
Penganut agama Islam sejak dulu hingga
sekarang ini tidak lepas dari berbagai ujian dan tantangan hidup yang tidak
ringan dalam mempertahankan hidup nya. Beragam godaan datang dari kaum yang
tidak suka terhadap kebenaran ilahiyah. Mereka terus melakukan upaya untuk
menghancurkan keimanan dari dalam dada nya. Mereka meniupkan kenikmatan dunia
dengan segala fasilitasnya. Tujuannya agar kembali kafir. Dan saat mereka
kafir, maka mereka-umat Islam yang kembali kafir-akan ditertawakan dan
dibiarkan menderita.
Jika toh tidak menderita, orang-orang
seperti ini akan dijadikan agen doktrin kaum kafirin untuk memromosikan sebagai
iklan tentang keindahan dunia, dan menceritakan penderitaan mereka saat
menganut agama Islam.
Allah SWT telah menjelaskan hal tersebut
dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 109 sebagai berikut:
وَدَّ كَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ
اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًاۚ حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّۚ فَاعْفُوْا وَاصْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ
بِاَمْرِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ١٠٩
Artinya:
Banyak di antara Ahlulkitab menginginkan
agar mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman menjadi kafir kembali
karena rasa dengki dalam diri mereka setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka,
maafkanlah (biarkanlah) dan berlapang dadalah (berpalinglah dari mereka)
sehingga Allah memberikan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas
segala sesuatu.
Penulis teringat ujian Nabi Muhammad SAW
ketika menyebarkan kebenaran ilahiyah. Kaum kafirin melakukan berbagai upaya
untuk menghentikan dakwah nya. Para tokoh pemuka kaum kafirin berjanji memberikan
fasilitas dunia, kekayaan, jabatan dan wanita-wanita yang tercantik di Tanah
Arab. Pendek kata, seluruh kenikmatan dunia bisa diperoleh dengan sekejap jika
Nabi Muhammad SAW meninggalkan dakwah Ilahiyah.
Nabi Muhammad SAW menolaknya. Ia berkata:
"Demi Allah wahai pamanku! Seandainya
mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar
aku meninggalkan dakwah ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah
memenangkannya atau aku binasa karenanya.”
Ketika penulis membuka kisah keteguhan
dakwah kanjeng Nabi Muhammad SAW, hati terasa damai terhadap ujian hidup yang
sering silih berganti. Kita memang bukan seorang Nabi dan tidak akan menjadi
Nabi. Ujian hidup tentu tidak sedahsyat Nabi. Namun keteguhan hati memasrahkan
diri kepada Allah dalam melihat kehidupan di dunia ini merupakan suatu
pembelajaran yang sangat agung agar kita belajar dari nya.
Era modern telah menjadi babak baru ujian
kehidupan yang semakin hebat. Dunia digital telah menampilkan kondisi ekonomi
dan politik global semakin kacau, tentang persaingan hidup, tentang sulitnya
mencari pekerjaan, tentang semakin sempit wilayah tempat tinggal kita dan
tentang bayang-bayang ancaman geopolitik jika tiba-tiba terjadi perang dunia
ketiga; perang dengan tenaga nuklir. Kondisi alam seperti ini terkadang
menyebabkan hati kita ciut, gelisah dan takut tidak berkesudahan.
Pikiran manusia dan psikologi nya
benar-benar dihantam sedemikian hebat. Kondisinya seperti ikan berada dalam
timba. Lalu air diputar terus menerus sehingga ikan-ikan tersebut pun akan
mengalami stress dan traumatic yang berkepanjangan.
Pada saat kondisi seperti ini,
negara-negara adi kuasa tampil seperti pahlawan. Mereka menawarkan berita
gembira berupa fasilitas dunia. Orang-orang yang sedang terjepit ekonomi dan membutuhkan
ketenangan dan kebahagiaan hidup akan menyambutnya tawaran-tawaran tersebut.
Sebenarnya, semua tawaran-tawaran yang
diberikan oleh nya hanya sebatas umpan dalam mata pancing. Kenikmatan yang
ditawarkan hanya sebatas seekor cacing di ujung mata pancing. Bagi ikan, seekor
cacing adalah kenikmatan besar, tapi bagi pemilik pancing satu ekor cacing
tidak ada gunannya sama sekali.
Negara-negara adi kuasa menciptakan hidup
hedonisme. Semua kesenangan diukur dengan keindahan dunia: rumah mewah,
kendaraan mahal, alat komunikasi bergengsi, dan pekerjaan bergengsi. Semua di
desain sebagai gaya hidup ala modern. Padahal semua itu jebakan, tapi kita
tidak menyadari hal tersebut.
Lalu, mereka pun membuat rekayasa baru
dengan nama-nama yang mengerikan: krisis moneter, bencana covid-19, kekeringan
masalah, dan krisis pangan. Pada saat itu, muncul efek domino dari semua krisis
yaitu pengangguran dan ekonomi. Terjadilah kekacauan dimana-mana. Tidak lagi
mengenal saudara. Semua ingin menyelamatkan diri. Dunia benar-benar didesain
seolah-olah sangat menakutkan.
Hanya orang-orang yang benar-benar beriman selalu
berpegang teguh terhadap prinsip-prinsip tauhid. Tidak takut dalam menelusuri
ketentuan-ketentuan yang Allah berikan kepada nya. Mereka terus berusaha,
belajar, bekerja dan terus memperbaiki kualitas diri. Bukan sebagai tujuan
hidup, tapi strategi diri mempersembahkan karya terbaik di dunia dalam merealisasikan
perintah Allah yaitu melakukan jihad dan ijtihad peradaban.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Menanamkan Keyakinan Akan Pertolongan Allah
21 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   87
Gara-Gara Kursi Xi Jinping dan Trump
19 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   164
Sholat, Zakat dan Pendidikan
18 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   123
Mengelola Taman Surga
14 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   228
Rencana-Rencana Tuhan
12 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   226
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13762
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4817
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3785
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3464
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3165