
Allah telah memberikan dua pusaka kehidupan
yang sangat agung pada ayat 45 yaitu berupa sholat dan sabar. Pusaka tersebut
merupakan energi suci yang bisa menggerakan peradaban manusia unggul yang pernah
diwujudkan oleh Nabi Muhammad dalam wujud Madinah Al-Munawarah. Jazirah Arab
yang panas, barbar dan berlaku hukum rimba berubah menjadi masyarakat yang
santun, menyayangi anak-anak yatim dan menghormati tamu. Perubahan ini
berangkat dari penerapan sabar dan sholat dalam dua arah: horizontal dan
vertikal.
Alasan umat Islam menerapkan dua senjata
tersebut karena dengan landasan Q.S. Al-Baqarah ayat 46 sebagai berikut:
الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ
اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَࣖ ٤٦
Artinya:
(yaitu)
orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan hanya
kepada-Nya mereka kembali.
Bagi umat Nabi
Muhammad, pertemuan dengan Tuhan merupakan prestasi tertinggi sebagai seorang
mutaqin. Allah sebagai Tuhan telah menghadirkan keagungan dan kekuasaan-Nya.
Manusia yang berada di muka bumi sebenarnya bagian dari ciptaan-Nya. Hakikat pada
diri manusia ada naluri yang sangat merindukan Tuhan di atas segala-galanya. Manusia
benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungan kepada-Nya. Tidak
bisa sama sekali. Seperti seorang anak kecil yang selalu merindukan orang tua
nya. Sejahat apapun orang tua nya, anak-anaknya selalu merindukan nya. Saat ada
perpisahan, kedua nya -orang tua dan anak-anaknya -sama sama meneteskan air
mata. Kemarahan bukan karena benci, tapi sayang dalam wujud yang berbeda.
Kenapa anak
selalu merindukan orang tua nya? Sebab dia berasal dari orang tua nya. Tubuh nya adalah bagian dari tubuh orang
tua. Darah dan perasaannya adalah darah dan perasaan orang tua. Orang tua dan
anak hakikatnya satu. Lalu Tuhan membuat kedua nya berbeda. tapi perbedaan yang
tidak bisa melepaskan diri dari persamaan. Wajar, jika ada rasa rindu dan
sayang sepanjang kehidupan.
Manusia
merindukan Allah juga demikian. Naluri ilahiyah tidak bisa hilang pada diri
manusia. Ada nya rasa rindu, takut, dan keinginan agar selalu bahagia merupakan
percikan-percikan dari naluri tersebut. Tidak ada ketakutan yang melebihi
ketakutan tidak diakui oleh Allah sebagai makhluk-Nya. Tidak ada kebahagiaan tertinggi
selain kebahagiaan ketika mendapatkan ridha-Nya.
Kebahagiaan selain
bersumber dari Allah bersifat sementara. Tidak kekal. Kebahagiaan mendapatkan
pasangan yang diidam-idamkan sebatas temporer. Istilah sehidup semati sebagai
perwujudan kesempurnaan hanya sebatas ilusi. Ada erosi kebahagiaan yang
kemudian hari sampai pada titik terendah yang berujung pada penyesalan. Ada proses
kehidupan yang memakna kebahagiaan dan kenikmatan hidup berubah tidak sama
sebagaimana saat kalimat tersebut pertama diucapkan.
Kebahagiaan dengan
harta kekayaan dan kekuasaan seperti orang makan sambel. Nikmat dan ingin
berhenti. Hari berikutnya ingin lagi. Bahkan kadang pada titik tertentu,
kenikmatan terkadang melahirkan kebosanan. Kadang harus menyendiri tinggal di
pulau terpencil untuk menghindari kebisingan, konflik, dan padatnya aktivitas. Ia
pun harus membuat pulau terpencil didesain untuk mengobati kehampaan yang ada
dalam hatinya. Namun lagi-lagi, kesendirian, keterasingan jiwa dan kehampaan
perasaan selalu saja muncul dan menyapa dengan sangat menyakitkan. Ternyata harta
dan kekuasaan hanya bisa memberi permukaan kebahagiaan, tidak bisa menciptakan
esensi kebahagiaan.
