Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

334 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pembunuhan Karakter Kaum Yahudi terhadap Nabi



Selasa , 28 April 2026



Telah dibaca :  92

Di antara kebiasaan Kaum Yahudi yaitu mengangkat status dirinya sendiri lebih baik, pada saat yang sama- disisi lain- merendahkan orang lain. Ketika ia mendapatkan perlawanan atas segala kesalahan yang diperbuat, maka ia memutarbalikan fakta -dengan serta merta ia mem-framing- seolah-olah dirinya menjadi korban. Merasa terdzalimi dan mencari simpati orang lain bahwa dirinya benar-benar manusia baik dan kewajiban orang lain untuk membela nya.

Itu pola lama. Pola sejak nama Bani Israel muncul. Dan pola ini terus menjadi trik politik dalam kehidupan sosial dari masa ke masa. Termasuk pada masa Nabi Muhammad SAW.

Salah satu trik merendahkan orang lain yaitu merubah makna dari kata tertentu. Lalu dengan segala kekuatan buzzer-buzernya, mereka menyebarkan secara masif kata-kata yang sudah diolah dengan makna baru. Ini yang pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Pada Surat Al-Baqarah ayat 104, Allah telah menjelaskan sebagai berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقُوْلُوْا رَاعِنَا وَقُوْلُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوْا وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۝١٠٤

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan, “Rā‘inā.” Akan tetapi, katakanlah, “Unẓurnā” dan dengarkanlah. Orang-orang kafir akan mendapat azab yang pedih.

Kaum Yahudi sangat benci kepada Nabi Muhammad dan umat nya. Kata “Rā‘inā “-artinya jagalah kami-dirubah menjadi “ra unah “- artinya sangat bebal atau sangat bodoh. Kata “ra’ina” sebenarnya ucapan yang biasa diucapkan oleh Nabi dan selalu ditiru oleh para sahabat. Namun Sebagian kaum yahudi memplesetkan kata-kata tersebut sebagai bahan ejekan dan mengolok-ngolok Nabi di depan para sahabat-sebagai pengikutnya- dan di depan kelompok mereka yang sangat membenci Nabi dan para sahabatnya.

Tujuannya yaitu untuk meruntuhkan reputasi Nabi, merendahkan derajat Nabi -karena diejek-ejek oleh komunitas luas, dan menumbuhkan keraguan terhadap para pengikut-pengikutnya. Ketika ini berhasil, harapannya integritas nya hancur dan agama Islam tidak akan berkembang. Disisi lain, legitimasi politik nabi pun akan hancur dan tujuan akhir sangat jelas yaitu merebut kekuasaan politik dari tangan Nabi Muhammad SAW.

Di era digital, pola pembunuhan karakter melalui kata-kata dan/atau kalimat-kalimat sangat massif terjadi di tubuh umat Islam. Dulu, umat Islam tidak atau kurang mengenal teori konspirasi tersebut. Era 2000-an ke bawah, saya masih merasakan bahwa umat Islam masih menggunakan kata-kata sebagai media untuk menyampaikan apa yang diinginkan. Kadang ngomong apa adanya, kadang menggunakan majaz yang sudah sama-sama mafhum oleh lawan bicaranya. Artinya, umat Islam menggunakan kata sesuai fungsinya sebagai alat komunikasi dan jalan untuk menyampaikan maksud secara tekstual dan kontekstual. Maksud dan arah tujuannya sudah jelas.

Ketika terjadi revolusi Iran tahun 1979, pemerintah Amerika Serikat menganggap pemerintah Ayatollah Khomeini adalah teroris dan musuh islam. Lalu muncul buku atau artikel-artikel yang membahas sunni dan syi’ah secara massif. Sebagian umat Islam di Indonesia pun menerima informasi ini secara apa adanya.

Pada tahun 1980-1988 terjadi perang Iran-Irak. Pemerintah AS berada di pihak Irak. Pemerintah AS dan sekutu menggunakan kata atau kalimat sebagai propaganda tentang bahaya syi’ah di negara-negara muslim dunia. Lagi-lagi umat Islam percaya. Pemerintah AS benar-benar dianggap sebagai pahlawan penyelamat aliran sunni. AS benar-benar menjadi Rambo nya umat Islam.

Lebih tragis lagi, Ketika perang Irak-Kuwait pada tahun 1990-1991, pemerintah AS mendukung Kuwait. Isu bukan syi’ah dan sunni. Padahal Kuwait sangat besar syi’ah nya. Pemerintah AS mendukung Kuwait dan melawan Irak. Pemerintah AS tidak memainkan ideologi, tapi pola lain seperti menuduh Sadam Husein mengembangkan senjata pemusnah masal, pelanggar HAM, dan membantu gerakan teroris -termasuk al-Qaeda. Hingga akhirnya Sadam Husein meninggal dunia dibunuh Tentara AS. Tuduhan tersebut tidak terbukti hingga saat sekarang ini.

Lagi-lagi, pemerintah AS menggunakan kata-kata atau kalimat-kalimat pemanis untuk menipu negara-negara Islam Sunni. Lagi-lagi, negara Irak hancur, dan umat Islam percaya terhadap berita halusinasi yang dibuat oleh AS.

