
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ
جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا
وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ
اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata,
“Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di
sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia
berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Pada pembahasan ke-14 yang lalu, saya telah
menulis tentang rahasia kehebatan “nyamuk” dalam merubah peradaban dunia. Allah
dengan keagungan firman-Nya memberikan tamsil pada binatang tersebut
yang sering membuat marah manusia; mengganggu saat tidur dan menimbulkan
penyakit saat demam berdarah yang berujung kepada kematian.
Orang-orang kafir pada masa nabi Muhammad melihat perumpamaan atau tamsil “nyamuk”
tersebut langsung mentertawakan-Nya. Mereka menilai bahwa firman-firman-Nya
hanya sebatas bualan semata dan kreasi dari orang-orang yang tidak terpelajar.
Sejalan dengan perjalanan waktu,
orang-orang kafir kemudian mulai berfikir ayat tersebut dan menemukan suatu
kebenaran. Ada rahasia dibalik “penciptaan nyamuk”, dan manfaat bagi peradaban
manusia.
Mereka melakukan penelitian
tentang hakikat manusia yang secara naluri senantiasa membutuhkan makanan,
minuman dan kebutuhan lainnya. Persaingan telah melahirkan manusia kreatif
untuk mencapai kebutuhan tersebut. Dan makhluk yang bernama nyamuk telah
menginspirasi manusia untuk menciptakan inovasi-inovasi terbarukan secara
terus-menerus dan menghasilkan karya-karya fenomenal seperti muncul pabrik-pabrik pembuatan obat nyamuk, lahir para dokter
spesialis nyamuk, apoteker, ilmuwan, hotel-hotel, wisma, lestoran, pedagang
kaki lima, tukang parkir, cleaning service, tukang pijat dan lain-lain.
Seekor nyamuk telah mampu membuka hati sebagian para pembenci Islam. Mereka membuka diri dan kemudian hari belajar Islam dan mendapat
hidayah, jadilah muslim sejati. Mereka
mendapatkan proses keimanan melalui perjalanan intelektual dan pengembaraan
kajian-kajian ilmiah bahwa Islam benar-benar ajaran yang agung dan satu-satunya
agama yang diridhai oleh Allah swt.
Ironisnya, sebagian umat Islam yang telah
terlahir secara turun-temurun menjadi muslim sering terjebak cara berfikir kontra
produktif terhadap sesuatu yang dilihat oleh pandangan mata berkaitan peristiwa
atau kejadian yang menyedihkan. Mereka melihat gunung meletus, jembatan ambruk,
kecelakaan, penyakit covid-19 merajalela, dan sulitnya mencari pekerjaan dikaitkan
wujud peringatan atau kemarahan Tuhan atas dosa-dosa manusia. Para penghutbah,
ustadz ramai-ramai menyerukan untuk segera bertaubat atas segala dosa-dosa yang
telah dilakukan, memperbaiki amal sholeh, menyambung silaturahim dan
bersedekah. Semua amalan ini menurutnya sebagai jalan untuk mengurangi bencana,
musibah, wabah penyakit dan lain-lain.
Penulis tidak menyalahkan hal
tersebut. Para penceramah tentunya telah menyandarkan ucapan dan
khotbah-khotbahnya berdasarkan teks-teks Al-Qur’an dan Hadist. Sebab
kenyataanya demikian, Sebagian dari bencana yang terjadi karena ulah manusia
itu sendiri. Seperti terjadinya banjir disebabkan karena hutan-hutan ditebang,
sawah-sawah menjadi perumahan, Hotel, Mall dan Gedung perkantoran.
Haruskah segala bencana, wabah, kekeringan,
kesulitan tumbuhnya tanaman atau hujan yang menyebabkan banjir serta gunung
meletus hanya dilihat sebagai wujud kemurkaan Allah?. Kenapa semua kejadian
tersebut tidak menjadi kesadaran kolektif untuk melahirkan ide-ide kreatif dan
inovatif dalam mengurai segala ujian dan cobaan yang terjadi
saat sekarang ini? Dimana penghargaan manusia atas kenikmatan yang teramat
agung berupa akal pikiran? Apakah kenikmatan tersebut diciptakan hanya untuk menakut-nakuti manusia agar tidak melakukan
kesalahan? Padahal sudah menjadi tabiat dasar manusia tidak bisa melepaskan
diri dari dua hal yang bertolak belakang yaitu salah dan benar dalam setiap ucapan,
perbuatan dan keputusan-keputusan yang diambilnya.
Dalam konteks sebagai seorang khalifah,
penulis memahami bahwa manusia melihat segala kejadian atau peristiwa seharusnya
meletakannya pada kerangka berfikir optimisme
untuk merubah menjadi lebih baik dan bermanfaat. Bahkan jika ada seorang hamba sekalipun
berbuat dosa tetap mempunyai optimisme tinggi bahwa Allah akan mengampuni
dosa-dosanya dan menerima segala kebaikannya.