Esensi kebahagiaan
bertempat di dalam hati. Imam Al-Ghozali
“Kebahagiaan
sejati adalah kebahagiaan ukhrawi. Selain itu ada kalanya kebahagiaan hanya
sebagai metafora, atau kebahagiaan yang salah seperti kebahagiaan duniawi yang
tidak menolong kebahagiaan akhirat. Atau kebahagiaan sejati, tapi kebahagiaan akherat
lebih sejati, yaitu setiap hal yang
menyampaikan kepada kebahagiaan ukhrawi. Karena sesuatu yang menyampaikan pada
kebaikan dan kebahagiaan disebut dengan kebaikan dan kebahagiaan pula”.
Al-Ghozali menggambarkan
tentang hakikat kebahagiaan ada yang kekal ada yang sementara. Kebahagiaan yang
kekal adalah kebahagiaan yang ukhrawi. Kebahagian ini lahir dari dasar ilahiyah
yang tertanam dalam hati. Tentang istilah kekuasaan, jabatan, dan kejayaan
dunia merupakan bagian dari implikasi kesungguhan pengabdian manusia dalam
aktivitas nya di dunia kepada Allah SWT.
Kebahagiaan sejati
bukan pola hidup yang menjauhi diri dari kejayaan dan kekuasaan di dunia. Kebahagiaan
sejati berarti mengoptimalkan segala kecerdasan, tenaga, keahlian dengan penuh
pengorbanan dan tangisan untuk mencapai kejayaan. Tentu saja tangisan yang
mengharu biru karena ia menyadari bahwa hidup harus mempunyai karya terbaik di
hadapan Tuhan. Orang-orang yang benar-benar mencintai Allah mempunyai kesadaran
total bahwa pada diri mereka ada tanggungjawab melahirkan rahmat semesta alam,
menciptakan kemakmuran dan mewujudkan kedamaian dunia. Itu sebabnya, seluruh
kekuatan keyakinan di dalam hati benar-benar dimaksimalkan dan direalisasikan
dalam perjuangan-perjuangan kehidupan sehari-hari dalam upaya mencapai tujuan
yang dicita-citakan.
Orang-orang
yang berpegang pada prinsip hidup seperti di atas, maka ia akan mendapatkan
ketenangan dalam kondisi apapun. Saat ia berhasil mengenggam kekuasaan dan
kejayaan di dunia, hatinya tetap bahagia. Sebaliknya, saat kenikmatan di dunia
tidak ada pada genggamannya, ia pun tetap Bahagia. Sebab hatinya sudah tertanam
cinta sejati kepada Allah SWT. Inilah sumber ketenangan hidup.
Itu sebabnya,
merupakan suatu kesalahan jika hati terlalu dipenuhi nafsu kejayaan dan
kekuasaan. Hati terlalu sesak diisi oleh dunia seisinya sehingga tidak ada
sedikitpun cahaya ilahiyah mampir di hatinya. Jika ini terjadi, apakah kita
mendapatkan kekayaan dan kejayaan atau sebaliknya, kita tetap akan mendapatkan
kebahagiaan semu. Meskipun pada diri kita telah memegang kunci-kunci kejayaan
dan kekuasaan di dunia.
Sebanyak apapun
harta kekayaan dan setinggi apapun kekuasaan adalah sama-sama wujudnya dengan
manusia yaitu bersifat fana. Ia bisa hilang dan kita tidak bisa berbuat apa-apa
sama sekali.
Itu sebabnya,
kita perlu melatih keyakinan dalam hati semaksimal mungkin dalam penghambaan
kepada Allah SWT. Hanya Dia lah yang senantiasa menemani kita dalam keadaan
jaya atau terpuruk di dunia, saat kita meninggal dunia, dan saat kita berada di
akherat nanti.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876