
Di antara kebiasaan Kaum Yahudi yaitu
mengangkat status dirinya sendiri lebih baik, pada saat yang sama- disisi lain-
merendahkan orang lain. Ketika ia mendapatkan perlawanan atas segala kesalahan
yang diperbuat, maka ia memutarbalikan fakta -dengan serta merta ia
mem-framing- seolah-olah dirinya menjadi korban. Merasa terdzalimi dan mencari
simpati orang lain bahwa dirinya benar-benar manusia baik dan kewajiban orang
lain untuk membela nya.
Itu pola lama. Pola sejak nama Bani Israel
muncul. Dan pola ini terus menjadi trik politik dalam kehidupan sosial dari
masa ke masa. Termasuk pada masa Nabi Muhammad SAW.
Salah satu trik merendahkan orang lain
yaitu merubah makna dari kata tertentu. Lalu dengan segala kekuatan
buzzer-buzernya, mereka menyebarkan secara masif kata-kata yang sudah diolah
dengan makna baru. Ini yang pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Pada
Surat Al-Baqarah ayat 104, Allah telah menjelaskan sebagai berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقُوْلُوْا رَاعِنَا وَقُوْلُوا
انْظُرْنَا وَاسْمَعُوْا وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١٠٤
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu katakan, “Rā‘inā.” Akan tetapi, katakanlah, “Unẓurnā” dan dengarkanlah.
Orang-orang kafir akan mendapat azab yang pedih.
Kaum Yahudi sangat benci kepada Nabi
Muhammad dan umat nya. Kata “Rā‘inā “-artinya jagalah kami-dirubah
menjadi “ra unah “- artinya sangat bebal atau sangat bodoh. Kata “ra’ina”
sebenarnya ucapan yang biasa diucapkan oleh Nabi dan selalu ditiru oleh para
sahabat. Namun Sebagian kaum yahudi memplesetkan kata-kata tersebut sebagai
bahan ejekan dan mengolok-ngolok Nabi di depan para sahabat-sebagai
pengikutnya- dan di depan kelompok mereka yang sangat membenci Nabi dan para
sahabatnya.
Tujuannya yaitu untuk meruntuhkan reputasi
Nabi, merendahkan derajat Nabi -karena diejek-ejek oleh komunitas luas, dan
menumbuhkan keraguan terhadap para pengikut-pengikutnya. Ketika ini berhasil,
harapannya integritas nya hancur dan agama Islam tidak akan berkembang. Disisi
lain, legitimasi politik nabi pun akan hancur dan tujuan akhir sangat jelas
yaitu merebut kekuasaan politik dari tangan Nabi Muhammad SAW.
Di era digital, pola pembunuhan karakter
melalui kata-kata dan/atau kalimat-kalimat sangat massif terjadi di tubuh umat Islam.
Dulu, umat Islam tidak atau kurang mengenal teori konspirasi tersebut. Era 2000-an ke bawah, saya masih
merasakan bahwa umat Islam masih menggunakan kata-kata sebagai media untuk
menyampaikan apa yang diinginkan. Kadang ngomong apa adanya, kadang menggunakan
majaz yang sudah sama-sama mafhum oleh lawan bicaranya. Artinya, umat Islam menggunakan kata
sesuai fungsinya sebagai alat komunikasi dan jalan untuk menyampaikan
maksud secara tekstual dan kontekstual. Maksud dan arah tujuannya sudah jelas.
Ketika terjadi revolusi Iran tahun 1979,
pemerintah Amerika Serikat menganggap pemerintah Ayatollah Khomeini adalah
teroris dan musuh islam. Lalu muncul buku atau artikel-artikel yang membahas
sunni dan syi’ah secara massif. Sebagian umat Islam di Indonesia pun menerima
informasi ini secara apa adanya.
Pada tahun 1980-1988 terjadi perang Iran-Irak.
Pemerintah AS berada di pihak Irak. Pemerintah AS dan sekutu menggunakan kata
atau kalimat sebagai propaganda tentang bahaya syi’ah di negara-negara muslim
dunia. Lagi-lagi umat Islam percaya. Pemerintah AS benar-benar dianggap sebagai
pahlawan penyelamat aliran sunni. AS benar-benar menjadi Rambo nya umat Islam.
Lebih tragis lagi, Ketika perang Irak-Kuwait
pada tahun 1990-1991, pemerintah AS mendukung Kuwait. Isu bukan syi’ah dan
sunni. Padahal Kuwait sangat besar syi’ah nya. Pemerintah AS mendukung Kuwait
dan melawan Irak. Pemerintah AS tidak memainkan ideologi, tapi pola lain
seperti menuduh Sadam Husein mengembangkan senjata pemusnah masal, pelanggar HAM,
dan membantu gerakan teroris -termasuk al-Qaeda. Hingga akhirnya Sadam Husein
meninggal dunia dibunuh Tentara AS. Tuduhan tersebut tidak terbukti hingga saat
sekarang ini.
Lagi-lagi, pemerintah AS menggunakan
kata-kata atau kalimat-kalimat pemanis untuk menipu negara-negara Islam Sunni.
Lagi-lagi, negara Irak hancur, dan umat Islam percaya terhadap berita
halusinasi yang dibuat oleh AS.
