Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

338 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mengelola Taman Surga



Kamis , 14 Mei 2026



Telah dibaca :  152

Sejak pagi-sebelum subuh-hujan deras membasahi bumi. Terdengar nyanyian suara Katak tanpa henti. Penuh kebahagiaan. Tidak peduli seperti apa situasinya. Tidak peduli pagi ini rupiah telah tembus Rp. 17.500. kawanan Katak terus saja dzikrullah-dzikir kepada Allah- sebagaimana firman-Nya pada Q.S. Al-Isra ([17]::44) sebagai berikut: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.

Bisakah kita sumeleh dengan segala fenomena alam semesta ini yang terkadang menyesakan dada. Bisakah kita hidup dengan menghadapi segala problematika yang sangat komplek dengan penuh kesadaran bahwa semua merupakan jalan untuk semakin dewasa. Bisakah kita menjadikan semua kejadian yang kita rasakan saat sekarang ini menjadi bagian kita semakin mengenal Allah dan hati semakin jembar-lapang dada.

Alam semesta telah mengajarkan kesiapan diri  tentang pentingnya menghindari tipu daya dunia yang menyebabkan kita terpecah belah. Allah tidak menghendaki kita seperti umat yahudi yang telah bertengkar terus-menerus karena persoalan dunia dengan segala macam jenis dan namanya.

Tuhan telah mengajarkan melalui firman-firman-Nya kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya tentang tipu daya permainan dari Kaum Yahudi. Permainan kata dan perbuatan. Terlalu banyak janji tentang hal-hal yang menggiurkan kepada-nya tentang indah nya kehidupan. Namun kanjeng Nabi sangat istiqomah berada dalam jalan-jalan Tuhan-Syariat Islam. Ia tenang menghadapi persoalan. Ketenangan pun ditularkan kepada para sahabat-sahabatnya. Saat mereka mendapatkan sanksi dari kaum kafirin dan yahudi tentang pemutusan kehidupan, tentang sulitnya ekonomi. Nabi dan sahabat-sahabat nya senantiasa ikhtiar menyelesaikan berbagai problematika kehidupan dengan  senantiasa memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Allah telah berfiman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 108 sebagai berikut:

اَمْ تُرِيْدُوْنَ اَنْ تَسْـَٔلُوْا رَسُوْلَكُمْ كَمَا سُىِٕلَ مُوْسٰى مِنْ قَبْلُۗ وَمَنْ يَّتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ ۝١

Artinya:

Ataukah kamu menghendaki untuk meminta Rasulmu (Nabi Muhammad) seperti halnya Musa (pernah) diminta (Bani Israil) dahulu? Siapa yang mengganti iman dengan kekufuran, sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Ayat tersebut menunjukan kesalahan berulang-ulang dilakukan oleh Kaum Yahudi-Bani Israel- dari dulu hingga saat sekarang ini. Selalu saja memberi kabar gembira, tapi selalu saja yang hadir adalah penderitaan. Mereka selalu membawa berita angin surga, tapi faktanya hembusan api neraka. Mereka selalu memberikan janji-janji tentang hijau nya ladang kurma, perkebunan yang luas dan peradaban yang memuncak, tapi yang diberikan kepada kita adalah kota-kota yang gersang, panas dan perkebunan yang kering tidak ada hasil yang memuaskan.

Dalam konteks yang lebih luas, kaum yahudi telah menancapkan kuku kekuasaan di hampir seluruh belahan dunia. Mereka sangat mudah memberikan kabar gembira kepada setiap bangsa dan negara. Mereka juga sangat mudah memutarbalikan fakta kabar gembira menjadi jurang neraka yang sangat mengerikan kepada negara-negara yang ada dalam pelukan kekuasaan. Negara-negara tersebut seperti terkena candu narkoba. Saat mengkonsumsinya terasa indah isi dunia. Saat tidak mengkonsuminya, seluruh tubuh terasa sakit. Nafsu dan pikiran ingin terus merasakan narkoba. Bahkan menjual seluruh apa yang ia punya pun rela hanya sekadar untuk menuruti nafsunya, yaitu mendapatkan segenggam narkoba.

Allah mengajarkan kepada umat Islam agar tidak mudah tergiur oleh bujuk rayu mereka-kaum yahudi-sebagaimana mereka telah lakukan pada masa Nabi Musa. Mereka mencoba membuat rekayasa kehidupan untuk menukar keimanan dengan kebahagiaan dunia-yang sebenarnya hanya sebatas fatamorgana.

Hidup, dalam kondisi apapun harus tetap berpegang pada kalimat tauhid. Semua pekerjaan yang kita lakukan tidak boleh menjadikan diri semakin jauh dari-Nya. Justru sebaliknya, harus semakin dekat dengan-Nya. Kesulitan ekonomi, pendidikan, lapangan kerja, mengelola organisasi, lembaga dan sebagainya adalah bagian dari operasional kemampuan kita masing-masing. Semakin banyak belajar tentang kehidupan, semakin bisa mengurangi berbagai persoalan. Tentu saja, ruh penyelesai semua itu adalah kesadaran bersama untuk sama-sama kembali kepada ajaran yang teragung yaitu agama Islam. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Rencana-Rencana Tuhan
12 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   161

Stabilitas Cinta
12 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   151

Kedengkian yang Menular
04 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   142

Pembunuhan Karakter Kaum Yahudi terhadap Nabi
28 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   97

Menumbuhkan Optimisme dalam Setiap Aktivitas
22 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13729


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4760


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3097