
Ini bukan kisah para Waliyullah yang sering didengar dalam berbagai pengajian, hikayat-hikayat atau kisah-kisah para wali yang tertulis di buku-buku klasik. Ini adalah kisah seorang yang sedang mencari jati diri untuk bisa diakui sebagai Hamba Allah yang sesungguhnya. Namun lagi-lagi, pencarian diri tersebut sering gagal. Namun terus berusaha untuk bangkit. Walaupun sering gagal, orang ini[sebut kiai Ahmad] sangat percaya akan jargon “dibalik kegagalan ada kesuksesan”. Waktu dulu di Pesantren juga pernah mendengar pengajian Kitab Ta’lim Muta’alim ada maqalah “man jadda wa jada”, siapa yang bersungguh-sungguh makan akan mendapat apa yang dinginkan. Dan sudah banyak lagi, kalimat-kalimat senada berkaitan motivasi hidup. Dia percaya, namun kapan saat mencapai kesuksesan pun masih tanda Tanya.

Ahmad sebagai Kiai Kampung yang bermodal
pernah belajar ilmu agama dari Kakeknya dan Guru Ngaji di Langgar yang hampir
roboh, adalah aktivis NU. Tapi disebut militan tidak juga. Lebih tepat dia hanya pecinta NU, bukan pengurus NU. Pandangan
kiai Ahmad bahwa orang-orang yang masuk menjadi pengurus NU adalah orang-orang yang sholeh,
berilmu, wara’ dan dekat hubungannya dengan Allah s.w.t. Jadi dia belum beranti menjadi pengurus. terlalu sakral baginya. Cukup menjadi
pecinta NU. Itu pun sudah merasa sangat bangga. Karena posisi sebagai
pecinta NU, lebih bebas dan lebih mudah untuk berhidmat di organisasi nya Mbah
Kiai Hasyim Asy’ari. Sungguh cara berfikir kiai kampung yang masih polos dan belum terkontaminasi oleh hiruk-pikuk 'rarik-menarik' kepentingan dunia.
“Paijo, ikut saya. Ada acara Pengukuhan Pencak Silat Pagar Nusa” ajak Kiai Ahmad kepada Paijo yang setiap hari menjadi santri nya. walaupun umur sudah masuk usia 25 tahun, masih rajin ngaji buku Iqra Juz-3. Namun demikian, taat nya kepada Kiai cukup pantas bisa menjadi suri tauladan. Apa yang diperintah, saat itu pun dia mengerjakan dan tanpa pikir panjang.

Kiai Ahmad berangkat jam 20.00 WIB, karena
pengukuhan jika melihat jadwal di undangan jam 20.30. tanpa pikir panjang dan merasa sudah tidak ada yang ketinggalan, Kia
Ahmad berangkat dengan Honda buntutnya. Paijo serba salah dan segan. Sebab dia
dibonceng oleh gurunya. Namun karena perintahnya, lagi-lagi dia pun tinggal
mengangguk “sami’na waatho’na”.
Perjalanan cukup jauh. Hujan pun sudah
mulai turun. Tidak deras. Tapi karena cukup cepat kendaraannya, jadi seperti
deras. Baju Kiai Ahmad pun basah. Ironisnya, Honda Prutul nya tidak mau laju.
Bahkan semakin pelan dan akhirnya berhenti.
“Paijo, kelihatannya bensin habis. Kedai
masih jauh. Jadi saya yang pergi mencari bensin atau kamu Jo?”. Kata Kiai Ahmad
menawarkan.
“Inggih, kulo mawon Kiai” jawab Paijo.
“Paijo, jika bensin habis, beli saja Aqua. Insya
Allah Honda nya bisa jalan, heheheh ” kata Kiai Ahmad yang memang suka
bergurau.
Tanpa pikir panjang, Paijo pun nuntun Honda
prutul. Beberapa menit, Paijo sudah tertelan oleh gelapnya malam hari. Entah apakah
masih ada yang jual bensin apa tidak. Kiai Ahmad merasa ketar-ketir
pikirannya. Jika tidak ada yang jual bensin, bisa dipastikan sampai ditempat
acara terlambat.
Beberapa waktu kemudian, Paijo pun datang dengan
naik Honda Prutul. Karena hujan masih berlanjut, Paijo menyuruh Kiai Ahmad
untuk naik dibelakangnya dengan sedikit bersikap sopan-santun. Kiai Ahmad pun
tanpa pikir panjang naik di belakang Paijo. Sepanjang perjalanan, Kiai Ahmad pun
masih sempat bertanya kepada Paijo.
“Pajio, beli bensinnya berapa liter?” Tanya
Kiai Ahmad.
“Sudah habis kiai, jadi saya hanya beli Aqua” jawab Paijo.

Kiai ahmad masih bingung. Padahal dia
menyuruh beli Aqua hanya bergurau saja. Tapi malah benar-benar beli Aqua. Duh,
Paijo-oh Paijo.
“Jadi, honda ini kamu isi Air Aqua” Tanya Kiai
Ahmad masih penasaran.
“Tidak Kiai” jawab Paijo.
“Lhoo kok bisa jalan Honda nya? Tanya Kiai
Ahmad.
“Ini Honda teman saya, Honda pak kiai saya
titipkan di Kedai tadi” Jawab Paijo.
Kiai Ahmad ingin tertawa juga, tapi seperti
nya tidak percaya. Sebab Merk dan Model Honda nya persis sama dengan miliknya.
“Kok persis milik Honda saya Paijo” Tanya Kiai
Ahmad.
“Iya Merk nya sama, dan tahun keluaran nya
pun sama, tapi ada sedikit beda kiai” kata Paijo.
“Apa bedannya dengan Honda saya” Tanya Kiai
Ahmad.
“Honda ini ada bensinnya, Honda kiai habis
bensinya” Jawab Paijo.
Kedua kiai dan santri tadi pun tertawa
terbahak-bahak laksana seorang sahabat karib. Mereka tetap bisa bahagia pada saat
bensinya habis.
Tapi sayangnya, tradisi NU yang unik dan mukhlis ini sudah mulai bergeser menjadi pragmatis. Semoga saja ini penyakit ini tidak menyebar
luas di hati warga Nahdiyin.
Penulis : Imam Ghozali
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   117
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2985
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884