
Pertarungan ideologi pada pesta demokrasi
sebelum pilpres 2024 sangat terasa pembelahannya. Islam dan nasionalis. Islam tulang,
Islam daging, dan Islam kulit. Pilkada pun demikian.
Pasca pilpres 2024, sudah menurun tensi pertarungan
ideologi. Perkawinan ideologi Prabowo dan Jokowi, membingungkan semua orang. Terutama
partai politik, pengamat, dan plus pakar hukum. Partai politik mau bicara apa? Idealisme
partai dan ideologi?. Mulut terkunci. Ideologi partai seolah-olah hanya untuk
kader-kader di grassroot. Sebagian para elit tersandera persoalan hukum.
Entah itu partai politik dengan bendera apapun. Semua nya ada kasus. Mulut seolah-olah
terkena sariawana akut. Semakin banyak bicara, semakin sakit mulut. Mendingan diam.
Aman. Lalu, muncul model demokrasi borongan. Seperti saya dulu, melihat ada
diskon baju murah, cepat-cepat beli. Lebih dari satu, bahkan terkadang berlebih.
Putusan MK membatalkan ambang batas
pencalonan pada pilkada serentak, memberi peluang parpol bisa mengajukan paslon
sesuai persentase dari DPT membuka lebar peluang munculnya banyak paslon,
termasuk dari parpol yang tidak memiliki kursi di DPRD.
Menurut ku, peristiwa model borongan partai
di berbagai daerah menjadi berkah tersendiri. Keputusan MK dalam hal ini sangat
luarbiasa. Berani. Saya menduga, selain memperbaiki presepsi hukum, juga
demokrasi harus dijaga. Demokrasi tercipta, jika ada persaingan. Adu gagasan,
adu pikiran, ide, dan tawaran-tawaran solusi dalam merealisasikan pembangunan. Baik
jiwa maupun raga.
Berkah kedua, masyarakat sudah tidak ribut
lagi mempersoalkan ideologi. Toh semua sama saja. Tidak ada malaikat yang bisa
mengatur dunia. Tidak juga iblis. Hanya manusia, yang kadang berperilaku
seperti keduanya. Akhirnya, memilih pemimpin tidak lagi pada bajunya. Bukan sebatas
tenaritas ( dan isi tas), tapi yang lebih penting pada integritas,kapabilitas,
dan profesionalitas.
Lagi-lagi masyarakat daerah ini belum
sepenuhnya memahami hal-hal yang jlimet pada persoalan kepemimpinan. Pendidikan
formalitas masih kurang. Apalagi memahami pemimpin secara subtansionalitas. Jauh
masih kurang. Ketimpangan ekonomi masih ada. Pengangguran Dimana-mana. Angka kenaikan
lulusan perguruan tinggi dan pengangguran sama-sama meningkat. Ironis.
Kampanye relatif sama. Semua bagus. Berbeda
cara penyampaiannya. Kadang ada sedikit ketegangan adu argument yang kadang
lucu seperti berdebat tentang,”telor dan ayam, lebih dulu mana?”.
Saya lihat, semua baik. Contoh calon Pilgub
Riau. Samsuar, pasangan dengan ulama yang keilmuannya sudah mendunia, Buya
Mawardi Shaleh. Persoalan selanjutnya, apakah Buya Mawardi benar-benar shaleh
dalam menghadapi APBD Riau yang gemah ripah loh jinawi?. Wallau a’lam. Waktu
yang akan membuktikan.
Pasangan selanjutnya yang lagi agresif dan
viral di medsos, Abdul Wahid berpasangan dengan Hariyanto. Disamping (kadang di
depannya) ada ulama yang sangat viral, Ustadz Abdul Somad lebih dikenal UAS. Lagi-lagi,
apakah nasehat UAS juga mampu menggetarkan hati pasangan Abdul Wahid-Heriyanto,
sehingga keduanya menangis tersedu di tengah malam mengikuti tradisi para pemimpin
salafusholihin seperti tangisan Umar bin Khatab saat melihat janda beranak
banyak memasak batu. Apakah nanti, Abdul Wahid akan meminggul karung berisi
gandum mengelili masyarakat miskin seluruh Provinsi Riau. Waktu yang kan
menjadi saksi.
Ada juga pasangan Nasir-Wardan. Saya tidak
tahu siapa ulama sebagai penggerak spiritual. Tapi kelihatannya, pasangan ini
sudah baik niatnya. Kalau tak salah pasangan Nasir-Wardan membuat tagline di baleho
berbunyi: “NAWAITU”; Nasir-Wardan. Itu hebat banget. Niatnya luarbiasa. Kata
“NAWAITU” Islami banget. Pakai bahasa arab. Padahal, dekengan nya
tidak ada ulama sekaliber UAS dan Buya Mawardi.
Alhasil, pilkada memang harus dilaksanakan
dengan dengan riang gembira. Toh semua saudara kita. Pilkada adalah kompetisi
kebaikan. Hasilnya kurang memuaskan, itu biasa. Niatul mu’min khairun min ‘amalihi.
Jadi, tidak boleh terlalu serius, supaya hasilnya menjadi serius. Laksanakan pesta
demokrasi dengan ceria, guyonan, boleh juga sekali-kali stand up comedy.
Mengkritik program paslon lain, juga tidak boleh lupa mengkritik diri sendiri. Sebab
penyakit pilkada yang sulit dihilangkan adalah suka mengkritik orang lain, tapi
lupa terhadap kekurangan diri sendiri. Wallahu a’lam.
Penulis : Imam Ghozali
Imam Hakim
Pencerahan dan penyindiran yang dipadukan serasi..wes tak woco..monggo kerso
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875