
Tulisan ini merupakan hasil diskusi kecil dengan Guru Besar UIN Syarif Kasim Riau, Prof.Dr. Alaidin Koto melalui WA. Ada tradisi keilmuan yang lahir dari masa lalu dan membentuk sistem berfikir, beribadah dan bermuamalah. termasuk dalam berpolitik di kalangan kelompok Sunni dan Syi'ah. Ada kesedihan dan kejujuran pada tradisi keilmuan kedua aliran besar umat Islam tersebut. Insya Allah akan ditulis lebih lanjut pada seri berikutnya. Untuk tulisan hari ini, sebatas jalan pembuka dialog dialog tersebut.
Dalam perjalanan sejarah kelompok Sunni
lebih memilih pemakaian kata “khilafah” sebagai suatu sistem politik Islam.
Secara literal, ia muncul ketika Abu Bakar mengganti atau datang setelah nya (khalafa)
Nabi Muhammad karena meninggal dunia. Khalifah berarti orang yang menjadi
pengganti.
Dalam Al-Qur’an kata khalifah disebutkan
dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 30 dan Q.S. Shad ayat 28. Pada surat Al-Baqarah tentang
rencana Tuhan menjadikan manusia menjadi khalifah. Pada Surat Shad tentang
kepemimpinan Nabi Dawud. Isinya perintah Allah kepada Dawud agar berlaku adil
dan tidak menuruti hawa nafsu dalam mengambil keputusan politik dan
pemerintahan.
Sedangkan syi’ah lebih suka menggunakan
kata “imamah” sebagai sistem politik Islam. Ia berangkat dari pidato baiat Ali
bin Abi Thalib sebagai khalifah di Masjid Nabawi. Menurutnya, imam harus kuat
teguh dan rakyat harus tunduk. Barangsiapa yang mangkir daripadanya terpisahlah
ia dari agama Islam. Bagi syi’ah imamah merupakan kewajiban berasal dari Nabi Muhammad
saw. Karena itu hukum nya wajib menegakan imamah. Ia bukan sebatas pemimpin
politik tapi juga spiritual.
Dalam Al-Qur’an istilah imamah pada Q.S.
Al-Baqarah ayat 124 tentang janji allah akan menjadi Ibrahim menjadi pemimpin
(imam) dan anak turunannya. Q.S. Al-Anbiya ayat 73 tentang Ibrahim, Ishak dan
Ya’qub menjadi imam (pemimpin).
Kedua istilah tersebut sama-sama digunakan
oleh sunni dan syi’ah. tapi pada perkembangannya, kedua istilah tersebut kemudian
menjadi definisi yang lebih spesifik dari kedua kelompok tersebut.
Setelah kekhilafahan turki utsmani hancur
dan kemudian berkembang secara masif sistem nation state (negara
bangsa), cita-cita khilafah terus bermunculan oleh para aktivis. Tapi selalu
gagal di setiap negara. Di Timur Tengah, negara-negara Islam lebih memilih kerajaan
dan republik. Hal yang sama juga di Asia Tenggara. Ada sistem kesultanan, kerajaan
dan republik. Tidak ada satupun negara ingin menggabungkan diri menjadi satu
negara berdaulat dalam bentuk khilafah. Belum ada hingga detik ini.
Dalam dinamika politik, kampanye khilafah
selalu muncul. Di Indonesia biasanya saat pilpres, atau ada isu-isu penting
yang bersifat nasional atau internasional. Para aktivis khilafah sangat
aktif menawarkan solusi yang sangat memikat persis slogan Pegadaian” Menyelesaikan
Masalah Tanpa Masalah”.
Tentu saja yang unik saat sekarang ini. Ada
beberapa tulisan di medsos yang menurut saya agak lucu. Tulisan tersebut
memberi komentar perang Israel-Iran. Ia mendukung Iran dengan mengatakan: “Sebentar
lagi khilafah akan bangkit, Israel akan hancur lebur!”. Mungkin ia lupa
bahwa Iran menggunakan sistem Imamah.
