
Iran-Israel sepakat gencatan senjata. Ini
mungkin baru pertama kali dalam sejarah presiden AS ngotot minta perang off dulu.
Apakah berhenti sejenak untuk membuka ruang win-win solution, atau kah sengaja
trik Israel dalam upaya memperbaiki stamina dan meminta Paman Sam memberikan
ramuan mujarab untuk mengurangi pegal-pegal dan stress. Ma’lum, kekuatan Iran
di luar nurul. Teknologi tempur sudah sangat modern melampaui ekspetasi
musuh-musuhnya.
Jika merujuk perang di Timur Tengah AS
tanpa basa-basi membabat musuh sampai ke akar-akarnya. Ketika perang Iran-Irak,
AS membabat habis Iran hingga hancur lebur (1980-1988). Tidak cukup disitu,
tahun 2017-2019 AS melakukan embargo ekonomi lagi ke Iran. Pertumbuhan ekonomi
diperkirakan nol persen pada tahun 2020.
Meskipun nol persen, ilmu “BERDIKARI”
-Berdiri Di Atas Kaki Sendiri -yang diucapkan Soekarno pada 17 Agustus
1965 malah benar-benar dipraktekan di Iran. Embargo ekonomi malah menjadi
kesempatan bagi masyarakat Iran untuk memperbaiki diri sendiri tanpa
ketergantungan bangsa barat. Bangsa Iran menerapkan politik spiritual, yaitu
politik menanggung derita dan menikmati penderitaan. Semakin menderita semakin
bisa menghayati perjuangan ruh Sayyid Husein yang meninggal di Padang Karbala.
Ketika perang teluk (Irak-Kuwait), AS
menghancurkan Irak sampai kota seribu satu malam tersebut rata dengan tanah.
Puluhan ribu rakyat Irak harus mengungsi. Dulu, Irak yang terkenal dengan
negara modern di Timur Tengah kini telah berubah menjadi negara yang warga
negara nya mempunyai tingkat stress sangat tinggi (53%), khawatir (59%) dan
rasa sakit (61%) pada penelitian tahun 2022.
Masyarakat Irak sangat traumatik terhadap
perilaku kelompok ISIS -suatu kelompok yang ingin merubah Irak menjadi Negara
Islam atau khilafah Islamiyah- pada 2016. Pasca jatuh nya ISIS, kekhawatiran
dan rasa sakit berkurang. Namun dari data tersebut menunjukan bahwa presepsi
negatif Negara Sunni terbaik pada masa dulu, kini tak ubahnya seperti
masyarakat Palestina. Menyedihkan.
Apa motif genjatan senjata? Jelas yang
lebih tahu negara-negara yang terlibat. Jika diperdalam lagi, yang lebih tahu
segala sesuatu yang tersimpan dalam hati para pemimpin yang terlibat, malaikat
roqib dan atib, serta Sang Pencipta. Kita hanya kebagian nonton
mereka di Media Sosial dengan segala keberagaman emosional yang ditumpahkan
melalui beragam postingan. Ma’lum lah, kalau mendengar negara Israel “bawaan”
hati nya ingin marah-marah terus. Meskipun juga ada yang senang juga terhadap
Israel. Ma’lum lah, manusia itu bermacam-macam jalan berfikirnya.
Keberagaman alur pikiran manusia semakin
jelas pasca genjatan senjata mulai bermunculan. Bisa karena faktor kebebasan berfikir,
bisa juga karena kekolotan bertaklid tanpa perlu serius berfikir lagi, bisa
juga karena ingin pansos untuk menaikan viewer. Konten sudah sebagai bagian
dari profesi di era komunikasi saat sekarang ini.
Kelompok pertama, ada yang memberi komentar
penuh kegembiraan. Ia melihat perang Iran-Israel dianggap sama-sama musuh nya Allah.
Keduanya perang malah bersyukur. Kelompok ini menganggap Iran dan Israel sama-sama
kafir. Iran yang merupakan bagian dari umat Islam -ada tambahan syi’ah –
dianggap sesat semua. Padahal jika dilihat dari kesamaan nya, antara Sunni dan Syiah
Tuhan sama yaitu Allah SWT, Nabi nya juga sama yaitu Muhammad SAW , dan haji
nya juga sama yaitu sama-sama ke Baitullah. Kelompok ini saya lihat di FB
kelompok puritan yang mengatasnamakan diri sebagai kaum salafiyun. Kelompok
ini sudah mengangagap tauhid nya kaum muslim Iran sudah melenceng.
Kelompok kedua, ada komentar penuh
kebingungan memposisikan status Iran, apakah negara tersebut sebagai bagian
dari negara yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina apa tidak. Kebingungan kelompok
ini bukan karena tidak mengetahui fakta sejarah perjuangan bangsa Iran
memperjuangkan kemerdekaan Palestina -bahkan sampai perang dan konfrontasi
dengan AS dan Israel sejak tahun 1979 -tapi keberanian Iran menenggelamkan
konsep khilafah Islamiyah yang sering nyaring di medsos. Padahal kita
sama-sama ma’lum, betapa gencarnya kelompok ini melakukan perlawanan kepada Israel
sangat masif. Namun faktanya, Gerakan head to head kelompok ini mengahadapi
tentara Israel tidak pernah ada dalam sejarah perjuangan rakyat Palestina. Ia
masih sebatas penanaman ideologi kepada masyarakat (sayangnya, terlalu banyak
konsep khilafah Islamiyah di Indonesia seperti DI/TTI, Jamaah Islamiyah,
Majelis Muslimin Indonesia, Khilafah Islamiyah di Lampung dan lain-lain.
Negara Islam yang berani menentang AS dan Israel
yaitu negara Irak dan Libya. Kini kedua negara tersebut telah ditekuk oleh AS. Satu-satu
nya negara yang masih eksis hingga kini yaitu negara Iran.
Kelompok ketiga, adalah kaum rasionalis. Bisa
jadi mereka bagian dari kelompok di atas yang moderat dan masyarakat muslim
yang masuk pada ormas-ormas Islam moderat dan tidak terikat ormas Islam. Mereka
cara berfikir simpel. Israel musuh Islam dan penjahat perang. Siapapun yang
melawan Israel dan bertempur melawan nya akan tetap didukung.
Kelompok keempat, kaum sufi. Ada nya perang
dengan tidak adanya Perang Iran-Israel perasaannya biasa-biasa saja. Ia tidak
membutuhkan analisis yang mendalam dan tidak perlu berfikir terlalu kritis
dengan segala teori-teori para ilmuwan. Kata kunci yang selalu dipegang yaitu: “Semua
sudah diatur oleh Allah SWT”.
Kelompok kelima merupakan kelompok -anggap saja disebut kaum proletar -yang pusing akibat perang apa-apa jadi mahal-mahal, cari kerja pun susah. Semakin lama perang semakin menderita. Pikirannya sudah tidak peduli terhadap di sekitarnya. Yang terpenting kebutuhan hidup sehari-hari bisa aman. Istri senang, anak kenyang. Ketika ada seseorang bertanya tentang Perang Iran-Israel, dia pun menjawab asal-asalah: “ora urus, ora pate en, sing penting dapur ku bisa ngebul!”.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875