
Sudah hampir satu minggu saya tidak ngaji Al-Qur’an
sekaligus angen-angen sa’ma’nane. Paling sebatas membaca setelah
sholat. Akhir-akhir ini cukup banyak kegiatan. Selain akreditasi berbagai
prodi, ada juga teman-teman mahasiswa sedang belajar pendewasaan berorganisasi.
Ada pro-kontra. Bolak-balik ke ruanganku. Saya tersenyum melihat mereka. Saya senang
melihat mereka. Mereka mulai memaknai proses berorganisasi sekaligus proses
memaknai arti sebuah persahabatan.
Proses demokratisasi memang tidak mudah. Jangankan
mahasiswa, para politisi pun banyak yang gagal paham atau salah paham atau
paham nya yang salah. Demokrasisasi politik di Indonesia sering diartikan
sebagai konconisasi politik. Kebersamaan diikat bukan kemurnian memperjuangkan
visi-misi yang agung, tapi lebih mengacu kepada kepentingan pragmatis dan
instan. Maka ketika terjadi persoalan bukan solving problem yang ditawarkan,
tapi lebih tepat nya saling sikut-sikutan, sikut sana-sini, menyalahkan
sana-sini tanpa pernah kapan berakhir.
Demokrasi yang ditawarkan barat juga
demikian. Demokrasi liberal. Itu yang sering dipakai. Tapi faktanya ajaran liberal
bukan proses berfikir secara rasional berjalan dengan normal untuk melihat
salah dan benar. Liberalisasi yang ditawarkan sebatas untuk menunjukan menang
dan kalah. Pada alam demokrasi ini, negara yang kuat adalah negara yang menang.
Penentu segala kebijakan, dan penentu segala kejayaan. Sedangkan negara yang
lemah dianggap sebagai negara yang kalah dan tidak perlu ada pembelaan. Liberalisasi
politik hanya sebatas kedok untuk memperkosa politik yang suci seperti
serigala-serigala lapar dan memangsa binatang dengan tanpa ampun. Liberalisasi “keblinger”
yang akhirnya berwajah otoritarian. Liberalisasi politik hanya menghasilkan
cinta buta melihat kebenaran pada keindahan tubuh, kekayaan dan jabatan. Ia tidak
lagi melihat pada esensi kebenaran.
Apakah ini juga tercermin dalam Perang
Iran-Israel saat sekarang ini. Apakah perang ini juga membuka asli dari sebuah
persahabatan. Bisa jadi demikian. Persahabatan memang kadang terlihat aneh. Itulah
persahabatan dalam politik. Selalu saja “kepentingan” persahabatan tinggi
tertinggi. Karena kepentingan, semua bisa saja terjadi. hijau jadi merah, merah
jadi putih, putih jadi pelangi.
Sejenak mari kita ngaji walaupun hanya satu
ayat dari Q.S. Al-Baqarah ayat 39 sebagai berikut:
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ
النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَࣖ ٣٩
Artinya:
(Sementara itu,) orang-orang yang mengingkari dan mendustakan ayat-ayat
Kami, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.
Syeikh al-qurtubi mengartikan perilaku orang-orang musrik
يٰبَنِىۡٓ اِسۡرَآءِيۡلَ اذۡكُرُوۡا نِعۡمَتِىَ الَّتِىۡٓ اَنۡعَمۡتُ
عَلَيۡكُمۡ وَاَوۡفُوۡا بِعَهۡدِىۡٓ اُوۡفِ بِعَهۡدِكُمۡۚ وَاِيَّاىَ
فَارۡهَبُوۡنِ ٤٠
Artinya:
Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu.
Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan
takutlah kepada-Ku saja.
Dari sebagian tafsir, kenikmatan yang diberikan kepada Bani Israel yaitu
selamat dari kekejaman Fir’aun. Selain itu, Tuhan menyuruh mereka untuk menenuhi
janji yang tertulis dari kitab taurat yaitu akan datang agama akhir zaman yaitu
agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, dan mereka akan mengimani dan
mengikuti agama Islam
Kenyataan tidak demikian, mereka menolak beriman kepada agama yang dibawa
oleh Nabi Muhammad SAW. Ada beragam alasan: pertama, kaum yahudi secara garis
keturunan ibu, ia merasa lebih mulia karena lahir dari Ibu Sarah sebagai
seorang bangsawan dan sholehah, sedangkan garis keturunan Nabi Muhammad berasal
dari Nabi Ismail yang berasal dari seorang ibu bernama Hajar. Dalam sejarah, Hajar
merupakan seorang budak sholehah hadiah dari Raja Mesir untuk Nabi Ibrahim. Kedua,
Kaum Yahudi merasa sebagai manusia pilihan dan diberkati. Ia merasa sebagai
anak Tuhan. Status sosial yang sangat tinggi dan tidak bisa dibandingkan dengan
manusia biasa. Ketiga, kenangan sejarah kejayaan bangsa Yahudi yang sangat lama
pada masa purbakala. Puncak kejayaan pada masa Nabi Dawud dan dilanjutkan Nabi
Sulaiman. Saat itu, Kaum Yahudi menguasai dunia. Keempat, mereka merasa kaum
yang sangat terhormat. Sebab dari garis keturunan kaum Yahudi telah melahirkan
begitu banyak para nabi dan rasul.
Kenikmatan yang sangat luarbiasa tidak menyebabkan sebagai bersyukur. Justru
kaum Bani Israel terus kufur dan menentang ajaran-ajaran Islam sebagai penerus
ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi Isa. Kaum yahudi terus menentang ajaran
Islam. Ia semakin mengkristal ketika Islam menguasai kekuatan politik di
berbagai belahan dunia.
Apakah Bani Israel-yang sudah mempunyai negara Israel-akan taubatan
nasuha. Pertanyaan ini biarlah Allah yang menjawabnya. Saya hanya melihat
fakta-fakta sejarah dan perjalanan sejarah hingga kini, Rasa-rasa nya “Pintu
hatinya sudah tertutup”. Jangan umat Islam, sama-sama kaum yahudi saja
ditipu. Betapa beraninya kaum yahudi yang bernama samiri menipu Nabi Musa. Bagaimana
kejam nya, mereka membunuh para nabi di masa nya.
Apakah jika Israel kalah, dunia akan damai. Belum tentu. Negara Israel
mungkin bisa hancur. Tapi sel-sel kekuatan Israel seperti penyakit kanker.
Ia sudah menguasai seluruh tubuh dunia di seluruh mata angin. Jika anda melihat
ke barat, maka yang akan terlihat adalah sekutu nya. Di Timur Tengah, akan
melihat bibit-bibit virusnya. Di Asia, sudah terbuka lebar lahan nya.
Apakah tidak ada penangkal kanker tersebut. Jika tidak memungkinkan
dengan tenaga medis, bisakah dengan herbal atau kedahsyatan doa dari kaum
muslimin. Semua serba mungkin. Sepanjang hidup di dunia, masih serba mungkin. Dunia
ini milik Allah. Dan Dia mempunyai hak otoritas untuk menghentikan segala
kejayaan suatu bangsa di dunia. Termasuk dengan usaha tradisional dan doa-doa
kaum muslimin.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875