Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

338 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Rencana-Rencana Tuhan



Selasa , 12 Mei 2026



Telah dibaca :  160

Jika tulisan sebelumnya tentang pertarungan antara nafsu mutmainah dan sayyiah, maka pada tulisan ini saya membuat judul:”Rencana-Rencana Tuhan”.

Tulisan ini mengajak untuk merefleksi diri masing-masing tentang apa yang telah kita lakukan dan apa implikasi pada diri kita: pikiran, suasana hati, kedamaian batin, kesehatan dan hubungan sosial yang lebih luas.

Dalam kehidupan sehari-hari selalu saja ada masalah. Bahkan Ketika kita mengucapkan: “Saya tidak ingin terlibat pada masalah itu”, sebenarnya juga sedang membuat masalah baru pada sisi tertentu. Anda seorang manager, pemimpin, orang kaya raya atau apalah namanya. Ketika ada suatu persoalan yang sangat pelik, lalu anda ingin mencoba untuk menghindari persoalan tersebut sebenarnya pada sisi lain anda sedang membuat persoalan baru. Tapi anda tidak menyadarinya.

Seperti anda melihat kotoran binatang di tempat ibadah. Anda cuma melihat dan menghindarinya. Mungkin anda nyaman dan merasa senang-senang saja. Toh anda tetap bisa ibadah dengan khusu’. Sikap anda seolah-olah -menghindari kotoran tersebut- bisa dibenarkan.

Setelah selesai sholat, anda duduk-duduk di masjid. Tiba-tiba  serombongan anak kecil bermain-main di tempat ibadah dan menginjak-nginjak kotoran tersebut. Sehingga seluruh lantai tersebut kotor dan najis.

Anda kaget. Gelisah. Dan merasa bersalah melihat kejadian tersebut. Muncul rasa menyesal dan hati anda pun berkata: “Seandainya sejak tadi kotoran binatang itu dibuang, mungkin tidak terjadi seperti ini”.

Tuhan telah mengajarkan pola hidup sangat progresif.  Dalam Q.S. Al-Insyirah([94]:7) berbunyi: “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.

Tuhan mengajarkan kepada kita sebagai manusia yang solutif. Sekecil apapun, dan dalam sekala apapun. Kecil menurut mata manusia, besar dalam pandangan Allah. Meskipun kecil harus tetap dimuliakan keberadaannya. Sebab membiarkan yang kecil -suatu saat- bisa menjadi besar. Bahkan kadang yang kecil-kecil itu yang kadang membuat menjadi masalah di suatu hari. Jadi yang dilihat pada sumbangsihnya, bukan pada jabatannya. Sebab bagi Allah, kecil dan besar bukan ukuran. Allah hanya melihat pada kadar ketakwaan nya. Indikatornya: ridha dan berdampak. Jika dua-duanya ada pada diri manusia, maka Allah akan memberi penghargaan tertinggi, bukan -penghargaan- manusia. Penghargaan tertinggi hanya milik Allah. Bahkan secara hakikat, semua yang ada di dunia ini adalah milik-Nya. Allah telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 107 sebagai berikut:

اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ ۝١

Artinya:

Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? (Ketahuilah bahwa) tidak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah.

Tafsir tersebut menurut Ibnu Abbas berangkat dari kasus Abdullah Ibn Ubay. Ia bagian kaum munafikun. Ia mengajukan syarat kepada Nabi Muhammad untuk melakukan hal-hal yang besar dan ajaib. Jika Sang Nabi bisa melakukan, maka ia akan beriman kepada nya.

Disini ada dua presepsi yang kontradiktif dalam memandang makna keagungan dalam kacamata hukum Tuhan dan kaum materialisme. Bagi Ubay, ukuran kesuksesan berupa karya-karya yang besar laksana balon udara-balon terbang-yang terlihat indah dipandang oleh mata. Semua kagum melihat keindahannya di udara.

Padahal saat balon terbang di udara dan tiba-tiba tertusuk dengan benda tajam, maka seketika itu balon pun mengempes. Keindahan pun hancur lebur.

Jika kita bekerja, berbuat orientasi nya hanya yang besar-besar saja dan lupa yang kecil-kecil -karena dianggap remeh temeh- maka kita seperti sedang membangun Istana tanpa pondasi yang kuat. Istana mungkin bisa dibangun, tapi kualitas nya sangat rapuh dan mudah hancur.

Islam mengajarkan kepada kita untuk melaksanakan job description masing-masing. Kebesaran dalam Islam adalah kebesaran kolektif. Ketika anda disebut sebagai seorang manager sukses-atau apalah namannya- sebenarnya di dalamnya ada unsur-unsur yang terlihat remeh temeh: cleaning servis, ada tukang parkir, dan beragam komponen yang menyebabkan kita dianggap sukses.

Karena itu, Islam melihat pada kualitas nya. Kualitas lahir dan batin. Kualitas lahir yaitu terus belajar dan tidak takut salah. Sebab kebenaran terlihat ketika kita telah melakukan kesalahan. Belajar dan terus belajar sebagai aksi nyata wujud ketawadhuan dalam memperbaiki kualitas diri semakin baik.

Sedangkan kualitas batin yaitu selalu kembali sadar saat melakukan kesalahan dan cepat-cepat memperbaiki dengan kebaikan-kebaikan. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan yaitu adanya kemampuan diri bisa melihat kesalahan tersebut dan tidak mengulangi lagi.

Walhasil, kita -dalam kajian yang lebih mendalam- merupakan hamba-hamba Allah yang sedang mempersembahkan karya terbaik di hadapan-Nya. Allah tidak pilih kasih. Semua di kasih dan di sayang sesuai kadar kedekatan hamba kepada-Nya. Sebab hakikat semua ini adalah milik Allah dan sedang mencari ridha-Nya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Mengelola Taman Surga
14 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   152

Stabilitas Cinta
12 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   143

Kedengkian yang Menular
04 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   142

Pembunuhan Karakter Kaum Yahudi terhadap Nabi
28 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   97

Menumbuhkan Optimisme dalam Setiap Aktivitas
22 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13729


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4757


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3097