Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 44: Standar Ganda



Minggu , 13 Juli 2025



Telah dibaca :  408

Naluri manusia beragam. Ada naluri untuk memenuhi kebutuhan hidup, memenuhi hasrat cinta, membutuhkan perlindungan ketika ada rasa takut, naluri ingin berkelompok dan naluri beragama. Naluri tersebut dalam kontek kehidupan sosial melahirkan beragam aktivitas. Mereka bekerja sama dalam upaya mewujudkan naluri-naluri tersebut.

Naluri manusia sudah ada sejak manusia pertama diciptakan. Nabi Adam hidup serba kecukupan di Surga. Tapi terasa hampa saat hidup sendirian. Ia merindukan manusia lain. Lalu Tuhan menciptakan Hawa sebagai pasangan hidup nya.

Ketika Nabi Adam mempunyai keturunan dan dilengkapi beragam potensi-potensi di dalam nya.  Potensi-potensi yang tumbuh antara dua kutub yang berbeda -nafsu mutmainah dan nafsu amarah – saling tarik menarik. secara garis besar disimbolkan pada Qabil dan Habil.

Allah mengutus para Rasul sebenarnya dalam upaya menjinakan nafsu yang selalu berontak pada diri manusia. nafsu seperti kuda liar. Ingin bebas dan tidak ada pengikat. Merdeka. Ingin berbuat sekehendaknya. Tuhan menurunkan firman-firman-Nya  sebagai upaya untuk melunakan nafsu yang ada pada diri manusia.

Allah telah mengabadikan nafsu manusia yang sangat unik kaum yahudi dalam Q.S. al-Baqarah ayat 44 sebagai berikut:

۞ اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Artinya:

Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca suci (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?

Menurut Ibnu Abbas pada masa dulu sebagian kaum yahudi senantiasa berpesan untuk kepada keluarga-keluarganya yang telah masuk Islam agar konsisten mengikuti apa yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad. Sebab apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad merupakan suatu kebenaran dari Tuhan. Ironisnya kaum yang berpesan kebaikan tersebut justru tidak mengikuti kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Ibnu Juraij lebih spesifik menjelaskan sebagian Kaum Yahudi adalah para pendeta-pendeta. Mereka memerintahkan untuk taat kepada Allah tetapi mereka sendiri melakukan maksiat kepada-Nya (Qurthubi, 2015).

Dulu Yasrib merupakan kota mayoritas Kaum Yahudi. Ketika Nabi hijrah ke kota tersebut, Islam masih minoritas. Bahkan Kaum Yahudi menyambut Nabi Muhammad dengan sambutan laksana seorang pemimpin besar dan berharap besar kepada nya untuk menyelesaikan konflik yang sudah berlangsung lama di Yasrib tersebut. Bahkan mereka suatu hari nanti sepakat untuk taat dan tunduk terhadap aturan yang dibuat oleh Nabi bersama para tokoh agama saat itu -Islam, Kristen, Yahudi (Misrawi, 2009).

Nabi Muhammad telah menyatukan masyarakat Yasrib menjadi Madinah Munawarah. Namun Kaum Yahudi justru merusak kesepakatan tersebut. Kesepakatan yang telah ditandatangani bersama dilanggar oleh Kaum Yahudi. Mereka melakukan kudeta dan berusaha menghancurkan kekuasaan Nabi Muhammad SAW.

Kelompok Kaum Yahudi kalah. Kemudian tiarap. Mereka terus bergerak mempengaruhi pemikiran Umat Islam dengan menggunakan sistem “Gerakan Politik Bawah Tanah”. Mereka terlihat taat di depan Nabi, di belakang nya mereka menyusun rencana ingin menghancurkan kekuatan Islam. Mereka menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk masuk pada wilayah-wilayah strategis. Langkah ini berhasil. Konspirasi politik yang mereka lancarkan hampir saja menghancurkan umat Islam pasca kematian Nabi Muhammad SAW. Bahkan para pengganti Abu Bakar tidak ada yang meninggal secara normal. Semua korban politik. Ini bukti keberhasilan strategi standar ganda politik Kaum Yahudi masa lalu.

Politik standar ganda tentu saja bukan hanya terjadi pada masa Nabi Muhammad. Pada awal kelahiran Kaum Yahudi, Mereka telah melakukan politik serupa yaitu melakukan tipu daya terhadap orang tua nya sendiri -Nabi Ya’qub. Kaum Yahudi permulaan bukan hanya berusaha membunuh  saudara nya sendiri  -Yusuf dan Bunyamin -, membuat Nabi Ya’qub menderita kebutaan bertahun-tahun. Mereka tidak peduli makna kemanusiaan dan kebenaran. Mereka juga tidak segan-segan menipu orang tua nya, saudaranya dengan untaian kalimat kebenaran dan ajakan kebaikan. Tapi sebenarnya semua perintah tersebut untuk orang lain, sedangkan dirinya melakukan sebaliknya.

Ayat tersebut di atas -ayat 44 – merupakan ciri khas tentang tidak konsisten watak Kaum Yahudi sejak dulu hingga saat sekarang ini. Allah melalui firman tersebut memberikan pembelajaran bahwa Kaum Yahudi senantiasa menggunakan standar ganda dalam memutuskan suatu persoalan baik berkaitan dengan persoalan keyakinan maupun kehidupan sosial dalam cakupan lebih luas.

Watak standar ganda Kaum Yahudi hingga kini semakin terlihat dengan jelas. Seperti sebuah lagu “kau yang memulai, kau yang mengakhiri, kau yang berjanji kau yang menghianati”.

Negara-negara Benua Eropa tempat bersemayam Kaum Yahudi. Watak-watak para pemimpin negara bangsa barat sangat mencerminkan dari ayat tersebut di atas. Sudah berkali-kali pembahasan Palestina Merdeka di forum-forum internasional, perundingan regional, dan pertemuan empat mata serta aktivitas politik lainnya. Namun, janji kemerdekaan yang telah digaungkan sejak dulu, hingga kini belum juga terwujud.

Islam mengajarkan kepada umat nya agar jangan sampai jatuh pada tempat yang sama. Namun umat Islam kelihatannya sudah sering jatuh di tempat yang sama. Janji manis AS dan Israel sering membuat kita terlena.

Terus terang saja, saya tertarik pada ucapan pemimpin tertinggi Iran Sayyid Ali Khaemini. Ia mengatakan agar jangan sampai tertipu oleh sanjungan musuh-musuh Islam. Tugas umat Islam mewujudkan perdamaian sesama negara Islam dan menghancurkan negara-negara yang menghancurkan Islam.

Ayat tersebut di atas memang konteknya untuk Kaum Yahudi. Namun sangat baik sebagai pembelajaran diri kita agar kita tidak boleh meniru sifat Kaum Yahudi yang demikian. Bangsa dan negara Islam tidak boleh menggunakan politik standar ganda yang semata-mata untuk kepentingan pragmatis dan mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan bangsa lain.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876