
Jika tulisan sebelumnya tentang pertarungan
antara nafsu mutmainah dan sayyiah, maka pada tulisan ini saya
membuat judul:”Rencana-Rencana Tuhan”.
Tulisan ini mengajak untuk merefleksi diri
masing-masing tentang apa yang telah kita lakukan dan apa implikasi pada diri
kita: pikiran, suasana hati, kedamaian batin, kesehatan dan hubungan sosial
yang lebih luas.
Dalam kehidupan sehari-hari selalu saja ada
masalah. Bahkan Ketika kita mengucapkan: “Saya tidak ingin terlibat pada masalah
itu”, sebenarnya juga sedang membuat masalah baru pada sisi tertentu. Anda seorang
manager, pemimpin, orang kaya raya atau apalah namanya. Ketika ada suatu persoalan
yang sangat pelik, lalu anda ingin mencoba untuk menghindari persoalan tersebut
sebenarnya pada sisi lain anda sedang membuat persoalan baru. Tapi anda tidak
menyadarinya.
Seperti anda melihat kotoran binatang di
tempat ibadah. Anda cuma melihat dan menghindarinya. Mungkin anda nyaman dan
merasa senang-senang saja. Toh anda tetap bisa ibadah dengan khusu’. Sikap anda
seolah-olah -menghindari kotoran tersebut- bisa dibenarkan.
Setelah selesai sholat, anda duduk-duduk di
masjid. Tiba-tiba serombongan anak kecil
bermain-main di tempat ibadah dan menginjak-nginjak kotoran tersebut. Sehingga seluruh
lantai tersebut kotor dan najis.
Anda kaget. Gelisah. Dan merasa bersalah melihat
kejadian tersebut. Muncul rasa menyesal dan hati anda pun berkata: “Seandainya
sejak tadi kotoran binatang itu dibuang, mungkin tidak terjadi seperti ini”.
Tuhan telah mengajarkan pola hidup sangat
progresif. Dalam Q.S. Al-Insyirah([94]:7)
berbunyi: “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah
bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.
Tuhan mengajarkan kepada kita sebagai
manusia yang solutif. Sekecil apapun, dan dalam sekala apapun. Kecil menurut
mata manusia, besar dalam pandangan Allah. Meskipun kecil harus tetap
dimuliakan keberadaannya. Sebab membiarkan yang kecil -suatu saat- bisa menjadi
besar. Bahkan kadang yang kecil-kecil itu yang kadang membuat menjadi masalah
di suatu hari. Jadi yang dilihat pada sumbangsihnya, bukan pada jabatannya. Sebab
bagi Allah, kecil dan besar bukan ukuran. Allah hanya melihat pada kadar
ketakwaan nya. Indikatornya: ridha dan berdampak. Jika dua-duanya ada pada diri
manusia, maka Allah akan memberi penghargaan tertinggi, bukan -penghargaan- manusia.
Penghargaan tertinggi hanya milik Allah. Bahkan secara hakikat, semua yang ada
di dunia ini adalah milik-Nya. Allah telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat
107 sebagai berikut:
اَلَمْ
تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَمَا لَكُمْ مِّنْ
دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ ١
Artinya:
Apakah engkau
tidak mengetahui bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? (Ketahuilah
bahwa) tidak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah.
Tafsir tersebut
menurut Ibnu Abbas berangkat dari kasus Abdullah Ibn Ubay. Ia bagian kaum
munafikun. Ia mengajukan syarat kepada Nabi Muhammad untuk melakukan
hal-hal yang besar dan ajaib. Jika Sang Nabi bisa melakukan, maka ia akan
beriman kepada nya.
Disini ada dua
presepsi yang kontradiktif dalam memandang makna keagungan dalam kacamata hukum
Tuhan dan kaum materialisme. Bagi Ubay, ukuran kesuksesan berupa karya-karya
yang besar laksana balon udara-balon terbang-yang terlihat indah dipandang oleh
mata. Semua kagum melihat keindahannya di udara.
Padahal saat
balon terbang di udara dan tiba-tiba tertusuk dengan benda tajam, maka seketika
itu balon pun mengempes. Keindahan pun hancur lebur.
Jika kita bekerja,
berbuat orientasi nya hanya yang besar-besar saja dan lupa yang kecil-kecil -karena
dianggap remeh temeh- maka kita seperti sedang membangun Istana tanpa pondasi
yang kuat. Istana mungkin bisa dibangun, tapi kualitas nya sangat rapuh dan mudah
hancur.
Islam mengajarkan
kepada kita untuk melaksanakan job description masing-masing. Kebesaran dalam
Islam adalah kebesaran kolektif. Ketika anda disebut sebagai seorang manager
sukses-atau apalah namannya- sebenarnya di dalamnya ada unsur-unsur yang
terlihat remeh temeh: cleaning servis, ada tukang parkir, dan beragam
komponen yang menyebabkan kita dianggap sukses.
Karena itu, Islam
melihat pada kualitas nya. Kualitas lahir dan batin. Kualitas lahir yaitu terus
belajar dan tidak takut salah. Sebab kebenaran terlihat ketika kita telah melakukan
kesalahan. Belajar dan terus belajar sebagai aksi nyata wujud ketawadhuan dalam
memperbaiki kualitas diri semakin baik.
Sedangkan kualitas
batin yaitu selalu kembali sadar saat melakukan kesalahan dan cepat-cepat memperbaiki
dengan kebaikan-kebaikan. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Dan sebaik-baik
orang yang melakukan kesalahan yaitu adanya kemampuan diri bisa melihat kesalahan
tersebut dan tidak mengulangi lagi.
Walhasil, kita
-dalam kajian yang lebih mendalam- merupakan hamba-hamba Allah yang sedang
mempersembahkan karya terbaik di hadapan-Nya. Allah tidak pilih kasih. Semua di
kasih dan di sayang sesuai kadar kedekatan hamba kepada-Nya. Sebab hakikat
semua ini adalah milik Allah dan sedang mencari ridha-Nya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   65
Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   78
Ketika Musim Semi Tiba
06 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   173
Ketika Cinta Bertasbih
04 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   226
Islam dan Muslim
03 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   291
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14032
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5074
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      4907
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4133
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3725