Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 45: Senjata Pamungkas Umat Islam



Selasa , 15 Juli 2025



Telah dibaca :  527

Ayat sebelum nya -ayat 44 – pada Surat Al-Baqarah Allah telah menjelaskan watak dasar dari Bani Israel yaitu suka berpolitik standar ganda. Ia sangat suka sekali berbicara tentang perdamaian dan kemanusiaan, tapi pada saat yang sama perdamaian dan kemanusiaan justru diinjak-injak atas nama yang sama juga.

Perjalanan sejarah kehidupan manusia sudah cukup berlangsung lama. Orang-orang yang lahir pada era 1970-2000 sudah bisa membaca, melihat, dan merasakan betapa inkonsistensi Kaum Yahudi dan negara-negara tempat diaspora mereka di barat. Mereka berbicara kemanusiaan dan perdamaian, tapi mereka juga melakukan genosida atas nama kemanusiaan dan perdamaian. Warga Palestina dibantai tanpa merasa bersalah. Saat warga mereka mati satu, berteriak-teriak memprovokasi negara lain untuk menghancurkan Warga Palestina dengan dalih kemanusiaan. Hal yang sama juga dilakukan kepada negara-negara lain. Kaum Yahudi terus melakukan ekspansi kekuasaan dan mengendalikan seluruh bangsa dan negara dalam genggaman kekuasaannya.

Kesombongan kaum yahudi atas segala kelebihan yang ada pada dirinya menyebabkan semakin jauh dari ajaran-ajaran Tuhan -millata ibrahim – dalam kehidupan sehari-hari. Mereka terlena dalam kehebatan dan kelebihan diri mereka. Semua bangsa seolah-olah berada di bawah kendali nya.

Kesombongan atas segala kelebihan sebenarnya wujud dari kelemahan kaum yahudi. Mereka terlalu  bersandar kepada kekuatan akal, kekayaan dan kekuasaan. Padahal semua itu merupakan wujud ke-fana-an. Semua yang menjadi sandaran akan hancur. Saat hancur, mereka tidak bisa berbuat apa-apa kecuali jeritan dan rasa takut yang berkepanjangan.

Allah telah mengajarkan kepada umat Islam, bahwa senjata terbaik dalam kehidupan sejati yaitu memohon pertolongan kepada Allah melalui lelaku sabar dan mendirikan Sholat. Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 45 sebagai berikut:

 

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ ۝٤٥

Artinya:

Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,

Kanjeng Nabi Muhammad telah bersabda: “Sabar sebenarnya pada saat menghadapi cobaan yang bertama”(HR. Bukhari, Tirmidzi dan Nasa’i). Al-Junaidi mengatakan, “Perjalanan dari dunia ke akherat adalah mudah bagi orang beriman, tetapi hijrah disisi Allah SWT adalah sulit. Dan perjalanan dari diri sendiri menuju Allah sangat sulit, tetapi lebih sulit lagi adalah bersabar bersama Allah SWT”. Al-Junaidi juga mengatakan” Sabar adalah meneguk kepahitan tanpa wajah cemberut (an-Naisabury, 1987).

Sabar secara literal berarti menahan. Sabar menahan dari perbuatan maksiat, berarti sabar mempunyai arti ketaan dalam melaksanakan perintah-perintah Allah. Dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya, juga akan mendapatkan ujian. Bersabar terhadap segala ujian-ujian Allah merupakan pendidikan jiwa dan pengekangan hawa nafsu merupakan akhlak para nabi dan para orang-orang sholeh (al-Qurtubi).

Selain membiasakan sabar dalam meninggalkan maksiat dan melaksanakan perintah-perintah Allah, juga memohon pertolongan dengan menjalankan sholat. Syeikh Az-Zuhaili menjelaskan bahwa sholat merupakan kontak langsung seorang hamba dengan Tuhan nya sebanyak lima kali dalam sehari. Melaksanakan sholat itu sangat berat kecuali yang pada diri orang tersebut ada iman, maka sholat menjadi terlihat ringan. Sholat  yang benar juga menjadi indikator lahirnya ketenangan jiwa seseorang dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan di dunia (Az-Zuhaili, 2013).

Ketika kaum yahudi masih berpegang teguh pada dua perintah Allah tersebut -sabar dan sholat – mereka mendapatkan dua kemuliaan yaitu kejayaan di dunia dan kemuliaan di akherat. Kejayaan di dunia berupa kekuasaan tanpa batas pada masa Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman. Mereka adalah kaum yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT.

