Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 47: Jebakan dunia dan Kasih Sayang Tuhan Terhadap Hamba-Nya



Jumat , 18 Juli 2025



Telah dibaca :  483

Pagi ini Mas Chanif -Waket 2 -mendapat telpon dari Mas Jarir -Waket 1 -agar sama-sama ngopi di Kedai Yogyakarta bersama Asesor PIAUD. Kebetulan saya lagi menyupiri Mas Chanif. Tidak kepikir lagi ngopi. Tapi jika diajak ngopi, tidak menolak. Tidak pantas menolak rezeki.

Lupa jam berapa nyampai Kedai Kopi Yogyakarta. Prof Dadan kebetulan duduk disamping ku. Mas Chanif duduk sama Ibu Ami, doktor muda lulusan di salah satu Universitas Australia. Kami sama-sama sibuk ngobrol. Saya sibuk ngobrol dengan Prof Dadan, Mas Chanif dengan asesor cantik dari UNJ.

Prof Dadan baru saja pulang dari Makkah. Ia baru menunaikan rukun Islam kelima. Saya pun larut dalam kajian agama. Kajian kecil-kecilan sedikit menyinggung hal-hal yang bersifat spiritual. Tentu semua itu bagian dari syukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Entah bagaimana, saya jadi ingin mengabadikan pertemuan pagi ini dengan melanjutkan kajian ayat-ayat Al-Qur’an. Kebetulan juga pada pagi ini pembahasanya pada Q.S. Al-Baqarah ayat 47. Membaca satu ayat sambil angen-angen sa’ma’nane.

Pada ayat sebelum nya -ayat 46 – keyakinan merupakan pembuka unsur sangat penting memaknai arti kesabaran dan sholat sebagai password penting dalam menjalan ta’abud manusia kepada Tuhan nya. Keyakinan tersebut untuk mengingat kembali hakikat asal usul manusia itu sendiri agar tidak lupa diri. Hal ini sangat penting, ketika manusia mendapatkan suatu kenikmatan, ada ranjau-ranjau hati yang menyebabkan dirinya lupa pada jalan kehidupan yang sebenarnya sebagai ‘abdullah -Hamba Allah. Sering kenikmatan malah jalan lupa kepada Sang Pencipta, dan selalu teringat kepada ciptaan-ciptaan-Nya.

Peringatan-peringatan tuhan terhadap hamba-hamba-Nya tentang bahaya lupa atas kenikmatan yang telah diberikan kepada mereka sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 47 sebagai berikut:

يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ۝٤٧

Artinya:

Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu daripada semua umat di alam ini (pada masa itu).

Para mufasirin menjelaskan bahwa Allah mengingatkan atas kenikatan tanpa batas yang telah diberikan kepada Bani Israel. Bahkan Tuhan juga telah memberi kelebihan kaum tersebut melebihi dari kaum lainnya. Beberapa kelebihan yang nyata dalam catatan sejarah yaitu lahirnya para Nabi dan Rasul, kemampuan menjadi penguasa dunia pada masa nya dan kecerdasan bawaan sebagai titisan dari nenek moyang yang agung.

Peringatan Allah kepada Bani Israel ternyata benar-benar terjadi. setiap perjalanan sejarah, mereka selalu saja kufur terhadap kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah SWT.  Saat dalam kekuasan Raja Fir’aun, mereka selalu mengharapkan bantuan-bantuan dari Tuhan agar pertolongan-Nya bisa bebas dari jeratan Raja Fir’aun. Tuhan mendatangkan Nabi Musa dan Harun. Mereka akhirnya Merdeka dan menjadi manusia mulia. namun lagi-lagi mereka melakukan kesalahan.

Saat mereka kehilangan kekuasaan dan jauh dari ajaran para rasul, bangsa Bani Israel terpecah belah dan kehilangan kekuatan. Para tokoh Bani Israel menemui Nabi Samuel. Mereka meminta tolong agar mencarikan sosok pemimpin yang bisa menyatukan faksi-faksi Kaum Yahudi. Lalu Nabi Samuel menemukan seorang pemuda desa bernama Thalut. Setelah melalui proses, Thalut menjadi pemimpin Bani Israel dan berhasil mengalahkan penguasa saat itu yaitu Raja Jalut.

Lagi-lagi watak tidak beryukur atas kenikmatan diberikan oleh Allah pun muncul. Thalut konflik dengan seorang pemuda ahli perang bernama Dawud. Pemuda ini yang kemudian menjadi Nabi dan Rasul.

