
Kaum yahudi bisa bersilat lidah di hadapan
nabi dan sahabat-sahabatnya. Mereka bisa mengatakan dengan sangat menyakinkan bahwa
mereka telah beriman kepada Allah dan beriman kepada Nabi Muhammad sebagai Rasulullah.
Persoalannya bukan pada hakikat kebenaran
yang telah ditulis dalam Kitab Taurat, bahwa akan datang rasul penutup para
rasul yaitu Nabi Muhammad SAW. Persoalan terbesar yaitu tidak menerima
kebeneran tersebut-meskipun sudah tertulis dalam Kitab Taurat-yang dianggap
telah merendahkan status nasab mereka-kaum yahudi-sebagai manusia pilihan Tuhan.
Jika menerima nya sebagai Rasul, berarti status sebagai pilihan akan bergeser
kepada Nabi Muhammad SAW.
وَاِذَا لَقُوا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّاۚ وَاِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ
قَالُوْٓا اَتُحَدِّثُوْنَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاۤجُّوْكُمْ
بِهٖ عِنْدَ رَبِّكُمْۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ٧٦
Artinya:
Apabila
berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.”
Akan tetapi, apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya, “Apakah akan
kamu ceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu sehingga
mereka dapat menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu? Apakah kamu tidak mengerti?”
Dalam kontek
kehidupan sosial, terkadang ada seseorang atau kelompok orang yang tidak bisa
menerima kebenaran dari orang lain karena mereka menganggap dirinya lebih baik
atau lebih mulia dari lainnya. Ukuran kebaikan atau kemuliaan bisa jadi karena
ukuran keluasan ilmu pengetahuan, status sosial lebih tinggi, keturunan darah
biru, dan pengalaman kehidupan yang lebih luas. Hanya orang-orang yang
mempunyai status di atas ukuran tersebut atau “paling tidak sama”, yang
mempunyai kemampuan bisa memberi nasehat kepada nya.
Nasehat kebenaran
hanya berlaku untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri. adanya perasaan
bahwa dirinya telah selesai dan tidak membutuhkan nasehat dari orang
lain-apalagi opoisisi-menilai bahwa dirinya sudah cukup paham dengan segala
persoalan dan mengetahui cara menyelesaikan persoalan tersebut. maka, mereka
berusaha membangun suatu kelompok sebagai suatu kekuatan baru yang dianggap
sebagai penyelesai masalah -solving problem.
Kaum Yahudi
bisa saja berteman dengan siapa saja. Tapi watak yahudi yang merasa lebih hebat
dari yang lain senantiasa membangun suatu pemikiran bahwa ia harus berada di
atas segala-galanya.
Kaum Yahudi
benar-benar telah mem-brand-ing diri nya lebih baik dari orang atau kelompok
lain. Dalam konteks apapun, mereka akan tetap menempatkan diri sebagai manusia
yang lebih unggul dan tidak mau ada yang bisa menguasai nya. Jika toh ada yang
berada di atasnya, ia akan sekuat tenaga ingin menguasainya dan mengatur nya.
Saya kira,
terlepas dari sikap arogansi kaum yahudi yang selalu merasa lebih hebat dari
orang lain, kadang dalam sebuah perjuangan membutuhkan mentalitas seperti itu
juga. keberanian menunjukan kemampuan diri perlu ditunjukan kepada siapapun-dalam
kontek persoalan yang lebih luas-untuk menunjukan kualifikasi diri. kadang kita
juga membutuhkan berbagai kemampuan lain yang ada pada diri kita sendiri agar
orang lain menyakini bahwa diri kita pantas diperhitungkan. Ini sah-sah saja sebagai
strategi politik meraih suatu cita-cita. Meskipun pada sisi lain, kita pun akan
dicaci maki sebagai orang-orang yang-mungkin mohon maaf-sombong, songong, tidak
punya rasa malu, tidak punya sopan santun dan pragmatis.
Apakah kita
ingin maju dengan cara kaum yahudi tersebut, atau mungkin ingin tetap konsisten
dengan keyakinan kita mengikuti ajaran Islam. Semua ada pilihan. Sebab dalam
konteks sosial-politik, sering ajaran kebaikan agama dikalahkan oleh kekuatan
nafsu sebagai dorongan paling kuat untuk berkuasa.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871