Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Syi’ah dan Yahudi bisa Bersatu, Sunni Susah bersatu. Kenapa?



Selasa , 08 Juli 2025



Telah dibaca :  601

Di sela-sela mendengar tausiah dari Syaikh Haji Muhajir Darwis, M.Pd.I -Kepala UTIP - berkaitan peluncuran program pendaftaran KKN secara online, saya mengabadikan hasil diskusi bebas di Kedai Kopi beberapa waktu lalu. Dalam diskusi tersebut, ada seseorang peserta diskusi mengajukan pertanyaan yang sangat serius: “Kenapa syi’ah dan yahudi bisa bersatu, sunni susah untuk bersatu?”. Ini pertanyaan yang sangat berat. Padahal diskusi-diskusian di warung kopi hanya sebatas untuk mengisi kekosongan waktu. Daripada bengong diisi ngobrol.

Saya harus menjawab sekenanya -jawaban jurus pamungkas -bahwa sulitnya bersatu kaum sunni karena sudah ditulis oleh Allah di Lauh Mahfud. Jawaban asal-asalan ternyata cukup efektif. Nyatanya peserta diskusi pun cengengesan sambil memberi komentar cukup pedas -lebih pedas dari cabe rawit – dengan komentar sebagai berikut: “Kalau gitu jawabannya, saya pun bisa jawab”.

Dalam kontek sejarah, kesamaan ideologi memang tidak serta-merta menjamin ada persatuan dan kesatuan umat Islam. Jika merujuk pada sejarah, kelompok Sunni merupakan kelompok muslim terbesar di dunia sejak masa permulaan Islam hingga saat sekarang ini. Salah satu penyebabnya perkembangan Sunni sedemikian besar di permukaan bumi ini karena menggunakan pendekatan “inna akromakum ‘inda allah atqakum”, orang yang paling mulia adalah orang-orang yang bertakwa”. Konsep ajaran Islam yang tidak melihat latarbelakang suku, etnis atau budaya (Ghozali, 2020).

Dalam teori ajaran keberagaman latarbelakang -etnis, suku dan budaya -sebagai pengikat mutaqin dalam konsep sunni pernah berhasil menoreh kekuasaan imperium dunia,  tapi kemudian hari runtuh. Dikatakan pernah berhasil jika dilihat dari keberhasilan sistem politik khulafaurasyidin dan para dinasti-dinasti besar Islam seperti Dinasti Ummayah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Ayyubiyah, Fatimiyah hingga masa kejayaan Khalifah di Turki.

Muncul nama Umayyah, Abbasiyah, Ayubiyah dan Fatimiah sebenarnya kekhilafahan berdasarkan ashabiyah yang dibalut oleh kesamaan agama dan kesamaan aliran agama yang dianutnya. Namun dalam perjalanannya, kebesaran kekhalifahan atau kerajaan pun mengalami kehancuran. Diantara faktor yaitu keinginan etnis lain menjadi penguasa kekhalifahan.  Itu sebabnya, semua kejayaan tersebut hancur. Lalu muncul khilafah-khilafah kecil dan semakin menguat setelah muncul nya negara bangsa (Imam Ghozali, 2020).

Runtuh nya kekhalifahan sunni tersebut di atas banyak motifnya. Salah satunya tidak ada pengikat yang kuat -selain adanya kesamaan agama dan ideolog -yaitu kesamaan etnis atau suku. 

Muncul nya kekuatan dinasti-dinasti di atas tidak serta-merta kesuksesan suksesi sistem khilafah Islamiyah. Sistem ini harus mengorbankan puluhan ribu nyawa tentara umat Islam. Hal yang sama juga demikian, ketika bangkitnya Dinasti baru juga telah mengancurkan musuh-musuh sebelumnya dari dan kelompok-kelompok lain sebagai penghalangnya. Kejayaan-kejayaan tersebut membuktikan bahwa kesamaan aliran sunni tidak serta merta menjadi pemersatu suatu kekuatan bangsa dan negara. Bahkan pada periode berikutnya muncul konsep-konsep khilafah di berbagai negara yang ingin mendirikan negara dunia (hizbut tahrir) dan sistem khilafah-khilafah yang bertebaran di belahan bumi termasuk di Indonesia (Imam Ghozali, 2020).

Itu sebabnya konsep khilafah Islamiyah di dunia sunni sulit diwujudkan. Kesamaan aliran sunni tidak bisa mengikat secara kuat hasrat dari setiap kelompok untuk berkuasa dan mendirikan negara-negara. Maka munculah negara-negara Islam yang secara otoritas berdiri sendiri dibatasi oleh geografis yang telah ditentukan seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Arab Saudi, Iran dan lain-lain.

