
Hari ini Jakarta hujan deras. Pelataran Bandara
Internasional Soekaro Hatta basah oleh guyuran hujan. Teman ku,Muhadi sibuk mencari
HP. Ternyata ketinggalan di mobil maxim. gelisah tingkat dewa. Mobil nya sudah
hilang di tengah derasnya hujan. Saya mencoba menelpon nomornya. Berdering. Tapi
tidak diangkat. Saya mencoba menelpon lagi. Sudah tidak aktif lagi.
Pikiran ku negatif pun muncul. “Jangan-jangan
dimatikan oleh supir maxim”. Namun, pikiran ku kembali berkata lagi: “Apakah
saya harus berfikir suudhon kepada supir maxim?”. Ada pertarungan dan
tarik-menarik antara berprasangka baik dan buruk. Sedangkan teman ku Muhadi,
terjadi pertarungan yang sangat hebat antara kemungkinan HP nya kembali atau
hilang selamanya. Kami sama-sama gelisah pada wilayah masing-masing.
Hujan masih deras. HP pun belum juga aktif.
Muhadi masih terus memandang jalan yang masih di guyur hujan. Tiba-tiba ada
mobil putih meluncur. Muhadi spontan berkata kepada ku dengan cukup keras, “Itu
mobil nya pak !”.
Saat Muhadi menuju mobil dan terkena
guyuran hujan cukup deras, saya mengatakan dengan suara yang cukup keras, “Muhadi,
tolong pak supir kasih duit !”. Ia pun memberikan selembar duit kertas bewarna
merah. Siapapun berbuat baik, maka akan mendapatkan balasan kebaikan dengan
wajah yang berbeda-beda.
Muhadi senang luarbiasa. hp baginya-dan
mungkin kita semua-seperti istri kedua. Kelimpungan tidak karuan. Kehilangan
HP terasa sangat sedih. sebab HP di era modern bukan hanya sebatas alat
komunikasi, tapi juga ada beragam data penting yang berkaitan dengan data diri
atau pekerjaan diri. Kehilangan HP berarti bisa kehilangan beragam data penting.
Apalagi era sekarang, dengan kemajuan teknologi sering disalahgunakan oleh
orang-orang yang tidak bertanggungjawab membobol data-data penting di HP.
“Dimanapun selalu ada orang baik, termasuk
di Jakarta. Orang baik biasanya akan dipertemukan dengan orang baik. Mungkin suatu
saat akan ditemukan orang yang tidak baik. Tujuannya sebenarnya agar kita
semakin meningkatkan kualitas kebaikan diri dalam berbagai bentuk, termasuk
dalam pola pikir kita” kalimat ini yang saya sampaikan kepada muhadi beberapa
hari lalu saat sama-sama berangkat ke Jakarta dan sama-sama saat naik travel.
Dalam berbagai kasus, ketika kita
kehilangan sesuatu barang berharga di kendaraan sering tidak kembali. Hilang begitu
saja. Presepsi ini masih ada dalam benak sebagian masyarakat Indonesia, termasuk
diriku sendiri.
Saya ingin merubah pikiran menolak tradisi
berfikir negatif pada setiap kejadian dalam pikiran ku. tapi sering gagal. Saya
terus mencoba untuk selalu belajar berfikir positif dari setiap kejadian. Pada moment
tertentu kadang berhasil, tapi pada momen lainnya kadang butuh lagi penguatan-penguatan
pikiran tentang pentingnya melihat sesuatu sebagai bagian dari rencana tuhan
yang terbaik. Dari sini sebenarnya makna berfikir positif yang sebenarnya. Itu menurutku
dari sudut pemahaman pengetahuan ku yang sangat dangkal.
Saya ingat suatu sabda Nabi Muhammad SAW, “Saya
tergantung prasangka hamba-Ku”. Kanjeng Nabi mengajarkan kepada kita tentang
pentingnya berprasangka baik kepada Allah SWT. Jika kita melihat setiap
kejadian pada tataran karya Tuhan atau rencana Tuhan, maka kita akan menemukan
bahwa “Tidak ada yang batil pada desain-Nya”.
Berprasangka baik kepada tuhan memantul
kepada hamba-hamba-nya. ketika tuhan dalam pikiran dan hati kita ditempatkan
sebagai desainer kehidupan terbaik, maka pada diri kita sebenarnya sudah tidak
bisa lagi menerima prasangka-prasangka buruk kepada sesama manusia.
Tentu saja pada persoalan tersebut tidak
melepaskan diri kita untuk melakukan suatu kajian-kajian kebenaran dari suatu
masalah. Husnudhon terhadap suatu peristiwa tidak meninggalkan sikap kritis dan
tradisi analisis dengan data-data ilmiah. Sebab hal tersebut bukan wilayah suudzon.
Seperti kejadian tersebut di atas, ketika
ada data-data valid bahwa HP tertinggal di mobil dan yang ada di mobil hanya
seorang supir, maka kita berasumsi bahwa yang mengambil adalah sang supir. Pikiran
ini adalah bagian dari data. Mau tidak mau ketika asumsi ini terjadi, dan HP
tidak kembali, akal pikiran kita mengatakan suatu kebenaran sementara bahwa
sang supir yang mengambilnya.
Kenapa ini dianggap sebagai kebenaran
sementara. Sebab bisa jadi sang supir sengaja mematikan agar konsentrasi menyupir
dan sekuat tenaga mengembalikan kepada sang pemilik. Ketika ini terjadi, maka
kebenaran sementara tadi akan terbukti dengan kebenaran kedua yaitu kebenaran
yang nyata atau hakiki.
Jika toh benar tidak kembali, maka bisa
jadi kebenaran sementara tadi adalah kebenaran sejati. Meskipun demikian, dalam
wilayah seperti ini juga kita tidak boleh melepaskan makna husnudhan -berprasangka
baik- kepada nya dan kepada diri kita. salah satunya yang sederhana adalah
menilai diri kita. Jangan-jangan semua kejadian yang terjadi saat ini adalah
bagian dari peringatan Tuhan akibat dari perbuatan masa lalu. Disini sebenarnya
setiap kejadian menjadi bermakna saat pikiran kita bisa mengambil sisi-sisi
kebaikan dari setiap kejadian.
Dari sini sebenarnya rahasia berprasangka
baik atau berfikir positif pada setiap kejadian menjadi sangat penting. Bahwa ada
berbagai persoalan yang terjadi dan secara dhohir tidak baik atau merugikan
kita, namun dalam perjalanan waktu kita baru mengetahui jawabannya bahwa
kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan pada masa-masa dulu ada rahasia
terbaik untuk masa depan kita.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   110
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870