
Pagi ini Mas Chanif -Waket 2 -mendapat
telpon dari Mas Jarir -Waket 1 -agar sama-sama ngopi di Kedai Yogyakarta bersama
Asesor PIAUD. Kebetulan saya lagi menyupiri Mas Chanif. Tidak kepikir lagi
ngopi. Tapi jika diajak ngopi, tidak menolak. Tidak pantas menolak rezeki.
Lupa jam berapa nyampai Kedai Kopi Yogyakarta.
Prof Dadan kebetulan duduk disamping ku. Mas Chanif duduk sama Ibu Ami, doktor
muda lulusan di salah satu Universitas Australia. Kami sama-sama sibuk ngobrol.
Saya sibuk ngobrol dengan Prof Dadan, Mas Chanif dengan asesor cantik dari UNJ.
Prof Dadan baru saja pulang dari Makkah. Ia
baru menunaikan rukun Islam kelima. Saya pun larut dalam kajian agama. Kajian
kecil-kecilan sedikit menyinggung hal-hal yang bersifat spiritual. Tentu semua
itu bagian dari syukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Entah bagaimana, saya jadi ingin mengabadikan
pertemuan pagi ini dengan melanjutkan kajian ayat-ayat Al-Qur’an. Kebetulan juga
pada pagi ini pembahasanya pada Q.S. Al-Baqarah ayat 47. Membaca satu ayat
sambil angen-angen sa’ma’nane.
Pada ayat sebelum nya -ayat 46 – keyakinan merupakan
pembuka unsur sangat penting memaknai arti kesabaran dan sholat sebagai password
penting dalam menjalan ta’abud manusia kepada Tuhan nya. Keyakinan tersebut
untuk mengingat kembali hakikat asal usul manusia itu sendiri agar tidak lupa
diri. Hal ini sangat penting, ketika manusia mendapatkan suatu kenikmatan, ada
ranjau-ranjau hati yang menyebabkan dirinya lupa pada jalan kehidupan yang
sebenarnya sebagai ‘abdullah -Hamba Allah. Sering kenikmatan malah jalan
lupa kepada Sang Pencipta, dan selalu teringat kepada ciptaan-ciptaan-Nya.
Peringatan-peringatan tuhan terhadap hamba-hamba-Nya
tentang bahaya lupa atas kenikmatan yang telah diberikan kepada mereka
sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 47 sebagai berikut:
يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ
عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ٤٧
Artinya:
Wahai Bani
Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya
Aku telah melebihkan kamu daripada semua umat di alam ini (pada masa itu).
Para mufasirin
menjelaskan bahwa Allah mengingatkan atas kenikatan tanpa batas yang telah
diberikan kepada Bani Israel. Bahkan Tuhan juga telah memberi kelebihan kaum
tersebut melebihi dari kaum lainnya. Beberapa kelebihan yang nyata dalam
catatan sejarah yaitu lahirnya para Nabi dan Rasul, kemampuan menjadi penguasa
dunia pada masa nya dan kecerdasan bawaan sebagai titisan dari nenek moyang
yang agung.
Peringatan Allah
kepada Bani Israel ternyata benar-benar terjadi. setiap perjalanan sejarah,
mereka selalu saja kufur terhadap kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah SWT.
Saat dalam kekuasan Raja Fir’aun, mereka
selalu mengharapkan bantuan-bantuan dari Tuhan agar pertolongan-Nya bisa bebas
dari jeratan Raja Fir’aun. Tuhan mendatangkan Nabi Musa dan Harun. Mereka akhirnya
Merdeka dan menjadi manusia mulia. namun lagi-lagi mereka melakukan kesalahan.
Saat mereka
kehilangan kekuasaan dan jauh dari ajaran para rasul, bangsa Bani Israel terpecah
belah dan kehilangan kekuatan. Para tokoh Bani Israel menemui Nabi Samuel. Mereka
meminta tolong agar mencarikan sosok pemimpin yang bisa menyatukan faksi-faksi Kaum
Yahudi. Lalu Nabi Samuel menemukan seorang pemuda desa bernama Thalut. Setelah melalui
proses, Thalut menjadi pemimpin Bani Israel dan berhasil mengalahkan penguasa
saat itu yaitu Raja Jalut.
Lagi-lagi
watak tidak beryukur atas kenikmatan diberikan oleh Allah pun muncul. Thalut konflik
dengan seorang pemuda ahli perang bernama Dawud. Pemuda ini yang kemudian
menjadi Nabi dan Rasul.
