Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Rangkuman para Komentator Pasca Gencatan Senjata



Kamis , 26 Juni 2025



Telah dibaca :  532

Iran-Israel sepakat gencatan senjata. Ini mungkin baru pertama kali dalam sejarah presiden AS ngotot minta perang off dulu. Apakah berhenti sejenak untuk membuka ruang win-win solution, atau kah sengaja trik Israel dalam upaya memperbaiki stamina dan meminta Paman Sam memberikan ramuan mujarab untuk mengurangi pegal-pegal dan stress. Ma’lum, kekuatan Iran di luar nurul. Teknologi tempur sudah sangat modern melampaui ekspetasi musuh-musuhnya.

Jika merujuk perang di Timur Tengah AS tanpa basa-basi membabat musuh sampai ke akar-akarnya. Ketika perang Iran-Irak, AS membabat habis Iran hingga hancur lebur (1980-1988). Tidak cukup disitu, tahun 2017-2019 AS melakukan embargo ekonomi lagi ke Iran. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan nol persen pada tahun 2020.

Meskipun nol persen, ilmu “BERDIKARI” -Berdiri Di Atas Kaki Sendiri -yang diucapkan Soekarno pada 17 Agustus 1965 malah benar-benar dipraktekan di Iran. Embargo ekonomi malah menjadi kesempatan bagi masyarakat Iran untuk memperbaiki diri sendiri tanpa ketergantungan bangsa barat. Bangsa Iran menerapkan politik spiritual, yaitu politik menanggung derita dan menikmati penderitaan. Semakin menderita semakin bisa menghayati perjuangan ruh Sayyid Husein yang meninggal di Padang Karbala.

Ketika perang teluk (Irak-Kuwait), AS menghancurkan Irak sampai kota seribu satu malam tersebut rata dengan tanah. Puluhan ribu rakyat Irak harus mengungsi. Dulu, Irak yang terkenal dengan negara modern di Timur Tengah kini telah berubah menjadi negara yang warga negara nya mempunyai tingkat stress sangat tinggi (53%), khawatir (59%) dan rasa sakit (61%) pada penelitian tahun 2022.

Masyarakat Irak sangat traumatik terhadap perilaku kelompok ISIS -suatu kelompok yang ingin merubah Irak menjadi Negara Islam atau khilafah Islamiyah- pada 2016. Pasca jatuh nya ISIS, kekhawatiran dan rasa sakit berkurang. Namun dari data tersebut menunjukan bahwa presepsi negatif Negara Sunni terbaik pada masa dulu, kini tak ubahnya seperti masyarakat Palestina. Menyedihkan.

Apa motif genjatan senjata? Jelas yang lebih tahu negara-negara yang terlibat. Jika diperdalam lagi, yang lebih tahu segala sesuatu yang tersimpan dalam hati para pemimpin yang terlibat, malaikat roqib dan atib, serta Sang Pencipta. Kita hanya kebagian nonton mereka di Media Sosial dengan segala keberagaman emosional yang ditumpahkan melalui beragam postingan. Ma’lum lah, kalau mendengar negara Israel “bawaan” hati nya ingin marah-marah terus. Meskipun juga ada yang senang juga terhadap Israel. Ma’lum lah, manusia itu bermacam-macam jalan berfikirnya.

Keberagaman alur pikiran manusia semakin jelas pasca genjatan senjata mulai bermunculan. Bisa karena faktor kebebasan berfikir, bisa juga karena kekolotan bertaklid tanpa perlu serius berfikir lagi, bisa juga karena ingin pansos untuk menaikan viewer. Konten sudah sebagai bagian dari profesi di era komunikasi saat sekarang ini.

Kelompok pertama, ada yang memberi komentar penuh kegembiraan. Ia melihat perang Iran-Israel dianggap sama-sama musuh nya Allah. Keduanya perang malah bersyukur. Kelompok ini menganggap Iran dan Israel sama-sama kafir. Iran yang merupakan bagian dari umat Islam -ada tambahan syi’ah – dianggap sesat semua. Padahal jika dilihat dari kesamaan nya, antara Sunni dan Syiah Tuhan sama yaitu Allah SWT, Nabi nya juga sama yaitu Muhammad SAW , dan haji nya juga sama yaitu sama-sama ke Baitullah. Kelompok ini saya lihat di FB kelompok puritan yang mengatasnamakan diri sebagai kaum salafiyun. Kelompok ini sudah mengangagap tauhid nya kaum muslim Iran sudah melenceng.

Kelompok kedua, ada komentar penuh kebingungan memposisikan status Iran, apakah negara tersebut sebagai bagian dari negara yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina apa tidak. Kebingungan kelompok ini bukan karena tidak mengetahui fakta sejarah perjuangan bangsa Iran memperjuangkan kemerdekaan Palestina -bahkan sampai perang dan konfrontasi dengan AS dan Israel sejak tahun 1979 -tapi keberanian Iran menenggelamkan konsep khilafah Islamiyah yang sering nyaring di medsos. Padahal kita sama-sama ma’lum, betapa gencarnya kelompok ini melakukan perlawanan kepada Israel sangat masif. Namun faktanya, Gerakan head to head kelompok ini mengahadapi tentara Israel tidak pernah ada dalam sejarah perjuangan rakyat Palestina. Ia masih sebatas penanaman ideologi kepada masyarakat (sayangnya, terlalu banyak konsep khilafah Islamiyah di Indonesia seperti DI/TTI, Jamaah Islamiyah, Majelis Muslimin Indonesia, Khilafah Islamiyah di Lampung dan lain-lain.

Negara Islam yang berani menentang AS dan Israel yaitu negara Irak dan Libya. Kini kedua negara tersebut telah ditekuk oleh AS. Satu-satu nya negara yang masih eksis hingga kini yaitu negara Iran.

Kelompok ketiga, adalah kaum rasionalis. Bisa jadi mereka bagian dari kelompok di atas yang moderat dan masyarakat muslim yang masuk pada ormas-ormas Islam moderat dan tidak terikat ormas Islam. Mereka cara berfikir simpel. Israel musuh Islam dan penjahat perang. Siapapun yang melawan Israel dan bertempur melawan nya akan tetap didukung.

Kelompok keempat, kaum sufi. Ada nya perang dengan tidak adanya Perang Iran-Israel perasaannya biasa-biasa saja. Ia tidak membutuhkan analisis yang mendalam dan tidak perlu berfikir terlalu kritis dengan segala teori-teori para ilmuwan. Kata kunci yang selalu dipegang yaitu: “Semua sudah diatur oleh Allah SWT”.

Kelompok kelima merupakan kelompok -anggap saja disebut kaum proletar -yang pusing akibat perang apa-apa jadi mahal-mahal, cari kerja pun susah. Semakin lama perang semakin menderita. Pikirannya sudah tidak peduli terhadap di sekitarnya. Yang terpenting kebutuhan hidup sehari-hari bisa aman. Istri senang, anak kenyang. Ketika ada seseorang bertanya tentang Perang Iran-Israel, dia pun menjawab asal-asalah: “ora urus, ora pate en, sing penting dapur ku bisa ngebul!”.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875