
Hari ini penulis diperlihatkan betapa
kebenaran panca Indera (‘ainul yaqin) mempunyai sudut pandang berbeda dan tidak
pernah ketemu. Seberapa banyak sudut pandang manusia, sebanyak itu akal pikiran
manusia tersebut. Bahkan dalam ilmu-ilmu matematika -yang katanya sudah pasti -itupun masih bisa diperdebatkan. Apalagi ilmu-ilmu yang bersifat sosial yang perkembangannya
tidak mengenal batas akhir. Bahkan ketika manusia meninggal dunia pun, tafsir-tafsir
dari kematian dan apa-apa yang ada di sekitarnya menjadi ilmu baru yang
kemudian menjadi rujukan untuk mencari titik temu atau bahkan sengaja untuk
mencari perbedaan.
Sebuah buku legendaris berjudul “Kudeta
Mekah, Sejarah Yang Tak Terkuak” adalah buku terjemahan karya dari Yaroslav
Trofimov. Buku ilmiah sejarah yang membutuhkan -menurut Kirkus Review – 30 tahun
untuk memahami peristiwa ini. Suatu peristiwa tragedi yang tertutup. Saat Arab Saudi
-tahun 1979 – bermesraan dengan AS dan saat negara petro dolar tersebut ikut
menghajar Iran akibat meletusnya Revolusi Iran -pada tahun 1979 -yang dibawah
pimpinan ayatollah Khomeini.
Pada tahun 1979 Arab Saudi memang sedang
sibuk menuduh Negara Iran sebagai kelompok radikal di bawah pimpinan Ayatollah
Khomaini. Namun tuduhan pemerintah Arab Saudi justru menjadi bumerang. Seorang pengikut
ulama Bin Baz bernama Juhaiman telah melakukan kudeta berdarah di Masjidil
Haram. Kudeta hasil perenungan sangat mendalam setelah melihat fakta-fakta
antara teori dan fakta yang diajarkan oleh Bin Baz terhadap pemerintah Arab Saudi
bertolak belakang. Juhaiman yang tadinya merupakan pengikut Bin Baz akhirnya
menjadi oposisi nya dan sekaligus oposisi Kerajaan Arab Saudi yang dianggap
terlalu membiarkan maksiat berkembang oleh pemerintah
Pada tahun yang sama -1979 -Negara Iran juga
sedang terjadi kudeta terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang pro
terhadap barat. Gerakan kudeta yang dipimpin oleh Ayatollah Khomaini yang
kemudian menjadi babak baru Pemerintah Iran dengan meletakan sistem politik
perpaduan modern -Republik -dengan konsep wilayatul faqih. Babak baru
ini yang kemudian menjadi gerakan politik spiritual untuk menjadi Negara Iran modern
saat sekarang ini.
Pada tahun 1979 juga terjadi perang saudara
di Afganistan. Sesama Sunni. Lalu perang Afganistan-Uni Soviet. Konflik dan
perang tersebut memakan waktu cukup lama. Sekitar 10 tahun. Mulai tahun 1979
berakhir tahun 1989. Afganistan hancur total. Babak belur. Hingga kini negara
tersebut menjadi negara konflik tak berkesudahan akibat rebutan kekuasaan.
Dari paparan di atas bahwa konflik tidak
memperdulikan apa aliran agama, suku dan ideologi. Nutrisi kekuasaan
memungkinkan untuk berbicara tidak harus pada kenyataannya. Saat akan berbicara
tidak perlu mempersiapkan bukti-bukti yang akan mendukung pernyataannya. Yang menjadi
perhatiannya adalah bagaimana agar orang-orang menyukainya
Nutrisi kekuasaan sebenarnya tidak lepas
dari nutrisi ruhaniah. Kegiatan-kegiatan yang dirancang dengan beragam
maqasih-maqasid yang tumbuh dari keberagaman nutrisi tersebut.
Dalam konteks tersebut seseorang yang
berbeda pandangan akan melihat lain dengan asupan nutrisi orang lain.
