Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 42: Demokrasi Setengah Hati



Senin , 07 Juli 2025



Telah dibaca :  445

Isu agama dimasa-masa mendatang kelihatannya akan terus semakin terperosok ke dalam jurang pertikaian. Konstitusi AS -Bill of Rights -yang menjamin kebebasan beragama kelihatanya mulai jauh dari harapan. Omongan Donald Trump mulai “nglantur”. Kemenangan Zohram Mamdani dalam pemilihan Wali Kota New York benar-benar membuat citra Donald Trump semakin memperlihatkan seorang pemimpin eksklusif. Kesibukan mencari kesalahan data masa lalu Mamdani, merupakan bukti bahwa Trump seorang pemimpin yang belum siap menerima konstitusi negara nya sendiri. Ia bukan tipe pemimpin inklusif.

Mamdani sebagai seorang muslim yang menang dalam pemilihan menjadi walikota New York -di kota yang mayoritas non-muslim -sebenarnya keinginan konstitusi, bahwa semua sama dalam hak dan kewajiban.

Saya tidak perlu bertanya seperti apa dan jenis aliran apa dari seorang yang bernama Zohram Mamdani. Bagi Trump sangat mudah membuat label apapun kepada orang-orang yang tidak disenangi oleh nya dengan beragam merk: komunis, teroris dan sejenisnya. Bagi ku, mempersoalkan identitas nya menunjukan bahwa Trump secara pelan-pelan merusak citra dimokrasi di AS.

Kelakuan Donald Trump mengingatkan pada Q.S. Al-Baqarah ayat 42 sebagai berikut:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ۝٤٢

Artinya:

Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui(-nya).

Ayat tersebut masih berkaitan dengan perilaku orang yahudi memang sangat panjang lebar pembahasannya dalam Surat Al-Baqarah Ini (Az-Zuhaili, 2013). Ibnu ‘Abbas mengartikan ayat tersebut karena adanya pengakuan kaum yahudi atas kerasulan Nabi Muhammad, namun mereka mengklaim bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad -agama Islam -bukan untuk mereka. Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh Muhammad Ibn Sirrin, bahwa kamu Nasrani Yasrib sangat merindukan kedatangan Nabi Muhammad. Namun saat Nabi Muhammad diutus menjadi Nabi dan Rasul, justru mereka berpaling dan mendurhakai kenabian dan kerasulannya (Qurthubi, 2015).

Watak kaum Yahudi pada ayat tersebut di atas tentu tidak bisa diambil secara general. Sebagaimana watak manusia pada umum nya, ada sebagian watak-watak masyarakat yahudi yang baik dan selalu menentang berbagai kebijakan yang menyengsarakan rakyat juga sangat banyak. Di AS, Tindakan Trump justru mengancam keselamatan masyarakat yahudi. Meskipun Trump sebagai wujud respon terhadap kelompok antisemitisme. Justru semakin dilarang, semakin benci terhadap kaum yahudi.

Watak-watak kaum yahudi yang ada dalam ayat tersebut merupakan kelompok-kelompok yang mempunyai akses kepentingan politik dan ekonomi. Para ulama-ulama yahudi pada masa nabi yang lurus-lurus dan keinginan untuk menerima ajaran-ajaran Kitab Taurat apa ada nya -seperti berita akan kedatangan Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir -dengan sangat terbuka berdialog dan menerima perbedaan. Bahkan terkadang dengan kesadaran diri masuk sebagai seorang muslim. Diantara mereka ada Abdul Qudus dan Mukhairiq.

Kebaikan dan keburukan seseorang -siapa saja dan darimana saja latarbelakang agama -tidak terlepas dari berbagai kepentingan-kepentingan yang mengitarinya. Dalam kehidupan global, semua manusia mempunyai potensi apa yang dikatakan dalam ayat tersebut di atas yaitu “mencampur hak dan batil” dan “menyembunyikan kebenaran”. Sejarah masa lalu, kita banyak menemukan suatu kisah penghianatan dan konspirasi-konspirasi politik mewarnai dalam catatan sejarah umat Islam.

Kisah meninggalnya Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali in Abi Thalib selalu saja dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang selalu saja dikait-kaitkan dengan para telik sandi dari bangsa yahudi. Kelompok ini lah yang menyebabkan kegaduhan dan terjadi petaka pada pemerintahan mereka, berupa terbunuhnya para sahabat nabi dan terjadi perang saudara di antara mereka.

