Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 46: Keyakinan dan Kebahagiaan Yang Perlu Dipertahankan



Kamis , 17 Juli 2025



Telah dibaca :  532

Allah telah memberikan dua pusaka kehidupan yang sangat agung pada ayat 45 yaitu berupa sholat dan sabar. Pusaka tersebut merupakan energi suci yang bisa menggerakan peradaban manusia unggul yang pernah diwujudkan oleh Nabi Muhammad dalam wujud Madinah Al-Munawarah. Jazirah Arab yang panas, barbar dan berlaku hukum rimba berubah menjadi masyarakat yang santun, menyayangi anak-anak yatim dan menghormati tamu. Perubahan ini berangkat dari penerapan sabar dan sholat dalam dua arah: horizontal dan vertikal.

Alasan umat Islam menerapkan dua senjata tersebut karena dengan landasan Q.S. Al-Baqarah ayat 46 sebagai berikut:

الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَࣖ ۝٤٦

Artinya:

(yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan hanya kepada-Nya mereka kembali.

Bagi umat Nabi Muhammad, pertemuan dengan Tuhan merupakan prestasi tertinggi sebagai seorang mutaqin. Allah sebagai Tuhan telah menghadirkan keagungan dan kekuasaan-Nya. Manusia yang berada di muka bumi sebenarnya bagian dari ciptaan-Nya. Hakikat pada diri manusia ada naluri yang sangat merindukan Tuhan di atas segala-galanya. Manusia benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungan kepada-Nya. Tidak bisa sama sekali. Seperti seorang anak kecil yang selalu merindukan orang tua nya. Sejahat apapun orang tua nya, anak-anaknya selalu merindukan nya. Saat ada perpisahan, kedua nya -orang tua dan anak-anaknya -sama sama meneteskan air mata. Kemarahan bukan karena benci, tapi sayang dalam wujud yang berbeda.

Kenapa anak selalu merindukan orang tua nya? Sebab dia berasal dari orang tua  nya. Tubuh nya adalah bagian dari tubuh orang tua. Darah dan perasaannya adalah darah dan perasaan orang tua. Orang tua dan anak hakikatnya satu. Lalu Tuhan membuat kedua nya berbeda. tapi perbedaan yang tidak bisa melepaskan diri dari persamaan. Wajar, jika ada rasa rindu dan sayang sepanjang kehidupan.

Manusia merindukan Allah juga demikian. Naluri ilahiyah tidak bisa hilang pada diri manusia. Ada nya rasa rindu, takut, dan keinginan agar selalu bahagia merupakan percikan-percikan dari naluri tersebut. Tidak ada ketakutan yang melebihi ketakutan tidak diakui oleh Allah sebagai makhluk-Nya. Tidak ada kebahagiaan tertinggi selain kebahagiaan ketika mendapatkan ridha-Nya.

Kebahagiaan selain bersumber dari Allah bersifat sementara. Tidak kekal. Kebahagiaan mendapatkan pasangan yang diidam-idamkan sebatas temporer. Istilah sehidup semati sebagai perwujudan kesempurnaan hanya sebatas ilusi. Ada erosi kebahagiaan yang kemudian hari sampai pada titik terendah yang berujung pada penyesalan. Ada proses kehidupan yang memakna kebahagiaan dan kenikmatan hidup berubah tidak sama sebagaimana saat kalimat tersebut pertama diucapkan.

Kebahagiaan dengan harta kekayaan dan kekuasaan seperti orang makan sambel. Nikmat dan ingin berhenti. Hari berikutnya ingin lagi. Bahkan kadang pada titik tertentu, kenikmatan terkadang melahirkan kebosanan. Kadang harus menyendiri tinggal di pulau terpencil untuk menghindari kebisingan, konflik, dan padatnya aktivitas. Ia pun harus membuat pulau terpencil didesain untuk mengobati kehampaan yang ada dalam hatinya. Namun lagi-lagi, kesendirian, keterasingan jiwa dan kehampaan perasaan selalu saja muncul dan menyapa dengan sangat menyakitkan. Ternyata harta dan kekuasaan hanya bisa memberi permukaan kebahagiaan, tidak bisa menciptakan esensi kebahagiaan.

