
Persoalan cinta selalu berjalan dengan
penuh keunikan. Laksana jenis masakan Sayur. Ada potensi rasa yang
berbeda-beda. Kadang ada rasa manis, asin, pedas dan lain-lain. Kadang ia
datang menyenangkan, menjengkelkan, kangen, atau rindu tapi benci. Laksana orang
pecinta Sayur Jengkol, suka sama Jengkol, tapi benci sama bau nya. Meskipun
demikian, karena cinta bermain pada wilayah rasa dan fakta, maka antara satu
orang dengan orang lain bisa jadi mempunyai pemahaman yang beragam. Jadi, kata
cinta tidak punya pakem tetap untuk mengukur kualitas cinta yang
sebenarnya. Selalu saja punya definisi yang berbeda-beda.
Kini persoalan cinta yang sedang menggelora
di seluruh dunia adalah cinta terhadap Bangsa Palestina. Setiap hari, kita akan
mendapatkan informasi postingan atau berita online baik dalam maupun luar
negeri. Bahkan bisa jadi, saat ini dunia sedang demam palestina. Semua bicara “Saya
adalah Palestina!!”. Semua mengekspresikan dengan cara berbeda-beda; ada
melalui jalur politik, ada juga jalur kemanusiaan.
Di dalam negeri masyarakat melakukan demonstrasi
bela Palestina dan mengutuk Israel. Beberapa waktu lalu, para tokoh yang
mewakili negara dan ormas berkumpul seperti Menlu Retno Marsudi, Menag Yaqut
Cholil Qoumas, Menko PMK, Muhadjir Effendi, Ketua DPR RI Puan Maharani dan
lain-lain. Mereka mengutuk tindakan brutal Israel terhadap masyarakat sipil Palestina.
Menlu Retno Marsudi yang hebat ini
membacakan puisi. Sangat menyentuh hati. Berikut beberapa kalimat puisi nya:
Palestina Saudaraku
Retno Marsudi
Hatiku miris, karena bocah itu menangis
Dia terluka, dia tidak bisa berkata
Dia tidak tahu dimana bapak ibu nya
Setiap 10 menit
1 anak wafat di Gaza
Ribuan orang
tua kehilangan anak
Tak terbilang
beberapa ribu anak kehilangan orang tuanya
Sambutan yang tidak kalah menggelegar
adalah dari Menag Gus Yaqut. Berikut penggalan kalimat yang bisa saya rekam:
Kita semua berkumpul di sini karena kita
mencintai bangsa Palestina, karena kita mencintai rakyat Palestina. Oleh karena
itu, saya hanya ingin mengajak bapak, ibu sekalian semua saudara-saudara saya
untuk bersama-sama melakukan shalat ghaib untuk para syahid yang menjadi korban
Israel yang menjadi korban agresi Israel dan sekaligus mendoakan agar bangsa Palestina
segera mendapatkan kedamaian, keadilan dan kemerdekaan.
Kecintaan tidak hanya ucapan, tapi juga
tindakan nyata. Lembaga-lembaga negara, Pemda, Baznas, ormas agama seperti NU
dan Muhamadiyah, sekolah-sekolah masjid-masjid, dan masyarakat bergerak mengumpulkan
sebagian rizki untuk meringankan beban mereka. Semua bergerak. Bahkan gerakan
ini adalah gerakan nasional. Sangat susah sekali diklaim sebagai gerakan
parsial oleh sebagian ormas atau pun aktivis kemanusiaan. Semua merasa bahwa
bangsa Palestina adalah saudara kita. Meskipun mereka beragam agama, tidak perlu
mempersoalkan nya. Sebab persoalan kemanusiaan adalah persoalan naluri. Tidak berbicara
atas nama agama pun, semua tujuan agama mengajarkan pentingnya menjaga
eksistensi manusia. Sebab ini adalah perintah Allah dan tujuan syariat dibuat
untuk menjaga keberadaan manusia merdeka dan bermartabat.
Para calon pemimpin tidak ketinggalan. Jauh
hari Ganjar Pranowo dengan tegas menolak kedatangan timnas Israel. Landasan nya
sederhana; konstitusi negara dan ajaran Bung Karno. Bahkan dalam berbagai
kesempatan, dia selalu mengatakan mempunyai komitmen memperjuangkan ajarannya
untuk kemerdekaan Palestina. Meskipun dulu sempat kontroversi, tapi kini telah
menjadi kenyataan. Israel memang tidak pantas untuk mendapatkan angin segar di Bumi
Pertiwi. Bukan hanya sebatas Timnas, bahkan saat sekarang ini sudah ada
larangan membeli produk perusahaan dari Israel.
