Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Nutrisi Ruhaniah



Rabu , 16 Juli 2025



Telah dibaca :  423

Hari ini penulis diperlihatkan betapa kebenaran panca Indera (‘ainul yaqin) mempunyai sudut pandang berbeda dan  tidak pernah ketemu. Seberapa banyak sudut pandang manusia, sebanyak itu akal pikiran manusia tersebut. Bahkan dalam ilmu-ilmu matematika -yang katanya sudah pasti -itupun masih bisa diperdebatkan. Apalagi ilmu-ilmu yang bersifat sosial yang perkembangannya tidak mengenal batas akhir. Bahkan ketika manusia meninggal dunia pun, tafsir-tafsir dari kematian dan apa-apa yang ada di sekitarnya menjadi ilmu baru yang kemudian menjadi rujukan untuk mencari titik temu atau bahkan sengaja untuk mencari perbedaan.

Sebuah buku legendaris berjudul “Kudeta Mekah, Sejarah Yang Tak Terkuak” adalah buku terjemahan karya dari Yaroslav Trofimov. Buku ilmiah sejarah yang membutuhkan -menurut Kirkus Review – 30 tahun untuk memahami peristiwa ini. Suatu peristiwa tragedi yang tertutup. Saat Arab Saudi -tahun 1979 – bermesraan dengan AS dan saat negara petro dolar tersebut ikut menghajar Iran akibat meletusnya Revolusi Iran -pada tahun 1979 -yang dibawah pimpinan ayatollah Khomeini.

Pada tahun 1979 Arab Saudi memang sedang sibuk menuduh Negara Iran sebagai kelompok radikal di bawah pimpinan Ayatollah Khomaini. Namun tuduhan pemerintah Arab Saudi justru menjadi bumerang. Seorang pengikut ulama Bin Baz bernama Juhaiman telah melakukan kudeta berdarah di Masjidil Haram. Kudeta hasil perenungan sangat mendalam setelah melihat fakta-fakta antara teori dan fakta yang diajarkan oleh Bin Baz terhadap pemerintah Arab Saudi bertolak belakang. Juhaiman yang tadinya merupakan pengikut Bin Baz akhirnya menjadi oposisi nya dan sekaligus oposisi Kerajaan Arab Saudi yang dianggap terlalu membiarkan maksiat berkembang oleh pemerintah (Trofimov, 2007). Masjidil Haram menjadi saksi pertumpahan darah dan peperangan antara kelompok wahabi pro pemerintah diwakili oleh Bin Baz dan penganut wahabi oposisi dipimpin oleh Juhaiman.

Pada tahun yang sama -1979 -Negara Iran juga sedang terjadi kudeta terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang pro terhadap barat. Gerakan kudeta yang dipimpin oleh Ayatollah Khomaini yang kemudian menjadi babak baru Pemerintah Iran dengan meletakan sistem politik perpaduan modern -Republik -dengan konsep wilayatul faqih. Babak baru ini yang kemudian menjadi gerakan politik spiritual untuk menjadi Negara Iran modern saat sekarang ini.

Pada tahun 1979 juga terjadi perang saudara di Afganistan. Sesama Sunni. Lalu perang Afganistan-Uni Soviet. Konflik dan perang tersebut memakan waktu cukup lama. Sekitar 10 tahun. Mulai tahun 1979 berakhir tahun 1989. Afganistan hancur total. Babak belur. Hingga kini negara tersebut menjadi negara konflik tak berkesudahan akibat rebutan kekuasaan.

Dari paparan di atas bahwa konflik tidak memperdulikan apa aliran agama, suku dan ideologi. Nutrisi kekuasaan memungkinkan untuk berbicara tidak harus pada kenyataannya. Saat akan berbicara tidak perlu mempersiapkan bukti-bukti yang akan mendukung pernyataannya. Yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana agar orang-orang menyukainya (Budi Gunawan, 2021). Nutrisi kekuasaan tidak harus nyata. Kadang ia hanya sebatas ilusi politik untuk mencapai apa-apa yang mereka inginkan. Kemasan sangat penting sebagai marketing. Termasuk dalam politik Islam. Tidak peduli apa yang dicita-citakan hanya sebatas ilusi atau ide-ide yang sangat mustahil untuk diwujudkan dalam kenyataannya (Ghozali, Politik Islam Nusantara Said Aqil Siraj di Media Massa, 2024).

