Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Syi’ah, Sunni dan Pesantren: Sudut Pandang Ideologi Agama



Selasa , 24 Juni 2025



Telah dibaca :  489

Dalam sejarah, perjuangan selalu dilatarbelakangi ideologi. Corak ideologinya tergantung referensinya dan pergaulan hidupnya. Keduanya akan menjadi kompas arah kehidupan. 

Ada pengalaman menarik. Pada era Orde Baru, terjadi ketegangan antara kelompok Islam tradisional dengan Soeharto sangat terasa sekali. Saya membaca referensi cukup banyak tentang hal tersebut - baik buku yang ditulis oleh ilmuwan dalam negeri maupun luar negeri. Ada upaya secara sistematis pembungkaman terhadap kelompok Islam Tradisional -Ahlusunnah Wal Jama’ah An-Nahdiyah- dan membiarkan ormas tersebut berjalan tanpa kepala.

Apakah para ulama benci dengan Soeharto. Apakah mereka benci dengan Orde Baru. Tidak sama sekali. Para ulama di pesantren-pesantren tetap megnajarkan “Taatlah kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri”. Di Pesantren, para santri tidak diajari politik untuk berontak kepada orde baru. Tidak juga mengatakan kepada orde baru dengan ucapan yang kasar seperti “toghut”, “kafir”, “halal darah” nya dan sejenisnya.

Putra-putri para ulama tradisional orde baru tidak atau kurang sekali diperkenankan untuk membuat pemerintah orde baru goyang. Tidak sama sekali. mereka tidak sepakat dengan kebijakan orde baru seperti persoalan program keluarga berencana (KB). Saat pemerintah orde baru menerapkan KB -dua anak cukup- sebagian para ulama tradisional mengartikan “dua belas anak cukup” sebagai respon tidak setuju pada program KB. Tentu saja tidak setuju dengan tetap berpegang teguh pada pandangan hukum syariat.

Lebih unik lagi pada hari lebaran. Sebagian para ulama tradisional -ketika mendapatkan pertanyaan dari masyarakat -biasanya mengarahkan untuk mengikuti lebaran yang telah ditentukan oleh pemerintah. Namun disisi lain, mereka punyai ijtihad sendiri dengan hitungan falakiah yang dianggap punya akurasi yang tepat. Jadi wajar, jika istri dan anak-anak nya sudah lebaran, dia sendiri belum lebaran.

Pernah suatu hari ibu menelpon ku dan bertanya kapan lebaran Idul Fitri. Saya menjawab mengikuti pemerintah. Ibu, kakak dan adik-adiku juga sama. Sedangkan ayah ku -kata ibuku- masih puasa. Perbedaan seperti ini sangat “adem-dem”, tidak ada persoalan sama sekali. Tetap “guyup-rukun” di lingkungan keluarga.

Kenapa para ulama memutuskan persoalan agama sedemikian rilek -bahkan persoalan negara pun demikian- tanpa menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakat?. Sebab mereka lebih mengutamakan menghindari kerusakan daripada meraih kemanfaatan (دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ ).

Apa jadinya jika ulama tradisional dan para pengikut mayoritas muslim di Indonesia demo “ngotot” mempertahankan ide-ide nya yang dianggap paling baik. Anda bisa membayangkan saja: pertumpahan darah, kematian, kerusakan, dan permusuhan hingga mengancam disintegrasi bangsa dan negara. Hal-hal demikian yang tidak dinginkan oleh ulama tradisional.

Bagi ulama tradisional -apapun sistem politik nya- sepanjang pemerintah masih menyembah Allah, masih sholat dan masih mengenal Islam masih tetap dianggap baik meskipun ada kekurangan di sana-sini. Sedangkan persoalan baik dan tidak baik nya dalam menjalankan pemerintahan sebenarnya persoalan perspektif. Dan sampai kapan pun perbedaan dalam ilmu sosial politik akan terus muncul -ada senang dan ada yang benci. Jangankan politik, persoalan di internal ormas agama saja dan ormas-ormas sejenisnya pun sampai detik ini masih “cakar-cakaran”.