Anies Baswedan punya misi sama, mengutuk
rakyat Palestina. Kehadiran di tengah-tengah demonstran dia berpidato tentang
pentingnya kesetaraan hak asasi manusia di dunia internasional tidak kecuali
bangsa Palestina.
Prabowo Subianto juga sangat serius ingin
menciptakan kemerdekaan palestina. Dalam beberapa waktu lalu, sebagai bentuk
keseriusan dia membantu dan menyumbangna sebagian rizkinya untuk kemaslahatan
masyarakat Palestina.
Dari sini semakin jelas, bahwa semua
mencintai bangsa Palestina. Kita tidak mempunyai kesempatan untuk menilai
internal bangsa Palestina yang tidak pernah guyup, rukun antara para partai
politik terutama Hamas dan Fatah. Mereka selalu saja terjadi konflik dan
perang. Kita juga tidak perlu membahas persoalan internal yang masyarakat Palestina
beragam agama dan beragam aliran Partai Politik mulai dari agama sampai pada
sosialis. Kita bangsa Indonesia ber-husnudzon bahwa mereka layak untuk
dibantu dan diperjuangkan menjadi sebuah bangsa dan negara yang merdeka.
Penulis sangat salut atas rasa empati yang
luarbiasa masyarakat Indonesia. Hingga kadang rasa empati yang tinggi
mengalahkan rasa persaudaraan di antara kita. sering kita diperlihatkan
percekcokan, perseteruan di tingkat elit dan merambah di tingkat grassrot.
Saling pelotot dan saling curiga. Berkelahi masalah jabatan, intimidasi dan
mencari kekuasaan dengan cara menghalalkan cara. Teman menjadi lawan, lawan
menjadi teman. Dunia maya dan berita-berita online yang muncul selalu saja “menyesakan
hati”. Saling hujat, saling lempar batu sembunyi tangan, menyebar hoax,
memfitnah dan lucunya kadang dibumbui dalil-dalil Kitab Suci untuk memperkuat
argumentasinya.
Saya sangat setuju bahwa kita harus
mempunyai semangat membantu bangsa lain sebagai bagian dari prinsip penegakan
konstitusi negara. Satu sisi saya juga khawatir kita terlena dengan perilaku
yang meruntuhkan kekuatan bangsa ini melalui perkelahian secara terus-menerus. Khawatir
jangan-jangan hembusan kebencian yang ada dalam hati kita adalah hembusan dari “jinati
wa nash” yang datang dari berbagai penjuru mata angin bangsa-bangsa yang
tidak senang kepada bangsa Indonesia. Dan kita masuk ke dalam perangkapnya
tidak menyadarinya.
Semoga ini tidak terjadi. Mari kita bersatu
membangun Bangsa dan Negara. Perbedaan merupakan sunatullah yang tidak bisa
dihindarinya, tapi persatuan dan kesatuan adalah suatu kewajiban untuk
membangun bangsa ini menjadi lebih kuat, makmur, maju bersama dan menjadi
bangsa dan negara yang beradab. Ketika bangsa dan negara kuat secara ekonomi,
pendidikan dan segala aspek sektor kehidupan, maka semakin mudah membantu bangsa
lain dan semakin mudah memperjuangkan hak-hak bangsa Palestina untuk merdeka.
itu sebabnya, memperkuat persatuan internal menjadi sangat penting dilakukan
oleh seluruh anak bangsa. Bagaimana jadinya jika kita sibuk memperjuangkan
negara dan bangsa lain, tapi persatuan dan kesatuan setiap hari semakin rapuh. Kita
jelas tidak mau memperjuangkan bangsa lain seperti Lilin yang membakar diri
sendiri. mari bersama-sama membangun negara kita dan berjalan bersama membantu
bangsa lain agar mempunyai kesamaan derajat sebagai bangsa yang merdeka dan
mandiri.
Penulis : Imam Ghozali
Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   173
Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   179
Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   149
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14346
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6060
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5500
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4673
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4435