Ketika Allah membuka lebar-lebar rahmat-Nya
untuk para pendosa, kenapa manusia begitu semangat dengan penuh sumpah serapah
di podium, youtube dan tulisan-tulisan menghujat para pendosa tanpa ampun. Bahkan
sebagian para pendakwah dengan entengnya memasukan para pendosa sebagai
penghuni neraka. Ironis lagi, hanya sebatas berbeda pandangan agama, bisa
langsung divonis masuk neraka dan dianggap kafir. Padahal, nabi telah
menjelaskan bahwa orang yang menuduh saudara kepada sesama muslim dengan
sebutan kafir, maka status kafir akan mengena pada penuduh itu sendiri.
Dalam kontek rahmat Allah yang maha luas, adalah pertanda bahwa Allah mempunyai harapan besar kepada manusia untuk menciptakan tatanan kehidupan yang baik, bisa menciptakan kerukunan dan mampu menciptakan kesejahteraan. Maka dengan sifat kasih sayang-Nya dan keagungan-Nya, Tuhan memberikan fasilitas “ampunan” terhadap hamba-hamba-Nya saat melakukan berbagai inovasi, atau melakukan penelitian dan kegiatan-kegiatan yang memberi manfaat kepada suatu peradaban.
Pada tulisan ini penulis merasa tertarik untuk menyisipkan kisah kedewasaan bangsa Jepang yang negara nya paling sering terjadi gempa. Pada tahun baru 1 Januari 2024, Jepang terjadi gempa dengan kekuatan M 7.5. Setelah itu terjadi gempa susulan. jalan-jalan terbelah laksana kawah yang mengerikan. dan jika kita melihat data sebelumnya, Jepang nyaris senantiasa mendapatkan cobaan sebagai negara yang terus dilanda gempa. Kondisi alam dan keyakinan spiritual telah menjadikan mereka menjadi bangsa yang kreatif dan inovatif.
belajar dari peristiwa tersebut di atas, bahwa proses melakukan kegiatan karya nyata (‘amalun
sholihun) ada kemungkinan terjadi “trial and error”, coba dan salah. Ada seorang
insinyur dengan kemampuan ijtihadnya membuat jembatan dan kemudian hari membawa
kemanfaatan jembatan tersebut. Bagi masyarakat terkadang tidak menyadari atas
nikmat jembatan yang setiap hari dirasakan. Kita terkadang egoisme dan hanya
melihat sisi kekurangannya secara terus-menerus dan mudah menyalahkan saat
segala sesuatu tidak sesuai dengan keinginan kita sendiri.
Saat terjadi bencana terjadi seperti Jembatan
roboh, Gedung terbakar dan sejenisnya, hampir semua mata memandang sebagai
suatu kesalahan kesengajaan yang tersetruktur sejak pembuatannya dan terlalu
mengambil keuntungan yang berlebihan (meskipun kenyataannya terkadang sebagian
benar adanya). Ada juga yang mengatakan bahwa kejadian itu adalah bentuk dari
ketidakcermatan dari pengambil kebijakan untuk merespon dari setiap kejadian. Lalu,
munculah ghibah terjadi dimana-mana. Di antara mereka terjadi saling
salah menyalahkan secara berjamaah.
Haruskah seorang khalifah yang diberi amanah
oleh Allah sebagai pembawa misi peradaban hanya melihat segala sesuatu dari
sisi negatif saja?. Tentu saja tidak. Kebencian, iri dengki, riya, ujub, takabur
dan sejenisnya hanya keindahan fatamorgana yang menjebak pelakunya pada
penyesalan sepanjang masa, baik di dunia maupun di akherat nanti. Seorang khalifah
adalah setiap individu yang senantiasa melihat keagungan Allah yang dihadirkan
oleh-Nya dalam wujud yang beragam; ada yang menyenangkan dan ada yang
menyedihkan.
Kini kita melihat sekitar kita ada banyak
persoalan; jembatan roboh, kemiskinan, pengangguran dan beragam
persoalan yang sangat komplek. Pada bagian ini, dunia membutuhkan orang-orang
yang hadir dengan tulus hati dan kejernihan berfikir,keahlian serta harta benda
yang dianugerahkan oleh Allah untuk memberbaiki dan berkarya dalam rangka jihad
fi sabilillah peradaba.Tentu saja, individu-individu tersebut tidak bisa
bekerja sendiri-sendiri. Kehebatan mereka akan muncul saat kebersamaan hadir di
tengah-tengahnya. Maka persoalan satu persatu bisa diselesaikan. Mungkin hasilnya
belum sempurna, sebab memang Allah melihat kesempurnaan pada prosesnya bukan
pada hasilnya.
Penulis : Imam Ghozali
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876