
Hari ini saya sholat Jumat di Kapolres. Saya
menjadi khatib, dan ustadz Hamdani menjadi imam nya. Seperti biasa selepas
sholat “ngopi-ngopi” di Kedai Kapolres. Seperti biasa juga kami ngobrol
berkaitan isu-isu kriminal yang sering terjadi yaitu peredaran narkoba. Wilayah
Riau secara umum menjadi ancaman yang sangat serius. Apalagi Daerah Riau adalah daerah kepulauan. Banyak jalan tikus. Wilayah-wilayah seperti ini mempunyai
potensi besar menjadi target pemasaran narkoba internasional.
Narkoba menjadi ancaman besar terhadap eksistensi suatu bangsa. Di Indonesia, usia 15-64 yang terpapar narkoba sebanyak 4,8 juta jiwa. Kasus
terbesar di Jawa Timur berjumlah 7.060 kasus. Kasus di Riau masuk sepuluh besar
yaitu 1.910 kasus. Di kabupaten Kepulauan Meranti, pada tahun 2023 kasus tindak pidana
narkotika terdapat 15 kasus. Total barang yang diamankan berjumlah sebanyak
26.36 gram sabu, 0.70 gram ganja dan 45 butir pil ekstasi. Bahkan beberapa
waktu lalu, Kapolres telah mengamankan sekitar 1 kg narkoba jenis sabu. Secara umum,
angka kriminal tertinggi di Riau berkaitan dengan narkoba.
Jenis narkoba bermacam jenis dan pengaruhnya.
Ada narkoba pengaruhnya sebatas mata merah, muntah dan tertidur. Sudah cukup tidur, bangun dan
badan terasa segar. Meskipun demikian, ada pengaruhnya terhadap kesehatan akal.
Ada jenis narkoba yang pemakainya terlihat sehat, mata jernih dan punya
optimisme sangat tinggi. bahkan khayalannya bisa melintas batas kenormalan. Pemakainya
terasa selalu enjoy dan tidak ada beban dalam hidup. Seolah-olah dunia berada
di genggamannya. Celakanya, jika sudah habis reaksi obat di tubuh nya, dia
seolah-olah laksana bayi baru lahir. Tidak berdaya dan tidak punya pikiran masa
depan.
Bertambah hari dan bulan, bertambah para pengedar dan pengguna narkoba. Padahal semakin berat ancaman hukumanya. Disisi lain,
pembinaan mental melalui pendekatan psikologis dan agama sudah melimpah. Hasilnya
tidak berbanding lurus dengan kehidupan yang terlihat religius dan Islami. Mengapa
demikian?
Salah satu penyebabnya sebagian masyarakat
telah terinfeksi sabu-sabu spiritual. Mereka bukan pengguna narkoba, tapi
dampaknya bisa merusakan lebih besar dari pengguna narkoba. Secara fisik penampilan
gagah, religius, bekerja di perkantoran, pembisnis, para pejabat publik. Tapi
secara spiritual mereka adalah gambaran-gambaran orang-orang seperti seperti Namrud,
Fir’aun, Haman dan Qarun. Menyembah Tuhan, tapi hatinya penuh dengan harta,
tahta dan wanita. Berkali-kali pergi Umroh dan Haji. Doa berharap mabrur. Tapi porsi
nya lebih banyak ditekankan pada kesukesan dunia.
Padahal kecintaan terhadap semua itu
pangkal dari segala fitnah. Mematikan manisnya cahaya mahabbah kepada Allah dan
membuka mahabbah kepada dunia, serta menutup pintu-pintu persaudaraan. Kebenaran
tertutup, dan terbuka pintu fitnah dan permusuhan. Rasa kasih sayang, tawadhu
dan kebersihan hati berubah menjadi sombong, takabur, riya dan penyakit hati
lainnya.
Orang-orang seperti Fir’aun, Haman, Namrud,
dan Qarun adalah cermin pejabat, konglomerat dan intelektual. Tapi mereka
mendapatkan titel “mufsidiin” atau orang-orang yang membuat kerusakan. kenapa?
Sebab mereka telah terjangkit sabu-sabu spiritual seperti sombong, riya,
takabur, iri, dengki dan sejenisnya.
Sombong atau takabur bisa dari beberapa
pintu. Sombong karena merasa keturunan dari darah biru, mengaku habaib,
keturunan raja, sulthan dan sejenisnya. Dengan “embel-embel” gelar keturunan,
mereka membangun legitimasi spriritual dan menempatkan diri sebagai orang suci.
Melalui cara ini, mereka memanfaatkan manusia ‘am untuk tunduk taat kepada nya.
padahal tujuan sering hanya sebatas untuk kepentingan bersifat keduniaan.
Ada kesombongan karena jabatan. Sistem dibuat
agar semua menyembah terhadap keputusan dan kebijakannya. Jabatan adalah puncak
kenikmatan. Mengkritik kedudukannya, dianggap sebagai pengganggu eksistensinya.
Nasehat para cerdik pandai dan orang-orang lurus dianggap sebagai perilaku kriminal
dan subversi. Tanpa pikir panjang, para pengkritik di jebloskan ke dalam
penjara. Kisah ini sudah terekam dalam setiap perjalanan sejarah.
Ada kesombongan karena ilmu pengetahuan. Orang
menyebutnya kaum intelektual. Ucapan dan ide-idenya senantiasa mendapat standing
applause. Pendapatnya selalu dinanti-nantikan oleh pengagumnya. Lalu dengan
kedudukan ini, sedikit-demi sedikit merasa bahwa hujah dan permainan silat
lidah nya adalah kebenaran mutlak. Ironisnya kebablasan. Moralitas, etika dan
akhlak ditabrak. Identitasnya terbuka dengan sendirinya. Dia bukan orang yang
penuh ilmu, melainkan sedang cerita ilmu. dia hanya jasad yang sedang
mendongeng. Akhirnya, semakin terbuka, bahwa ilmu tanpa akhlak sebenarnya
adalah dongeng belaka. Sebab puncak ilmu ketika etika telah menjadi way of life
dari ahli ilmu itu sendiri.
Kisah-kisah kerusakan yang terekam dalam
kitab suci dan dalam perjalanan sejarah sebenarnya berawal dari manusia yang
telah terinfeksi sabu-sabu spiritual. Mereka hanyut dalam kenikmatan dunia yang
sementara, dan melupakan kenikmatan akherat yang kekal abadi. Kenikmatan dunia
merasa sebagai puncak kenikmatan abadi. Pemikiran seperti ini yang telah
menutup kebenaran sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Penulis : Imam Ghozali
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   116
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879