Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 39-40: Belajar dari Perang Iran-Israel



Sabtu , 21 Juni 2025



Telah dibaca :  1338

Sudah hampir satu minggu saya tidak ngaji Al-Qur’an sekaligus angen-angen sa’ma’nane. Paling sebatas membaca setelah sholat. Akhir-akhir ini cukup banyak kegiatan. Selain akreditasi berbagai prodi, ada juga teman-teman mahasiswa sedang belajar pendewasaan berorganisasi. Ada pro-kontra. Bolak-balik ke ruanganku. Saya tersenyum melihat mereka. Saya senang melihat mereka. Mereka mulai memaknai proses berorganisasi sekaligus proses memaknai arti sebuah persahabatan.

Proses demokratisasi memang tidak mudah. Jangankan mahasiswa, para politisi pun banyak yang gagal paham atau salah paham atau paham nya yang salah. Demokrasisasi politik di Indonesia sering diartikan sebagai konconisasi politik. Kebersamaan diikat bukan kemurnian memperjuangkan visi-misi yang agung, tapi lebih mengacu kepada kepentingan pragmatis dan instan. Maka ketika terjadi persoalan bukan solving problem yang ditawarkan, tapi lebih tepat nya saling sikut-sikutan, sikut sana-sini, menyalahkan sana-sini tanpa pernah kapan berakhir.

Demokrasi yang ditawarkan barat juga demikian. Demokrasi liberal. Itu yang sering dipakai. Tapi faktanya ajaran liberal bukan proses berfikir secara rasional berjalan dengan normal untuk melihat salah dan benar. Liberalisasi yang ditawarkan sebatas untuk menunjukan menang dan kalah. Pada alam demokrasi ini, negara yang kuat adalah negara yang menang. Penentu segala kebijakan, dan penentu segala kejayaan. Sedangkan negara yang lemah dianggap sebagai negara yang kalah dan tidak perlu ada pembelaan. Liberalisasi politik hanya sebatas kedok untuk memperkosa politik yang suci seperti serigala-serigala lapar dan memangsa binatang dengan tanpa ampun. Liberalisasi “keblinger” yang akhirnya berwajah otoritarian. Liberalisasi politik hanya menghasilkan cinta buta melihat kebenaran pada keindahan tubuh, kekayaan dan jabatan. Ia tidak lagi melihat pada esensi kebenaran.

Apakah ini juga tercermin dalam Perang Iran-Israel saat sekarang ini. Apakah perang ini juga membuka asli dari sebuah persahabatan. Bisa jadi demikian. Persahabatan memang kadang terlihat aneh. Itulah persahabatan dalam politik. Selalu saja “kepentingan” persahabatan tinggi tertinggi. Karena kepentingan, semua bisa saja terjadi. hijau jadi merah, merah jadi putih, putih jadi pelangi.

Sejenak mari kita ngaji walaupun hanya satu ayat dari Q.S. Al-Baqarah ayat 39 sebagai berikut:

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَࣖ ۝٣٩

Artinya:

(Sementara itu,) orang-orang yang mengingkari dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.

Syeikh al-qurtubi mengartikan perilaku orang-orang musrik (Qurthubi, 2015). Jika dilanjutkan pada ayat selanjutnya sebagai berikut:

يٰبَنِىۡٓ اِسۡرَآءِيۡلَ اذۡكُرُوۡا نِعۡمَتِىَ الَّتِىۡٓ اَنۡعَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ وَاَوۡفُوۡا بِعَهۡدِىۡٓ اُوۡفِ بِعَهۡدِكُمۡۚ وَاِيَّاىَ فَارۡهَبُوۡنِ‏ ٤٠

Artinya:

Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu. Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan takutlah kepada-Ku saja.

Dari sebagian tafsir, kenikmatan yang diberikan kepada Bani Israel yaitu selamat dari kekejaman Fir’aun. Selain itu, Tuhan menyuruh mereka untuk menenuhi janji yang tertulis dari kitab taurat yaitu akan datang agama akhir zaman yaitu agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, dan mereka akan mengimani dan mengikuti agama Islam (Qurthubi, 2015).

Kenyataan tidak demikian, mereka menolak beriman kepada agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Ada beragam alasan: pertama, kaum yahudi secara garis keturunan ibu, ia merasa lebih mulia karena lahir dari Ibu Sarah sebagai seorang bangsawan dan sholehah, sedangkan garis keturunan Nabi Muhammad berasal dari Nabi Ismail yang berasal dari seorang ibu bernama Hajar. Dalam sejarah, Hajar merupakan seorang budak sholehah hadiah dari Raja Mesir untuk Nabi Ibrahim. Kedua, Kaum Yahudi merasa sebagai manusia pilihan dan diberkati. Ia merasa sebagai anak Tuhan. Status sosial yang sangat tinggi dan tidak bisa dibandingkan dengan manusia biasa. Ketiga, kenangan sejarah kejayaan bangsa Yahudi yang sangat lama pada masa purbakala. Puncak kejayaan pada masa Nabi Dawud dan dilanjutkan Nabi Sulaiman. Saat itu, Kaum Yahudi menguasai dunia. Keempat, mereka merasa kaum yang sangat terhormat. Sebab dari garis keturunan kaum Yahudi telah melahirkan begitu banyak para nabi dan rasul.

Kenikmatan yang sangat luarbiasa tidak menyebabkan sebagai bersyukur. Justru kaum Bani Israel terus kufur dan menentang ajaran-ajaran Islam sebagai penerus ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi Isa. Kaum yahudi terus menentang ajaran Islam. Ia semakin mengkristal ketika Islam menguasai kekuatan politik di berbagai belahan dunia.

Apakah Bani Israel-yang sudah mempunyai negara Israel-akan taubatan nasuha. Pertanyaan ini biarlah Allah yang menjawabnya. Saya hanya melihat fakta-fakta sejarah dan perjalanan sejarah hingga kini, Rasa-rasa nya “Pintu hatinya sudah tertutup”. Jangan umat Islam, sama-sama kaum yahudi saja ditipu. Betapa beraninya kaum yahudi yang bernama samiri menipu Nabi Musa. Bagaimana kejam nya, mereka membunuh para nabi di masa nya.

Apakah jika Israel kalah, dunia akan damai. Belum tentu. Negara Israel mungkin bisa hancur. Tapi sel-sel kekuatan Israel seperti penyakit kanker. Ia sudah menguasai seluruh tubuh dunia di seluruh mata angin. Jika anda melihat ke barat, maka yang akan terlihat adalah sekutu nya. Di Timur Tengah, akan melihat bibit-bibit virusnya. Di Asia, sudah terbuka lebar lahan nya.

Apakah tidak ada penangkal kanker tersebut. Jika tidak memungkinkan dengan tenaga medis, bisakah dengan herbal atau kedahsyatan doa dari kaum muslimin. Semua serba mungkin. Sepanjang hidup di dunia, masih serba mungkin. Dunia ini milik Allah. Dan Dia mempunyai hak otoritas untuk menghentikan segala kejayaan suatu bangsa di dunia. Termasuk dengan usaha tradisional dan doa-doa kaum muslimin. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875