Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sabu-Sabu Spiritual



Sabtu , 12 Agustus 2023



Telah dibaca :  623

Hari ini saya sholat Jumat di Kapolres. Saya menjadi khatib, dan ustadz Hamdani menjadi imam nya. Seperti biasa selepas sholat “ngopi-ngopi” di Kedai Kapolres. Seperti biasa juga kami ngobrol berkaitan isu-isu kriminal yang sering terjadi yaitu peredaran narkoba. Wilayah Riau secara umum menjadi ancaman yang sangat serius. Apalagi Daerah Riau adalah daerah kepulauan. Banyak jalan tikus.  Wilayah-wilayah seperti ini mempunyai potensi besar menjadi target pemasaran narkoba internasional.

Narkoba menjadi ancaman besar terhadap eksistensi suatu  bangsa. Di Indonesia, usia 15-64 yang terpapar narkoba sebanyak 4,8 juta jiwa. Kasus terbesar di Jawa Timur berjumlah 7.060 kasus. Kasus di Riau masuk sepuluh besar yaitu 1.910 kasus. Di kabupaten Kepulauan Meranti, pada tahun 2023 kasus tindak pidana narkotika terdapat 15 kasus. Total barang yang diamankan berjumlah sebanyak 26.36 gram sabu, 0.70 gram ganja dan 45 butir pil ekstasi. Bahkan beberapa waktu lalu, Kapolres telah mengamankan sekitar 1 kg narkoba jenis sabu. Secara umum, angka kriminal tertinggi di Riau berkaitan dengan narkoba.

Jenis narkoba bermacam jenis dan pengaruhnya. Ada narkoba pengaruhnya sebatas mata merah, muntah dan tertidur. Sudah cukup tidur, bangun dan badan terasa segar. Meskipun demikian, ada pengaruhnya terhadap kesehatan akal. Ada jenis narkoba yang pemakainya terlihat sehat, mata jernih dan punya optimisme sangat tinggi. bahkan khayalannya bisa melintas batas kenormalan. Pemakainya terasa selalu enjoy dan tidak ada beban dalam hidup. Seolah-olah dunia berada di genggamannya. Celakanya, jika sudah habis reaksi obat di tubuh nya, dia seolah-olah laksana bayi baru lahir. Tidak berdaya dan tidak punya pikiran masa depan.

Bertambah hari dan bulan, bertambah para pengedar dan pengguna narkoba. Padahal semakin berat ancaman hukumanya. Disisi lain, pembinaan mental melalui pendekatan psikologis dan agama sudah melimpah. Hasilnya tidak berbanding lurus dengan kehidupan yang terlihat religius dan Islami. Mengapa demikian?

Salah satu penyebabnya sebagian masyarakat telah terinfeksi sabu-sabu spiritual. Mereka bukan pengguna narkoba, tapi dampaknya bisa merusakan lebih besar dari pengguna narkoba. Secara fisik penampilan gagah, religius, bekerja di perkantoran, pembisnis, para pejabat publik. Tapi secara spiritual mereka adalah gambaran-gambaran orang-orang seperti seperti Namrud, Fir’aun, Haman dan Qarun. Menyembah Tuhan, tapi hatinya penuh dengan harta, tahta dan wanita. Berkali-kali pergi Umroh dan Haji. Doa berharap mabrur. Tapi porsi nya lebih banyak ditekankan pada kesukesan dunia.

Padahal kecintaan terhadap semua itu pangkal dari segala fitnah. Mematikan manisnya cahaya mahabbah kepada Allah dan membuka mahabbah kepada dunia, serta menutup pintu-pintu persaudaraan. Kebenaran tertutup, dan terbuka pintu fitnah dan permusuhan. Rasa kasih sayang, tawadhu dan kebersihan hati berubah menjadi sombong, takabur, riya dan penyakit hati lainnya.

Orang-orang seperti Fir’aun, Haman, Namrud, dan Qarun adalah cermin pejabat, konglomerat dan intelektual. Tapi mereka mendapatkan titel “mufsidiin” atau orang-orang yang membuat kerusakan. kenapa? Sebab mereka telah terjangkit sabu-sabu spiritual seperti sombong, riya, takabur, iri, dengki dan sejenisnya.

Sombong atau takabur bisa dari beberapa pintu. Sombong karena merasa keturunan dari darah biru, mengaku habaib, keturunan raja, sulthan dan sejenisnya. Dengan “embel-embel” gelar keturunan, mereka membangun legitimasi spriritual dan menempatkan diri sebagai orang suci. Melalui cara ini, mereka memanfaatkan manusia ‘am untuk tunduk taat kepada nya. padahal tujuan sering hanya sebatas untuk kepentingan bersifat keduniaan.

Ada kesombongan karena jabatan. Sistem dibuat agar semua menyembah terhadap keputusan dan kebijakannya. Jabatan adalah puncak kenikmatan. Mengkritik kedudukannya, dianggap sebagai pengganggu eksistensinya. Nasehat para cerdik pandai dan orang-orang lurus dianggap sebagai perilaku kriminal dan subversi. Tanpa pikir panjang, para pengkritik di jebloskan ke dalam penjara. Kisah ini sudah terekam dalam setiap perjalanan sejarah.

Ada kesombongan karena ilmu pengetahuan. Orang menyebutnya kaum intelektual. Ucapan dan ide-idenya senantiasa mendapat standing applause. Pendapatnya selalu dinanti-nantikan oleh pengagumnya. Lalu dengan kedudukan ini, sedikit-demi sedikit merasa bahwa hujah dan permainan silat lidah nya adalah kebenaran mutlak. Ironisnya kebablasan. Moralitas, etika dan akhlak ditabrak. Identitasnya terbuka dengan sendirinya. Dia bukan orang yang penuh ilmu, melainkan sedang cerita ilmu. dia hanya jasad yang sedang mendongeng. Akhirnya, semakin terbuka, bahwa ilmu tanpa akhlak sebenarnya adalah dongeng belaka. Sebab puncak ilmu ketika etika telah menjadi way of life dari ahli ilmu itu sendiri.

Kisah-kisah kerusakan yang terekam dalam kitab suci dan dalam perjalanan sejarah sebenarnya berawal dari manusia yang telah terinfeksi sabu-sabu spiritual. Mereka hanyut dalam kenikmatan dunia yang sementara, dan melupakan kenikmatan akherat yang kekal abadi. Kenikmatan dunia merasa sebagai puncak kenikmatan abadi. Pemikiran seperti ini yang telah menutup kebenaran sepanjang sejarah kehidupan manusia. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   116

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879