Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Palestina Menyatukan Cinta



Sabtu , 11 November 2023



Telah dibaca :  494

Persoalan cinta selalu berjalan dengan penuh keunikan. Laksana jenis masakan Sayur. Ada potensi rasa yang berbeda-beda. Kadang ada rasa manis, asin, pedas dan lain-lain. Kadang ia datang menyenangkan, menjengkelkan, kangen, atau rindu tapi benci. Laksana orang pecinta Sayur Jengkol, suka sama Jengkol, tapi benci sama bau nya. Meskipun demikian, karena cinta bermain pada wilayah rasa dan fakta, maka antara satu orang dengan orang lain bisa jadi mempunyai pemahaman yang beragam. Jadi, kata cinta tidak punya pakem tetap untuk mengukur kualitas cinta yang sebenarnya. Selalu saja punya definisi yang berbeda-beda.

Kini persoalan cinta yang sedang menggelora di seluruh dunia adalah cinta terhadap Bangsa Palestina. Setiap hari, kita akan mendapatkan informasi postingan atau berita online baik dalam maupun luar negeri. Bahkan bisa jadi, saat ini dunia sedang demam palestina. Semua bicara “Saya adalah Palestina!!”. Semua mengekspresikan dengan cara berbeda-beda; ada melalui jalur politik, ada juga jalur kemanusiaan.

Di dalam negeri masyarakat melakukan demonstrasi bela Palestina dan mengutuk Israel. Beberapa waktu lalu, para tokoh yang mewakili negara dan ormas berkumpul seperti Menlu Retno Marsudi, Menag Yaqut Cholil Qoumas, Menko PMK, Muhadjir Effendi, Ketua DPR RI Puan Maharani dan lain-lain. Mereka mengutuk tindakan brutal Israel terhadap masyarakat sipil Palestina.

Menlu Retno Marsudi yang hebat ini membacakan puisi. Sangat menyentuh hati. Berikut beberapa kalimat puisi nya:

Palestina Saudaraku

Retno Marsudi

Hatiku miris, karena bocah itu menangis

Dia terluka, dia tidak bisa berkata

Dia tidak tahu dimana bapak ibu nya

Setiap 10 menit 1 anak wafat di Gaza

Ribuan orang tua kehilangan anak

Tak terbilang beberapa ribu anak kehilangan orang tuanya

Sambutan yang tidak kalah menggelegar adalah dari Menag Gus Yaqut. Berikut penggalan kalimat yang bisa saya rekam:

Kita semua berkumpul di sini karena kita mencintai bangsa Palestina, karena kita mencintai rakyat Palestina. Oleh karena itu, saya hanya ingin mengajak bapak, ibu sekalian semua saudara-saudara saya untuk bersama-sama melakukan shalat ghaib untuk para syahid yang menjadi korban Israel yang menjadi korban agresi Israel dan sekaligus mendoakan agar bangsa Palestina segera mendapatkan kedamaian, keadilan dan kemerdekaan.

Kecintaan tidak hanya ucapan, tapi juga tindakan nyata. Lembaga-lembaga negara, Pemda, Baznas, ormas agama seperti NU dan Muhamadiyah, sekolah-sekolah masjid-masjid, dan masyarakat bergerak mengumpulkan sebagian rizki untuk meringankan beban mereka. Semua bergerak. Bahkan gerakan ini adalah gerakan nasional. Sangat susah sekali diklaim sebagai gerakan parsial oleh sebagian ormas atau pun aktivis kemanusiaan. Semua merasa bahwa bangsa Palestina adalah saudara kita. Meskipun mereka beragam agama, tidak perlu mempersoalkan nya. Sebab persoalan kemanusiaan adalah persoalan naluri. Tidak berbicara atas nama agama pun, semua tujuan agama mengajarkan pentingnya menjaga eksistensi manusia. Sebab ini adalah perintah Allah dan tujuan syariat dibuat untuk menjaga keberadaan manusia merdeka dan bermartabat.