Dari sini sebenarnya kita telah diwariskan tentang ideologi politik oleh para ulama Indonesia sejak dulu, yaitu ideologi politik dengan kejernihan hati dan keteguhan tauhid. Kita diajari bahwa apapun kegiatannya jika itu bagian dari politik -termasuk akreditasi prodi atau institusi- para ulama mengajarkan ketenangan, istiqomah dan bersandar kepada Allah dalam mendampingi proses akreditasi.

Apakah kita juga perlu belajar ideologi Iran?. Saya kira itu penting-termasuk ideologi nya orang Israel. Kenapa mereka bandel. Dan apa kita perlu juga berkelakuan “bandel” dan “petakilan” seperti Israel. Berani perang, kalah merengek-rengek.

Saya kira bisa membuka diri belajar dari iran dari sisi positif nya. Dari sisi akidah, fiqh muamalah dan siyasah kita tetap pada jalur sunni. Namun keberanian pemerintah Iran sudah cukup bagi kita untuk membuka diri belajar kepada mereka.

Saya mencoba menelusuri kenapa Iran sangat siap sekali perang seperti siap mati nya tentara jepang dalam perang melawan AS saat Hirosima dan Nagasaki hancur.

Bagi Iran, kematian sayyidina husein merupakan pengorbanan yang sangat agung sekaki. Penderitaan Husein belum cukup jika dipikul oleh seluruh rakyat Iran. Jika Sayidina Husein menumpahkan darah nya demi kemuliaan, maka kematian rakyat Iran dalam membela kedaulatan Iran merupakan hal yang sangat biasa saja. Mereka mati merupakan suatu kebanggaan telah mempersembahkan jiwa terbaik untuk menyambut kedatangan Imam Mahdi. Mereka merindukan kematian sangat luarbiasa. mulai anak-anak sampai orang tua.

Berbeda dengan Jepang. Ada pasukan Kamikaze. Artinya “angin Ilahi”. Lagi-lagi, landasan filosofisnya juga ideologi agama. Tentu agama versi bangsa Jepang.  Pada doktrin Bushido Jepang, menekankan kesetiaan, kehormatan dan pengorbanan diri demi kaisar dan negara. Dalam Agama Sinto, Kaisar merupakan simbol Dewa Matahari Amaterasu.

Indonesia pernah melakukan hal tersebut. Saat Resolusi Jihad melawan NICA, Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari menggerakan jihad fi sabilillah. Sangat efektif. Semua maju perang dengan dua prinsip: menang atau mati sahid.

Dari paparan di atas, bangsa seperti Iran dan Jepang telah berhasil menanamkan ideologi agama versi mereka masing-masing. Ideologi tersebut telah berhasil menanamkan semangat nasionalisme tinggi, berani berkorban jiwa dan raga untuk kebesaran bangsa dan negara nya.

Negara Indonesia beragam suku, etnis dan agama. Sangat plural. Namun setiap agama mengajarkan arti penting sebuah negara, yaitu sebuah harta yang sangat berharga sekali bagi kelangsungan bangsa Indonesia ke depan. Mempertahankan negara merupakan kewajiban. Dan meninggal dunia karena mempertahankan negara bagian dari mati sahid.

Ajaran islam sangat jelas. Maqasih syariat islam sangat jelas. Salah satu fungsi yaitu menjaga harta. Sekarang harta terbesar adalah negara. tidak ada negara berarti tidak ada tempat yang sempurna untuk menerapkan hukum-hukum allah. Maka, jihad mempertahankan negara merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Pemahaman-pemahaman seperti ini sebenarnya yang perlu disuntikan pada generasi Indonesia saat sekarang ini. Pemerintah dan dunia pendidikan punya tugas sangat besar untuk mewujudkan hal tersebut. Jika pemerintah dan dunia pendidikan masa bodoh terhadap hal tersebut, maka akan lahir generasi yang hanya mengenal joget-joget di tik-tok dan tidak tahu apa arti penting berbangsa dan bernegara. Jika sudah tidak tahu, maka lahirlah generasi yang suka ikut-ikutan. Ada angin barat, ikut ke barat, ada angin timur ikut ke timur. Itulah generasi yang disebut generasi bingung, suatu generasi yang sangat mudah terprovokasi oleh situasi di sekitarnya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875