Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Zuhud; Kekuatan Manusia Yang Tersembunyi



Rabu , 17 Desember 2025



Telah dibaca :  294

Hujan sudah reda saat saya sampai di Wisma Haston. Pak Imam Hakim menemaniku menuju Pelabuhan Roro. Hari ini belum jelas kapan Kapal Roro berangkat. Sekitar lokasi masuk Pelabuhan, deretan mobil beragam jenis masih belum bergerak. Loket penjual tiket masih tutup. Ada seorang bapak paruh baya yang duduk-duduk dibawah loket memberi tahu bahwa loket baru dibuka jam 16.00 WIB. Saya melihat HP, masih jam 13.35 WIB.

Saya berjalan kaki menuju Roro. Seorang diri. Hanya hujan dan angin laut yang setia mengiringi langkah ku hingga di bibir Roro. Namun, Kapal Roro belum ada. Harus menunggu hingga jam 16.00 WIB. 

Untuk menghibur diri, saya melihat-lihat Android. Ada sebuah video yang sangat menghibur. Sebuah pesan moral dari negeri para mullah, negeri yang berbeda dengan masyarakat kita-Sunni. Mereka adalah Islam Syi’ah yang sering ada dalam persepsi kita dengan gambaran-gambaran negatif-sebagian mereka juga melihat negatif kepada kita yang Sunni.

Tapi video ini bisa menjadi cermin kehidupan tentang makna pengabdian yang tulus dan makna kehidupan yang sejati di tengah-tengah sebagian orang memburu keindahan dunia. Saya sangat tertarik menulis isi dari video tersebut, kurang lebih begini isinya:

“Saudara sekalian, anda melihat dalam berbagai peristiwa terbaru betapa para pemimpin di Iran tinggal di gang kecil, di rumah sederhana dengan mobil biasa dan kehidupan yang sangat bersahaja. Ilmuwan nuklir terbesarnya tinggal di gang kecil, di apartemen tingkat 5, dengan kemauannya sendiri, padahal segala fasilitas ada di tangannya. Panglima IRGC tinggal di rumah sederhana, dan mobilnya pun sederhana, kepala staf angkatan bersenjata, kepala proyek rudal Iran Alm.Hajizadeh, semuanya tinggal di tempat-tempat bersahaya. Televisi menayangkan sejarah hidup mereka, dan fasilitas mereka. Maka haram hukumnya bagi orang yang mengaku bersama Republik Islam Iran, berada di garis wilayatul faqih, dan di jalur Islam, tidak menempuh garis-gaya hidup-yang sama. Pengadaan seremoni, prosesi, istana serta gengsi-gengsian dalam majelis dan kehidupan sehari-hari, baik untuk diri sendiri maupun anak dan keluarganya serta orang-orang yang terkait dengannya”.

Dalam kajian literatur klasik-kitab turost, umat Islam Sunni sebenarnya mempunyai hak paten untuk mempraktekan kehidupan hidup sebagaimana yang telah diajarkan oleh nabi, sahabat empat dan para penerus setelahnya. Sunni dalam referensi ilmu dan perilaku lebih kumplit ketimbang Syi’ah yang hanya bersandar kepada Ali bin Abi Thalib dan jalur keturunannya yang kemudian dikenal dengan ahlu bait. Namun jiwa ke-zuhud-an mereka benar-benar sebagai jalan hidup yang sangat mulia. kesederhanaan hidup dengan mengambil sedikit kebutuhan makan, tempat tinggal dan kendaraan merupakan replikasi-duplikat- dari kehidupan Ali bin Abi Thalib dan Fatimatu Zahrah.

Para ulama kita, para guru-guru kita sering menceritakan kisah kesederhanaan hidup keluarga Ali bin Abi Thalib. Sebagai seorang menantu Rasulullah dan sekaligus Kepala Negara, Ali masih setia mencari kayu bakar untuk dijual di Pasar. Sebagai seorang Putri Nabi, Fatimah masih setia mencuci baju dan mengambil air dari sumur sehingga telapak tangannya terkadang kulitnya mengelupas mengeluarkan darah. Hingga terkadang tangan nya pun tidak bisa untuk mengangkat air karena perih dan sakit.

Fatimah meminta kepada Ali-suaminya- menemui orang tuanya-Nabi Muhammad-agar ia berkenan memberi satu atau beberapa orang untuk menjadi pembantu di keluarganya.

Namun Nabi tidak memberinya seorang atau beberapa orang pembantu. Nabi memberi mereka berdua suatu yang lebih berharga dari semua itu, yaitu saat sebelum tidur membaca, Subhanallah, Alhmadulillah, Allahu Akbar masing-masing 33 kali.

