
Dalam sejarah, perjuangan selalu dilatarbelakangi ideologi. Corak ideologinya tergantung referensinya dan pergaulan hidupnya. Keduanya akan menjadi kompas arah kehidupan.
Ada pengalaman menarik. Pada era Orde Baru, terjadi ketegangan antara kelompok Islam tradisional dengan Soeharto sangat terasa sekali. Saya membaca
referensi cukup banyak tentang hal tersebut - baik buku yang ditulis oleh ilmuwan dalam negeri maupun luar negeri. Ada upaya secara sistematis pembungkaman terhadap kelompok Islam Tradisional -Ahlusunnah Wal Jama’ah An-Nahdiyah- dan membiarkan ormas
tersebut berjalan tanpa kepala.
Apakah para ulama benci dengan Soeharto.
Apakah mereka benci dengan Orde Baru. Tidak sama sekali. Para ulama di
pesantren-pesantren tetap megnajarkan “Taatlah kepada Allah, Rasul dan Ulil
Amri”. Di Pesantren, para santri tidak diajari politik untuk berontak
kepada orde baru. Tidak juga mengatakan kepada orde baru dengan ucapan yang
kasar seperti “toghut”, “kafir”, “halal darah” nya dan sejenisnya.
Putra-putri para ulama tradisional orde
baru tidak atau kurang sekali diperkenankan untuk membuat pemerintah orde baru
goyang. Tidak sama sekali. mereka tidak sepakat dengan kebijakan orde baru
seperti persoalan program keluarga berencana (KB). Saat pemerintah orde baru
menerapkan KB -dua anak cukup- sebagian para ulama tradisional mengartikan “dua
belas anak cukup” sebagai respon tidak setuju pada program KB. Tentu saja tidak
setuju dengan tetap berpegang teguh pada pandangan hukum syariat.
Lebih unik lagi pada hari lebaran. Sebagian para
ulama tradisional -ketika mendapatkan pertanyaan dari masyarakat -biasanya mengarahkan untuk mengikuti lebaran yang telah
ditentukan oleh pemerintah. Namun disisi lain, mereka punyai ijtihad sendiri dengan hitungan
falakiah yang dianggap punya akurasi yang tepat. Jadi wajar, jika istri dan
anak-anak nya sudah lebaran, dia sendiri belum lebaran.
Pernah suatu hari ibu menelpon ku dan
bertanya kapan lebaran Idul Fitri. Saya menjawab mengikuti pemerintah. Ibu,
kakak dan adik-adiku juga sama. Sedangkan ayah ku -kata ibuku- masih puasa.
Perbedaan seperti ini sangat “adem-dem”, tidak ada persoalan sama sekali.
Tetap “guyup-rukun” di lingkungan keluarga.
Kenapa para ulama memutuskan persoalan
agama sedemikian rilek -bahkan persoalan negara pun demikian- tanpa menimbulkan
gejolak di tengah-tengah masyarakat?. Sebab mereka lebih mengutamakan
menghindari kerusakan daripada meraih kemanfaatan (دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ ).
Apa jadinya jika ulama tradisional dan para
pengikut mayoritas muslim di Indonesia demo “ngotot” mempertahankan
ide-ide nya yang dianggap paling baik. Anda bisa membayangkan saja: pertumpahan
darah, kematian, kerusakan, dan permusuhan hingga mengancam disintegrasi bangsa
dan negara. Hal-hal demikian yang tidak dinginkan oleh ulama tradisional.
Bagi ulama tradisional -apapun sistem
politik nya- sepanjang pemerintah masih menyembah Allah, masih sholat dan masih
mengenal Islam masih tetap dianggap baik meskipun ada kekurangan di sana-sini.
Sedangkan persoalan baik dan tidak baik nya dalam menjalankan pemerintahan
sebenarnya persoalan perspektif. Dan sampai kapan pun perbedaan dalam ilmu
sosial politik akan terus muncul -ada senang dan ada yang benci. Jangankan
politik, persoalan di internal ormas agama saja dan ormas-ormas sejenisnya pun
sampai detik ini masih “cakar-cakaran”.
