Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sinar Peradaban di bawah Runtuhan Jembatan



Kamis , 23 Mei 2024



Telah dibaca :  807

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ۝٣

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Pada pembahasan ke-14 yang lalu, saya telah menulis tentang rahasia kehebatan “nyamuk” dalam merubah peradaban dunia. Allah dengan keagungan firman-Nya memberikan tamsil pada binatang tersebut yang sering membuat marah manusia; mengganggu saat tidur dan menimbulkan penyakit saat demam berdarah yang berujung kepada kematian.

Orang-orang kafir pada masa nabi Muhammad  melihat perumpamaan atau tamsil “nyamuk” tersebut langsung mentertawakan-Nya. Mereka menilai bahwa firman-firman-Nya hanya sebatas bualan semata dan kreasi dari orang-orang yang tidak terpelajar.

Sejalan dengan perjalanan waktu, orang-orang kafir kemudian mulai berfikir ayat tersebut dan menemukan suatu kebenaran. Ada rahasia dibalik “penciptaan nyamuk”, dan manfaat bagi peradaban manusia.

Mereka melakukan penelitian tentang hakikat manusia yang secara naluri senantiasa membutuhkan makanan, minuman dan kebutuhan lainnya. Persaingan telah melahirkan manusia kreatif untuk mencapai kebutuhan tersebut. Dan makhluk yang bernama nyamuk telah menginspirasi manusia untuk menciptakan inovasi-inovasi terbarukan secara terus-menerus dan menghasilkan karya-karya fenomenal seperti muncul pabrik-pabrik pembuatan obat nyamuk, lahir para dokter spesialis nyamuk, apoteker, ilmuwan, hotel-hotel, wisma, lestoran, pedagang kaki lima, tukang parkir, cleaning service, tukang pijat dan lain-lain.

Seekor nyamuk  telah mampu membuka hati sebagian para pembenci Islam. Mereka membuka diri dan  kemudian hari belajar Islam dan mendapat hidayah, jadilah  muslim sejati. Mereka mendapatkan proses keimanan melalui perjalanan intelektual dan pengembaraan kajian-kajian ilmiah bahwa Islam benar-benar ajaran yang agung dan satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah swt.

Ironisnya, sebagian umat Islam yang telah terlahir secara turun-temurun menjadi muslim sering terjebak cara berfikir kontra produktif terhadap sesuatu yang dilihat oleh pandangan mata berkaitan peristiwa atau kejadian yang menyedihkan. Mereka melihat gunung meletus, jembatan ambruk, kecelakaan, penyakit covid-19 merajalela, dan sulitnya mencari pekerjaan dikaitkan wujud peringatan atau kemarahan Tuhan atas dosa-dosa manusia. Para penghutbah, ustadz ramai-ramai menyerukan untuk segera bertaubat atas segala dosa-dosa yang telah dilakukan, memperbaiki amal sholeh, menyambung silaturahim dan bersedekah. Semua amalan ini menurutnya sebagai jalan untuk mengurangi bencana, musibah, wabah penyakit dan lain-lain.

Penulis tidak menyalahkan hal tersebut. Para penceramah tentunya telah menyandarkan ucapan dan khotbah-khotbahnya berdasarkan teks-teks Al-Qur’an dan Hadist. Sebab kenyataanya demikian, Sebagian dari bencana yang terjadi karena ulah manusia itu sendiri. Seperti terjadinya banjir disebabkan karena hutan-hutan ditebang, sawah-sawah menjadi perumahan, Hotel, Mall dan Gedung perkantoran.

Haruskah segala bencana, wabah, kekeringan, kesulitan tumbuhnya tanaman atau hujan yang menyebabkan banjir serta gunung meletus hanya dilihat sebagai wujud kemurkaan Allah?. Kenapa semua kejadian tersebut tidak menjadi kesadaran kolektif untuk melahirkan ide-ide kreatif dan inovatif dalam mengurai segala ujian dan cobaan yang terjadi saat sekarang ini? Dimana penghargaan manusia atas kenikmatan yang teramat agung berupa akal pikiran? Apakah kenikmatan tersebut  diciptakan hanya untuk menakut-nakuti manusia agar tidak melakukan kesalahan? Padahal sudah menjadi tabiat dasar manusia tidak bisa melepaskan diri dari dua hal yang bertolak belakang yaitu salah dan benar dalam setiap ucapan, perbuatan dan keputusan-keputusan yang diambilnya.

Dalam konteks sebagai seorang khalifah, penulis memahami bahwa manusia melihat segala kejadian atau peristiwa seharusnya  meletakannya pada kerangka berfikir optimisme untuk merubah menjadi lebih baik dan bermanfaat. Bahkan jika ada seorang hamba sekalipun berbuat dosa tetap mempunyai optimisme tinggi bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan menerima segala kebaikannya.

