
Di sela-sela mendengar tausiah dari Syaikh Haji Muhajir Darwis, M.Pd.I -Kepala UTIP - berkaitan peluncuran program pendaftaran KKN secara online, saya mengabadikan hasil diskusi bebas di Kedai Kopi beberapa waktu lalu. Dalam diskusi tersebut, ada seseorang
peserta diskusi mengajukan pertanyaan yang sangat serius: “Kenapa syi’ah dan
yahudi bisa bersatu, sunni susah untuk bersatu?”. Ini pertanyaan yang sangat
berat. Padahal diskusi-diskusian di warung kopi hanya sebatas untuk mengisi
kekosongan waktu. Daripada bengong diisi ngobrol.
Saya harus menjawab sekenanya -jawaban
jurus pamungkas -bahwa sulitnya bersatu kaum sunni karena sudah ditulis oleh Allah
di Lauh Mahfud. Jawaban asal-asalan ternyata cukup efektif. Nyatanya peserta
diskusi pun cengengesan sambil memberi komentar cukup pedas -lebih pedas
dari cabe rawit – dengan komentar sebagai berikut: “Kalau gitu jawabannya,
saya pun bisa jawab”.
Dalam kontek sejarah, kesamaan ideologi
memang tidak serta-merta menjamin ada persatuan dan kesatuan umat Islam. Jika merujuk
pada sejarah, kelompok Sunni merupakan kelompok muslim terbesar di dunia sejak
masa permulaan Islam hingga saat sekarang ini. Salah satu penyebabnya
perkembangan Sunni sedemikian besar di permukaan bumi ini karena menggunakan
pendekatan “inna akromakum ‘inda allah atqakum”, orang yang paling mulia
adalah orang-orang yang bertakwa”. Konsep ajaran Islam yang tidak melihat
latarbelakang suku, etnis atau budaya
Dalam teori ajaran keberagaman latarbelakang -etnis, suku dan budaya -sebagai pengikat mutaqin dalam konsep sunni pernah berhasil menoreh kekuasaan imperium dunia, tapi kemudian hari runtuh. Dikatakan pernah berhasil jika dilihat dari keberhasilan sistem politik khulafaurasyidin dan para dinasti-dinasti besar Islam seperti Dinasti Ummayah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Ayyubiyah, Fatimiyah hingga masa kejayaan Khalifah di Turki.
Muncul nama Umayyah, Abbasiyah, Ayubiyah dan
Fatimiah sebenarnya kekhilafahan berdasarkan ashabiyah yang dibalut oleh
kesamaan agama dan kesamaan aliran agama yang dianutnya. Namun dalam
perjalanannya, kebesaran kekhalifahan atau kerajaan pun mengalami kehancuran. Diantara
faktor yaitu keinginan etnis lain menjadi penguasa kekhalifahan. Itu sebabnya,
semua kejayaan tersebut hancur. Lalu muncul khilafah-khilafah kecil dan semakin
menguat setelah muncul nya negara bangsa
Runtuh nya kekhalifahan sunni tersebut di atas banyak motifnya. Salah satunya tidak ada pengikat yang kuat -selain adanya kesamaan agama dan ideolog -yaitu kesamaan etnis atau suku.
Muncul nya kekuatan dinasti-dinasti di atas tidak
serta-merta kesuksesan suksesi sistem khilafah Islamiyah. Sistem ini harus mengorbankan
puluhan ribu nyawa tentara umat Islam. Hal yang sama juga demikian, ketika
bangkitnya Dinasti baru juga telah mengancurkan musuh-musuh sebelumnya dari dan kelompok-kelompok lain sebagai penghalangnya. Kejayaan-kejayaan tersebut membuktikan
bahwa kesamaan aliran sunni tidak serta merta menjadi pemersatu suatu kekuatan
bangsa dan negara. Bahkan pada periode berikutnya muncul konsep-konsep khilafah
di berbagai negara yang ingin mendirikan negara dunia (hizbut tahrir)
dan sistem khilafah-khilafah yang bertebaran di belahan bumi termasuk di Indonesia
Itu sebabnya konsep khilafah Islamiyah di
dunia sunni sulit diwujudkan. Kesamaan aliran sunni tidak bisa mengikat secara
kuat hasrat dari setiap kelompok untuk berkuasa dan mendirikan negara-negara. Maka
munculah negara-negara Islam yang secara otoritas berdiri sendiri dibatasi oleh
geografis yang telah ditentukan seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Arab Saudi,
Iran dan lain-lain.
Ini berbeda kasus nya dengan kaum yahudi
dan syi’ah. Baik yahudi maupun syi’ah mempunyai pengikat bukan sebatas pada
aliran agama, tapi pada kesamaan keturunan (ashabiyah) yang sangat
luarbiasa. Kaum Yahudi merasa bahwa mereka keturunan Ya’qub bin Ishak bin
Ibrahim yang merupakan darah kenabian yang harus dijaga status darah birunya. Bahkan
pada sisi lain, pemahaman sebagian dari kaum yahudi bahwa mereka bagian anak Tuhan.
