Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sang Pembela Palestina Berdiri Sendiri Penuh Luka



Selasa , 13 Januari 2026



Telah dibaca :  461

Setelah Venezuela, Donald Trump menargetkan Iran jatuh ke dalam pelukannya. Bukan pelukan mesra, tapi pelukan maut. Ma’lum, sebagaimana Venezuela, Iran juga mempunyai paras yang sangat cantik di bidang Sumber Daya Alam-SDA, terutama minyak bumi. Jika dibandingkan dengan Venezuela, Iran memang kalah cantik. Venezuela saat ini merupakan negara yang mempunyai cadangan minyak tanah terbesar di dunia. Data yang dirilis oleh Tempo, rangking negara-negara yang mempunyai cadangan terbesar di dunia rangkin 1-10 yaitu:  Venezuela, Arab Saudi, Iran, Kanada, Irak, Uni Emirate Arab, Kuwait, Rusia, Libya, dan Amerika Serikat-AS.

Dari data tersebut, AS kalah jauh dari negara Venezuela dan negara-negara Timur Tengah. Tapi disisi lain, AS menang dalam Sumber Daya Manusia-SDM. Keterbukaan pemerintah menerima imigran dari berbagai bangsa di seluruh penjuru dunia, telah menjadi persaingan etnis-etnis unggul ingin menguasai negara tersebut. Kini, etnis yang sangat dominan menguasai kekuasaan di segala lini sektor kehidupan di negara Paman Sam adalah etnis dari bangsa Bani Israel-Kaum Yahudi. AS sebagai tempat terindah bagi etnis bani israel. Ada sekitar 7 juta lebih menjadi warga negara diaspora terbesar di seluruh negara di dunia.

Jika merujuk kepada sejarah, keterlibatan cinta palsu AS dengan negara-negara lain sudah berlangsung lama. Hampir semua negara yang mendapatkan angin segar cinta palsu selalu berakhir dengan kematian tragis. Jika toh tidak mati, paling tidak negara tersebut mengalami trauma berkepanjangan.

Pada tahun 1980-1988 terjadi perang antara Irak-Iran. Terkenal dengan perang teluk Persia. AS tampil laksana pemuda kaya raya, tampan, gagah berani, tangan berorot dan tahan bacok. Persis seperti film Rambo. Laksana seorang pahlawan. Anda lihat sendiri filmnya, Rambo bisa membunuh 100 pasukan hanya seorang diri-yang menyerangnya dari segala penjuru arah mata angin. Tapi, semua penonton merasa senang dan bangga atas kehebatan Sang Rambo. Kehebatan palsu. Meskipun palsu-sekali lagi -penonton sangat menikmatinya dan mengidolakanya.

Hal sama terjadi pada negara Irak. Ia merasa bahwa atas nama ideologi Sunni dan atas nama modernisasi negara 1001 malam tersebut, pemerintah Sadam Husein menerima rayuan AS menjadi sekutu. Irak dan AS sama-sama menyerang Iran. Irak menang, Iran hancur. Tapi ironisnya, kemenangan Irak harus menanggung beban utang besar kepada pemerintah Ronald Reagen.

Ketika Iran dan Irak sama-sama babak belur akibat perang, AS meninggalkan keduanya dalam keadaan menderita. Irak banyak utang. Ia ingin menaklukan negara tetangga, Kuwait. Dua tahun kemudian-1990- meletus perang Irak-Kuwait. AS sudah tidak lagi simpati kepada Irak. Sebab sudah babak belur dan sudah dalam genggaman kekuasaan SDA nya akibat hutang, maka AS tampil lagi bak seorang pahlawan. Dengan gombalan model “pemuda petualang cinta”, AS merayu Kuwait-laksana seorang gadis berumur seventeen. Rayuan gombal, rayuan maut membuat Kuwait “klepek-klepek”. Perang terjadi Irak-Kuwait. Kita tahu, Kuwait negara kecil bisa memenangkan perang menghadapi Irak. Tentu saja kita tahu, AS berada di belakang negara Kuwait.

Dari kisah di atas, negara-negara yang mempunyai SDA tinggi dan tidak mau kerjasama dengan AS, hampir bisa dipastikan akan menjadi musuhnya dengan seribu alasan. Semua akan dihancurkan. Ketika Irak pada masa Sadam Husein tidak tunduk terhadap AS dan Libya pada masa Moamar Kadafi tidak juga tunduk kepada AS, maka keduanya dihancurkan seluruh sendi-sendi tubuh nya. Keduanya akan cacat seumur hidup. Dan terus-menerus SDA akan menjadi “plorotan” dan dihisap habis oleh AS.

Kini ada satu negara yang masih berdiri seorang diri menentang terang-terangan terhadap imperialism gaya baru model AS, yaitu Iran. Sejak revolusi Iran tahun 1979, pemerintah Iran dengan tegas tidak mau tunduk terhadap kekuasaan AS dan Inggris. Tegas, jelas dan gagah berani.

AS mempunyai motivasi jelas yaitu menguasai minyak bumi dan SDA lain di negara-negara lain. Seluruh timur tengah telah selesai semua. Kini tinggal Iran yang belum tunduk. Cadangan minyak terbesar nomor tiga di dunia menjadi incaran AS untuk menguasai, menghancurkan dan menundukan pemerintah Iran dengan segala cara dan tipu daya.

