
Setelah melakukan kegiatan safari
pembentukan MWC NU Rangsang Pesisir, kami pun melanjutkan pembentukan
kepengurusan MWC NU Tebingtinggi dan Rangsang[namun SK Rangsang masih aktif. ketua tanfidziyahnya KH.Pawit, jadi hanya membentuk Tebingtinggi Timur]. Saya tidak mengajak ramai-ramai
seperti kemaren. Ma’lum selain karena para kiai juga mempunyai santri dan
seambreg aktivitas lainya sebagai dai dan pejabat [juga kos biaya keliling nya
cukup besar], akhirnya saya putuskan hanya tiga orang yang berangkat; saya,
Kiai Mardio Hasan dan Kiai Muhammad Shodiq.
Perjalanan melalui pelabuhan lukun. Waktu
itu jalan sudah mulai diperbaiki, ditimbus dengan tanah dan pasir. Namun yang
menuju ke Sungai Tohor masih rusak. Badan saya terasa sakit. Tapi mau ngomong
sakit kok tidak enak pula. Tapi karena amanah dari para kiai, kami bertiga
menyisikan waktu, tenaga, biaya dan pikiran untuk ngurip-ngurip NU. Persoalan
hasil nomor 100. Yang penting saya sudah menjalankan tugas dari para kiai
sebagai bentuk ta’dzim saya kepada mereka.
Rencana yang mau saya tuju, rumahnya Kiai
Saifullah. Tapi dipikir-pikir khawatir mengganggu mujahadahnya. Selain itu, dia
pun sudah menjadi ketua MUI Kecamatan Tebingtinggi Timur. Jadi perlu ada
penyebaran kaderisasi, maka saya datang ke rumah Mas Nurdian yang sudah
digembleng menjadi kader NU.
Jam sekitar 11.30. panas sekali, hujan
waktu itu belum turun. Rumah Mas Nurdian di depan jalan yang sedang diperlebar.
Debu mengepul, apalagi mobil Truk hilir-mudik membawa tanah merah. Namun
demikian, karena sudah diwanti-wanti agar mampir ke rumah Mas Nurdian, saya pun
menunggu di depan rumahnya yang udaranya membuat hidung terasa sesak bernafas.
Sekitar 12.00 tuan rumah mempersilahkan
kami masuk. Kami ngobrol tentang ke-NU-an. Tuan rumah pun menceritakan program
positif terhadap perkembangan nu. Sebab menurut informasinya, daerah Tebingtinggi
Timur sudah kemasukan aliran islam yang sudah berbeda dengan kebiasaan
masyarakat setempat. Namun saya berpesan untuk hati-hati dan jangan mudah
menuduah sebagai aliran sesat. Tapi gerakan amaliah NU harus diaktifkan
kembali.
Setelah sholat dhuhur, kami pun permisi
kepada tuan rumah. Namun ditahan. Entah apa maksudnya. Ternyata dia telah
menyiapkan makan siang. Kami pun harus menerimanya. Apalagi sepanjang
perjalanan tidak ada warung makan. Apalagi perjalanan pulang masih jauh dan
kondisi jalan belum normal. Jadi persiapan energy pun sangat penting.
Setelah makan siang kami pun permisi
pulang. Sepanjang perjalanan kami pun guyon terus. Tidak terasa sudah sampai di
pelabuhan lukun. Namun terpaksa kami harus menunggu kempang. Hujan turun lebat.
Semoga ini bertanda perjalanan kami mendapatkan keberkahan dari Allah s.w.t.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   219
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   227
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   196
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   217
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   213
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14392
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6091
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4680
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4456