Bagi kelompok wahabi nutrisi ruhaniah pemurnian
Al-Qur’an dan Hadist. Meskipun sebenarnya pandangan tersebut tidak sepenuhnya
tepat. Sebab konsep kembali kepada Al-Qur’an dan Hadist tidak lepas dari tafsir
para ulama-ulama nya. Mau tidak mau, nutrisi tersebut sebenarnya sudah
olahan-olahan produksi dari para mufasirin ulama wahabi juga. Mau tidak mau,
suka tidak suka kelompok wahabi yang mengklaim diri tidak berpaham juga
terjebak pada kelahiran paham baru yaitu paham agama hasil dari tafsir
pemikiran ulama mereka. Meskipun kelompok ini merasa tidak demikian. Tapi fakta
nya demikian adanya.
Bagi kelompok syi’ah, nutrisi kehidupan
berangkat dari peristiwa kematian Sayid Husein. Ia menjadi tonggal kerangka berfikir
bahwa mewujudkan perdamaian dan melawan kedzaliman kaum yang menganiaya umat Islam
merupakan musuh besar Negara Iran.
Secara umum kemasan nutrisi tersebut tidak
ada persoalan. Tentu saja cara penyajian dan cara mengunyah sebagai menuh
kehidupan berbeda dengan kelompok muslim sunni.
Bagi kaum sunni semua sahabat adalah mulia.
semua sahabat bisa menjadi rujukan untuk mengambil intisari kehidupan dan
menjadi ruh semangat beragama dalam hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama
manusia.
Perbedaan nutrisi ruhaniah tentu saja ada
titik temu nya pada bahan dasar tersebut yaitu nutrisi mencintai Allah dan Rasul-Nya.
perbedaan yang ada memang sangat susah ditemukan tapi titik temu sebagai
wasilah untuk membuka lembaran baru agar kedua nutrisi ruhaniah tersebut menjadi
jalan kedamaian jiwa umat Islam.
Realisasi kedamaian jiwa pun beragam. Jika
meminjam pendapat dari para ahli suffi bahwa kedamaian dan kebahagiaan yang
hakiki adalah terlihatnya Allah baik sewaktu mereka sedang bergerak atau sedang
diam, dan penyaksian Allah terhadap mereka
Bahasa majas kaum sufi tentang terlihat nya
Allah merupakan kesadaran diri seorang muslim bahwa segala kegiatan dan
aktivitasnya semata-mata sebagai upaya mencari ridha Allah. Tidak ada persoalan
berbeda tarikat yang ditempuh. Toh sama-sama tujuannya. Tidak ada persoalan
tentang lama dan cepatnya jalan yang ditempuh. Toh tujuannya sama. Jika tujuan
sama, dan jalan berbeda maka idealnya kita harus melihat persamaannya jangan
memperlihatkan jurang perbedaan.
Daftar Pustaka
al-Taftazani, A. a.-W.-G. (1997). Sufi dari Zaman ke Zaman .
Bandung : Penerbit Pustaka.
An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu
Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .
an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul Qusyairiyah Induk
Ilmu Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya : Risalah Gusti.
Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam
. Jakarta Selatan : Paramadina .
Baqir, H. (2020). Agama di Tengah Musibah Perspektif Spiritual
. Nuralwala.
Budi Gunawan, B. M. (2021). Demokrasi di Era Post Truth.
Jakarta : KPG.
Ghozali, I. (2020). Implementasi Hak-Hak Politik Kelompok
Minoritas Menurut Abdurrahman Wahid. Zawiyah Jurnal Pemikiran Islam,
250-271.
Ghozali, I. (2024). Politik Islam Nusantara Said Aqil Siraj di
Media Massa. el-buhuth:Borneo Journal of Islamic Studies, 301-316.
Ghozali, I. (2025). Agama dan Masa Depan Generasi Islam di Era
Digital . Banyumas : CV Rizquna.
Ghozali, I. (2025). Puasa, Jihad dan Cinta . Banyumas :
CV.Rizquna .
Ghozali, I. (2025). Tirakat dan Tarikat Gus Dur. Banyumas :
CV. Rizquna.
Khaldun, I. (1951). Al-Ta'rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatuh
Gharban wa Syirqan. Kairo : Lajnah al-Tha'if wa al-Tarjamah.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   113
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13559
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876