Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pilkada dan Stand Up Comedi



Kamis , 29 Agustus 2024



Telah dibaca :  731

Pertarungan ideologi pada pesta demokrasi sebelum pilpres 2024 sangat terasa pembelahannya. Islam dan nasionalis. Islam tulang, Islam daging, dan Islam kulit. Pilkada pun demikian.

Pasca pilpres 2024, sudah menurun tensi pertarungan ideologi. Perkawinan ideologi Prabowo dan Jokowi, membingungkan semua orang. Terutama partai politik, pengamat, dan plus pakar hukum. Partai politik mau bicara apa? Idealisme partai dan ideologi?. Mulut terkunci. Ideologi partai seolah-olah hanya untuk kader-kader di grassroot. Sebagian para elit tersandera persoalan hukum. Entah itu partai politik dengan bendera apapun. Semua nya ada kasus. Mulut seolah-olah terkena sariawana akut. Semakin banyak bicara, semakin sakit mulut. Mendingan diam. Aman. Lalu, muncul model demokrasi borongan. Seperti saya dulu, melihat ada diskon baju murah, cepat-cepat beli. Lebih dari satu, bahkan terkadang berlebih.

Putusan MK membatalkan ambang batas pencalonan pada pilkada serentak, memberi peluang parpol bisa mengajukan paslon sesuai persentase dari DPT membuka lebar peluang munculnya banyak paslon, termasuk dari parpol yang tidak memiliki kursi di DPRD.

Menurut ku, peristiwa model borongan partai di berbagai daerah menjadi berkah tersendiri. Keputusan MK dalam hal ini sangat luarbiasa. Berani. Saya menduga, selain memperbaiki presepsi hukum, juga demokrasi harus dijaga. Demokrasi tercipta, jika ada persaingan. Adu gagasan, adu pikiran, ide, dan tawaran-tawaran solusi dalam merealisasikan pembangunan. Baik jiwa maupun raga.

Berkah kedua, masyarakat sudah tidak ribut lagi mempersoalkan ideologi. Toh semua sama saja. Tidak ada malaikat yang bisa mengatur dunia. Tidak juga iblis. Hanya manusia, yang kadang berperilaku seperti keduanya. Akhirnya, memilih pemimpin tidak lagi pada bajunya. Bukan sebatas tenaritas ( dan isi tas), tapi yang lebih penting pada integritas,kapabilitas, dan profesionalitas.

Lagi-lagi masyarakat daerah ini belum sepenuhnya memahami hal-hal yang jlimet pada persoalan kepemimpinan. Pendidikan formalitas masih kurang. Apalagi memahami pemimpin secara subtansionalitas. Jauh masih kurang. Ketimpangan ekonomi masih ada. Pengangguran Dimana-mana. Angka kenaikan lulusan perguruan tinggi dan pengangguran sama-sama meningkat. Ironis.

Kampanye relatif sama. Semua bagus. Berbeda cara penyampaiannya. Kadang ada sedikit ketegangan adu argument yang kadang lucu seperti berdebat tentang,”telor dan ayam, lebih dulu mana?”.

Saya lihat, semua baik. Contoh calon Pilgub Riau. Samsuar, pasangan dengan ulama yang keilmuannya sudah mendunia, Buya Mawardi Shaleh. Persoalan selanjutnya, apakah Buya Mawardi benar-benar shaleh dalam menghadapi APBD Riau yang gemah ripah loh jinawi?. Wallau a’lam. Waktu yang akan membuktikan.

Pasangan selanjutnya yang lagi agresif dan viral di medsos, Abdul Wahid berpasangan dengan Hariyanto. Disamping (kadang di depannya) ada ulama yang sangat viral, Ustadz Abdul Somad lebih dikenal UAS. Lagi-lagi, apakah nasehat UAS juga mampu menggetarkan hati pasangan Abdul Wahid-Heriyanto, sehingga keduanya menangis tersedu di tengah malam mengikuti tradisi para pemimpin salafusholihin seperti tangisan Umar bin Khatab saat melihat janda beranak banyak memasak batu. Apakah nanti, Abdul Wahid akan meminggul karung berisi gandum mengelili masyarakat miskin seluruh Provinsi Riau. Waktu yang kan menjadi saksi.

Ada juga pasangan Nasir-Wardan. Saya tidak tahu siapa ulama sebagai penggerak spiritual. Tapi kelihatannya, pasangan ini sudah baik niatnya. Kalau tak salah pasangan Nasir-Wardan membuat tagline di baleho berbunyi: “NAWAITU”; Nasir-Wardan. Itu hebat banget. Niatnya luarbiasa. Kata “NAWAITU” Islami banget. Pakai bahasa arab. Padahal, dekengan nya tidak ada ulama sekaliber UAS dan Buya Mawardi.

Alhasil, pilkada memang harus dilaksanakan dengan dengan riang gembira. Toh semua saudara kita. Pilkada adalah kompetisi kebaikan. Hasilnya kurang memuaskan, itu biasa. Niatul mu’min khairun min ‘amalihi. Jadi, tidak boleh terlalu serius, supaya hasilnya menjadi serius. Laksanakan pesta demokrasi dengan ceria, guyonan, boleh juga sekali-kali stand up comedy. Mengkritik program paslon lain, juga tidak boleh lupa mengkritik diri sendiri. Sebab penyakit pilkada yang sulit dihilangkan adalah suka mengkritik orang lain, tapi lupa terhadap kekurangan diri sendiri. Wallahu a’lam.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam Hakim

Pencerahan dan penyindiran yang dipadukan serasi..wes tak woco..monggo kerso

   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875