
Isu agama dimasa-masa mendatang kelihatannya akan terus semakin terperosok ke dalam jurang pertikaian. Konstitusi AS -Bill of Rights -yang menjamin kebebasan beragama kelihatanya mulai jauh dari harapan. Omongan Donald Trump mulai “nglantur”. Kemenangan Zohram Mamdani dalam pemilihan Wali Kota New York benar-benar membuat citra Donald Trump semakin memperlihatkan seorang pemimpin eksklusif. Kesibukan mencari kesalahan data masa lalu Mamdani, merupakan bukti bahwa Trump seorang pemimpin yang belum siap menerima konstitusi negara nya sendiri. Ia bukan tipe pemimpin inklusif.
Mamdani sebagai seorang muslim yang menang dalam
pemilihan menjadi walikota New York -di kota yang mayoritas non-muslim -sebenarnya
keinginan konstitusi, bahwa semua sama dalam hak dan kewajiban.
Saya tidak perlu bertanya seperti apa dan
jenis aliran apa dari seorang yang bernama Zohram Mamdani. Bagi Trump sangat
mudah membuat label apapun kepada orang-orang yang tidak disenangi oleh nya
dengan beragam merk: komunis, teroris dan sejenisnya. Bagi ku, mempersoalkan
identitas nya menunjukan bahwa Trump secara pelan-pelan merusak citra dimokrasi
di AS.
Kelakuan Donald Trump mengingatkan pada Q.S.
Al-Baqarah ayat 42 sebagai berikut:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ
تَعْلَمُوْنَ ٤٢
Artinya:
Janganlah kamu campuradukkan kebenaran
dengan kebatilan dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu
mengetahui(-nya).
Ayat tersebut masih berkaitan dengan
perilaku orang yahudi memang sangat panjang lebar pembahasannya dalam Surat
Al-Baqarah Ini
Watak kaum Yahudi
pada ayat tersebut di atas tentu tidak bisa diambil secara general. Sebagaimana
watak manusia pada umum nya, ada sebagian watak-watak masyarakat yahudi yang
baik dan selalu menentang berbagai kebijakan yang menyengsarakan rakyat juga
sangat banyak. Di AS, Tindakan Trump justru mengancam keselamatan masyarakat
yahudi. Meskipun Trump sebagai wujud respon terhadap kelompok antisemitisme. Justru
semakin dilarang, semakin benci terhadap kaum yahudi.
Watak-watak
kaum yahudi yang ada dalam ayat tersebut merupakan kelompok-kelompok yang
mempunyai akses kepentingan politik dan ekonomi. Para ulama-ulama yahudi pada
masa nabi yang lurus-lurus dan keinginan untuk menerima ajaran-ajaran Kitab
Taurat apa ada nya -seperti berita akan kedatangan Nabi Muhammad sebagai nabi
terakhir -dengan sangat terbuka berdialog dan menerima perbedaan. Bahkan terkadang
dengan kesadaran diri masuk sebagai seorang muslim. Diantara mereka ada Abdul
Qudus dan Mukhairiq.
Kebaikan dan
keburukan seseorang -siapa saja dan darimana saja latarbelakang agama -tidak
terlepas dari berbagai kepentingan-kepentingan yang mengitarinya. Dalam
kehidupan global, semua manusia mempunyai potensi apa yang dikatakan dalam ayat
tersebut di atas yaitu “mencampur hak dan batil” dan “menyembunyikan kebenaran”.
Sejarah masa lalu, kita banyak menemukan suatu kisah penghianatan dan
konspirasi-konspirasi politik mewarnai dalam catatan sejarah umat Islam.
Kisah meninggalnya
Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali in Abi Thalib selalu saja dikaitkan
dengan persoalan-persoalan yang selalu saja dikait-kaitkan dengan para telik
sandi dari bangsa yahudi. Kelompok ini lah yang menyebabkan kegaduhan dan
terjadi petaka pada pemerintahan mereka, berupa terbunuhnya para sahabat nabi
dan terjadi perang saudara di antara mereka.
Tentu saja,
ada versi lain sebagai penyeimbang dan mencoba bersikap netral dalam
menganalisis persoalan tersebut. Namun dalam penulisan sejarah sangat sulit
sekali untuk menjaga diri dari berbagai kepentingan. Selalu saja penulisan
sejarah ada motif kepentingan dari siapa yang menulis dan untuk apa menulis
sejarah.
