Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Padang Arafah Kenangan Menuju Ma’rifat



Jumat , 06 Juni 2025



Telah dibaca :  571

Padang Arafah Kenangan Menuju Ma’rifat

Setiap tanggal 9 Dzulhijjah, jamaah haji berwukuf di Padang Arafah. Wukuf artinya berdiam diri. Ia termasuk rukun. Tidak sah hajinya, jika tidak melaksanakan wukuf. Maka para jamaah harus melaksanakan wukuf. Menurut Imam Nawawi meskipun ia melaksanakannya hanya sebentar.

Hadist Nabi Muhammad SAW:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْمَرَ قَالَ شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ نَاسٌ فَسَأَلُوهُ عَنْ الْحَجِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَجُّ عَرَفَةُ فَمَنْ أَدْرَكَ لَيْلَةَ عَرَفَةَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ مِنْ لَيْلَةِ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ رواهأحمد وأبو داود والترمذى والنسائى وابن ماجه والحاكم والبيهقى والديلمى 

Artinya:

Dari sahabat Abdurrahman bin Ya’mar ra, aku menyaksikan Rasulullah saw didatangi para sahabat. Mereka bertanya perihal haji. Rasulullah SAW menjawab, “Haji itu Arafah. Siapa saja yang mendapati malam Arafah sebelum terbit fajar malam Muzdalifah (malam Idul Adha), maka sempurnalah hajinya” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Ad-Dailami). 

Syeikh Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatihil Ghaib menjelaskan tentang asal-usul nama dari Padang Arafah sebagai berikut: Pertama, pertemuan Nabi Adam dan Hawa. Keduanya saling mengenal dan mengetahuinya setelah berpisah cukup lama ketika turun dari Surga. Kedua, Nabi Adam juga mengetahui tempat tersebut sebagai tempat ibadah haji. Ketiga, Nabi Ibrahim mengetahui perihal mimpi berasal dari Allah sebagai bagian dari wahyu kebenaran. Keempat, Nabi Ibrahim juga mengetahui tentang perihal tata cara ibadah haji di tempat tersebut. Kelima, Nabi Ibrahim dipertemukan dengan keluarganya di Padang Arafah.

Apakah saat wukuf kita berdiam diri tanpa melakukan apapun? syeikh al-mawardi dalam kitab al-hawil Kabir menjelaskan tentang doa yang dibaca nabi Muhammad saw sebagai berikut:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي قَلْبِي نُورًا اللَّهُمَّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الصَّدْرِ وَمِنْ سَيِّئَاتِ الْأُمُورِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا يَلِجُ فِي اللَّيْلِ وَشَرِّ مَا يَلِجُ فِي النَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ مَا تَهُبُّ بِهِ الرِّيَاحُ، وَشَرِّ بَوَائِقِ الدَّهْرِ

Artinya:

Tidak ada Tuhan selain Allah swt dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia memiliki kekuasaan dan berhak atas setiap pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Tuhanku, jadikanlah pendengaranku, penglihatanku, dan hatiku bercahaya. Lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku. Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan hati, perkara yang buruk, dan dari azab kubur. Aku juga berlindung dari kejahatan yang datang di malam hari dan siang hari. Aku berlindung dari kejahatan yang dibawa angin dan kejelekan zaman.

Itu kesunahan saat melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Memperbanyak dzikir dan doa. sebagaimana saat anda wukuf atau i’tikaf di Masjid. Berdiam sambil berdzikir dan berdoa.

Sebagian dari kita terkadang tidak hapal doa-doa atau dzikir-dzikir sebagaimana yang telah disusun oleh para ulama. Keterbatasan waktu untuk belajar lebih mendalam. Maka, kita melaksanakan dzikir secara filosofis yaitu kesadaran diri, akal-pikiran dan hati mengingat hakikat kita di hadapan Allah SWT.

Berdiam nya seorang muslim adalah berdiam secara berkualitas. Ia berdiam sebagai jalan untuk ‘arafa nafsahu, mengenal diri sendiri. Saya, anda, kita dan kami ada asal-usulnya. Dulu tidak ada, lalu ada, tidak ada lagi, lalu ada lagi. Proses pemahaman seperti ini sangat penting agar kita mengenal jalan untuk kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan ini, yaitu Allah SWT.