Esensi kebahagiaan bertempat di dalam hati. Imam Al-Ghozali (al-Ghozali, 2023) telah berkata:

“Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan ukhrawi. Selain itu ada kalanya kebahagiaan hanya sebagai metafora, atau kebahagiaan yang salah seperti kebahagiaan duniawi yang tidak menolong kebahagiaan akhirat. Atau kebahagiaan sejati, tapi kebahagiaan akherat lebih sejati, yaitu setiap hal  yang menyampaikan kepada kebahagiaan ukhrawi. Karena sesuatu yang menyampaikan pada kebaikan dan kebahagiaan disebut dengan kebaikan dan kebahagiaan pula”.

Al-Ghozali menggambarkan tentang hakikat kebahagiaan ada yang kekal ada yang sementara. Kebahagiaan yang kekal adalah kebahagiaan yang ukhrawi. Kebahagian ini lahir dari dasar ilahiyah yang tertanam dalam hati. Tentang istilah kekuasaan, jabatan, dan kejayaan dunia merupakan bagian dari implikasi kesungguhan pengabdian manusia dalam aktivitas nya di dunia kepada Allah SWT.

Kebahagiaan sejati bukan pola hidup yang menjauhi diri dari kejayaan dan kekuasaan di dunia. Kebahagiaan sejati berarti mengoptimalkan segala kecerdasan, tenaga, keahlian dengan penuh pengorbanan dan tangisan untuk mencapai kejayaan. Tentu saja tangisan yang mengharu biru karena ia menyadari bahwa hidup harus mempunyai karya terbaik di hadapan Tuhan. Orang-orang yang benar-benar mencintai Allah mempunyai kesadaran total bahwa pada diri mereka ada tanggungjawab melahirkan rahmat semesta alam, menciptakan kemakmuran dan mewujudkan kedamaian dunia. Itu sebabnya, seluruh kekuatan keyakinan di dalam hati benar-benar dimaksimalkan dan direalisasikan dalam perjuangan-perjuangan kehidupan sehari-hari dalam upaya mencapai tujuan yang dicita-citakan.

Orang-orang yang berpegang pada prinsip hidup seperti di atas, maka ia akan mendapatkan ketenangan dalam kondisi apapun. Saat ia berhasil mengenggam kekuasaan dan kejayaan di dunia, hatinya tetap bahagia. Sebaliknya, saat kenikmatan di dunia tidak ada pada genggamannya, ia pun tetap Bahagia. Sebab hatinya sudah tertanam cinta sejati kepada Allah SWT. Inilah sumber ketenangan hidup.

Itu sebabnya, merupakan suatu kesalahan jika hati terlalu dipenuhi nafsu kejayaan dan kekuasaan. Hati terlalu sesak diisi oleh dunia seisinya sehingga tidak ada sedikitpun cahaya ilahiyah mampir di hatinya. Jika ini terjadi, apakah kita mendapatkan kekayaan dan kejayaan atau sebaliknya, kita tetap akan mendapatkan kebahagiaan semu. Meskipun pada diri kita telah memegang kunci-kunci kejayaan dan kekuasaan di dunia.

Sebanyak apapun harta kekayaan dan setinggi apapun kekuasaan adalah sama-sama wujudnya dengan manusia yaitu bersifat fana. Ia bisa hilang dan kita tidak bisa berbuat apa-apa sama sekali.

Itu sebabnya, kita perlu melatih keyakinan dalam hati semaksimal mungkin dalam penghambaan kepada Allah SWT. Hanya Dia lah yang senantiasa menemani kita dalam keadaan jaya atau terpuruk di dunia, saat kita meninggal dunia, dan saat kita berada di akherat nanti.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876