Kini yang melawan Israel adalah Iran yang
menganut sistem Imamah. Hingga kini belum ada negara yang menggunakan sistem
khilafah yang melawan israel. Di media sangat banyak tawaran-tawaran khilafah
sebagai kebangkitan umat dan Upaya memenangkan perang. Jadi, khilafah dan
kekaisaran masa lalu yang pernah jaya, saat ini memang tinggal kenangan. Persia
sebagai bekas kekaisaran yang sangat luas, kini sebatas negara Iran dengan
batas-batas geografis yang telah ditentukan.
Ideal nya memang ada negara yang
menggunakan sistem khilafah. Untuk mengimbangi sistem imamah di Iran. Ada
komperasi sistem terbaik di antara keduanya. Sayangnya, sistem khilafah hanya
sebatas ide-ide liar dan terus-menerus terkenang kejayaan masa lalu untuk
menghipnotis manusia. Ia terus membangun kesadaran yang terlihat lebih besar
ilusinya ketimbang kenyataannya.
Tentu saja akan menjadi pertanyaan
selanjutnya, apakah sistem khilafah juga akan monopoli dan memaksa
negara Islam lainnya yang menganut sistem republik, kerajaan dan imamah agar
ikut dengan sistem tersebut?. Apakah dengan semangat membara sistem khilafah
akan memaksa negara Islam lainnya untuk mengikuti satu-satunya sistem politik Islam
sebagaimana pola memaksa AS agar semua negara tunduk terhadap sistem
politiknya?, Jika ia, apa artinya suatu kekuasaan jika kehadirannya justru
menimbulkan konflik.
Karena sistem khilafah hingga kini masih
ilusi, maka dalil-dalil yang dipakai tentu saja sebatas dalil universal dengan
disertai contoh-contoh yang baik-baik saja. Padahal pada praktek sistem
khilafah, tidak lepas juga persoalan-persoalan yang sangat tragis seperti
peperangan internal, saling bunuh-membunuh dalam mempertahankan kekuasaan. Semua
ada catatan nya dengan baik.
Di negara Islam yang sudah mapan sistem
politik dan ekonominya, masyarakat memang tidak mempermasalahkan soal ada tidak
nya khilafah. Bagi mereka, sepanjang bisa memberi manfaat kebaikan, apapun
sistem nya tetap tidak ada masalah. Namun ketika persoalan muncul, maka akan
muncul juga propaganda politik sebagaimana yang telah saya sebutkan tadi. Itu wajar
saja. Semua sistem dan ideologi menawarkan. Kenapa ada sosialis dan komunis di Indonesia.
Karena bangsa ini merasa dibohongi oleh kapitalis. Ketika sosialis berkuasa,
ternyata dua-dua nya juga berubah jadi kapitalis.
Kini Iran memang berjuang seorang diri. Banyak
negara yang tidak suka terhadap Israel dan simpati terhadap Iran. Tapi banyak
memilih diam. Mungkin karena iran ada kata syi’ah dan imamah nya. Dua kata yang
sangat alergi bagi para pegiat khilafah.
Jika demikian adanya, bagusnya para aktivis
khilafah seharusnya ikut perang melawan Israel. Supaya tahu lebih hebat mana
antara imamah dan khilafah. Itu lebih baik daripada saling menjatuhkan. Jangan sampai
yang babak belur Iran, yang tertawa para pegiat khilafah. Yang menang Iran yang
dapat nama khilafah.
Saya kira perbedaan sistem politik akan
terus terjadi sepanjang perjalanan sejarah manusia. Perubahan akan terus terjadi.
Tapi harapan terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan selalu menjadi cita-cita
manusia. Bersatu dalam perbedaan melawan perusak kedaulatan merupakan musuh
bersama, tidak peduli sunni, syi’ah atau apa saja. Sebab semua itu adalah
makhluk Allah yang harus dilindungi eksistensinya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875