Para calon pemimpin tidak ketinggalan. Jauh hari Ganjar Pranowo dengan tegas menolak kedatangan timnas Israel. Landasan nya sederhana; konstitusi negara dan ajaran Bung Karno. Bahkan dalam berbagai kesempatan, dia selalu mengatakan mempunyai komitmen memperjuangkan ajarannya untuk kemerdekaan Palestina. Meskipun dulu sempat kontroversi, tapi kini telah menjadi kenyataan. Israel memang tidak pantas untuk mendapatkan angin segar di Bumi Pertiwi. Bukan hanya sebatas Timnas, bahkan saat sekarang ini sudah ada larangan membeli produk perusahaan dari Israel.

Anies Baswedan punya misi sama, mengutuk rakyat Palestina. Kehadiran di tengah-tengah demonstran dia berpidato tentang pentingnya kesetaraan hak asasi manusia di dunia internasional tidak kecuali bangsa Palestina.

Prabowo Subianto juga sangat serius ingin menciptakan kemerdekaan palestina. Dalam beberapa waktu lalu, sebagai bentuk keseriusan dia membantu dan menyumbangna sebagian rizkinya untuk kemaslahatan masyarakat Palestina.

Dari sini semakin jelas, bahwa semua mencintai bangsa Palestina. Kita tidak mempunyai kesempatan untuk menilai internal bangsa Palestina yang tidak pernah guyup, rukun antara para partai politik terutama Hamas dan Fatah. Mereka selalu saja terjadi konflik dan perang. Kita juga tidak perlu membahas persoalan internal yang masyarakat Palestina beragam agama dan beragam aliran Partai Politik mulai dari agama sampai pada sosialis. Kita bangsa Indonesia ber-husnudzon bahwa mereka layak untuk dibantu dan diperjuangkan menjadi sebuah bangsa dan negara yang merdeka.

Penulis sangat salut atas rasa empati yang luarbiasa masyarakat Indonesia. Hingga kadang rasa empati yang tinggi mengalahkan rasa persaudaraan di antara kita. sering kita diperlihatkan percekcokan, perseteruan di tingkat elit dan merambah di tingkat grassrot. Saling pelotot dan saling curiga. Berkelahi masalah jabatan, intimidasi dan mencari kekuasaan dengan cara menghalalkan cara. Teman menjadi lawan, lawan menjadi teman. Dunia maya dan berita-berita online yang muncul selalu saja “menyesakan hati”. Saling hujat, saling lempar batu sembunyi tangan, menyebar hoax, memfitnah dan lucunya kadang dibumbui dalil-dalil Kitab Suci untuk memperkuat argumentasinya.

Saya sangat setuju bahwa kita harus mempunyai semangat membantu bangsa lain sebagai bagian dari prinsip penegakan konstitusi negara. Satu sisi saya juga khawatir kita terlena dengan perilaku yang meruntuhkan kekuatan bangsa ini melalui perkelahian secara terus-menerus. Khawatir jangan-jangan hembusan kebencian yang ada dalam hati kita adalah hembusan dari “jinati wa nash” yang datang dari berbagai penjuru mata angin bangsa-bangsa yang tidak senang kepada bangsa Indonesia. Dan kita masuk ke dalam perangkapnya tidak menyadarinya.

Semoga ini tidak terjadi. Mari kita bersatu membangun Bangsa dan Negara. Perbedaan merupakan sunatullah yang tidak bisa dihindarinya, tapi persatuan dan kesatuan adalah suatu kewajiban untuk membangun bangsa ini menjadi lebih kuat, makmur, maju bersama dan menjadi bangsa dan negara yang beradab. Ketika bangsa dan negara kuat secara ekonomi, pendidikan dan segala aspek sektor kehidupan, maka semakin mudah membantu bangsa lain dan semakin mudah memperjuangkan hak-hak bangsa Palestina untuk merdeka. itu sebabnya, memperkuat persatuan internal menjadi sangat penting dilakukan oleh seluruh anak bangsa. Bagaimana jadinya jika kita sibuk memperjuangkan negara dan bangsa lain, tapi persatuan dan kesatuan setiap hari semakin rapuh. Kita jelas tidak mau memperjuangkan bangsa lain seperti Lilin yang membakar diri sendiri. mari bersama-sama membangun negara kita dan berjalan bersama membantu bangsa lain agar mempunyai kesamaan derajat sebagai bangsa yang merdeka dan mandiri.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   173

Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   179

Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   149

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14346


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6060


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5500


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4435