Kejadian jatuhnya Moamar Khadafi Presiden
Libya punya pola sama dengan Sadam Husain. Pemerintah AS menuduh Khadafi
sebagai teroris dan tidak demokratis, otoriter dan tidak sesuai semangat
egaliter. Akhirnya Libya pun hancur. Lagi-lagi, pemerintah AS menggunakan
kata-kata atau kalimat halusinasi untuk menipu umat Islam dunia dengan dalih
membela umat Islam Sunni.
Umat Islam dunia sebenarnya sangat muak
terhadap pemerintah AS -plus Israel. Ucapan nya selalu inkonsisten. Bicara
hitam aslinya putih. Tapi, umat Islam selalu jatuh di lubang yang sama. Titel
sebagai negara adidaya, membuat negara-negara Islam tidak berdaya menghadapi
hegemoni AS dan Israel. Dua-dua nya jago bersilat lidah.
Perang Iran versus AS dan Israel membawa
keberkahan luarbiasa di belahan dunia saat sekarang ini. Berkah untuk
negara-negara muslim dan non-muslim. Pemerintah Iran mampu menghadapi serangan
kedua negara tersebut dengan senyuman. Hancurnya pangkalan militer AS di
negara-negara timur Tengah membuka mata bangsa dunia, bahwa Iran adalah
kekuatan baru negara adi kuasa. Selain itu, Masyarakat dunia pun mulai sadar
bahwa membela negara sendiri dan berdikari-berdiri di kaki sendiri-adalah hak
otoritas setiap negara dan negara lain tidak boleh ikut campur tangan.
Gelombang nasionalisme pun menular ke seluruh negara. Ramai-ramai negara-negara
tidak mendukung penyerangan as ke iran.
Pemerintah AS mencoba menggunakan teknik
klasik dengan menggunakan permainan kata-kata. Ia mencoba melakukan pembunuhan
karakter terhadap pemerintah Iran dengan beragam alasan. Namun, lagi-lagi
pemerintah iran membalasnya dengan senyuman. Teknik lama AS benar-benar rontok
di hadapan Iran. Donald Trump benar-benar dipermalukan oleh Iran. Dan ini belum
pernah dalam sejarah AS dipermalukan sedemikan rendah di mata dunia.
Pasca perang Iran Vs AS dan Israel beberapa
waktu lalu kelihatannya ada keberkahan dan kemadharatan bagi umat Islam
Indonesia, yaitu: ramai-ramai perang dunia maya dan saling serang dengan
melakukan pembunuhan karakter kepada tokoh Islam atau ulama-ulama Islam.
Ironisnya bukan datang dari luar Islam, tapi justru dari dalam Islam sendiri.
Kadang masalah sepele tapi karena gurih,
maka menjadi besar. Masalah sepele,umpama saja persoalan Idul Fitri pun jadi
geger. Pembunuhan karekater pun berjilid-jilid hingga saat sekarang ini.
Padahal jika sama-sama dewasa, baik metode rukyat maupun hisab sudah sama-sama
ijtihad. Semua benar. Tidak perlu diterukan. Tapi nyatanya terus saja dibahas
seperti tidak ada pembahasan lain. munculnya bukan pencerahan, tapi malahan
perpecahan.
Atau masalah pesantren, kadang bukan
wilayah nya ikut-ikutan bicara pesantren dan menyudukan tradisi pesantren. Lalu
dibuat framing negatif. Pembunuhan karakter. Jika ada santri yang nakal, imbas nya
pesantren dan pengasuhnya. Jika mahasiswa bermasalah, institusi dan rector atau
dosen nya aman-aman saja. Padahal pada sisi ini -perilaku orangnya- yang salah
hanya Sebagian kecil. Tapi hukuman sosial nya justru berbeda.
Kadang ada pola sok bijaksana. Dengan
kalimat penuh dengan kewibawaan dan kedewasaan, padahal pada saat yang sama
sebenarnya juga sedang membangun pemikiran alam bawah sadar orang-orang yang
mendengarkannya-publik-untuk simpati kepada nya dan menghukum yang berbeda
dengannya.
Tentu saja masih banyak lagi pola-pola
kalimat yang bisa diramu dan bisa menjadi senjata untuk menyerang lawan dan menjatuhkan
nya dengan beragam teknik.
Dari sini, memang umat Islam mengalami
kemajuan luarbiasa. Jika dulu kaum yahudi menggunakan beragam kalimat atau kata
sebagai strategi untuk membunuh musuhnya -Nabi Muhammad dan umat nya- kini umat
Islam telah belajar untuk saling menghakimi sesama muslim karena perbedaan
bendera ormas, baju, partai politik, aliran dan ideologi.
Ini merupakan suatu kemajuan jika dikelola
dengan baik. Tapi menjadi kemunduran jika ini menjadi terus dipelihara untuk
terus ramai di jagat dunia maya dan berimplikasi di dunia nyata. Antar sesama
umat Islam saling serang dan berkelahi.
Saya tidak tahu jalan mana yang akan
ditempuh oleh umat Islam yang beragam ini. Ma’lum lah, banyak umat banyak
pemikirannya banyak juga yang dipikir dan lebih parah lagi banyak pikiran.
Kadang ilmu nya orang dulu pantas juga
dipakai zaman sekarang ini yaitu” ilmu mbudeg” dari segala framing
yang berkembang di dunia maya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Kedengkian yang Menular
04 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   125
Menumbuhkan Optimisme dalam Setiap Aktivitas
22 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   214
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   409
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   202
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   89
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13685
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4728
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3692
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3313
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3040