnya sebagai peringatan bahwa anda dilahirkan bukan untuk membanggakan diri, tapi wujud tanggungjawab anda mempertahankan kewibawaan keluarga besar anda dengan karya yang jauh lebih baik dari leluhur anda. Jika ada melakukan hal demikian, maka anda akan memperoleh dua kemuliaan; nasab nya terjaga martabatnya dan nasib anda di dunia terlihat mulia. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876