Dari sini sebenarnya kita telah diwariskan
tentang ideologi politik oleh para ulama Indonesia sejak dulu, yaitu ideologi
politik dengan kejernihan hati dan keteguhan tauhid. Kita diajari bahwa apapun
kegiatannya jika itu bagian dari politik -termasuk akreditasi prodi atau
institusi- para ulama mengajarkan ketenangan, istiqomah dan bersandar kepada
Allah dalam mendampingi proses akreditasi.
Apakah kita juga perlu belajar ideologi
Iran?. Saya kira itu penting-termasuk ideologi nya orang Israel. Kenapa mereka bandel.
Dan apa kita perlu juga berkelakuan “bandel” dan “petakilan”
seperti Israel. Berani perang, kalah merengek-rengek.
Saya kira bisa membuka diri belajar dari
iran dari sisi positif nya. Dari sisi akidah, fiqh muamalah dan siyasah kita
tetap pada jalur sunni. Namun keberanian pemerintah Iran sudah cukup bagi kita
untuk membuka diri belajar kepada mereka.
Saya mencoba menelusuri kenapa Iran sangat
siap sekali perang seperti siap mati nya tentara jepang dalam perang melawan AS
saat Hirosima dan Nagasaki hancur.
Bagi Iran, kematian sayyidina husein
merupakan pengorbanan yang sangat agung sekaki. Penderitaan Husein belum cukup jika
dipikul oleh seluruh rakyat Iran. Jika Sayidina Husein menumpahkan darah nya
demi kemuliaan, maka kematian rakyat Iran dalam membela kedaulatan Iran
merupakan hal yang sangat biasa saja. Mereka mati merupakan suatu kebanggaan
telah mempersembahkan jiwa terbaik untuk menyambut kedatangan Imam Mahdi.
Mereka merindukan kematian sangat luarbiasa. mulai anak-anak sampai orang tua.
Berbeda dengan Jepang. Ada pasukan Kamikaze.
Artinya “angin Ilahi”. Lagi-lagi, landasan filosofisnya juga ideologi
agama. Tentu agama versi bangsa Jepang. Pada
doktrin Bushido Jepang, menekankan kesetiaan, kehormatan dan pengorbanan diri
demi kaisar dan negara. Dalam Agama Sinto, Kaisar merupakan simbol Dewa
Matahari Amaterasu.
Indonesia pernah melakukan hal tersebut. Saat
Resolusi Jihad melawan NICA, Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari menggerakan jihad
fi sabilillah. Sangat efektif. Semua maju perang dengan dua prinsip: menang
atau mati sahid.
Dari paparan di atas, bangsa seperti Iran dan
Jepang telah berhasil menanamkan ideologi agama versi mereka masing-masing. Ideologi
tersebut telah berhasil menanamkan semangat nasionalisme tinggi, berani
berkorban jiwa dan raga untuk kebesaran bangsa dan negara nya.
Negara Indonesia beragam suku, etnis dan
agama. Sangat plural. Namun setiap agama mengajarkan arti penting sebuah
negara, yaitu sebuah harta yang sangat berharga sekali bagi kelangsungan bangsa
Indonesia ke depan. Mempertahankan negara merupakan kewajiban. Dan meninggal
dunia karena mempertahankan negara bagian dari mati sahid.
Ajaran islam sangat jelas. Maqasih syariat
islam sangat jelas. Salah satu fungsi yaitu menjaga harta. Sekarang harta
terbesar adalah negara. tidak ada negara berarti tidak ada tempat yang sempurna
untuk menerapkan hukum-hukum allah. Maka, jihad mempertahankan negara merupakan
kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Pemahaman-pemahaman seperti ini sebenarnya
yang perlu disuntikan pada generasi Indonesia saat sekarang ini. Pemerintah dan
dunia pendidikan punya tugas sangat besar untuk mewujudkan hal tersebut. Jika
pemerintah dan dunia pendidikan masa bodoh terhadap hal tersebut, maka akan
lahir generasi yang hanya mengenal joget-joget di tik-tok dan tidak tahu apa
arti penting berbangsa dan bernegara. Jika sudah tidak tahu, maka lahirlah
generasi yang suka ikut-ikutan. Ada angin barat, ikut ke barat, ada angin timur
ikut ke timur. Itulah generasi yang disebut generasi bingung, suatu generasi
yang sangat mudah terprovokasi oleh situasi di sekitarnya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875