
ASPEK ONTOLOGI ILMU PENGETAHUAN
ORIENTASI KEARAH ONTOLOGI ILMU PENGETAHUAN
Socrates menggambarkan akal merpakan segalanya, dan merupakan pokok serta satu-satunya jalan yang dapat menuntun manusia menceri kebenaran. Ia berfilsafat unuk hidup, karena dengan berpikir maka eksistensinya sebagai manusia dapat dipertahankan. Filsafat jika ditinjau lebih mendalam lagi bukan sekadar ilmu logika yang lebih mengedepankan rasionalitas, karena filsafat merupakan pondasi awal dari segala macam disiplin keilmuan yang ada. Adapun ilmu merupakan suatu cabang pengetahuan yang berkembang dengan sangat pesat dari waktu ke waktu. Hampir seluruh aspek kehidupan manusia menggunakan ilmu, seperti agama, ekonomi, sosial, budaya dan teknologi.
Ilmu yaitu suatu hasil yang diperoleh akal sehat, ilmiah, empiris dan logis. Theo Marc dalam menyatakan, ilmu adalah segala sesuatu yang berawal dari pemikiran logis denga aksi yang ilmiah serta dapat dipertanggungjawabkan dengan bukti konkret. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa ilmu dalam bentuk yang baku haruslah mempunyai paradigma serta metode yang jelas yang jgua dikorelasikan dengan bukti yang empiris yang mampu diterapkan secara gamblang.
Filsafat ilmu yaitu bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistemologi. Epistemologi berasal dari bahasa yunani, yakni episcme yang berarti knowledge dan logos yang berarti teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier pada 1854 yang membuat dua cabang filsafat, yakni epistemologi dan ontologi, ontologi (teori tentang apa). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu yaitu dasar yang menjiwai dinamika proses keigatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah yaitu yang disebut pengetahuan atauilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah disistematikan dan diorganisasi sedemikan rupa, sehingga memenuhi asa pengaturan secara prosedural, metodologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingg memenuhi kesahehan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Adapaun pengetahuan yang tidak ilmiah yaitu yang masih tergologn pra-ilmiah.
Dalam ahl ini berupa pengetahuan hasil serapan indriawi yang secara sadar diperoleh, baik yang telah lama maupun baru didapat. Di samping itu termasuk yang diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran seperti ilham, intiusi, wangsit, atau wahyu. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah diperoleh secara sadar, aktif, sistematis, jelas prosesnya secara procedural, metodis dan teknis, tidak bersifat acak, kemudian diakhiri dengan verifikasi atau diuji kebenaran ilmiahnya. Adapun pengetahuan yang pra-ilmiah, walaupun sesungguhnya di peroleh secara sasar dan aktif namun bersifat acak, yaitu tanpa metode, apalagi yang berupa intiusi, sehingga tidak dimasukkan dalam ilmu.
Penulis : Imam Ghozali
Pencatatan Perkawinan
12 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   85
Beragam Perspektif Sosiologi Keluarga
08 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93
Qawaidul Fiqhiyah-bagian Kedua
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   158
Pembaharuan dalam Islam
02 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   344
Modern dan Modernisme
27 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   386
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2974
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2878