Kejadian jatuhnya Moamar Khadafi Presiden Libya punya pola sama dengan Sadam Husain. Pemerintah AS menuduh Khadafi sebagai teroris dan tidak demokratis, otoriter dan tidak sesuai semangat egaliter. Akhirnya Libya pun hancur. Lagi-lagi, pemerintah AS menggunakan kata-kata atau kalimat halusinasi untuk menipu umat Islam dunia dengan dalih membela umat Islam Sunni.

Umat Islam dunia sebenarnya sangat muak terhadap pemerintah AS -plus Israel. Ucapan nya selalu inkonsisten. Bicara hitam aslinya putih. Tapi, umat Islam selalu jatuh di lubang yang sama. Titel sebagai negara adidaya, membuat negara-negara Islam tidak berdaya menghadapi hegemoni AS dan Israel. Dua-dua nya jago bersilat lidah.

Perang Iran versus AS dan Israel membawa keberkahan luarbiasa di belahan dunia saat sekarang ini. Berkah untuk negara-negara muslim dan non-muslim. Pemerintah Iran mampu menghadapi serangan kedua negara tersebut dengan senyuman. Hancurnya pangkalan militer AS di negara-negara timur Tengah membuka mata bangsa dunia, bahwa Iran adalah kekuatan baru negara adi kuasa. Selain itu, Masyarakat dunia pun mulai sadar bahwa membela negara sendiri dan berdikari-berdiri di kaki sendiri-adalah hak otoritas setiap negara dan negara lain tidak boleh ikut campur tangan. Gelombang nasionalisme pun menular ke seluruh negara. Ramai-ramai negara-negara tidak mendukung penyerangan as ke iran.

Pemerintah AS mencoba menggunakan teknik klasik dengan menggunakan permainan kata-kata. Ia mencoba melakukan pembunuhan karakter terhadap pemerintah Iran dengan beragam alasan. Namun, lagi-lagi pemerintah iran membalasnya dengan senyuman. Teknik lama AS benar-benar rontok di hadapan Iran. Donald Trump benar-benar dipermalukan oleh Iran. Dan ini belum pernah dalam sejarah AS dipermalukan sedemikan rendah di mata dunia.

Pasca perang Iran Vs AS dan Israel beberapa waktu lalu kelihatannya ada keberkahan dan kemadharatan bagi umat Islam Indonesia, yaitu: ramai-ramai perang dunia maya dan saling serang dengan melakukan pembunuhan karakter kepada tokoh Islam atau ulama-ulama Islam. Ironisnya bukan datang dari luar Islam, tapi justru dari dalam Islam sendiri.

Kadang masalah sepele tapi karena gurih, maka menjadi besar. Masalah sepele,umpama saja persoalan Idul Fitri pun jadi geger. Pembunuhan karekater pun berjilid-jilid hingga saat sekarang ini. Padahal jika sama-sama dewasa, baik metode rukyat maupun hisab sudah sama-sama ijtihad. Semua benar. Tidak perlu diterukan. Tapi nyatanya terus saja dibahas seperti tidak ada pembahasan lain. munculnya bukan pencerahan, tapi malahan perpecahan.

Atau masalah pesantren, kadang bukan wilayah nya ikut-ikutan bicara pesantren dan menyudukan tradisi pesantren. Lalu dibuat framing negatif. Pembunuhan karakter.  Jika ada santri yang nakal, imbas nya pesantren dan pengasuhnya. Jika mahasiswa bermasalah, institusi dan rector atau dosen nya aman-aman saja. Padahal pada sisi ini -perilaku orangnya- yang salah hanya Sebagian kecil. Tapi hukuman sosial nya justru berbeda.

Kadang ada pola sok bijaksana. Dengan kalimat penuh dengan kewibawaan dan kedewasaan, padahal pada saat yang sama sebenarnya juga sedang membangun pemikiran alam bawah sadar orang-orang yang mendengarkannya-publik-untuk simpati kepada nya dan menghukum yang berbeda dengannya.

Tentu saja masih banyak lagi pola-pola kalimat yang bisa diramu dan bisa menjadi senjata untuk menyerang lawan dan menjatuhkan nya dengan beragam teknik.

Dari sini, memang umat Islam mengalami kemajuan luarbiasa. Jika dulu kaum yahudi menggunakan beragam kalimat atau kata sebagai strategi untuk membunuh musuhnya -Nabi Muhammad dan umat nya- kini umat Islam telah belajar untuk saling menghakimi sesama muslim karena perbedaan bendera ormas, baju, partai politik, aliran dan ideologi.

Ini merupakan suatu kemajuan jika dikelola dengan baik. Tapi menjadi kemunduran jika ini menjadi terus dipelihara untuk terus ramai di jagat dunia maya dan berimplikasi di dunia nyata. Antar sesama umat Islam saling serang dan berkelahi.

Saya tidak tahu jalan mana yang akan ditempuh oleh umat Islam yang beragam ini. Ma’lum lah, banyak umat banyak pemikirannya banyak juga yang dipikir dan lebih parah lagi banyak pikiran.

Kadang ilmu nya orang dulu pantas juga dipakai zaman sekarang ini yaitu” ilmu mbudeg” dari segala framing yang berkembang di dunia maya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Kedengkian yang Menular
04 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   125

Menumbuhkan Optimisme dalam Setiap Aktivitas
22 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   214

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   409

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   202

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   89

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13685


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4728


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3040