
Nama lengkap Imam Al-Ghozali yaitu Muhammad
bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghozali. Ia lahir pada pada tahun 1058 M
di kota Thus, Khurasan yang terletak di sebelah Timur Laut Persia. Orang Tua
Al-Ghozali seorang Tukang Pintal Benang Wol. Ia sangat mencintai ulama dan
cendekiawan Islam. Setiap sore, ia datang ke masjid dengan membawa lentera
untuk penerang para ulama yang mengajar di masjid tersebut.
Setelah orang tua nya meninggal, ia dirawat
dan diasuh oleh seorang sufi teman dekat ayahnya. Al-Ghozali belajar dari ulama
besar di Kota Naisabur, Kurasan bernama syeikh Al-Juwaini Imamul Haramain. Atas
ketekunan yang luarbiasa, Al-Ghozali menjadi seorang ulama yang ilmunya sangat
dalam. Gurunya menyebut nya ssebagai lautan ilmu yang sangat dalam.
Imam Al-Ghozali menjadi seorang ulama dan
pemikir besar dalam dunia Islam yang sangat produktif menulis. Ia menjadi guru
besar saat mengajar di Universitas Nizhamiyah Baghdad pada tahun 483H/1090 M, dalam
usia relatif muda yaitu tiga puluh tahun.
Berikut beberapa karya Imam Al-Ghazali
antara lain: Maqashid Al-Falasifah, Tahafut
Al-Falasifah, Al-Iqtishad fi Al-I‟tiqod, Al- Munqid min Adh-Dhalal, Qisthas Al-Mustaqim, Al-Musthaziri, Al-Basith,
Al- Wasith, Al-Wajiz, Al-khulashah Al-Mukhhthasar, Al-Mustashfa,Ihya „Ulum
Ad-Din, Mizal Al-Amanah, Kimya As-Sa‟adah, Misykat An-Anwar, Muhasyafaf
Al-Qulub dan Minhaj Al-Abidin. Karya-karya nya masih banyak yang belum tertulis
di artikel ini.
Urgensi Moralitas Perspektif Imam Al-Ghozali
Imam Al-Ghozali berpandangan bahwa pendidikan didasarkan pada dua
hal yaitu: pertama, Pendidikan menuju kesempurnaan dalam pandangan Allah SWT; kedua,
Pendidikan mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat.
Menurutnya peserta didik harus membersihkan jiwa. Sebab letak ilmu
berada di jiwa yang bersih. Semakin bersih, maka semakin dalam ilmu pengetahuan
yang ia dapat. Selain itu, seorang peserta didik harus membersihkan jiwa dan
tidak boleh menyombongkan diri. Sebab ketika ia menyombongkan diri,
bertentangan dengan ilmu agama. Padahal tujuan ilmu pengetahuan yaitu untuk
mendekatkan diri kepada-Nya.
Pendidikan harus melahirkan akhlak yang
mulia. ia merupakan tabiat manusia yang dapat dilihat dalam dua bentuk, yaitu:
pertama, tabiat-tabiat fitrah, kekuatan tabiat pada asal kesatuan tubuh dan
memiliki kelanjutan selama hidup. Sebagian tabiat itu lebih kuat dan lebih lama
dibandingkan dengan tabiat lainnya. kedua, akhlak yang muncul dari suatu
perangai yang banyak diamalkan dan ditaati, menjadi bagian dari adat kebiasaan
yang berasal dari dirinya. Akhlak merupakan hasil dari iman
dan ibadat. Hal
ini disebabkan, karena
iman dan ibadat manusia tidak
sempurna kecuali kalau
dari situ muncul
akhlak yang mulia.
Penulis : Viki Zulfatul Aulia
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1139
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   712
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   890
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   861
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   978
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14208
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5540
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5209
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4542
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4044