
Setelah Venezuela, Donald Trump menargetkan
Iran jatuh ke dalam pelukannya. Bukan pelukan mesra, tapi pelukan maut. Ma’lum,
sebagaimana Venezuela, Iran juga mempunyai paras yang sangat cantik di bidang Sumber
Daya Alam-SDA, terutama minyak bumi. Jika dibandingkan dengan Venezuela, Iran memang
kalah cantik. Venezuela saat ini merupakan negara yang mempunyai cadangan
minyak tanah terbesar di dunia. Data yang dirilis oleh Tempo, rangking
negara-negara yang mempunyai cadangan terbesar di dunia rangkin 1-10
yaitu: Venezuela, Arab Saudi, Iran,
Kanada, Irak, Uni Emirate Arab, Kuwait, Rusia, Libya, dan Amerika Serikat-AS.
Dari data tersebut, AS kalah jauh dari
negara Venezuela dan negara-negara Timur Tengah. Tapi disisi lain, AS menang
dalam Sumber Daya Manusia-SDM. Keterbukaan pemerintah menerima imigran dari
berbagai bangsa di seluruh penjuru dunia, telah menjadi persaingan etnis-etnis
unggul ingin menguasai negara tersebut. Kini, etnis yang sangat dominan
menguasai kekuasaan di segala lini sektor kehidupan di negara Paman Sam adalah
etnis dari bangsa Bani Israel-Kaum Yahudi. AS sebagai tempat terindah bagi
etnis bani israel. Ada sekitar 7 juta lebih menjadi warga negara diaspora
terbesar di seluruh negara di dunia.
Jika merujuk kepada sejarah, keterlibatan
cinta palsu AS dengan negara-negara lain sudah berlangsung lama. Hampir semua
negara yang mendapatkan angin segar cinta palsu selalu berakhir dengan kematian
tragis. Jika toh tidak mati, paling tidak negara tersebut mengalami trauma
berkepanjangan.
Pada tahun 1980-1988 terjadi perang antara Irak-Iran.
Terkenal dengan perang teluk Persia. AS tampil laksana pemuda kaya raya, tampan,
gagah berani, tangan berorot dan tahan bacok. Persis seperti film Rambo.
Laksana seorang pahlawan. Anda lihat sendiri filmnya, Rambo bisa membunuh 100
pasukan hanya seorang diri-yang menyerangnya dari segala penjuru arah mata
angin. Tapi, semua penonton merasa senang dan bangga atas kehebatan Sang Rambo.
Kehebatan palsu. Meskipun palsu-sekali lagi -penonton sangat menikmatinya dan
mengidolakanya.
Hal sama terjadi pada negara Irak. Ia
merasa bahwa atas nama ideologi Sunni dan atas nama modernisasi negara 1001
malam tersebut, pemerintah Sadam Husein menerima rayuan AS menjadi sekutu. Irak
dan AS sama-sama menyerang Iran. Irak menang, Iran hancur. Tapi ironisnya,
kemenangan Irak harus menanggung beban utang besar kepada pemerintah Ronald
Reagen.
Ketika Iran dan Irak sama-sama babak belur
akibat perang, AS meninggalkan keduanya dalam keadaan menderita. Irak banyak
utang. Ia ingin menaklukan negara tetangga, Kuwait. Dua tahun kemudian-1990-
meletus perang Irak-Kuwait. AS sudah tidak lagi simpati kepada Irak. Sebab
sudah babak belur dan sudah dalam genggaman kekuasaan SDA nya akibat hutang,
maka AS tampil lagi bak seorang pahlawan. Dengan gombalan model “pemuda
petualang cinta”, AS merayu Kuwait-laksana seorang gadis berumur seventeen.
Rayuan gombal, rayuan maut membuat Kuwait “klepek-klepek”. Perang
terjadi Irak-Kuwait. Kita tahu, Kuwait negara kecil bisa memenangkan perang
menghadapi Irak. Tentu saja kita tahu, AS berada di belakang negara Kuwait.
Dari kisah di atas, negara-negara yang
mempunyai SDA tinggi dan tidak mau kerjasama dengan AS, hampir bisa dipastikan
akan menjadi musuhnya dengan seribu alasan. Semua akan dihancurkan. Ketika Irak
pada masa Sadam Husein tidak tunduk terhadap AS dan Libya pada masa Moamar
Kadafi tidak juga tunduk kepada AS, maka keduanya dihancurkan seluruh
sendi-sendi tubuh nya. Keduanya akan cacat seumur hidup. Dan terus-menerus SDA
akan menjadi “plorotan” dan dihisap habis oleh AS.
Kini ada satu negara yang masih berdiri
seorang diri menentang terang-terangan terhadap imperialism gaya baru model AS,
yaitu Iran. Sejak revolusi Iran tahun 1979, pemerintah Iran dengan tegas tidak
mau tunduk terhadap kekuasaan AS dan Inggris. Tegas, jelas dan gagah berani.
AS mempunyai motivasi jelas yaitu menguasai
minyak bumi dan SDA lain di negara-negara lain. Seluruh timur tengah telah
selesai semua. Kini tinggal Iran yang belum tunduk. Cadangan minyak terbesar
nomor tiga di dunia menjadi incaran AS untuk menguasai, menghancurkan dan
menundukan pemerintah Iran dengan segala cara dan tipu daya.