Bagi kaum rasionalisme atau orang yang sudah beragama yang belum bisa melepaskan esensi dari rasionalisme, proses ‘arafa nafsahu sebatas pada pola kehidupan tiga proses: tidak ada, ada, lalu tidak ada lagi. Memang ada keistimewaan dalam pola fikir kaum tersebut, yaitu totalitas mencari kebahagiaan di dunia. Sejak dini, mereka memprogram kehidupan untuk mencapai kejayaan dan kemakmuran. Pendidikan didesain sebagai lembaga untuk mencapai cita-cita tersebut. sejak dini, anak-anak telah diajarkan tentang teknik pembuka kunci kesuksesan. Hingga masa muda tiba, mereka telah mendapatkan kesuksesan di berbagai bidang keahlian. Kini kita telah melihat fakta tersebut.

Agama menawarkan ‘arafa nafsahu tidak sebatas mengenal dirinya sendiri, tapi juga ‘arafa rabbahu, mengenal Tuhan nya. ideal nya saat manusia mengenal tuhan nya dan merasa selalu dilihat oleh-nya, ada rasa malu ketika tidak totalitas untuk melakukan inovasi pemikiran, karya dan etos kerja dalam rangka mencapai suatu keunggulan-keunggulan hidup di dunia sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum rasionalisme. Idealnya kita dan mereka sederajat dalam kesuksesan di dunia. Seharusnya, kita lebih tinggi lagi dari mereka. Sebab mereka tidak ada yang menilai kualitas karya mereka kecuali oleh mereka sendiri, sedangkan karya kita dilihat oleh diri sendiri dan oleh Tuhan. Namun justru pada level pengawasan melakat dari tuhan kepada kita justru sering kali kita mengabaikan nilai-nilai kebaikan dalam rangka menciptakan produktivitas yang unggul. Kita sering berhasil dalam perlombaan kesukesan dunia selalu berada di belakang dan malah kadang tertinggal lebih jauh lagi.

Apakah orang agamis terlalu manja kepada Tuhan nya. Atas dasar sifat “welas-asih”-nya, sebagian penganut agama selalu hidup di zona nyaman. Mereka yakin atas pembagian rezeki dari Allah, dan mereka yakin juga atas ampunan-Nya, dan yakin akan bahagia masuk Surga-Nya di Hari Kiamat.

Jika demikian, maka Padang Arafah sebagai terapi ‘arafa nafsahu menuju pada ‘arafa rabbahu sebatas keberhasilan ketenangan spiritual akan terasa lebih dekat dengan Tuhan nya saat melakukan dzikrullah dan doa-doa. hal sama saat kita berada di Masjidil Haram dan Nabawi, kesakralan dan kedamaian serta kecintaan kepada-Nya sangat totalitas. Tidak mengenal lelah sama sekali. Tidak mengenal kondisi fisik sama sekali. Hati terasa asyik sekali saat melangkah ke dua tempat suci tersebut. terasa indah sekali saat sujud dan memperlama sujudnya. Ada suasana spiritual yang sangat sulit dilukiskan.

Penulis tentu saja berfikir saat Islam sebagai agama yang ya’ulu wala yu’la ‘alaih, agama yang paling agung dan tidak ada yang lebih tinggi darinya adalah benar adanya. Namun apakah ajaran agama Islam sudah diwujudkan dalam realita kehidupan. ini merupakan pertanyaan sederhana tapi menjawab realita yang ada.

Maka, sebagai implementasi dari wukuf di Padang Arafah sebenarnya, selain karena kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya juga kecintaan kita terhadap potensi diri yang besar tapi masih seperti buih di lautan. Pada kondisi seperti ini memang tidak perlu saling menyalahkan. Hanya menghabiskan energi saja. Kita memang dituntut untuk “nggrayahi” diri sendiri atas segala kealpaan terhadap potensi pikiran,energi dan tenaga yang hebat dan muspro begitu saja tanpa karya yang bisa membawa keagungan umat Islam semakin baik.

Kita mungkin mengenal diri sendiri sangat terlambat. Tapi bagi orang yang menyadari atas segala kekurangan diri sendiri dan terus memperbaiki kualitas diri sebagai umat manusia pilihan, tidak lah terlambat. Sebab ia telah mengenal diri sendiri dengan Tuhan dalam kontek spiritual, juga sudah mulai mengenal-Nya dalam wujud etos kerja dan karya nyata yang memberi manfaat untuk keagungan agama dan masyarakat luas. Itulah cara mengenal diri sendiri secara utuh di Padang Arafah. Harapannya, setelah pulang dari Padang Arafah ada energi baru umat islam dalam upaya memperbaiki kualitas-kualitas kehidupan semakin baik dan berkualitas. Semoga.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

ISKANDAR

Terimakasih tausiahnya KY..

   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   111

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874