Keyakinan ini yang membentuk kesemangatan mereka untuk membentuk kelompok yang
solid dalam upaya mencapai tujuan-tujuan besar yang ingin cita-citakan. Salah satu
cita-cita nya yaitu mendirikan Negara Israel dan menjadi penguasa tunggal di
dunia. Cita-cita yang ingin menjadi imperium dunia baru.
Negara Iran sama sebagaimana Negara Israel,
yaitu pengikatnya kuat berupa kesamaan keturunan. Nama Iran berasal dari kata Arya
yaitu Bangsa Arya. Bagi Iran bangsa Arya merupakan bangsa leluhur yang
mempunyai sejarah panjang sebagai penguasa imperium dunia pada masa Persia.
Etnis Arya menganggap dirinya sebagai suku yang sangat agung. Sama seperti
dalam suku Bangsa Arab bahwa suku yang paling mulia yaitu Suku Qurays.
Dari dua fakta di atas -kaum yahudi dan syi’ah
-telah berhasil menjadi penguasa yang sangat solid dan siap tinggal landas
menuju sebagai negara imperium di bidang masing-masing berangkat dari soliditas
etnis yang tidak dimiliki oleh kelompok Islam Sunni yang beragam suku dan
etnis.
Secara teknis baik sunni dan syi’ah
mempunyai kesemangatan untuk mencapai puncak kejayaan sebagai imperium. Jika secara
teori, Negara Iran lebih mapan untuk mencapai tujuan tersebut -hal sama juga Negara
Israel -ketimbang negara-negara penguasa sunni.
Jika mengacu pendapat teori ashabiyah Ibnu Khaldun,
sebenarnya ada dua negara yang punya potensi untuk mencapai imperiaum yaitu Arab
Saudi dan Iran. Dua Negara mempunyai modal sama yaitu sama-sama mempunyai
kesamaan etnis. Tentu saja selain
kesamaan etnis ada juga modal yang tidak boleh dilupakan yaitu kekuatan
dan kemajuan saint dan teknologi. Jika unsur ini tidak ada, sehebat apapun
semangat ashobiyah akan tetap sulit menjadi penguasa dunia.
Abdurrohman, S. (2023, Januari 22). NU
Online. Retrieved from 7 Ciri Ulama Takut kepada Allah menurut Gus Qoyyum:
https://www.nu.or.id/nasional/7-ciri-ulama-takut-kepada-allah-menurut-gus-qoyyum-2HwXp
Af-Farabi. (t.t). Ara' Ahl Al-Madinah
Al-Fadhilah. Mesir : Maktabah Matba'ah Muhammad Ali.
An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul
Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .
an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul
Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya :
Risalah Gusti.
Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di
Indonesia Pengalaman Islam . Jakarta Selatan : Paramadina .
Baqir, H. (2020). Agama di Tengah
Musibah Perspektif Spiritual . Nuralwala.
Ghozali, I. (2020). Implementasi Hak-Hak
Politik Kelompok Minoritas Menurut Abdurrahman Wahid. Zawiyah Jurnal
Pemikiran Islam, 250-271.
Haekal, M. H. (1996). Sejarah Hidup
Muhammad, terj; Ali Audah . Jakarta : Intermasa.
Hayyan, A. (2010). Al-Bahrul Muhith.
Beirut : Darul Fikri .
Ikeda, A. W. (2010). Dialog Peradaban
untuk Toleransi dan Perdamaian . Jakarta : Gramedia .
Imam Ghozali, J. (2020). Political and
Nationalism of GP Ansor in Facing The Perssecution of Kirab Satu Negeri in The
Meranti Islands. At-Tahrir Jurnal Pemikiran Islam, 307-328.
Khaldun, I. (1951). Al-Ta'rif bi Ibn
Khaldun wa Rihlatuh Gharban wa Syirqan. Kairo : Lajnah al-Tha'if wa
al-Tarjamah.
Munawar-Rachman, B. (2008). Ensiklopedi
Nurcholish Madjid. Indramayu : Yayasan Pesantren Indonesia Al-Zaitun .
Rahman, F. (1996). Major Themes of The
Qur'an, terj; Anas Mahyuddin. Bandung : Pustaka .
Rakhmat, J. (1998). Reformasi Sufistik.
Bandung : Pustaka Hidayah .
Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah,
Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .
Shihab, Q. (2011). Tafsir Al-Mishbah:
Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta : Lentera Hati.
Sholeh, M. J. (2016). Etika Berdialog dan
Metodologi debat dalam Al-Quran. El-Furqania, Volume 03/ No. 02.
Wahid, A. (2011). Sekadar Mendahului Bunga
Rampai Kata Pengantar . Bandung : Nuansa .
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876