
Sejak lahirnya Bani Israel sampai kejayaan
nya di masa lalu, syafaat atau pertolongan Allah saat masih hidup di
dunia selalu nyata. Para Nabi-Nabi yang lahir dari garis keturunan Bani Israel
telah menunjukan mukjizat-mukjizat Allah atas segala problem yang terjadi pada
diri mereka. Kisah yang sangat legendaris yaitu pada masa kekuasaan Raja
Fir’aun. Allah telah menyelamatkan kaum Bani Israel dari kejaran pasukan
Fir’aun. Laut terbelah menjadi dua. Laut menyediakan jalan keluar sehingga
mereka selamat dari kejaran pasukan Fir’aun.
Klaim tentang campur tangan Tuhan terhadap
kejayaan Bani Israel terus melekat hingga kini. Dalam sudut ajaran Islam, Ini
merupakan klaim sepihak. Hal ini karena berangkat dari kesalahan mereka yang
telah memposisikan diri sebagai anak Tuhan dan tidak mengakui Nabi Muhammad
sebagai Nabi terakhir yang telah dituliskan dalam Kitab Taurat. Perilaku yang
demikian menjadi status Bani Israel bagian dari orang kafir yang tidak akan mendapatkan
syafa’at dari Allah Swt. Q.S. Al-Baqarah ayat 48 berbunyi sebagai
berikut:
وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْـًٔا وَّلَا
يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَّلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَّلَا هُمْ
يُنْصَرُوْنَ ٤٨
Artinya:
Takutlah kamu
pada suatu hari (kiamat) yang seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit
pun, syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima, dan mereka tidak akan
ditolong.
Menurut Tafsir
Qurthubi, ayat ini turun berangkat dari ucapan orang Bani Israel bahwa mereka
adalah anak Tuhan, kekasih-Nya, keturunan para Nabi dan orang-orang terpilih.
Mereka akan mendapatkan syafaat dari nenek moyangnya
Ucapan-ucapan
kaum Bani Israel menunjukan bahwa status mereka sebagai orang kafir dengan
memposisikan diri sebagai anak Tuhan. Orang-orang kafir di Hari Kiamat tidak
akan mendapatkan syafa’at. Sebab orang yang mendapatkan syafa’at yaitu
orang-orang yang menyatakan diri bertauhid kepada-Nya sebagaimana dalam Q.S. Maryam
([19]:87) sebagai berikut: “Mereka tidak punya (hak mendapat atau memberi)
syafaat (pertolongan), kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi
(Allah) Yang Maha Pengasih”. Q.S. An-Nisa ([4]:48) sebagai berikut: “Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi
Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia
kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang
sangat besar”. Q.S. Yusuf ([12]:87): “Wahai anak-anakku, pergi dan
carilah berita tentang Yusuf beserta saudaranya. Janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah,
kecuali kaum yang kafir.”
Berbeda dengan
ajaran Islam, Umat Nabi Muhammad akan mendapatkan syafa’at sepanjang
mereka tidak mempersekutukan Allah SWT. Q.S. Az-Zukhruf ([43]:86) :”Sembahan-sembahan
mereka selain Dia tidak bisa memberi syafaat (pertolongan di Akhirat),
kecuali orang yang bersaksi dengan yang hak (tauhid) dan mereka meyakininya”.
Selain itu ada hadist Nabi Muhammad mendukung ayat tersebut yaitu hadist yang
diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut:
“Mereka pun
meminta syafa’at sehingga mereka dapat keluar dari Neraka, yaitu orang-orang
yang mengucapkan Laa Ilaha Illa Allah …”
Ayat dan
hadist tersebut memperkuat ayat-ayat sebelumnya tentang orang-orang yang
mendapatkan syafa’at yaitu bertauhid kepada Allah SWT. Siapapun yang beriman
kepada-Nya, maka mempunyai hak untuk mendapatkan syafa’at dari-Nya.
Tauhid menjadi
pembuka syafaat-syafaat lainnya. Allah juga memberi keistimewaan kepada Nabi Muhammad
berupa hak memberi syafa’at kepada umat nya. Hadist dari Bukhari berbunyi: “
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “”Setiap Nabi mempunyai doa
yang telah dikabulkan, sedang aku ingin menyimpan doa ku sebagai syafa’at untuk
umat ku di Akherat”.
Amalan-amalan
atau aktivitas umat Nabi Muhammad yang mampu mendatangkan syafaat yaitu membaca
Al-Qur’an. Hadist Riwayat muslim berbunyi:..Abu Umamah Al-Bahili telah
menceritakan kepadaku, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:”Bacalah
Al-Qur’an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada
hari kiamat nanti…”.
Berdoa untuk
orang meninggal yang berdoa lebih dari 40 orang, maka orang yang meninggal
tersebut mendapatkan syafa’at. Hadist Riwayat muslim sebaga berikut: “Dari
Aisyah dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Mayat yang dishalatkan oleh kaum
muslimin dengan jumlah melebihi seratus orang, dan semuanya mendoakannya, maka
doa mereka untuk nya dikabulkan”.
Pada hadist
lain orang-orang yang menjawab adzan, berdoa setelah adzan dan membaca sholawat
termasuk orang-orang yang mendapatkan syafa’at. Hadits dari Riwayat muslim
sebagai berikut: “Abdullah bin Amru bin Al-As bahwa dia mendengar Nabi SAW
bersabda: Apabila kalian mendengar muazin mengumandangkan azan, maka ucapkanlah
seperti yang dia ucapkan, kemudian bersholawat atas ku, karena orang yang
bersholawat atas ku dengan satu shalawat niscaya Allah akan bershalawat atas
nya dengan sepuluh kali, kemudian kepada Allah wasilah untukku karena ia adalah
suatu tempat di Surga, tidaklah layak tempat tersebut kecuali untuk seorang
hamba dari hamba-hamba Allah dan saya berharap agar saya menjadi hamba
tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafaat halal untuk
nya”.
Dari pemaparan
di atas menunjukan bahwa syafaat datang dar allah, nabi,malaikat, orang-orang
mukmn atas segala amal yang telah mereka lakukan. Orang yang mendapatkan syafaat
baik syafaat berada saat masih hidup di dunia maupun syafaat saat berada di
akherat.
Dalil-dalil
tentang syafaat di atas merupakan sebagian dari dalil-dalil syafaat yang belum disebut
dalam artikel ini. Mash banyak lagi. Silahkan anda mencari lagi untuk
melengkapi makna syafaat ternyata sangat luas untuk umat Rasulullah SAW.
Baik agama
yahudi maupun Islam sebenarnya mempunyai titik temu dalam upaya untuk
mendapatkan syafaat pada kunci pembuka, yaitu mentauhidkan Allah SWT. Tertolaknya
kaum Bani Israel mendapatkan pertolongan dari Allah dan nenek moyangnya di
sebabkan karena mereka telah men-syirikan Allah, membunuh para Nabi, dan tidak
mengakui Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasulullah.
Namun dalam
semangat perjuangan membangun kejayaan di dunia, Bangsa Israel mempunyai pondasi
ideologi yang sangat kuat dalam upaya meraih kejayaan tersebut. Kehebatan kaum
tersebut menterjemahkan ajaran agama yahudi sebagai ideologi mampu diwujudkan
dalam dua pilar sekaligus: pertama, sebagai pondasi kekuatan semangat persatuan
atas nama kesamaan agama; kedua sebagai pondasi mengembangkan peradaban
berbasis ilmu pengetahuan, saint dan teknologi. Dua hal yang belum dimiliki
oleh umat Islam saat sekarang ini.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876