
Tulisan lalu telah membahas artikel dengan
judul “Kedengkian Yang Menular”. Ini sebenarnya berawal dari pertarungan
dua nafsu pada diri manusia: nafsu mutmainah dan nafsu sayyiah. Nafsu
mutmainah merupakan cermin dari keseluruhan jasad dan ruh pada diri manusia
yang telah damai dengan dirinya sendiri. Sedangkan nafsu sayyiah merupakan
cermin dari proses pencarian diri jasad dan ruhaniah untuk menemukan kedamaian
batin, hanya saja masih gagal dan terus gagal.
Ini yang saya bisa pahami pada Surat
Al-Baqarah ayat 106 sebagai berikut:
۞ مَا نَنْسَخْ مِنْ اٰيَةٍ اَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ
مِّنْهَآ اَوْ مِثْلِهَاۗ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرٌ ١٠٦
Artinya:
Ayat yang Kami nasakh (batalkan) atau Kami
jadikan (manusia) lupa padanya, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau
yang sebanding dengannya. Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Allah Mahakuasa
atas segala sesuatu?
Ayat tersebut secara tekstual berangkat
dari asbabul nuzul sikap Kaum Yahudi yang menilai inkonsisten Kanjeng Nabi
Muhammad terhadap para sahabat nya. Pada saat tertentu, Nabi mengatakan “begini”,
lain waktu ia berkata “begitu”. Sebagian kaum Yahudi mengejek dan menjadi peristiwa
tersebut bahan olok-olokan. Mereka menuduh Nabi sebagai seorang pembual,
penipu, pembohong dan orang yang tidak pantas untuk menjadi suri tauladan.
Padahal pembatalan aturan-nasakh-dalam
firman-firman Allah sebenarnya untuk kebaikan nabi dan sahabat-sahabatnya. Ini adalah
desain Allah, bukan kemauan Nabi. Allah mempunyai rencana yang lebih baik dari
sebelumnya. Allah telah mengajarkan kepada Nabi dan umat manusia bahwa dalam
kehidupan sehari-hari persoalan nasakh-mansukh merupakan sesuatu hal
yang alamiah dan pasti terjadi.
Kebaikan tidak selalu diartikan “satu kata
satu perbuatan”, apa yang ada dalam ayat, itu yang harus dilakukan. Kebaikan adalah
kemampuan memahami munasabah ayat sehingga bisa menangkap pesan kebaikan
yang komprehensif. Saat ada aturan sudah tidak sesuai lagi, maka perlu ada nasakh
agar kebaikan-kebaikan tetap relevan dan semakin lebih bermakna dalam
kebaikan-kebaikan.
Nasakh ayat Al-Qur’an bagi Allah yang
disampaikan oleh nabi kepada para sahabatnya adalah bentuk cinta sejati. Adanya
kasih sayang yang mendalam terhadap umat manusia, Allah melakukan suatu
perubahan-perubahan aturan yang dibuatnya. Dari sini penulis memahami bahwa
aturan atau apapun yang tertulis di depan kita terkadang membutuhkan suatu
pemahaman bersama untuk menerapkan aturan tersebut sebagai aturan tertulis dan
sekaligus kesepakatan bersama agar ada pembatas tafsir-tafsir yang tidak
bertanggungjawab dalam suatu kehidupan dengan batas-batas tertentu.
Ketika Tuhan memerintah sholat menghadap Masjid
Al-Aqsha dan kemudian hari memerintah untuk menghadap ke Masjid Haram merupakan
kebaikan satu menuju kepada kebaikan yang lebih besar. Ini bisa dilihat dengan
baik bagi orang-orang yang hatinya penuh dengan cinta. Ini hanya bisa dibaca oleh
orang-orang yang bisa memahami hikmah dari setiap perjalanan kehidupan
peradaban manusia.
Kini kita bisa melihat sama-sama suatu
fakta sejarah tentang cinta palsu dari sebagian kaum yahudi tentang agama dan
politik.
Jika hari ini umat Islam tetap sholat
menghadap ke Baitul Maqdis, maka legitimasi politik dan agama kaum yahudi jauh
lebih besar. Klaim tentang chauvinisme etnis, kebenaran dan keunggulan
kaum yahudi atas kejadian ritual tersebut menjadi pembenar sangat kuat bahwa Islam
harus tunduk terhadap pemahaman-pemahaman agama versi mereka dan menempatkan
agama terakhir-agama Islam-sebagai bagian sub ajaran agama dari kaum yahudi. Sebab
Palestina dan Baitul Maqdis bagi kaum yahudi adalah negara dan tempat ibadah
yang sangat sakral dan tempat-Negara- yang dijanjikan Tuhan untuk generasi nya.
Dari nasakh ini Tuhan membuka kepalsuan
cinta sebagian kaum yahudi yang selalu merindukan kedatangan Nabi Muhammad. Tapi
saat ia datang ke muka bumi, seluruh ajaran agama Islam diolok-olok dengan
sangat tidak sopan.
Pada akhirnya, nasakh ayat Tuhan merupakan
realisasi nyata bahwa cinta sejati adalah konsistensi pada nilai-nilai kemanusiaan
yang selaras dengan pesan-pesan Tuhan. Perubahan peraturan merupakan bagian
dari cara menemukan cinta sejati tersebut. Tentu saja cinta sejati muncul bukan
hanya dalam bentuk tataran fisik dalam wujud kemesraan dan cumbu rayu atau
memadu kasih dengan liar. Cinta sejati adalah keteguhan untuk mengabdi kepada-Nya
dalam kehidupan sosial dalam upaya membangun nilai-nilai kebaikan yang bisa
dinikmati bersama.
Jika itu diwujudkan, maka para pencari
cinta sejati harus siap menerima resiko, yaitu ujian-ujian kehidupan yang lebih
dahsyat sebagaimana ujian kaum muslimin terhadap kejahatan-kejahatan yang
dilakukan oleh sebagian kaum yahudi untuk menghancurkan umat Islam dengan beragam
cara. Sebab cinta sejai membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak
selalu indah. Bahkan kadang sebaliknya. Bukankah Tuhan telah berfiman kecintaan
kita kepada-Nya akan melalui lautan ujian?
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Mengelola Taman Surga
14 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   152
Rencana-Rencana Tuhan
12 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   160
Kedengkian yang Menular
04 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   142
Pembunuhan Karakter Kaum Yahudi terhadap Nabi
28 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   97
Menumbuhkan Optimisme dalam Setiap Aktivitas
22 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13729
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4757
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3727
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3391
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3097