Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sinau Urip; Merubah Mindset Dengan Tiga Huruf: Alif, Lam, dan Mim.



Senin , 17 Maret 2025



Telah dibaca :  479

Sahabat ku, semoga kita selalu sukses. amin.

Saat sirine berbunyi, saat itulah kita terasa bahagia. Sebab ia tanda berbuka puasa. Saking bahagianya, kadang kita lupa menyebut nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Ada sebagian, masih sempat berdoa dulu dengan doa berbuka puasa yang sangat indah:

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Artinya:

Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman, dengan rizqi-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu, wahai dzat Yang Maha Penyayang.

Ada juga doa-doa berbuka puasa lain dengan redaksi berbeda-beda. Silahkan mana yang kita suka. Silahkan anda berdoa. Kalimat doa adalah kalam permohonan yang redaksinya bisa sesuai dengan keinginan kita sendiri dan sesuai dengan bahasa kita sendiri. doa adalah wujud kedekatan hamba dengan Tuhannya. Tuhan maha mendengar doa hamba-hamba-Nya.

Sahabat-sahabat ku,

Mari kita ngaji ayat Al-Qur’an untuk malam, yaitu Surat Al-Baqarah sebagai berikut:

الم ذلك الكتب لا ريب فيه هدي للمتقين

Artinya:

Alif, lam,mim. Kitab al-qur’an ini tidak ada keraguan di dalam nya; ia menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Berkaitan dengan permulaan Surat Al-Baqarah dengan huruf alif, lam, mim [ ا,ل,م ], sebagian besar ulama Al-Qur’an berbendapat “Hanya Allah yang mengetahui maksud-Nya”. Ada yang menarik dari Tafsir Al-Misbah, guru kita Professor Qurays Sihab mengutip pendapat pendapat Sayid Qutb. Menurutnya bahwa huruf tersebut terlihat sederhana. Orang Arab bisa saja membuat nya. Mereka tidak mampu membuat sususunan yang mempunyai kualitas sama dengan ayat tersebut. huruf alif, lam dan mim adalah simbol. Dari ketiga huruf itu merupakan juz'iyah dari 30 huruf hijaiyah, ketika dirangkai menjadi kata dan kalimat, maka akan melahirkan susunan firman-firman Allah yang mampu membedakan antara hak dan yang batil (Shihab, 2002).

Sahabat-sahabat ku yang hebat,

Kita mungkin terlalu sering mengabaikan huruf. Ia kelihatnya hanya simbol. Huruf hijaiyah hanya 28 atau 30 huruf. Huruf bahasa Indonesia dari A-Z berjumlah 26 huruf. Berbeda dengan huruf mandarin yang jumlah nya bisa mencapai 80.000-90.000. Dan setiap bahasa mempunyai beragam jumlah hurufnya. Penulis hanya akan memfokuskan pada jumlah huruf bahasa Indonesia dan hijaiyah.

Al-Qur’an sebanyak 30 juz berasal dari 30 huruf. Para Sastrawan Arab saat berlomba puisi di Pasar Ukaz juga lahir dari 30 huruf. Tapi, susunan huruf Al-Qur’an mampu menghinoptis seorang Umar bin Khatab, Singa Padang Pasir yang ganas, Garang,pembunuh dan petarung sejati menangis tersedu-sedu mendengar beberapa ayat Al-Qur’an. Umar bin Khatab yang gagah perkasa, seolah-olah seluruh tulang tubuhnya lepas dari tubuhnya. Lemas, lunglai, dan jatuh tersungkur di tanah. Matanya terus meneteskan air mata laksana anak kecil di depan orang tuanya. Ia menemui Nabi dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Kita bisa belajar dari peristiwa tersebut di atas. Sudah berapa kata, kalimat yang kita ucapkan atau tulis dalam buku atau lembar-lembar media sosial. Saring. ambil intisarinya. Apakah banyak santan-nya atau ampas-nya. Mari kita sama-sama intropeksi diri.

Susunan kata bisa menjadi mulia, bisa juga menjadi hina. Allah memberi huruf-huruf mempunyai tujuan untuk memulyakan kita, bukan menghinakan kita. Pilihlah dengan cerdas untuk kemuliaan di masa depan kita.

