Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Umat Nabi



Rabu , 18 September 2024



Telah dibaca :  237

 

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِــِٕيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabiin, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari Akhir serta melakukan kebajikan (pasti) mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih hati.

Memasuki bulan kelahiran Nabi, masjid-masjid, mushola, perkantoran, sekolah-sekolah telah membahas secara tuntas tentang akhlak Nabi Muhammad saw. Ia sering disebut sebagai uswatun khasanah untuk umatnya. Apakah umatnya menerima nabi menjadi uswah nya? Apakah para mubalighnya juga menerima nabi sebagai uswah nya? Saya tidak tahu. Jangan-jangan saya sendiri hanya pandai retorika tapi tidak punya daya dan kekuatan untuk menjadi bagian perilaku yang dicontohkan oleh Nabi.

Entah yang mana umat nabi?. Kadang di mimbar-mimbar sebagian para penceramah menyampaikan nasehat sekaligus laknat. Menasehati sekaligus mencaci maki. Berbicara pengorbanan, tapi umatnya disuruh membentangkan sorban untuk kepentingan segelintir golongan atau bahkan perseorangan. Menolak kemungkaran, tapi kadang dirinya sendiri berperilaku mungkar tanpa sadar. Melarang menggunjing saudaranya sendiri, tapi menyampaikan materi isinya hanya gunjingan semata. Menganjurkan keikhlasan, tapi malah kadang beringasan.

Entah yang mana umat nabi? Kadang ingin menjadi pemimpin meniru nabi, setelah menjadi pemimpin lupa diri. Kadang berbicara persatuan, tapi selalu bermusuhan. Berbicara tentang pentingnya amanah, tapi sering khianat. Menganjurkan amar ma’ruf nahi mungkar, tapi kenyataannya berkedok ma’ruf, isinya mungkar. Berbicara membela agama, tapi sebenarnya membela hanya membela partai politik, harta, tahta dan nafsu semata.

Entah yang mana umat nabi?

Saya, anda, kita, kami dan siapa sebenarnya?. Semua orang berbicara kebaikan, sampai kebaikan itu sendiri dilupakan. Semua sibuk berbicara tentang kejahatan, sampai-sampai terjebak pada kejahatan itu sendiri. Semua berbicara tentang Tuhan, sampai-sampai ada sebagian berperilakunya mengambil hak-hak Tuhan. Semua berbicara tentang surga sampai-sampai ada sebagian orang yang lebih berhak menjadi penghuni dan penjaga surga.

Kadang hati bertanya-tanya, sering telunjuk sendiri menuding-nuding kepada seseorang atau sekerumunan orang dengan menuduh tidak berperilaku, tidak berakhlak seperti nabi, tapi lagi-lagi empat jari mengarah kepada diri sendiri tidak menyadari. Satu jari telunjuk menuduh kepada orang lain, empat jari telah membuka aib sendiri di depan orang lain.

Dulu saat nabi diutus menjadi Rasul, konon hanya tujuh orang yang bisa membaca-menulis. Para sahabat lebih banyak mendengar. Mereka mempunyai pendengaran sangat baik. Mereka menjadi umat Rasulullah yang sangat hebat. Mereka memfungsikan pendengaran mampu mengubah peradaban.

Kini umat Rasulullah sejak SD atau bahkan sebagian TK sudah bisa membaca dan menulis, tapi kesulitan menerima informasi dari pendengaran. Nasehat masuk dari telinga kanan keluar begitu cepat keluar melalui telinga kiri. Umat Nabi saat sekarang ini, menulis dan berbicara sangat faseh. Mengucapkan kalam-kalamullah dan mensyarahinya bisa berjilid-jilid. Tapi sebagian pendengarannya seolah-olah terkunci. Ilmu agama yang agung hanya sebatas melahirkan egoisme, angkuhisme, dan sok sok-isme lainnya.

Itulah umat nabi. Beragam fariasi. Dari orang-orang berdasi sampai golongan yang kesulitan mendapatkan sesuap nasi. Dari orang-orang yang sudah merasa sholeh sampai orang-orang yang selalu merasa bersalah. Dari syariah, hakikat, ma’rifat sampai orang-orang yang suka memelihara jenggot berjambang lebat. Dari orang yang suka bersholawat sampai kepada orang yang melotot mendengar sholawat. Sungguh umat Nabi Muhammad beragam ucapan, pandangan, dan perbuatan.

Entah kenapa saya tertarik kepada seorang ibu tua yang setiap hari membawa sayuran ke pasar. Ia sibuk berjualan dan menawarkan barang dagangannya. Sayurnya hampir selalu habis. Bukan karena laris. Tapi kadang tidak habis dan diberikan kepada Pengurus Yayasan Yatim Piatu. Ketika ditanya,”Apakah tidak rugi?”. Ibu tadi pun menjawab, “ Saya ingin mendapatkan keberkahan doa dari mereka”.

Ibu tadi umat nabi. Entah kenapa cara berfikirnya sangat simpel. Memandang hidup terlihat sederhana. Tidak ribet. tapi aura kebahagiaan terlihat memancar dari dirinya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? Email: Process 1.820000 BTC. Next >> https://

y97qq8

   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875