Saya -mungkin juga anda- punya referensi keilmuwan yang sangat kumplit untuk mengikuti jejak-jejak para shalihin. Bangsa Indonesia yang mayoritas sunni mempunyai peluang untuk mengikuti lelaku hidup zuhud sebagaimana yang telah diajarkan oleh generasi keemasan pada masa dulu. namun kelihatannya, belum berhasil. Kita harus mengakui kalah beberapa langkah oleh kaum syi’ah yang lebih dahulu mempraktekan hidup zuhud sebagai sumber kekuatan batin, perasaan, intelektual, dan spiritual.

Bisa jadi kita masih terjebak dalam zuhud ritual yang tidak sampai pada pengubahan spiritual. Bisa jadi kita sudah terbiasa menangis saat sholat tajahud atau saat berada di depan Ka’bah. Tapi lagi-lagi kadang tangisannya bukan seputar kecintaan kepada Allah, tapi kecintaan kepada ciptaan-Nya. Tangisan doa kadang hanya berkisar pada perbaikan kehidupan ekonomi, kekayaan, jabatan, karir dan proyek-proyek tambang serta proyek-proyek hutan.

Mungkin sebagian orang masih memaknai kezuhudan seperti itu. Seolah-olah tidak butuh harta atau jabatan tapi sebenarnya sangat mengingingkan dengan balutan-balutan kesholehan penampilan diri. sehingga efek progresifitas perubahan ilmu dan peradaban mandeg. Justru yang terjadi adalah lahirnya budaya-budaya jahiliyah baru dalam wujud pengrusakan alam semesta secara sadis dan membahayakan keselamatan manusia.

Kezuhudan sebenarnya adalah kekosongan hati dari dunia dan hanya diisi mahabbah kepada Allah swt dan para kekasih-Nya. Para pelaku zuhud ini mengelola hati laksana sumber energi. Darinya pancaran ilahiyah yang super kuat yang mampu menggerakan spiritual, intelektual dan perasaan untuk melahirkan karya-karya terbaik nya. Manusia zuhud tidak pernah lelah untuk terus berkarya dan berbuat baik demi kemaslahatan agama dan negara serta bangsa. Para lelaku zuhud terlalu progresif untuk perbaikan-perbaikan peradaban dan memenuhi hajat orang banyak. Mereka berprinsip “khairunnas anfa’ahum linnas”-sebaik-baik manusia yang memberi manfaat kepada orang lain”. Prinsip hidup yang menjadi kekuatan ahli zuhud untuk terus menciptakan inovasi saint dan teknologi untuk peradaban dan sekaligus keadaban. Semakin maju peradaban semakin mendekatkan diri kepada Allah swt.

Konsep zuhud seperti ini nampaknya telah mengilhamkan masyarakat muslim Iran. Satu-satunya negara Islam yang maju dalam ilmu dan teknologi sejajar dengan negara barat hanya negara Iran-untuk saat sekarang ini. ia lahir dari konsep zuhud.

Saya kira muslim Sunni seperti Indonesia mempunyai SDM yang sangat bagus untuk menerapkan konsep zuhud yang demikian sebagaimana muslim Iran. Jika benar-benar diterapkan, zuhud menjadi ajaran yang sangat dahsyat sekali dalam merubah suatu peradaban bangsa dan negara Indonesia di masa depan.

Bisakah masyarakat muslim Indonesia menerapkan lelaku zuhud sebagai energi perubahan. Saya kurang tahu. Tidak usah jauh-jauh, saya sendiri sehari saja tidak makan sudah marah-marah sama istri dan ngomel-ngomel sayurnya kurang enak. Saya kelihatannya gagal dalam menerapkan makna zuhud. Masih materialisme. Saya belum mampu.

Saya tidak bisa menyaingi warga Iran saat tidak makan sehari, mereka akan mengatakan begini,”Saya malu mengeluh jika hanya sehari atau dua hari perut tidak diisi oleh makanan. Padahal semua penderitaan itu tidak sebanding dengan penderitaan Sayidina Husen di Padang Karbala untuk kemulyaan kami”.

Subhanallah, warga Iran malu untuk makan lebih kenyang dari fatimatu Zahrah dan Sayidina Husein. Mereka juga malu jika tidak bisa mempersembahkan umur nya untuk kemulyaan agama dan negara. Sungguh, makna zuhud yang telah menjadi kekuatan sejati umat Islam Iran-dan seharusnya umat Islam seluruh dunia wabil khusus Indonesia.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   110

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872