Sahabat-sahabat ku yang hebat,

Kita bisa Menyusun kata dan kalimat dari 26 huruf. Silahkan susun dengan selera anda. Setiap kata yang anda susun ada yang berpotensi mendapatkan sinar-sinar Ilahiyah, ada yang berpotensi seperti para Penyair Arab Jahiliyah. Jumlah hurufnya sama, tapi kata dan kalimatnya berbeda. Ada yang memberi manfaat dan ada yang memberi madharat.

Ayo sinau bareng. Ngaji urip. Waktu terus berjalan. Puasa telah berlalu. Makan dan minum sudah diproses. Begitu juga kata dan kalimat yang kita tulis di berbagai media masa dan media-media lain juga akan mengalami proses dan hasilnya sesuai dengan kriteria dan akan diputuskan oleh Sang Hakim Tertinggi yaitu Allah SWT.

Sahabat-sahabat ku yang hebat,

Firman Allah [  ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ] memperkuat kebenaran firman [ الۤمّ ]. Keindahan kata dan kalimat setelah nya benar-benar merupakan firman Allah yang kebenarannya absolut dan kemulyaannya sangat agung. Itu sebabnya menggunakan kata [  ذلك الكتب  ] sebagai takwil firman Allah  [ هذاالكتب ] yaitu Al-Qur’an yang tidak ada keraguan kualitas kebenarannya, mampu memberi hidayah dan petunjuk bagi orang-orang yang menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larang-larangan-Nya (Az-Zuhaili, 2013).

Bahasa yang lebih sederhana dan bisa dipahami makna takwa seperti ucapan Buya Hamka mengatakan bahwa takwa berasal dari kata wiqayah artinya memelihara. Kita memelihara hubungan baik dengan Allah dengan menjalankan perintah-perintah-Nya. Ia mengutip satu hadist. Ada seseorang bertanya tentang takwa, Rasul menjawab;bagaimana jika di tengah jalan ada duri? Ia menjawab; saya menghindarinya. Nabi menjawab: itulah takwa (Hamka, t.t).

Sahabat ku,

Bisakah kita menghindari dari hal-hal yang membahayakan?.Katakanlah atau jawablah dengan tegas: bisa!. Ada teman ku terkena darah tinggi. Pusing. Ia berobat. Tapi makan tidak dirubah. Lucunya ia mengeluh karena tidak pernah turun tensi-nya. Lucu. Ia mengeluh, tapi tidak punya ketegasan diri untuk merubah pola makan. Akhirnya, obat darah tinggi hanya punya efek sebentar. Terasa efektif saat minum. Selesai minum kambuh lagi. Sebab pola makan tidak berubah sama sekali.

Pada hari berikutnya ia mencoba melakukan disiplin diri. Secara pelan tapi pasti, makanan dan minuman yang berpotensi memicu darah tinggi di kurangi. Pertama berat. Lama-kelamaan mulai nikmat. Ia mulai makan pola baru. Ia pun menemukan hidup baru. Hidup samakin nikmat. Pikiran terasa fress, dan darah tinggi pun turun.

Saya kira ini gambaran sederhana takwa dalam kehidupan sehari-hari. Konsistensi memelihara hubungan kita dengan Allah yang sangat sulit. Tentu saja, kita bukan sedang membandingkan iman para nabi, sahabat, tabi’in,tabi’in-tabi’in, dan para ulama. Itu bukan maqam kita. Setiap manusia ada maqam nya sendiri untuk mendapatkan kreteria takwa.

Mari kita membumikan makna takwa dengan melihat diri sendiri. Seorang suami yang konsisten bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga orang mutaqin. Ia tahu mencari nafkah itu sulit. Ia juga tahu mencari dengan cara yang tidak benar itu dibenci oleh Allah, maka ia bekerja sekuat tenaga dengan tetap mengikuti aturan Allah meskipun hasilnya sedikit. Ini juga merupakan makna takwa dalam kehidupan sehari-hari.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872