Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pengukuhan Pagar Nusa; Bisakah Air Jadi Bensin ?



Minggu , 12 Februari 2023



Telah dibaca :  431

Ini bukan kisah para Waliyullah yang sering didengar dalam berbagai pengajian, hikayat-hikayat atau kisah-kisah para wali yang tertulis di buku-buku klasik. Ini adalah kisah seorang yang sedang mencari jati diri untuk bisa diakui sebagai Hamba Allah yang sesungguhnya. Namun lagi-lagi, pencarian diri tersebut sering gagal. Namun terus berusaha untuk bangkit. Walaupun sering gagal, orang ini[sebut kiai Ahmad] sangat percaya akan jargon “dibalik kegagalan ada kesuksesan”. Waktu dulu di Pesantren juga pernah mendengar pengajian Kitab Ta’lim Muta’alim ada maqalahman jadda wa jada”, siapa yang bersungguh-sungguh makan akan mendapat apa yang dinginkan. Dan sudah banyak lagi, kalimat-kalimat senada berkaitan motivasi hidup. Dia percaya, namun kapan saat mencapai kesuksesan pun masih tanda Tanya.


Ahmad sebagai Kiai Kampung yang bermodal pernah belajar ilmu agama dari Kakeknya dan Guru Ngaji di Langgar yang hampir roboh, adalah aktivis NU. Tapi disebut militan tidak juga. Lebih tepat  dia hanya pecinta NU, bukan pengurus NU. Pandangan kiai Ahmad bahwa orang-orang yang  masuk menjadi pengurus NU adalah orang-orang yang sholeh, berilmu, wara’ dan dekat hubungannya dengan Allah s.w.t. Jadi dia belum beranti menjadi pengurus. terlalu sakral baginya.  Cukup menjadi pecinta NU. Itu pun sudah  merasa sangat bangga. Karena posisi sebagai pecinta NU, lebih bebas dan lebih mudah untuk berhidmat di organisasi nya Mbah Kiai Hasyim Asy’ari. Sungguh cara berfikir kiai kampung yang masih polos dan belum terkontaminasi oleh hiruk-pikuk 'rarik-menarik' kepentingan dunia.

“Paijo, ikut saya. Ada acara Pengukuhan Pencak Silat Pagar Nusa” ajak Kiai Ahmad kepada Paijo yang setiap hari menjadi santri nya. walaupun umur sudah masuk usia 25 tahun, masih rajin ngaji buku Iqra Juz-3. Namun demikian, taat nya kepada Kiai cukup pantas bisa menjadi suri tauladan. Apa yang diperintah, saat itu pun dia mengerjakan dan tanpa pikir panjang.


Kiai Ahmad berangkat jam 20.00 WIB, karena pengukuhan jika melihat jadwal di undangan jam 20.30. tanpa pikir panjang  dan merasa sudah tidak ada yang ketinggalan, Kia Ahmad berangkat dengan Honda buntutnya. Paijo serba salah dan segan. Sebab dia dibonceng oleh gurunya. Namun karena perintahnya, lagi-lagi dia pun tinggal mengangguk “sami’na waatho’na”.

Perjalanan cukup jauh. Hujan pun sudah mulai turun. Tidak deras. Tapi karena cukup cepat kendaraannya, jadi seperti deras. Baju Kiai Ahmad pun basah. Ironisnya, Honda Prutul nya tidak mau laju. Bahkan semakin pelan dan akhirnya berhenti.

“Paijo, kelihatannya bensin habis. Kedai masih jauh. Jadi saya yang pergi mencari bensin atau kamu Jo?”. Kata Kiai Ahmad menawarkan.

“Inggih, kulo mawon Kiai” jawab Paijo.

“Paijo, jika bensin habis, beli saja Aqua. Insya Allah Honda nya bisa jalan, heheheh ” kata Kiai Ahmad yang memang suka bergurau.

Tanpa pikir panjang, Paijo pun nuntun Honda prutul. Beberapa menit, Paijo sudah tertelan oleh gelapnya malam hari. Entah apakah masih ada yang jual bensin apa tidak. Kiai Ahmad  merasa ketar-ketir pikirannya. Jika tidak ada yang jual bensin, bisa dipastikan sampai ditempat acara terlambat.

Beberapa waktu kemudian, Paijo pun datang dengan naik Honda Prutul. Karena hujan masih berlanjut, Paijo menyuruh Kiai Ahmad untuk naik dibelakangnya dengan sedikit bersikap sopan-santun. Kiai Ahmad pun tanpa pikir panjang naik di belakang Paijo. Sepanjang perjalanan, Kiai Ahmad pun masih sempat bertanya kepada Paijo.

“Pajio, beli bensinnya berapa liter?” Tanya Kiai Ahmad.

“Sudah habis kiai, jadi saya hanya beli Aqua” jawab Paijo.


Kiai ahmad masih bingung. Padahal dia menyuruh beli Aqua hanya bergurau saja. Tapi malah benar-benar beli Aqua. Duh, Paijo-oh Paijo.

“Jadi, honda ini kamu isi Air Aqua” Tanya Kiai Ahmad masih penasaran.

“Tidak Kiai” jawab Paijo.

“Lhoo kok bisa jalan Honda nya? Tanya Kiai Ahmad.

“Ini Honda teman saya, Honda pak kiai saya titipkan di Kedai tadi” Jawab Paijo.

Kiai Ahmad ingin tertawa juga, tapi seperti nya tidak percaya. Sebab Merk dan Model Honda nya persis sama dengan miliknya.

“Kok persis milik Honda saya Paijo” Tanya Kiai Ahmad.

“Iya Merk nya sama, dan tahun keluaran nya pun sama, tapi ada sedikit beda kiai” kata Paijo.

“Apa bedannya dengan Honda saya” Tanya Kiai Ahmad.

“Honda ini ada bensinnya, Honda kiai habis bensinya” Jawab Paijo.

Kedua kiai dan santri tadi pun tertawa terbahak-bahak laksana seorang sahabat karib. Mereka tetap bisa bahagia pada saat bensinya habis.

Tapi sayangnya, tradisi NU yang unik dan mukhlis  ini sudah mulai bergeser menjadi pragmatis. Semoga saja ini penyakit ini tidak menyebar luas di hati warga Nahdiyin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   117

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884