Memang dari lintasan sejarah, ada persoalan etnis yang belum selesai yaitu persoalan perang bebuyutan antara Romawi dan Persia pada masa dulu. Keduanya berganti-ganti menang dan kalah dalam perang. Terakhir Romawi menang melawan Persia pada masa Nabi Muhammad SAW. Jadi sebenarnya ada persoalan chaouvinisme di antara dua etnis tersebut.

Kini Persia sudah tidak majuzi lagi, tapi sudah muslim-mayoritas muslim syi’ah minoritas sunni. Bangsa Romawi yang ada di AS kini berubah kaum bani Israel versi baru. Keduanya ingin menjadi penguasa tunggal. AS ingin menjadikan seluruh seluruh negara tunduk atas kekuatan saint dan teknologinya. Maka, Iran ingin menjadi pahlawan penyelamat ideologi agama Islam sesuai sumpah mereka sebagai penyambung lidah perjuangan Sayid Husain bin Ali yang meninggal di Padang Karbala.

Keteguhan menjaga etnis Persia yang dianggap sangat mulia plus keyakinan ajaran Islam yang telah diajarkan oleh Sayid Husain telah membentuk keberanian yang telah mengalir sejalan dengan aliran darah di tubuah masyarakat Iran. Ketika AS dan negara Israel terus-menerus mengacak-ngacak kondisi masyarakat Palestina, maka pemerintah Iran dengan tegas menyatakan perang atas kebrutalan kedua negara tersebut.

Bukan omong kosong, tapi nyata adanya. Saat masyarakat dunia-wabil khusus umat Islam- mengutuk kebrutalan negara Israel dan AS atas Palestina melalui media sosial, maka pemerintah Iran tegas dan terang-terangan perang melawan negara Israel. Tidak ada satupun negara Islam yang berani perang melawan negara Israel, kecuali negara Iran. Negara para mullah ini bergerak  tenang dan penuh keimanan bahwa membela rakyat Palestina -apapun agama dan alirannya- merupakan suatu kewajiban memberantas kebatilan di muka bumi sebagaimana yang telah diajarkan dalam ajaran Islam dan ulama-ulama mereka.

Kini AS dan negara Israel kembali lagi membangunkan singa Timur Tengah yang sedang tidur. Sayed Ali Kheimeni dengan penuh kewibawan menghadapi demonstrasi dan tekanan politik dari kedua negara tersebut. Dengan penuh luka, pancaran iman memancar terang menghadapi seorang diri kebrutalan dan kebiadaban dari kedua penugasa tersebut.

Sang pembela Palestina tetap tenang. Ia tidak memperdulikan apakah masyarakat dunia yang selalu bicara atas kemerdekaan Palestina membantu mereka melalui media sosial. Ia tidak memperdulikan sama sekali. Keyakinan kebenaran perjuangan yang telah mandarah daging telah membentuk jiwa jihad dan patriotisme siap mati membela negara nya dan agama Islam yang diyakini kebenarannya.

Memang pada wilayah ideologi masih terus terjadi perdebatan. Umat Islam masih terlalu alergi ketika membahas isu syi’ah dan sunni. Selalu saja yang ada dalam alam bawah sadar belum bisa menerima di masing-masing aliran pada sebagian kelompok masing-masing.

Tidak menerima masing-masing aliran untuk menyatakan bersatu dalam satu kesatuan umat Islam merupakan cara yang selalu diinginkan oleh AS, Inggris dan Israel. Isu murah tapi efektif untuk menghabiskan seluruh energi umat Islam terpecah belah. Isu yang sebenarnya remeh temeh, tapi ketika digoreng justru menjadi makanan yang super nikmat yang disajikan oleh bangsa-bangsa barat. Dan isu itu kini dibangkitkan lagi dengan ditambah bumbu-bumbu penyedapnya seperti isu tirani, kesenjangan sosial, ekonomi, HAM, dan narkoba.

Isu bumbu-bumbu penyedap ini pun akan terus dipromosikan oleh mereka ketika ingin menguasai negara-negara yang mereka inginkan. Kenyataannya bumbu penyedap tersebut memang paling nikmat ketika saat kondisi masyarakat sedang kelaparan dan kesusahan. Seperti kata pepatah “tidak ada akar rotan pun jadi”, “tidak ada kayu, rumput pun jadi pegangan” ketika hanyut dalam Sungai. Padahal kita mengetahui bahwa yang menjadi pegangan kita tidak bisa menyelematkan jiwa kita sendiri.

Kini Iran berpegang teguh dalam prinsip. Ia berdiri tegak dengan berpegang pada tongkat yang mereka buat sendiri. Berpegang prinsip kebenaran membela kedaulatan negaranya-termasuk palestina- adalah suatu kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar meskipun nyawa taruhannya. Sebuah prinsip yang sangat sulit ditemukan di saat dunia sedang dihadapkan pada pola imperialisme modern oleh negara-negara kuat.

Bandara Sultan Syarif Kasim Airport, 13 Januari 2026



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   218

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870