Nutrisi kekuasaan sebenarnya tidak lepas dari nutrisi ruhaniah. Kegiatan-kegiatan yang dirancang dengan beragam maqasih-maqasid yang tumbuh dari keberagaman nutrisi tersebut.

Dalam konteks tersebut seseorang yang berbeda pandangan akan melihat lain dengan asupan nutrisi orang lain.

Bagi kelompok wahabi nutrisi ruhaniah pemurnian Al-Qur’an dan Hadist. Meskipun sebenarnya pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Sebab konsep kembali kepada Al-Qur’an dan Hadist tidak lepas dari tafsir para ulama-ulama nya. Mau tidak mau, nutrisi tersebut sebenarnya sudah olahan-olahan produksi dari para mufasirin ulama wahabi juga. Mau tidak mau, suka tidak suka kelompok wahabi yang mengklaim diri tidak berpaham juga terjebak pada kelahiran paham baru yaitu paham agama hasil dari tafsir pemikiran ulama mereka. Meskipun kelompok ini merasa tidak demikian. Tapi fakta nya demikian adanya.

Bagi kelompok syi’ah, nutrisi kehidupan berangkat dari peristiwa kematian Sayid Husein. Ia menjadi tonggal kerangka berfikir bahwa mewujudkan perdamaian dan melawan kedzaliman kaum yang menganiaya umat Islam merupakan musuh besar Negara Iran.

Secara umum kemasan nutrisi tersebut tidak ada persoalan. Tentu saja cara penyajian dan cara mengunyah sebagai menuh kehidupan berbeda dengan kelompok muslim sunni.

Bagi kaum sunni semua sahabat adalah mulia. semua sahabat bisa menjadi rujukan untuk mengambil intisari kehidupan dan menjadi ruh semangat beragama dalam hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia.

Perbedaan nutrisi ruhaniah tentu saja ada titik temu nya pada bahan dasar tersebut yaitu nutrisi mencintai Allah dan Rasul-Nya. perbedaan yang ada memang sangat susah ditemukan tapi titik temu sebagai wasilah untuk membuka lembaran baru agar kedua nutrisi ruhaniah tersebut menjadi jalan kedamaian jiwa umat Islam.

Realisasi kedamaian jiwa pun beragam. Jika meminjam pendapat dari para ahli suffi bahwa kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki adalah terlihatnya Allah baik sewaktu mereka sedang bergerak atau sedang diam, dan penyaksian Allah terhadap mereka (al-Taftazani, 1997).

Bahasa majas kaum sufi tentang terlihat nya Allah merupakan kesadaran diri seorang muslim bahwa segala kegiatan dan aktivitasnya semata-mata sebagai upaya mencari ridha Allah. Tidak ada persoalan berbeda tarikat yang ditempuh. Toh sama-sama tujuannya. Tidak ada persoalan tentang lama dan cepatnya jalan yang ditempuh. Toh tujuannya sama. Jika tujuan sama, dan jalan berbeda maka idealnya kita harus melihat persamaannya jangan memperlihatkan jurang perbedaan.

Daftar Pustaka

al-Taftazani, A. a.-W.-G. (1997). Sufi dari Zaman ke Zaman . Bandung : Penerbit Pustaka.

An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .

an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya : Risalah Gusti.

Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam . Jakarta Selatan : Paramadina .

Baqir, H. (2020). Agama di Tengah Musibah Perspektif Spiritual . Nuralwala.

Budi Gunawan, B. M. (2021). Demokrasi di Era Post Truth. Jakarta : KPG.

Ghozali, I. (2020). Implementasi Hak-Hak Politik Kelompok Minoritas Menurut Abdurrahman Wahid. Zawiyah Jurnal Pemikiran Islam, 250-271.

Ghozali, I. (2024). Politik Islam Nusantara Said Aqil Siraj di Media Massa. el-buhuth:Borneo Journal of Islamic Studies, 301-316.

Ghozali, I. (2025). Agama dan Masa Depan Generasi Islam di Era Digital . Banyumas : CV Rizquna.

Ghozali, I. (2025). Puasa, Jihad dan Cinta . Banyumas : CV.Rizquna .

Ghozali, I. (2025). Tirakat dan Tarikat Gus Dur. Banyumas : CV. Rizquna.

Khaldun, I. (1951). Al-Ta'rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatuh Gharban wa Syirqan. Kairo : Lajnah al-Tha'if wa al-Tarjamah.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   113

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13559


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876