Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

338 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Stabilitas Cinta



Selasa , 12 Mei 2026



Telah dibaca :  142

Tulisan lalu telah membahas artikel dengan judul “Kedengkian Yang Menular”. Ini sebenarnya berawal dari pertarungan dua nafsu pada diri manusia: nafsu mutmainah dan nafsu sayyiah. Nafsu mutmainah merupakan cermin dari keseluruhan jasad dan ruh pada diri manusia yang telah damai dengan dirinya sendiri. Sedangkan nafsu sayyiah merupakan cermin dari proses pencarian diri jasad dan ruhaniah untuk menemukan kedamaian batin, hanya saja masih gagal dan terus gagal.

Ini yang saya bisa pahami pada Surat Al-Baqarah ayat 106 sebagai berikut:

۞ مَا نَنْسَخْ مِنْ اٰيَةٍ اَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَآ اَوْ مِثْلِهَاۗ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۝١٠٦

Artinya:

Ayat yang Kami nasakh (batalkan) atau Kami jadikan (manusia) lupa padanya, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?

Ayat tersebut secara tekstual berangkat dari asbabul nuzul sikap Kaum Yahudi yang menilai inkonsisten Kanjeng Nabi Muhammad terhadap para sahabat nya. Pada saat tertentu, Nabi mengatakan “begini”, lain waktu ia berkata “begitu”. Sebagian kaum Yahudi mengejek dan menjadi peristiwa tersebut bahan olok-olokan. Mereka menuduh Nabi sebagai seorang pembual, penipu, pembohong dan orang yang tidak pantas untuk menjadi suri tauladan.

Padahal pembatalan aturan-nasakh-dalam firman-firman Allah sebenarnya untuk kebaikan nabi dan sahabat-sahabatnya. Ini adalah desain Allah, bukan kemauan Nabi. Allah mempunyai rencana yang lebih baik dari sebelumnya. Allah telah mengajarkan kepada Nabi dan umat manusia bahwa dalam kehidupan sehari-hari persoalan nasakh-mansukh merupakan sesuatu hal yang alamiah dan pasti terjadi.

Kebaikan tidak selalu diartikan “satu kata satu perbuatan”, apa yang ada dalam ayat, itu yang harus dilakukan. Kebaikan adalah kemampuan memahami munasabah ayat sehingga bisa menangkap pesan kebaikan yang komprehensif. Saat ada aturan sudah tidak sesuai lagi, maka perlu ada nasakh agar kebaikan-kebaikan tetap relevan dan semakin lebih bermakna dalam kebaikan-kebaikan.

Nasakh ayat Al-Qur’an bagi Allah yang disampaikan oleh nabi kepada para sahabatnya adalah bentuk cinta sejati. Adanya kasih sayang yang mendalam terhadap umat manusia, Allah melakukan suatu perubahan-perubahan aturan yang dibuatnya. Dari sini penulis memahami bahwa aturan atau apapun yang tertulis di depan kita terkadang membutuhkan suatu pemahaman bersama untuk menerapkan aturan tersebut sebagai aturan tertulis dan sekaligus kesepakatan bersama agar ada pembatas tafsir-tafsir yang tidak bertanggungjawab dalam suatu kehidupan dengan batas-batas tertentu.

Ketika Tuhan memerintah sholat menghadap Masjid Al-Aqsha dan kemudian hari memerintah untuk menghadap ke Masjid Haram merupakan kebaikan satu menuju kepada kebaikan yang lebih besar. Ini bisa dilihat dengan baik bagi orang-orang yang hatinya penuh dengan cinta. Ini hanya bisa dibaca oleh orang-orang yang bisa memahami hikmah dari setiap perjalanan kehidupan peradaban manusia.

Kini kita bisa melihat sama-sama suatu fakta sejarah tentang cinta palsu dari sebagian kaum yahudi tentang agama dan politik.

Jika hari ini umat Islam tetap sholat menghadap ke Baitul Maqdis, maka legitimasi politik dan agama kaum yahudi jauh lebih besar. Klaim tentang chauvinisme etnis, kebenaran dan keunggulan kaum yahudi atas kejadian ritual tersebut menjadi pembenar sangat kuat bahwa Islam harus tunduk terhadap pemahaman-pemahaman agama versi mereka dan menempatkan agama terakhir-agama Islam-sebagai bagian sub ajaran agama dari kaum yahudi. Sebab Palestina dan Baitul Maqdis bagi kaum yahudi adalah negara dan tempat ibadah yang sangat sakral dan tempat-Negara- yang dijanjikan Tuhan untuk generasi nya.

Dari nasakh ini Tuhan membuka kepalsuan cinta sebagian kaum yahudi yang selalu merindukan kedatangan Nabi Muhammad. Tapi saat ia datang ke muka bumi, seluruh ajaran agama Islam diolok-olok dengan sangat tidak sopan.

Pada akhirnya, nasakh ayat Tuhan merupakan realisasi nyata bahwa cinta sejati adalah konsistensi pada nilai-nilai kemanusiaan yang selaras dengan pesan-pesan Tuhan. Perubahan peraturan merupakan bagian dari cara menemukan cinta sejati tersebut. Tentu saja cinta sejati muncul bukan hanya dalam bentuk tataran fisik dalam wujud kemesraan dan cumbu rayu atau memadu kasih dengan liar. Cinta sejati adalah keteguhan untuk mengabdi kepada-Nya dalam kehidupan sosial dalam upaya membangun nilai-nilai kebaikan yang bisa dinikmati bersama.

Jika itu diwujudkan, maka para pencari cinta sejati harus siap menerima resiko, yaitu ujian-ujian kehidupan yang lebih dahsyat sebagaimana ujian kaum muslimin terhadap kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh sebagian kaum yahudi untuk menghancurkan umat Islam dengan beragam cara. Sebab cinta sejai membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak selalu indah. Bahkan kadang sebaliknya. Bukankah Tuhan telah berfiman kecintaan kita kepada-Nya akan melalui lautan ujian?



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Mengelola Taman Surga
14 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   152

Rencana-Rencana Tuhan
12 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   160

Kedengkian yang Menular
04 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   142

Pembunuhan Karakter Kaum Yahudi terhadap Nabi
28 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   97

Menumbuhkan Optimisme dalam Setiap Aktivitas
22 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13729


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4757


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3097