Para penulis
sejarah tidak bisa bebas dari sebuah netralitas dari berbagai sudut pandang. Sejarah
masa lalu yang sudah mapan hidup di tengah-tengah masyarakat bisa menjadi goyah
akibat ada tulisan-tulisan sejarah sebagai penggantinya. Kebenaran sejarah pun
bisa menjadi buyar.
Periode awal
bagi yang menerima perubahan-perubahan bisa jadi akan menolaknya dan
mempertahankan sejarah-sejarah yang sudah ada. Namun target penulis sejarah
sebenarnya untuk generasi selanjutnya dan para penulis sejarah akan menanamkan motif-motif
yang terpendam dalam rangkaian kalimat di buku-buku tersebut agar kemudian hari
dianggap sebagai seorang pahlawan. Bisa jadi salah, tapi akan menjadi benar ketika
sejarah sudah tertanam dalam alam bawah sadar generasi selanjutnya.
Ketika Indonesia
di jajah oleh Belanda, juga ada sebutan “londo ireng” -Belanda berkulit
hitam -untuk menyebut masyarakat Indonesia yang pro terhadap penjajah Belanda.
Saya memahami persoalan
tersebut sebagai bentuk perlawanan masyarakat kecil -opoisis -terhadap
kebijakan pemerintah Belanda saat itu. Sama seperti saat sekarang ini, saat
orang membenci dengan pemerintah Joko Widodo-Ma’ruf Amin maka komentar-komentar
yang keluar juga sama, yaitu caci maki yang sudah mafhum sering tampil di media
sosial seperti :PKI, Pinokio, kakek tua pikun, kwalat, karma dan lain-lain.
Bagi ada orang
yang tidak suka terhadap pemerintah Prabowo-Gibran maka ucapan-ucapan kebencian
pun akan muncul dari para pembencinya seperti yang diungkapkan pada media
sosial seperti : macan ompong, omon-omon, bocoor, esuk tempe, sore kedelai, dan
lain-lain.
Ayat tersebut
dalam konteks kehidupan sosial memang sangat sulit untuk menjelaskan pembatas-pembatas
dari dua persoalan yang bertolak belakang -haq dan batil. Bagi para pengkritik
dan oposisi atau para pembenci, terlihat begitu indah ketika membacakan
ayat-ayat tersebut di depan para pendukungnya. Sangat mudah dipahami. Sebab presepsi
yang terbangun hanya pada satu arah.
Para propaganda
memang sering menggunakan kata-kata atau kalimat-kalimat yang bersifat kuliyat
-umum -yang sebagai strategi untuk membranding diri agar terlihat orang yang
sangat peduli kepada kebenaran dan peduli terhadap wong cilik atau sebagai
pejuang agama.
Kalimat seperti
“ Kita harus menegakan yang hak dan menghancurkan yang batil !” atau “Hancurkan
penguasa yang dzalim…!”. “Indonesia kaya, hanya dengan emas dari freeport saja,
bangsa Indonesia bisa kaya raya, tidak ada kemiskinan…!”.
Kalimat-kalimat
tersebut adalah contoh jargon kampanye yang terkadang disisipi dalil-dalil dari
Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagaimana dulu juga dilakukan oleh Kaum Khawarij untuk
menyerang Sayidina Ali bin Abi Thalib.
Kaum Khawarij juga
menuduh kepada Ali sebagai seorang pemimpin yang telah mencampuradukan antara
hak dan batil dan menyembunyikan kebenaran. hal yang sama juga dilontarkan
kepada Umar bin Abdul Aziz oleh kaum Khawarij. Umar bin Abdul Aziz pun menjawab dengan Santai
: “Kaum Khawarij sangat rajin ibadah, sayang nya mereka tersesat”.
Walhasil, jika
ayat tersebut merujuk kepada para pendapat mufasirin, maka persoalan sebenarnya
sangat sederhana yaitu pada persoalan ketidakjujuran kaum yahudi menerima kabar
kedatangan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.
Namun jika
ayat tersebut dibawa pada kontek yang lebih luas, maka subyektifitas
penyampaiannya terlihat terasa sekali. Dan pada persoalan ini, ayat tersebut di
atas sering digunakan untuk berbagai kepentingan-kepentingan pembenar baik pada
persoalan pandangan agama kelompok tertentu ataupun pada persoalan muamalah,
baik oleh pemerintah ataupun oposisi.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876