Kenikmatan Allah
yang sangat agung yang diberikan kepada Bani Israel yaitu saat mereka dipimpin
oleh Nabi Dawud dan anak nya Nabi Sulaiman. Pasca kematian Dawud dan Nabi
Sulaiman, mereka pun terjadi konflik berkepanjangan. Lupa terhadap
nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka. Akhirnya, mereka
menjadi manusia yang dihinakan oleh Allah sebagai kelompok yang mempunyai sifat
seperti monyet.
Peringatan Allah
terhadap Bani Israel sebenarnya peringatan untuk umat Islam. Sebagaimana kaum
yahudi, kaum muslimin juga mempunyai status sama sebagai manusia.
potensi-potensi kufur terhadap nikmat-nikmat Allah sering terjadi dalam realita
kehidupan sehari-hari.
Jika masa
lalu, Kaum Yahudi bercerai berai dan ber-diaspora ke berbagai negara barat,
kini kelihatannya umat Islam pun mengalami kesamaan. Penulis melihat di
berbagai sumber -buku, jurnal dan media sosial – umat Islam saling menjatuhkan kelompok
muslim lainnya. Mereka mengklaim paling baik dan selain kelompok mereka
dianggap sebagai kelompok yang rendahan dan banyak dosa. Akhirnya muncul
kesombongan spiritual. Merasa paling lebih dekat dengan Allah dan menganggap rendah
kelompok lain yang dianggap kurang sholeh.
Benar umat Islam
sangat besar nomor dua di dunia -setelah agama Kristen. Namun besarnya jumlah
tersebut sering seperti buih di tengah laut. Bising sekali di media sosial. Saling
jatuh menjatuhkan. Baik sesama muslim satu aliran maupun muslim yang berbeda
aliran -Sunni dan Syi’ah.
Tentu saja -secara
kasat mata – hal tersebut di atas sangat menyedihkan. Kehancuran Bani Israel pada
masa dulu bukan karena kurang Sumber Daya Manusia (SDM), tetapi mereka saling
menjatuhkan satu sama lainnya. Sehingga mereka kehilangan kekuatan menjadi
bangsa yang hina.
Tapi mereka
kini telah menjadi satu kekuatan. Keberhasilan mendirikan Negara Israel pada
tahun 1948 merupakan kesadaran kolektif Bangsa Yahudi untuk menjadi satu
kekuatan dalam upaya mengulang kejayaan di masa silam.
Kini di dunia
yang semakin plural dan batas-batas geografis seolah-olah hilang. Namun pluralitas
-yang dulu diharapkan sebagai kekuatan -semakin mengkerucut pada identitas
etnis dan agama. Negara Jepang telah memunculkan sebagai kekuatan Agama Sinto dan
memposisikan bangsa yang mulia. Bangsa China merasa keturunan dari Dewa Nuwa sebagai
tokoh penting melahirkan Bangsa China. Bangsa India berasal dari Etnis Arya dan
Dravida yang diyakini keturunan dewa. Bangsa Iran merasa juga keturunan dari Etnis
Arya dan Bangsa Israel Merasa sebagai Anak Tuhan.
Semua etnis
dan agama tertentu ingin mempromosikan sebagai agama yang mempunyai kelebihan
dari etnis dan agama lainnya. budaya dan peradaban sebenarnya sedang menuju eksklufitas
ditengah-tengah kesibukan masyarakat dunia dalam upaya menciptakan inklusifitas
peradaban dunia.
Tentu saja keberagaman pandangan agama, etnis dan budaya sangat sulit
dihindari. Harapan-harapan besar saat sekarang ini sebenarnya bukan pada
persoalan identitas dari setiap etnis atau keyakinan. Hari ini -terutama umat Islam
– membutuhkan perekat kesamaan dalam perbedaan, yaitu persamaan maqasid sebagai
sama-sama ‘abdullah -Hamba Allah. Jika kita sama-sama merasa sebagai
hamba Allah, tentu saja -idealnya -kita sama-sama mempunyai perasaan tawadhu
atas amal ibadah yang kita lakukan. Mungkin menurut kita sudah sempurna. Jangan-jangan
justru dalam pandangan-Nya dianggap sebagai pendusta agama. Kesombongan dan
keangkuhan kita bisa jadi menjadi status kita merosok menjadi “asfalasafiliin”.
Salah satu bentuk ketawadhu’an kita yaitu bahwa kita belum sempurna
ibadah dan amal sholeh kita. Sungguh tidak pantas menilai ibadah dan amal sholeh
orang lain atau kelompok lain. Disisi lain, wujud dari ketawadhu’an kita yaitu
mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita dengan terus menjadi hamba
yang sholeh dan terus berkarya untuk kemaslahatan peradaban manusia. Itulah
salah satu wujud syukur kita atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13559
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876