Namun kedua senjata agung tersebut dibuang oleh Kaum Yahudi. Mereka menentang para Nabi dan Rasul. Akhirnya mereka mendapatkan murka dari Allah dan dijadikan kaum hina yang kehilangan sinar iman -Allah menjadikan monyet. Yang ada pada dirinya nafsu yang membara untuk terus menjadi penguasa di dunia hingga kini.

Ayat tersebut merupakan bagian dari ajakan Tuhan agar kaum yahudi menyadari kesalahannya dan kembali kepada jalan yang benar. Namun mereka menolak kebenaran tersebut dan menolak juga kenabian dan kerasulan Muhammad SAW.

Ayat tersebut di atas tentu saja nasehat buat umat Islam dalam upaya menyelesaikan segala persoalan hidup di dunia. seberat apapun kehidupan di dunia sebenarnya bermuara pada dua hal penting yang harus dimiliki oleh setiap muslim yaitu sabar dan sholat.

Makna sabar sebagaimana yang telah dijelaskan di atas  merupakan wujud keteguhan hati untuk terus berdiri tegak dalam segala ujian dan konsisten menghancurkan batu karang yang merintangi jalan kesukesan.

Penulis memahami bahwa banyak sekali wujud-wujud batu karang ujian kehidupan seperti kemiskinan, kekurangan ilmu, ragu-ragu, pemalas dan rasa takut terhadap kematian dan sebagainya. Semua wujud tersebut terlihat seperti batu-batu yang menumpuk sangat tinggi. Hati terasa sangat putus asa, dan pikiran sering menyimpulkan ucapan kegagalan : “saya tidak bisa berbuat apa-apa”.

Sabar adalah upaya melihat semua itu bukan rintangan, tapi peluang. Ketika berbicara bahwa semua itu merupakan peluang untuk menuju kejayaan, maka yang harus dilakukan adalah melakukan gerakan istiqamah menghancurkan batu-batu karang tersebut secara terus-menerus laksana tetesan air di batu besar. tetesan air tidak tajam. Tapi terus-menerus menetes, akhirnya batu pun berlubang.

Kenapa kesabaran harus disandingkan dengan sholat. Sebab perilaku sabar bisa dimiliki oleh siapapun. Bangsa-bangsa besar lahir dari perilaku sabar terhadap ujian dan berdiri tegak untuk terus menghadapi ujian tersebut yang pada akhirnya mendapatkan panen kemuliaan.

Tapi kesabaran yang dibangun sebatas pada kekuatan akal dan kekuatan tekad semata suatu saat akan mengalami kegoncangan jiwa pada suatu waktu. Tekad yang kuat yang lahir dari jiwa yang sehat sebenarnya jiwa yang sudah mendapatkan sinar-sinar ilahiyah. Maka kesabaran harus dibarengi dengan sholat. Sabar sebagai wujud ikhtiar jasmaniah sedangkan sholat sebagai jalan komunikasi langsung hamba dengan Tuhan nya. Melalui sholat, sabar menjadi lebih bermakna. Keputusan-keputusan sabar dari orang yang ahli sholat akan melahirkan energi yang berdampak pada keputusan-keputusan yang tidak hanya bersifat kemanusiaan semata atau kesukesan dunia semata, tetapi juga mempertimbangkan pada aspek ruhaniah yaitu membentuk kebahagiaan yang kekal abadi baik kebahagiaan di dunia maupun akherat.

Pandangan tersebut tentu saja bersandar pada makna kejayaan suatu bangsa dan negara terletak bukan pada sebatas kemajuan peradaban dan kebudayaan semata, tapi mendesain peradaban dan kebudayaan itu sendiri menjadi peradaban yang sesuai dengan hati nurani manusia. Penulis memahami bahwa hati nurani manusia tidak bisa lepas dari unsur robbaniah atau nilai-nilai agama. Dan Islam menawarkan sholat sebagai upaya mendesain peradaban dan kebudayaan yang sesuai dengan hati nurani manusia yang paling dasar.

Penulis menilai Negara Israel maju karena telah menerapkan sebagian dari ayat di atas -ayat 45 -yaitu pada sabar menghadapi hujatan dari segala penjuru dunia. Umat Islam bisa menjadi lebih maju lagi mengungguli Negara Israel dengan perpaduan dua unsur yaitu sabar dan sholat. Kapan waktunya, tentu saja mulai saat sekarang ini mulai mendesain formula tersebut.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13559


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876