
Naluri manusia beragam. Ada naluri untuk memenuhi kebutuhan hidup, memenuhi hasrat cinta, membutuhkan
perlindungan ketika ada rasa takut, naluri ingin berkelompok dan naluri
beragama. Naluri tersebut dalam kontek kehidupan sosial melahirkan beragam
aktivitas. Mereka bekerja sama dalam upaya mewujudkan naluri-naluri tersebut.
Naluri manusia sudah ada sejak manusia
pertama diciptakan. Nabi Adam hidup serba kecukupan di Surga. Tapi terasa hampa
saat hidup sendirian. Ia merindukan manusia lain. Lalu Tuhan menciptakan Hawa
sebagai pasangan hidup nya.
Ketika Nabi Adam mempunyai keturunan dan dilengkapi beragam potensi-potensi di dalam nya. Potensi-potensi
yang tumbuh antara dua kutub yang berbeda -nafsu mutmainah dan nafsu
amarah – saling tarik menarik. secara garis besar disimbolkan pada Qabil
dan Habil.
Allah mengutus para Rasul sebenarnya dalam upaya
menjinakan nafsu yang selalu berontak pada diri manusia. nafsu seperti kuda
liar. Ingin bebas dan tidak ada pengikat. Merdeka. Ingin berbuat sekehendaknya.
Tuhan menurunkan firman-firman-Nya sebagai
upaya untuk melunakan nafsu yang ada pada diri manusia.
Allah telah mengabadikan nafsu manusia yang
sangat unik kaum yahudi dalam Q.S. al-Baqarah ayat 44 sebagai berikut:
۞ اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ
وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Artinya:
Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan,
sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca suci (Taurat)?
Tidakkah kamu mengerti?
Menurut Ibnu Abbas pada masa dulu sebagian kaum yahudi senantiasa
berpesan untuk kepada keluarga-keluarganya yang telah masuk Islam agar
konsisten mengikuti apa yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad. Sebab apa yang
disampaikan oleh Nabi Muhammad merupakan suatu kebenaran dari Tuhan. Ironisnya
kaum yang berpesan kebaikan tersebut justru tidak mengikuti kebenaran yang
disampaikan oleh Nabi Muhammad. Ibnu Juraij lebih spesifik menjelaskan sebagian
Kaum Yahudi adalah para pendeta-pendeta. Mereka memerintahkan untuk taat kepada
Allah tetapi mereka sendiri melakukan maksiat kepada-Nya
Dulu Yasrib merupakan kota mayoritas Kaum Yahudi. Ketika Nabi hijrah ke
kota tersebut, Islam masih minoritas. Bahkan Kaum Yahudi menyambut Nabi Muhammad
dengan sambutan laksana seorang pemimpin besar dan berharap besar kepada nya untuk
menyelesaikan konflik yang sudah berlangsung lama di Yasrib tersebut. Bahkan
mereka suatu hari nanti sepakat untuk taat dan tunduk terhadap aturan yang
dibuat oleh Nabi bersama para tokoh agama saat itu -Islam, Kristen, Yahudi
Nabi Muhammad telah menyatukan masyarakat Yasrib menjadi Madinah Munawarah. Namun Kaum
Yahudi justru merusak kesepakatan tersebut. Kesepakatan yang telah
ditandatangani bersama dilanggar oleh Kaum Yahudi. Mereka melakukan kudeta
dan berusaha menghancurkan kekuasaan Nabi Muhammad SAW.
Kelompok Kaum Yahudi kalah. Kemudian tiarap. Mereka terus bergerak
mempengaruhi pemikiran Umat Islam dengan menggunakan sistem “Gerakan Politik
Bawah Tanah”. Mereka terlihat taat di depan Nabi, di belakang nya mereka menyusun
rencana ingin menghancurkan kekuatan Islam. Mereka menyiapkan Sumber Daya
Manusia (SDM) untuk masuk pada wilayah-wilayah strategis. Langkah ini berhasil.
Konspirasi politik yang mereka lancarkan hampir saja menghancurkan umat Islam
pasca kematian Nabi Muhammad SAW. Bahkan para pengganti Abu Bakar tidak ada
yang meninggal secara normal. Semua korban politik. Ini bukti keberhasilan
strategi standar ganda politik Kaum Yahudi masa lalu.
Politik standar ganda tentu saja bukan hanya terjadi pada masa Nabi Muhammad.
Pada awal kelahiran Kaum Yahudi, Mereka telah melakukan politik serupa yaitu
melakukan tipu daya terhadap orang tua nya sendiri -Nabi Ya’qub. Kaum Yahudi
permulaan bukan hanya berusaha membunuh
saudara nya sendiri -Yusuf dan
Bunyamin -, membuat Nabi Ya’qub menderita kebutaan bertahun-tahun. Mereka tidak
peduli makna kemanusiaan dan kebenaran. Mereka juga tidak segan-segan menipu
orang tua nya, saudaranya dengan untaian kalimat kebenaran dan ajakan kebaikan.
Tapi sebenarnya semua perintah tersebut untuk orang lain, sedangkan dirinya
melakukan sebaliknya.
Ayat tersebut di atas -ayat 44 – merupakan ciri khas tentang tidak
konsisten watak Kaum Yahudi sejak dulu hingga saat sekarang ini. Allah melalui
firman tersebut memberikan pembelajaran bahwa Kaum Yahudi senantiasa
menggunakan standar ganda dalam memutuskan suatu persoalan baik berkaitan
dengan persoalan keyakinan maupun kehidupan sosial dalam cakupan lebih luas.
Watak standar ganda Kaum Yahudi hingga kini semakin terlihat dengan
jelas. Seperti sebuah lagu “kau yang memulai, kau yang mengakhiri, kau yang
berjanji kau yang menghianati”.
Negara-negara Benua Eropa tempat bersemayam Kaum Yahudi. Watak-watak
para pemimpin negara bangsa barat sangat mencerminkan dari ayat tersebut di atas. Sudah
berkali-kali pembahasan Palestina Merdeka di forum-forum internasional,
perundingan regional, dan pertemuan empat mata serta aktivitas politik lainnya.
Namun, janji kemerdekaan yang telah digaungkan sejak dulu, hingga kini belum
juga terwujud.
Islam mengajarkan kepada umat nya agar jangan sampai jatuh pada tempat
yang sama. Namun umat Islam kelihatannya sudah sering jatuh di tempat yang
sama. Janji manis AS dan Israel sering membuat kita terlena.
Terus terang saja, saya tertarik pada ucapan pemimpin tertinggi Iran
Sayyid Ali Khaemini. Ia mengatakan agar jangan sampai tertipu oleh sanjungan musuh-musuh
Islam. Tugas umat Islam mewujudkan perdamaian sesama negara Islam dan
menghancurkan negara-negara yang menghancurkan Islam.
Ayat tersebut di atas memang konteknya untuk Kaum Yahudi. Namun sangat baik sebagai pembelajaran diri kita agar kita tidak boleh meniru sifat Kaum
Yahudi yang demikian. Bangsa dan negara Islam tidak boleh menggunakan
politik standar ganda yang semata-mata untuk kepentingan pragmatis dan
mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan bangsa lain.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876