Ketika Allah membuka lebar-lebar rahmat-Nya untuk para pendosa, kenapa manusia begitu semangat dengan penuh sumpah serapah di podium, youtube dan tulisan-tulisan menghujat para pendosa tanpa ampun. Bahkan sebagian para pendakwah dengan entengnya memasukan para pendosa sebagai penghuni neraka. Ironis lagi, hanya sebatas berbeda pandangan agama, bisa langsung divonis masuk neraka dan dianggap kafir. Padahal, nabi telah menjelaskan bahwa orang yang menuduh saudara kepada sesama muslim dengan sebutan kafir, maka status kafir akan mengena pada penuduh itu sendiri.

Dalam kontek rahmat Allah yang maha luas, adalah pertanda bahwa Allah mempunyai harapan besar kepada manusia untuk menciptakan tatanan kehidupan yang baik, bisa menciptakan kerukunan dan mampu menciptakan kesejahteraan. Maka dengan sifat kasih sayang-Nya dan keagungan-Nya, Tuhan memberikan fasilitas “ampunan” terhadap hamba-hamba-Nya saat melakukan berbagai  inovasi, atau melakukan penelitian dan kegiatan-kegiatan yang memberi manfaat kepada suatu peradaban.

Pada tulisan ini penulis merasa tertarik untuk menyisipkan kisah  kedewasaan bangsa Jepang yang negara nya paling sering terjadi gempa. Pada tahun baru 1 Januari 2024, Jepang terjadi gempa dengan kekuatan M 7.5. Setelah itu terjadi gempa susulan. jalan-jalan terbelah laksana kawah yang mengerikan. dan jika kita melihat data sebelumnya, Jepang nyaris senantiasa mendapatkan cobaan sebagai negara yang terus dilanda gempa. Kondisi alam dan keyakinan spiritual telah menjadikan mereka menjadi bangsa yang kreatif dan inovatif.

belajar dari peristiwa tersebut di atas, bahwa proses melakukan kegiatan karya nyata (‘amalun sholihun) ada kemungkinan terjadi “trial and error”, coba dan salah. Ada seorang insinyur dengan kemampuan ijtihadnya membuat jembatan dan kemudian hari membawa kemanfaatan jembatan tersebut. Bagi masyarakat terkadang tidak menyadari atas nikmat jembatan yang setiap hari dirasakan. Kita terkadang egoisme dan hanya melihat sisi kekurangannya secara terus-menerus dan mudah menyalahkan saat segala sesuatu tidak sesuai dengan keinginan kita sendiri.

Saat terjadi bencana terjadi seperti Jembatan roboh, Gedung terbakar dan sejenisnya, hampir semua mata memandang sebagai suatu kesalahan kesengajaan yang tersetruktur sejak pembuatannya dan terlalu mengambil keuntungan yang berlebihan (meskipun kenyataannya terkadang sebagian benar adanya). Ada juga yang mengatakan bahwa kejadian itu adalah bentuk dari ketidakcermatan dari pengambil kebijakan untuk merespon dari setiap kejadian. Lalu, munculah ghibah terjadi dimana-mana. Di antara mereka terjadi saling salah menyalahkan secara berjamaah.

Haruskah seorang khalifah yang diberi amanah oleh Allah sebagai pembawa misi peradaban hanya melihat segala sesuatu dari sisi negatif saja?. Tentu saja tidak. Kebencian, iri dengki, riya, ujub, takabur dan sejenisnya hanya keindahan fatamorgana yang menjebak pelakunya pada penyesalan sepanjang masa, baik di dunia maupun di akherat nanti. Seorang khalifah adalah setiap individu yang senantiasa melihat keagungan Allah yang dihadirkan oleh-Nya dalam wujud yang beragam; ada yang menyenangkan dan ada yang menyedihkan.

Kini kita melihat sekitar kita ada banyak persoalan; jembatan roboh, kemiskinan, pengangguran dan beragam persoalan yang sangat komplek. Pada bagian ini, dunia membutuhkan orang-orang yang hadir dengan tulus hati dan kejernihan berfikir,keahlian serta harta benda yang dianugerahkan oleh Allah untuk memberbaiki dan berkarya dalam rangka jihad fi sabilillah peradaba.Tentu saja, individu-individu tersebut tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Kehebatan mereka akan muncul saat kebersamaan hadir di tengah-tengahnya. Maka persoalan satu persatu bisa diselesaikan. Mungkin hasilnya belum sempurna, sebab memang Allah melihat kesempurnaan pada prosesnya bukan pada hasilnya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876