Ini berbeda kasus nya dengan kaum yahudi dan syi’ah. Baik yahudi maupun syi’ah mempunyai pengikat bukan sebatas pada aliran agama, tapi pada kesamaan keturunan (ashabiyah) yang sangat luarbiasa. Kaum Yahudi merasa bahwa mereka keturunan Ya’qub bin Ishak bin Ibrahim yang merupakan darah kenabian yang harus dijaga status darah birunya. Bahkan pada sisi lain, pemahaman sebagian dari kaum yahudi bahwa mereka bagian anak Tuhan. Keyakinan ini yang membentuk kesemangatan mereka untuk membentuk kelompok yang solid dalam upaya mencapai tujuan-tujuan besar yang ingin cita-citakan. Salah satu cita-cita nya yaitu mendirikan Negara Israel dan menjadi penguasa tunggal di dunia. Cita-cita yang ingin menjadi imperium dunia baru.

Negara Iran sama sebagaimana Negara Israel, yaitu pengikatnya kuat berupa kesamaan keturunan. Nama Iran berasal dari kata Arya yaitu Bangsa Arya. Bagi Iran bangsa Arya merupakan bangsa leluhur yang mempunyai sejarah panjang sebagai penguasa imperium dunia pada masa Persia. Etnis Arya menganggap dirinya sebagai suku yang sangat agung. Sama seperti dalam suku Bangsa Arab bahwa suku yang paling mulia yaitu Suku Qurays.

Dari dua fakta di atas -kaum yahudi dan syi’ah -telah berhasil menjadi penguasa yang sangat solid dan siap tinggal landas menuju sebagai negara imperium di bidang masing-masing berangkat dari soliditas etnis yang tidak dimiliki oleh kelompok Islam Sunni yang beragam suku dan etnis.

Secara teknis baik sunni dan syi’ah mempunyai kesemangatan untuk mencapai puncak kejayaan sebagai imperium. Jika secara teori, Negara Iran lebih mapan untuk mencapai tujuan tersebut -hal sama juga Negara Israel -ketimbang negara-negara penguasa sunni.

Jika mengacu pendapat teori ashabiyah Ibnu Khaldun, sebenarnya ada dua negara yang punya potensi untuk mencapai imperiaum yaitu Arab Saudi dan Iran. Dua Negara mempunyai modal sama yaitu sama-sama mempunyai kesamaan etnis. Tentu saja selain  kesamaan etnis ada juga modal yang tidak boleh dilupakan yaitu kekuatan dan kemajuan saint dan teknologi. Jika unsur ini tidak ada, sehebat apapun semangat ashobiyah akan tetap sulit menjadi penguasa dunia.

References

Abdurrohman, S. (2023, Januari 22). NU Online. Retrieved from 7 Ciri Ulama Takut kepada Allah menurut Gus Qoyyum: https://www.nu.or.id/nasional/7-ciri-ulama-takut-kepada-allah-menurut-gus-qoyyum-2HwXp

Af-Farabi. (t.t). Ara' Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah. Mesir : Maktabah Matba'ah Muhammad Ali.

An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .

an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya : Risalah Gusti.

Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam . Jakarta Selatan : Paramadina .

Baqir, H. (2020). Agama di Tengah Musibah Perspektif Spiritual . Nuralwala.

Ghozali, I. (2020). Implementasi Hak-Hak Politik Kelompok Minoritas Menurut Abdurrahman Wahid. Zawiyah Jurnal Pemikiran Islam, 250-271.

Haekal, M. H. (1996). Sejarah Hidup Muhammad, terj; Ali Audah . Jakarta : Intermasa.

Hayyan, A. (2010). Al-Bahrul Muhith. Beirut : Darul Fikri .

Ikeda, A. W. (2010). Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian . Jakarta : Gramedia .

Imam Ghozali, J. (2020). Political and Nationalism of GP Ansor in Facing The Perssecution of Kirab Satu Negeri in The Meranti Islands. At-Tahrir Jurnal Pemikiran Islam, 307-328.

Khaldun, I. (1951). Al-Ta'rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatuh Gharban wa Syirqan. Kairo : Lajnah al-Tha'if wa al-Tarjamah.

Munawar-Rachman, B. (2008). Ensiklopedi Nurcholish Madjid. Indramayu : Yayasan Pesantren Indonesia Al-Zaitun .

Rahman, F. (1996). Major Themes of The Qur'an, terj; Anas Mahyuddin. Bandung : Pustaka .

Rakhmat, J. (1998). Reformasi Sufistik. Bandung : Pustaka Hidayah .

Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .

Shihab, Q. (2011). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta : Lentera Hati.

Sholeh, M. J. (2016). Etika Berdialog dan Metodologi debat dalam Al-Quran. El-Furqania, Volume 03/ No. 02.

Wahid, A. (2011). Sekadar Mendahului Bunga Rampai Kata Pengantar . Bandung : Nuansa .



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876