Sekitar jam 12.20 menit saya tiba di Bandara Banda Aceh. Ini pertama menginjak kaki di Tanah Rencong. Saya melihat kanan-kiri Bandara, jadi ingat rumah saya di Jawa Tengah tepatnya daerah banyumas. masih terlihat asri. Pohon-pohon masih tumbuh dengan merdeka. Mereka seolan-olah menyambut ku dengan senyum persahabatan yang luarbiasa.
Saya terus berjalan menuju pintu penjemputan tamu. Ada mahasiswa memegang kertas tertulis “ Penjemput tamu KKN serumpun Melayu”. Saya tersenyum, sambil bertanya: “Kamu nunggu siapa mas?” kata saya sambil meledeknya. Dia pun menjawab tamu dari Pekanbaru. Saya pun memperkenalkan diri bahwa saya dari Pekanbaru, naik pesawat nya, tapi asalnya dari STAIN Bengkalis. Ternyata obrolan yang sebenarnya tidak lucu, tapi entah karena logat saya yang terlalu “medok” Jawa nya, kami jadi tertawa bebas seperti sudah kenal lama.
Setelah sholat Ashar, saya dengan staff P3M dan mahasiswa berkeliling kota Banda Aceh. Tujuan utamanya masjid bersejarah yaitu Masjid Raya Baiturrahman. Saya duduk dekat samping supir Grab. Setelah perkenalan ala kadarnya, saya pun bertanya kepadanya kenangan masa lalu saat terjadi Tsunami.
Sang supir muda yang asli Aceh tersebut menjelaskan panjang lebar kejadian Tsunami sepanjang tempat perjalanan. Menurutnya, waktu itu sangat mengerikan. Gelombang laut mencapai dua meter-an menerjang sangat kuat. Mobil-mobil bagai mainan anak-anak berserakan di jalan, di atas gedung dan di atas pohon-pohon. Gedung hancur, rumah hancur dan semua hanyut, musnah, hilang. Hari itu adalah kesedihan yang mendalam bagi saudara-saudara kami di Aceh.
Saya tetap setia mendengarkan cerita nya. Namun kisah yang mengharu-biru tersebut tidak berlarut-larut. Sang supir kelihatannya telah mendapatkan suntikan ilmu batin yang mendalam, yaitu dari para leluhur Aceh yang ilmunya telah membasaih dan menyatu dengan masyarakat, yaitu keyakinan akan pertolongan Allah swt.
“ Pak, di antara keajaiban terjadi waktu Tsunami adalah Masjid Baiturrahman satu-satunya tempat yang tidak kemasukan air tsunami. Kami semua lari dan berlindung di Masjid tersebut.”
Saya pun diam, namun mata terus memotret kanan-kiri kota Banda Aceh. Saya membayangkan kejadian dulu saat tsunami dengan saat sekarang yang sudah begitu indah kota Banda Aceh. Pesona yang sangat mengagungkan. Seolah-olah kejadian masa lalu tidak pernah terjadi. Saya tidak menemukan bekas-bekas benda yang bisa diabadikan sebagai peringatan akan kejadian yang mengerikan tersebut. Mungkin saya lupa bertanya kepada supir tadi, atau mungkin juga sudah tidak perlu disimpan lagi bekas-bekas luka masa lalu yang kelam.
Saya turun dari mobil. Saya memandangi Masjid Raya Baiturrohman. Aura keagungan dan kewibawaan masjid sangat terasa. Masjid tempatnya berdzikir para kekasih Allah, masjid tempatnya mengkaji ilmu-ilmu agama dan masjid tersebut sebagai tempat perlawanan ulama dan pahlawan melawan para penjajah di tanah rencong. Relief dan tiang-tiang nya mengingatkan saya kepada keperkasaan Tengku Umar dan Cut Nyat Dien dan para pahlawan Aceh.
Pesona Aceh bukan sebatas pada bangunan fisik semata, namun sangat terlihat dari ketenangan masyarakat Aceh. Mereka sudah terbiasa menghadapi penderitaan. Mereka sudah terbiasa menghadapi ujian yang maha berat. Semua itu telah menjadi bumbu kehidupan yang menyebabkan mereka semakin arif dalam memaknai arti kehidupan yang sempurna, yaitu hidup adalah perjuangan dan kesuksesan. Dan perjuangan bisa berhasil ketika bekerjasama. Hal ini digambarkan dengan Tarian Saman, cepat, kompak dan tepat. Prinsip hidup dan filosofis tarian yang sangat sarat dengan nilai-nilai religius yang benar, yaitu mengukir kesuksesan di Dunia dan mengukir kemulyaan di Akherat.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879