Tentu saja, ada versi lain sebagai penyeimbang dan mencoba bersikap netral dalam menganalisis persoalan tersebut. Namun dalam penulisan sejarah sangat sulit sekali untuk menjaga diri dari berbagai kepentingan. Selalu saja penulisan sejarah ada motif kepentingan dari siapa yang menulis dan untuk apa menulis sejarah.

Para penulis sejarah tidak bisa bebas dari sebuah netralitas dari berbagai sudut pandang. Sejarah masa lalu yang sudah mapan hidup di tengah-tengah masyarakat bisa menjadi goyah akibat ada tulisan-tulisan sejarah sebagai penggantinya. Kebenaran sejarah pun bisa menjadi buyar.

Periode awal bagi yang menerima perubahan-perubahan bisa jadi akan menolaknya dan mempertahankan sejarah-sejarah yang sudah ada. Namun target penulis sejarah sebenarnya untuk generasi selanjutnya dan para penulis sejarah akan menanamkan motif-motif yang terpendam dalam rangkaian kalimat di buku-buku tersebut agar kemudian hari dianggap sebagai seorang pahlawan. Bisa jadi salah, tapi akan menjadi benar ketika sejarah sudah tertanam dalam alam bawah sadar generasi selanjutnya.

Ketika Indonesia di jajah oleh Belanda, juga ada sebutan “londo ireng” -Belanda berkulit hitam -untuk menyebut masyarakat Indonesia yang pro terhadap penjajah Belanda.

Saya memahami persoalan tersebut sebagai bentuk perlawanan masyarakat kecil -opoisis -terhadap kebijakan pemerintah Belanda saat itu. Sama seperti saat sekarang ini, saat orang membenci dengan pemerintah Joko Widodo-Ma’ruf Amin maka komentar-komentar yang keluar juga sama, yaitu caci maki yang sudah mafhum sering tampil di media sosial seperti :PKI, Pinokio, kakek tua pikun, kwalat, karma dan lain-lain.

Bagi ada orang yang tidak suka terhadap pemerintah Prabowo-Gibran maka ucapan-ucapan kebencian pun akan muncul dari para pembencinya seperti yang diungkapkan pada media sosial seperti : macan ompong, omon-omon, bocoor, esuk tempe, sore kedelai, dan lain-lain.

Ayat tersebut dalam konteks kehidupan sosial memang sangat sulit untuk menjelaskan pembatas-pembatas dari dua persoalan yang bertolak belakang -haq dan batil. Bagi para pengkritik dan oposisi atau para pembenci, terlihat begitu indah ketika membacakan ayat-ayat tersebut di depan para pendukungnya. Sangat mudah dipahami. Sebab presepsi yang terbangun hanya pada satu arah.

Para propaganda memang sering menggunakan kata-kata atau kalimat-kalimat yang bersifat kuliyat -umum -yang sebagai strategi untuk membranding diri agar terlihat orang yang sangat peduli kepada kebenaran dan peduli terhadap wong cilik atau sebagai pejuang agama.

Kalimat seperti “ Kita harus menegakan yang hak dan menghancurkan yang batil !” atau “Hancurkan penguasa yang dzalim…!”. “Indonesia kaya, hanya dengan emas dari freeport saja, bangsa Indonesia bisa kaya raya, tidak ada kemiskinan…!”.

Kalimat-kalimat tersebut adalah contoh jargon kampanye yang terkadang disisipi dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagaimana dulu juga dilakukan oleh Kaum Khawarij untuk menyerang Sayidina Ali bin Abi Thalib.

Kaum Khawarij juga menuduh kepada Ali sebagai seorang pemimpin yang telah mencampuradukan antara hak dan batil dan menyembunyikan kebenaran. hal yang sama juga dilontarkan kepada Umar bin Abdul Aziz oleh kaum Khawarij.  Umar bin Abdul Aziz pun menjawab dengan Santai : “Kaum Khawarij sangat rajin ibadah, sayang nya mereka tersesat”.

Walhasil, jika ayat tersebut merujuk kepada para pendapat mufasirin, maka persoalan sebenarnya sangat sederhana yaitu pada persoalan ketidakjujuran kaum yahudi menerima kabar kedatangan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.

Namun jika ayat tersebut dibawa pada kontek yang lebih luas, maka subyektifitas penyampaiannya terlihat terasa sekali. Dan pada persoalan ini, ayat tersebut di atas sering digunakan untuk berbagai kepentingan-kepentingan pembenar baik pada persoalan pandangan agama kelompok tertentu ataupun pada persoalan muamalah, baik oleh pemerintah ataupun oposisi.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876