Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Abrasi Senyum; Ancaman Rusaknya Peradaban



Jumat , 20 Januari 2023



Telah dibaca :  390

Ciri khas manusia Indonesia seutuhnya dan diwariskan secara turun-temnurun yaitu kebiaaan tersenyum ketika bertemu dengan seseorang, baik terhadap orang yang sudah kenal maupun yang belum di kenal. Ketika berpapasan, orang yang lebih muda bersikap hormat dengan ekspresi wajah ceria. Begitu juga orang yang lebih tua pun menyambutkan dengan cara yang sama; wajah memperlihatkan pancaran kasih-sayang. Ketika lama tidak bertemu, dan orang tersebut mempunyai ‘semacam’ hubungan keluarga, pernah menjadi muridnya, atau pernah menjadi tetangga dekatnya, maka pertemuan menjadi cerita yang sangat seru sekali. Ikatan batin terasa sekali sebagai bagian dari keluarga dan sangat ‘semedulur’, bergurau dan mengobrol seolah-olah keduanya telah menjadi bagian keluarganya. Itu sebabnya, kita kadang merasa kehilangan seseoranag ketika tetangga, teman kita dan siapa saja saat masih bersama-sama sebagai teman ‘guyonan’ telah pindah, atau pergi untuk selamanya. Kenangan ini akan selalu diingat sampai pada anak-anak nya, bahkan pada cucu-cunya.

Bangsa Indonesia seutuhnya yang suka tersnyum ini adalah tali persatuan jiwa dan raga dialam bawah sadar. Dari senyum ini mengalir kebiasaan bercanda atau dalam istilah Pesantren “gojlogan’. Bukan berarti tidak pernah marah. Kadang karena terlalu over acting, terjadi perkelahian. Namun beberapa hari berikutnya, mereka pun kumpul lagi seolah-olah tidak ada persoalan. Energi senyum yang menghubungkan pada kebiasaan bergurau telah membentuk masyarakat yang ramah, santun, dan menjunjung tinggi kemanusiaan, serta kuatnya komitmen persatuan dan kesatuan. Sehingg muncul istilah ‘rawa-rawe rantas, malang-malang putung adalah sebuah istilah persatuan yang kuat melawan segala bentuk penjajahan dari Barat. Terbukti efektif, dan berhasil.

Kebiasaan senyum berjamaah bukan perilaku orang-orang primitif. Saya menilai justru kebiasaan tersebut pada hakikat kemodernan yang natural dari ciptaan Allah adalah manusia-manusia yang berwajah ceriah. Karena wajah ini adalah wajah kepolosan dan kebersihan hati, kejernihan berfikir, dan tidak ada nya hasut, dengki dan sejenisnya.  Dari sini kemudian muncul suatu keadaran kolektif yang istilah digaungkan oleh kanjeng Nabi sebagai “Kal Jasadi Wahid”, laksana satu tubuh. Maka wajar saja apabila ada acara-acara seperti bersih-bersih selokan atau parit, mendirikan rumah atau ada hajatan mantenan atau sunnatan, Al-Barzanji pada pemberian nama anak, mereka secara sukarela datang dan membantu meringankan acara tersebut.

Ketika muncul istilah modernisasi yang ditandai adanya kemajuan mekanik, yang kata lagu ‘Nasida Ria’ sebagai kehidupan serba Mesin, Panca Indra manusia manusia memfokuskan dan menghabiskan pada hal-hal yang bersifat mekanik. Ini berimplikasi tradisi senyum berjamaah sudah mulai luntur. Apalagi saat ini memasuki era society 4.0, bahkan sudah 5.0, suatu istilah zaman yang membingungkan. Tapi kita dituntut agar tahu. Seandainya tidak tahu pun harus bergaya seolah-olah tahu agar kita bisa disebut manusia sudah modern secara kaffah. Namun kenyataanya, terjadi kemunduran masa modern yang disebutkan penulis di atas tadi telah terjadi secara besar-besaran. Penulis menggunakan istilah bahwa bangsa ini telah mengalami ‘Abrasi Senyum’ secara besar-besaran. Bahkan jika dihitung, wajah-wajah kita sudah tinggal batu karang, kedua mata laksana batu koral, keras, kaku, dan bersikap dingin acuh-tak acuh. Sungguh sebuah pemandangan bahwa wajah dan perilaku kita sudah sangat tidak subur dan terlihat sangat sulit untuk ditanami pohon-pohon senyum, tertawa ria, semedulur, dan empati terhadap orang-orang di sekitarnya. Sebuah pemandangan menyedihkan yang sering terlihat ketika kita melakukan perjalanan spiritual dan emosional dalam kehidupan sosial.

Namun tentu saja bukan berarti kita menyerah begitu saja. Bangsa Indonesia seutuhnya masih mempunyai Tanah Subur ‘mata batin’ yang masih bisa berbicara kebaikan-kebaikan di hati yang paling dalam, dan bangsa ini juga masih mempunyai stok “mata air’ intelektual yang melimpah untuk menyirami tanah-tanah tersebut supaya subur kembali. Kesadaran kolektif untuk membangun kembali menjadi bumi kehidupan yang ‘loh jinawi toto tentrem kerto raharjo’ masih punya harapan  terbuka lebar. Semoga kita bisa kembali ke fitrah dan segara terwujud suasana bahagia dengan hadirnya senyum-senyum natural warga Indonesia  seutuhnya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13569


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884