Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

873 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tidak Boleh Pulang oleh Ketua MWC NU Tebingtinggi Timur



Senin , 20 Februari 2023



Telah dibaca :  313

Setelah melakukan kegiatan safari pembentukan MWC NU Rangsang Pesisir, kami pun melanjutkan pembentukan kepengurusan MWC NU Tebingtinggi dan Rangsang[namun SK Rangsang masih aktif. ketua tanfidziyahnya KH.Pawit, jadi hanya membentuk Tebingtinggi Timur]. Saya tidak mengajak ramai-ramai seperti kemaren. Ma’lum selain karena para kiai juga mempunyai santri dan seambreg aktivitas lainya sebagai dai dan pejabat [juga kos biaya keliling nya cukup besar], akhirnya saya putuskan hanya tiga orang yang berangkat; saya, Kiai Mardio Hasan dan Kiai Muhammad Shodiq.

Perjalanan melalui pelabuhan lukun. Waktu itu jalan sudah mulai diperbaiki, ditimbus dengan tanah dan pasir. Namun yang menuju ke Sungai Tohor masih rusak. Badan saya terasa sakit. Tapi mau ngomong sakit kok tidak enak pula. Tapi karena amanah dari para kiai, kami bertiga menyisikan waktu, tenaga, biaya dan pikiran untuk ngurip-ngurip NU. Persoalan hasil nomor 100. Yang penting saya sudah menjalankan tugas dari para kiai sebagai bentuk ta’dzim saya kepada mereka.

Rencana yang mau saya tuju, rumahnya Kiai Saifullah. Tapi dipikir-pikir khawatir mengganggu mujahadahnya. Selain itu, dia pun sudah menjadi ketua MUI Kecamatan Tebingtinggi Timur. Jadi perlu ada penyebaran kaderisasi, maka saya datang ke rumah Mas Nurdian yang sudah digembleng menjadi kader NU.

Jam sekitar 11.30. panas sekali, hujan waktu itu belum turun. Rumah Mas Nurdian di depan jalan yang sedang diperlebar. Debu mengepul, apalagi mobil Truk hilir-mudik membawa tanah merah. Namun demikian, karena sudah diwanti-wanti agar mampir ke rumah Mas Nurdian, saya pun menunggu di depan rumahnya yang udaranya membuat hidung terasa sesak bernafas.

Sekitar 12.00 tuan rumah mempersilahkan kami masuk. Kami ngobrol tentang ke-NU-an. Tuan rumah pun menceritakan program positif terhadap perkembangan nu. Sebab menurut informasinya, daerah Tebingtinggi Timur sudah kemasukan aliran islam yang sudah berbeda dengan kebiasaan masyarakat setempat. Namun saya berpesan untuk hati-hati dan jangan mudah menuduah sebagai aliran sesat. Tapi gerakan amaliah NU harus diaktifkan kembali.

Setelah sholat dhuhur, kami pun permisi kepada tuan rumah. Namun ditahan. Entah apa maksudnya. Ternyata dia telah menyiapkan makan siang. Kami pun harus menerimanya. Apalagi sepanjang perjalanan tidak ada warung makan. Apalagi perjalanan pulang masih jauh dan kondisi jalan belum normal. Jadi persiapan energy pun sangat penting.

Setelah makan siang kami pun permisi pulang. Sepanjang perjalanan kami pun guyon terus. Tidak terasa sudah sampai di pelabuhan lukun. Namun terpaksa kami harus menunggu kempang. Hujan turun lebat. Semoga ini bertanda perjalanan kami mendapatkan keberkahan dari Allah s.w.t.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   219

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   227

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   196

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   217

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   213

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14392


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6091


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4456