Memang dari lintasan sejarah, ada persoalan
etnis yang belum selesai yaitu persoalan perang bebuyutan antara Romawi dan
Persia pada masa dulu. Keduanya berganti-ganti menang dan kalah dalam perang.
Terakhir Romawi menang melawan Persia pada masa Nabi Muhammad SAW. Jadi
sebenarnya ada persoalan chaouvinisme di antara dua etnis tersebut.
Kini Persia sudah tidak majuzi lagi, tapi
sudah muslim-mayoritas muslim syi’ah minoritas sunni. Bangsa Romawi yang ada di
AS kini berubah kaum bani Israel versi baru. Keduanya ingin menjadi penguasa tunggal.
AS ingin menjadikan seluruh seluruh negara tunduk atas kekuatan saint dan
teknologinya. Maka, Iran ingin menjadi pahlawan penyelamat ideologi agama Islam
sesuai sumpah mereka sebagai penyambung lidah perjuangan Sayid Husain bin Ali yang
meninggal di Padang Karbala.
Keteguhan menjaga etnis Persia yang
dianggap sangat mulia plus keyakinan ajaran Islam yang telah diajarkan oleh
Sayid Husain telah membentuk keberanian yang telah mengalir sejalan dengan
aliran darah di tubuah masyarakat Iran. Ketika AS dan negara Israel terus-menerus
mengacak-ngacak kondisi masyarakat Palestina, maka pemerintah Iran dengan tegas
menyatakan perang atas kebrutalan kedua negara tersebut.
Bukan omong kosong, tapi nyata adanya. Saat
masyarakat dunia-wabil khusus umat Islam- mengutuk kebrutalan negara Israel dan
AS atas Palestina melalui media sosial, maka pemerintah Iran tegas dan terang-terangan perang melawan negara Israel. Tidak ada satupun negara Islam
yang berani perang melawan negara Israel, kecuali negara Iran. Negara para mullah
ini bergerak tenang dan penuh keimanan bahwa membela rakyat Palestina -apapun agama dan alirannya- merupakan suatu kewajiban memberantas
kebatilan di muka bumi sebagaimana yang telah diajarkan dalam ajaran Islam dan
ulama-ulama mereka.
Kini AS dan negara Israel kembali lagi
membangunkan singa Timur Tengah yang sedang tidur. Sayed Ali Kheimeni dengan penuh kewibawan menghadapi demonstrasi dan tekanan politik dari kedua negara tersebut. Dengan
penuh luka, pancaran iman memancar terang menghadapi seorang diri
kebrutalan dan kebiadaban dari kedua penugasa tersebut.
Sang pembela Palestina tetap tenang. Ia
tidak memperdulikan apakah masyarakat dunia yang selalu bicara atas kemerdekaan
Palestina membantu mereka melalui media sosial. Ia tidak memperdulikan sama
sekali. Keyakinan kebenaran perjuangan yang telah mandarah daging telah
membentuk jiwa jihad dan patriotisme siap mati membela negara nya dan agama Islam
yang diyakini kebenarannya.
Memang pada wilayah ideologi masih terus
terjadi perdebatan. Umat Islam masih terlalu alergi ketika membahas isu syi’ah
dan sunni. Selalu saja yang ada dalam alam bawah sadar belum bisa menerima di
masing-masing aliran pada sebagian kelompok masing-masing.
Tidak menerima masing-masing aliran untuk
menyatakan bersatu dalam satu kesatuan umat Islam merupakan cara yang selalu
diinginkan oleh AS, Inggris dan Israel. Isu murah tapi efektif untuk
menghabiskan seluruh energi umat Islam terpecah belah. Isu yang sebenarnya
remeh temeh, tapi ketika digoreng justru menjadi makanan yang super nikmat yang
disajikan oleh bangsa-bangsa barat. Dan isu itu kini dibangkitkan lagi dengan
ditambah bumbu-bumbu penyedapnya seperti isu tirani, kesenjangan sosial,
ekonomi, HAM, dan narkoba.
Isu bumbu-bumbu penyedap ini pun akan terus
dipromosikan oleh mereka ketika ingin menguasai negara-negara yang mereka
inginkan. Kenyataannya bumbu penyedap tersebut memang paling nikmat ketika saat
kondisi masyarakat sedang kelaparan dan kesusahan. Seperti kata pepatah “tidak
ada akar rotan pun jadi”, “tidak ada kayu, rumput pun jadi pegangan”
ketika hanyut dalam Sungai. Padahal kita mengetahui bahwa yang menjadi pegangan
kita tidak bisa menyelematkan jiwa kita sendiri.
Kini Iran berpegang teguh dalam prinsip. Ia
berdiri tegak dengan berpegang pada tongkat yang mereka buat sendiri. Berpegang
prinsip kebenaran membela kedaulatan negaranya-termasuk palestina- adalah suatu
kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar meskipun nyawa taruhannya. Sebuah
prinsip yang sangat sulit ditemukan di saat dunia sedang dihadapkan pada pola
imperialisme modern oleh negara-negara kuat.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   218
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870