
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا
وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِــِٕيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ
وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ
وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan
orang-orang Sabiin, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan
hari Akhir serta melakukan kebajikan (pasti) mendapat pahala dari Tuhannya,
tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih hati.
Memasuki bulan
kelahiran Nabi, masjid-masjid, mushola, perkantoran, sekolah-sekolah telah
membahas secara tuntas tentang akhlak Nabi Muhammad saw. Ia sering disebut
sebagai uswatun khasanah untuk umatnya. Apakah umatnya menerima nabi
menjadi uswah nya? Apakah para mubalighnya juga menerima nabi sebagai uswah
nya? Saya tidak tahu. Jangan-jangan saya sendiri hanya pandai retorika tapi
tidak punya daya dan kekuatan untuk menjadi bagian perilaku yang dicontohkan
oleh Nabi.
Entah yang mana
umat nabi?. Kadang di mimbar-mimbar sebagian para penceramah menyampaikan
nasehat sekaligus laknat. Menasehati sekaligus mencaci maki. Berbicara
pengorbanan, tapi umatnya disuruh membentangkan sorban untuk kepentingan
segelintir golongan atau bahkan perseorangan. Menolak kemungkaran, tapi kadang
dirinya sendiri berperilaku mungkar tanpa sadar. Melarang menggunjing
saudaranya sendiri, tapi menyampaikan materi isinya hanya gunjingan semata.
Menganjurkan keikhlasan, tapi malah kadang beringasan.
Entah yang mana
umat nabi? Kadang ingin menjadi pemimpin meniru nabi, setelah menjadi pemimpin
lupa diri. Kadang berbicara persatuan, tapi selalu bermusuhan. Berbicara
tentang pentingnya amanah, tapi sering khianat. Menganjurkan amar ma’ruf
nahi mungkar, tapi kenyataannya berkedok ma’ruf, isinya mungkar.
Berbicara membela agama, tapi sebenarnya membela hanya membela partai politik,
harta, tahta dan nafsu semata.
Entah yang mana
umat nabi?
Saya, anda, kita,
kami dan siapa sebenarnya?. Semua orang berbicara kebaikan, sampai kebaikan itu
sendiri dilupakan. Semua sibuk berbicara tentang kejahatan, sampai-sampai terjebak
pada kejahatan itu sendiri. Semua berbicara tentang Tuhan, sampai-sampai ada
sebagian berperilakunya mengambil hak-hak Tuhan. Semua berbicara tentang surga
sampai-sampai ada sebagian orang yang lebih berhak menjadi penghuni dan penjaga
surga.
Kadang hati
bertanya-tanya, sering telunjuk sendiri menuding-nuding kepada seseorang atau
sekerumunan orang dengan menuduh tidak berperilaku, tidak berakhlak seperti
nabi, tapi lagi-lagi empat jari mengarah kepada diri sendiri tidak menyadari.
Satu jari telunjuk menuduh kepada orang lain, empat jari telah membuka aib
sendiri di depan orang lain.
Dulu saat nabi
diutus menjadi Rasul, konon hanya tujuh orang yang bisa membaca-menulis. Para
sahabat lebih banyak mendengar. Mereka mempunyai pendengaran sangat baik.
Mereka menjadi umat Rasulullah yang sangat hebat. Mereka memfungsikan
pendengaran mampu mengubah peradaban.
Kini umat
Rasulullah sejak SD atau bahkan sebagian TK sudah bisa membaca dan menulis,
tapi kesulitan menerima informasi dari pendengaran. Nasehat masuk dari telinga
kanan keluar begitu cepat keluar melalui telinga kiri. Umat Nabi saat sekarang
ini, menulis dan berbicara sangat faseh. Mengucapkan kalam-kalamullah dan
mensyarahinya bisa berjilid-jilid. Tapi sebagian pendengarannya seolah-olah
terkunci. Ilmu agama yang agung hanya sebatas melahirkan egoisme, angkuhisme,
dan sok sok-isme lainnya.
Itulah umat nabi.
Beragam fariasi. Dari orang-orang berdasi sampai golongan yang kesulitan
mendapatkan sesuap nasi. Dari orang-orang yang sudah merasa sholeh sampai
orang-orang yang selalu merasa bersalah. Dari syariah, hakikat, ma’rifat sampai
orang-orang yang suka memelihara jenggot berjambang lebat. Dari orang yang suka
bersholawat sampai kepada orang yang melotot mendengar sholawat. Sungguh umat
Nabi Muhammad beragam ucapan, pandangan, dan perbuatan.
Entah kenapa saya
tertarik kepada seorang ibu tua yang setiap hari membawa sayuran ke pasar. Ia
sibuk berjualan dan menawarkan barang dagangannya. Sayurnya hampir selalu
habis. Bukan karena laris. Tapi kadang tidak habis dan diberikan kepada Pengurus
Yayasan Yatim Piatu. Ketika ditanya,”Apakah tidak rugi?”. Ibu tadi pun
menjawab, “ Saya ingin mendapatkan keberkahan doa dari mereka”.
Ibu tadi umat nabi.
Entah kenapa cara berfikirnya sangat simpel. Memandang hidup terlihat
sederhana. Tidak ribet. tapi aura kebahagiaan terlihat memancar dari dirinya.
Penulis : Imam Ghozali
???? Email: Process 1.820000 BTC. Next >> https://
y97qq8
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875