Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Titik Temu Sunni dan Syi’ah: Upaya Membangun Kesadaran Bersama



Minggu , 22 Juni 2025



Telah dibaca :  510

Tulisan ini merupakan hasil diskusi kecil dengan Guru Besar UIN Syarif Kasim Riau, Prof.Dr. Alaidin Koto melalui WA. Ada tradisi keilmuan yang lahir dari masa lalu dan membentuk sistem berfikir, beribadah dan bermuamalah. termasuk dalam berpolitik di kalangan kelompok Sunni dan Syi'ah. Ada kesedihan dan kejujuran pada tradisi keilmuan kedua aliran besar umat Islam tersebut. Insya Allah akan ditulis lebih lanjut pada seri berikutnya. Untuk tulisan hari ini, sebatas jalan pembuka dialog dialog tersebut.

Dalam perjalanan sejarah kelompok Sunni lebih memilih pemakaian kata “khilafah” sebagai suatu sistem politik Islam. Secara literal, ia muncul ketika Abu Bakar mengganti atau datang setelah nya (khalafa) Nabi Muhammad karena meninggal dunia. Khalifah berarti orang yang menjadi pengganti.

Dalam Al-Qur’an kata khalifah disebutkan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 30 dan Q.S. Shad ayat 28. Pada surat Al-Baqarah tentang rencana Tuhan menjadikan manusia menjadi khalifah. Pada Surat Shad tentang kepemimpinan Nabi Dawud. Isinya perintah Allah kepada Dawud agar berlaku adil dan tidak menuruti hawa nafsu dalam mengambil keputusan politik dan pemerintahan.

Sedangkan syi’ah lebih suka menggunakan kata “imamah” sebagai sistem politik Islam. Ia berangkat dari pidato baiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah di Masjid Nabawi. Menurutnya, imam harus kuat teguh dan rakyat harus tunduk. Barangsiapa yang mangkir daripadanya terpisahlah ia dari agama Islam. Bagi syi’ah imamah merupakan kewajiban berasal dari Nabi Muhammad saw. Karena itu hukum nya wajib menegakan imamah. Ia bukan sebatas pemimpin politik tapi juga spiritual.

Dalam Al-Qur’an istilah imamah pada Q.S. Al-Baqarah ayat 124 tentang janji allah akan menjadi Ibrahim menjadi pemimpin (imam) dan anak turunannya. Q.S. Al-Anbiya ayat 73 tentang Ibrahim, Ishak dan Ya’qub menjadi imam (pemimpin).

Kedua istilah tersebut sama-sama digunakan oleh sunni dan syi’ah. tapi pada perkembangannya, kedua istilah tersebut kemudian menjadi definisi yang lebih spesifik dari kedua kelompok tersebut.

Setelah kekhilafahan turki utsmani hancur dan kemudian berkembang secara masif sistem nation state (negara bangsa), cita-cita khilafah terus bermunculan oleh para aktivis. Tapi selalu gagal di setiap negara. Di Timur Tengah, negara-negara Islam lebih memilih kerajaan dan republik. Hal yang sama juga di Asia Tenggara. Ada sistem kesultanan, kerajaan dan republik. Tidak ada satupun negara ingin menggabungkan diri menjadi satu negara berdaulat dalam bentuk khilafah. Belum ada hingga detik ini.

Dalam dinamika politik, kampanye khilafah selalu muncul. Di Indonesia biasanya saat pilpres, atau ada isu-isu penting yang bersifat nasional atau internasional. Para aktivis khilafah sangat aktif menawarkan solusi yang sangat memikat persis slogan Pegadaian” Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah”.

Tentu saja yang unik saat sekarang ini. Ada beberapa tulisan di medsos yang menurut saya agak lucu. Tulisan tersebut memberi komentar perang Israel-Iran. Ia mendukung Iran dengan mengatakan: “Sebentar lagi khilafah akan bangkit, Israel akan hancur lebur!”. Mungkin ia lupa bahwa Iran menggunakan sistem Imamah.

Kini yang melawan Israel adalah Iran yang menganut sistem Imamah. Hingga kini belum ada negara yang menggunakan sistem khilafah yang melawan israel. Di media sangat banyak tawaran-tawaran khilafah sebagai kebangkitan umat dan Upaya memenangkan perang. Jadi, khilafah dan kekaisaran masa lalu yang pernah jaya, saat ini memang tinggal kenangan. Persia sebagai bekas kekaisaran yang sangat luas, kini sebatas negara Iran dengan batas-batas geografis yang telah ditentukan.

Ideal nya memang ada negara yang menggunakan sistem khilafah. Untuk mengimbangi sistem imamah di Iran. Ada komperasi sistem terbaik di antara keduanya. Sayangnya, sistem khilafah hanya sebatas ide-ide liar dan terus-menerus terkenang kejayaan masa lalu untuk menghipnotis manusia. Ia terus membangun kesadaran yang terlihat lebih besar ilusinya ketimbang kenyataannya.

Tentu saja akan menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah sistem khilafah juga akan monopoli dan memaksa negara Islam lainnya yang menganut sistem republik, kerajaan dan imamah agar ikut dengan sistem tersebut?. Apakah dengan semangat membara sistem khilafah akan memaksa negara Islam lainnya untuk mengikuti satu-satunya sistem politik Islam sebagaimana pola memaksa AS agar semua negara tunduk terhadap sistem politiknya?, Jika ia, apa artinya suatu kekuasaan jika kehadirannya justru menimbulkan konflik.

Karena sistem khilafah hingga kini masih ilusi, maka dalil-dalil yang dipakai tentu saja sebatas dalil universal dengan disertai contoh-contoh yang baik-baik saja. Padahal pada praktek sistem khilafah, tidak lepas juga persoalan-persoalan yang sangat tragis seperti peperangan internal, saling bunuh-membunuh dalam mempertahankan kekuasaan. Semua ada catatan nya dengan baik.

Di negara Islam yang sudah mapan sistem politik dan ekonominya, masyarakat memang tidak mempermasalahkan soal ada tidak nya khilafah. Bagi mereka, sepanjang bisa memberi manfaat kebaikan, apapun sistem nya tetap tidak ada masalah. Namun ketika persoalan muncul, maka akan muncul juga propaganda politik sebagaimana yang telah saya sebutkan tadi. Itu wajar saja. Semua sistem dan ideologi menawarkan. Kenapa ada sosialis dan komunis di Indonesia. Karena bangsa ini merasa dibohongi oleh kapitalis. Ketika sosialis berkuasa, ternyata dua-dua nya juga berubah jadi kapitalis.

Kini Iran memang berjuang seorang diri. Banyak negara yang tidak suka terhadap Israel dan simpati terhadap Iran. Tapi banyak memilih diam. Mungkin karena iran ada kata syi’ah dan imamah nya. Dua kata yang sangat alergi bagi para pegiat khilafah.

Jika demikian adanya, bagusnya para aktivis khilafah seharusnya ikut perang melawan Israel. Supaya tahu lebih hebat mana antara imamah dan khilafah. Itu lebih baik daripada saling menjatuhkan. Jangan sampai yang babak belur Iran, yang tertawa para pegiat khilafah. Yang menang Iran yang dapat nama khilafah.

Saya kira perbedaan sistem politik akan terus terjadi sepanjang perjalanan sejarah manusia. Perubahan akan terus terjadi. Tapi harapan terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan selalu menjadi cita-cita manusia. Bersatu dalam perbedaan melawan perusak kedaulatan merupakan musuh bersama, tidak peduli sunni, syi’ah atau apa saja. Sebab semua itu adalah makhluk Allah yang harus dilindungi eksistensinya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875