Kenikmatan Allah yang sangat agung yang diberikan kepada Bani Israel yaitu saat mereka dipimpin oleh Nabi Dawud dan anak nya Nabi Sulaiman. Pasca kematian Dawud dan Nabi Sulaiman, mereka pun terjadi konflik berkepanjangan. Lupa terhadap nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka. Akhirnya, mereka menjadi manusia yang dihinakan oleh Allah sebagai kelompok yang mempunyai sifat seperti monyet.

Peringatan Allah terhadap Bani Israel sebenarnya peringatan untuk umat Islam. Sebagaimana kaum yahudi, kaum muslimin juga mempunyai status sama sebagai manusia. potensi-potensi kufur terhadap nikmat-nikmat Allah sering terjadi dalam realita kehidupan sehari-hari.

Jika masa lalu, Kaum Yahudi bercerai berai dan ber-diaspora ke berbagai negara barat, kini kelihatannya umat Islam pun mengalami kesamaan. Penulis melihat di berbagai sumber -buku, jurnal dan media sosial – umat Islam saling menjatuhkan kelompok muslim lainnya. Mereka mengklaim paling baik dan selain kelompok mereka dianggap sebagai kelompok yang rendahan dan banyak dosa. Akhirnya muncul kesombongan spiritual. Merasa paling lebih dekat dengan Allah dan menganggap rendah kelompok lain yang dianggap kurang sholeh.

Benar umat Islam sangat besar nomor dua di dunia -setelah agama Kristen. Namun besarnya jumlah tersebut sering seperti buih di tengah laut. Bising sekali di media sosial. Saling jatuh menjatuhkan. Baik sesama muslim satu aliran maupun muslim yang berbeda aliran -Sunni dan Syi’ah.

Tentu saja -secara kasat mata – hal tersebut di atas sangat menyedihkan. Kehancuran Bani Israel pada masa dulu bukan karena kurang Sumber Daya Manusia (SDM), tetapi mereka saling menjatuhkan satu sama lainnya. Sehingga mereka kehilangan kekuatan menjadi bangsa yang hina.

Tapi mereka kini telah menjadi satu kekuatan. Keberhasilan mendirikan Negara Israel pada tahun 1948 merupakan kesadaran kolektif Bangsa Yahudi untuk menjadi satu kekuatan dalam upaya mengulang kejayaan di masa silam.

Kini di dunia yang semakin plural dan batas-batas geografis seolah-olah hilang. Namun pluralitas -yang dulu diharapkan sebagai kekuatan -semakin mengkerucut pada identitas etnis dan agama. Negara Jepang telah memunculkan sebagai kekuatan Agama Sinto dan memposisikan bangsa yang mulia. Bangsa China merasa keturunan dari Dewa Nuwa sebagai tokoh penting melahirkan Bangsa China. Bangsa India berasal dari Etnis Arya dan Dravida yang diyakini keturunan dewa. Bangsa Iran merasa juga keturunan dari Etnis Arya dan Bangsa Israel Merasa sebagai Anak Tuhan.

Semua etnis dan agama tertentu ingin mempromosikan sebagai agama yang mempunyai kelebihan dari etnis dan agama lainnya. budaya dan peradaban sebenarnya sedang menuju eksklufitas ditengah-tengah kesibukan masyarakat dunia dalam upaya menciptakan inklusifitas peradaban dunia.

Tentu saja keberagaman pandangan agama, etnis dan budaya sangat sulit dihindari. Harapan-harapan besar saat sekarang ini sebenarnya bukan pada persoalan identitas dari setiap etnis atau keyakinan. Hari ini -terutama umat Islam – membutuhkan perekat kesamaan dalam perbedaan, yaitu persamaan maqasid sebagai sama-sama ‘abdullah -Hamba Allah. Jika kita sama-sama merasa sebagai hamba Allah, tentu saja -idealnya -kita sama-sama mempunyai perasaan tawadhu atas amal ibadah yang kita lakukan. Mungkin menurut kita sudah sempurna. Jangan-jangan justru dalam pandangan-Nya dianggap sebagai pendusta agama. Kesombongan dan keangkuhan kita bisa jadi menjadi status kita merosok menjadi “asfalasafiliin”.

Salah satu bentuk ketawadhu’an kita yaitu bahwa kita belum sempurna ibadah dan amal sholeh kita. Sungguh tidak pantas menilai ibadah dan amal sholeh orang lain atau kelompok lain. Disisi lain, wujud dari ketawadhu’an kita yaitu mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita dengan terus menjadi hamba yang sholeh dan terus berkarya untuk kemaslahatan peradaban manusia. Itulah salah satu wujud syukur kita atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13559


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876