
Ciri khas manusia Indonesia seutuhnya dan
diwariskan secara turun-temnurun yaitu kebiaaan tersenyum ketika bertemu dengan
seseorang, baik terhadap orang yang sudah kenal maupun yang belum di kenal.
Ketika berpapasan, orang yang lebih muda bersikap hormat dengan ekspresi wajah
ceria. Begitu juga orang yang lebih tua pun menyambutkan dengan cara yang sama;
wajah memperlihatkan pancaran kasih-sayang. Ketika lama tidak bertemu, dan
orang tersebut mempunyai ‘semacam’ hubungan keluarga, pernah menjadi muridnya,
atau pernah menjadi tetangga dekatnya, maka pertemuan menjadi cerita yang
sangat seru sekali. Ikatan batin terasa sekali sebagai bagian dari keluarga dan
sangat ‘semedulur’, bergurau dan mengobrol seolah-olah keduanya telah menjadi bagian
keluarganya. Itu sebabnya, kita kadang merasa kehilangan seseoranag ketika
tetangga, teman kita dan siapa saja saat masih bersama-sama sebagai teman
‘guyonan’ telah pindah, atau pergi untuk selamanya. Kenangan ini akan selalu
diingat sampai pada anak-anak nya, bahkan pada cucu-cunya.
Bangsa Indonesia seutuhnya yang suka
tersnyum ini adalah tali persatuan jiwa dan raga dialam bawah sadar. Dari
senyum ini mengalir kebiasaan bercanda atau dalam istilah Pesantren “gojlogan’.
Bukan berarti tidak pernah marah. Kadang karena terlalu over acting, terjadi
perkelahian. Namun beberapa hari berikutnya, mereka pun kumpul lagi seolah-olah
tidak ada persoalan. Energi senyum yang menghubungkan pada kebiasaan bergurau
telah membentuk masyarakat yang ramah, santun, dan menjunjung tinggi
kemanusiaan, serta kuatnya komitmen persatuan dan kesatuan. Sehingg muncul
istilah ‘rawa-rawe rantas, malang-malang putung adalah sebuah istilah persatuan
yang kuat melawan segala bentuk penjajahan dari Barat. Terbukti efektif, dan
berhasil.
Kebiasaan senyum berjamaah bukan perilaku orang-orang primitif. Saya
menilai justru kebiasaan tersebut pada hakikat kemodernan yang natural dari
ciptaan Allah adalah manusia-manusia yang berwajah ceriah. Karena wajah ini
adalah wajah kepolosan dan kebersihan hati, kejernihan berfikir, dan tidak ada
nya hasut, dengki dan sejenisnya. Dari
sini kemudian muncul suatu keadaran kolektif yang istilah digaungkan oleh
kanjeng Nabi sebagai “Kal Jasadi Wahid”, laksana satu tubuh. Maka wajar saja
apabila ada acara-acara seperti bersih-bersih selokan atau parit, mendirikan
rumah atau ada hajatan mantenan atau sunnatan, Al-Barzanji pada pemberian nama
anak, mereka secara sukarela datang dan membantu meringankan acara tersebut.
Ketika muncul istilah modernisasi yang
ditandai adanya kemajuan mekanik, yang kata lagu ‘Nasida Ria’ sebagai kehidupan
serba Mesin, Panca Indra manusia manusia memfokuskan dan menghabiskan pada
hal-hal yang bersifat mekanik. Ini berimplikasi tradisi senyum berjamaah sudah
mulai luntur. Apalagi saat ini memasuki era society 4.0, bahkan sudah 5.0,
suatu istilah zaman yang membingungkan. Tapi kita dituntut agar tahu.
Seandainya tidak tahu pun harus bergaya seolah-olah tahu agar kita bisa disebut
manusia sudah modern secara kaffah. Namun kenyataanya, terjadi kemunduran masa
modern yang disebutkan penulis di atas tadi telah terjadi secara besar-besaran.
Penulis menggunakan istilah bahwa bangsa ini telah mengalami ‘Abrasi Senyum’
secara besar-besaran. Bahkan jika dihitung, wajah-wajah kita sudah tinggal batu
karang, kedua mata laksana batu koral, keras, kaku, dan bersikap dingin
acuh-tak acuh. Sungguh sebuah pemandangan bahwa wajah dan perilaku kita sudah
sangat tidak subur dan terlihat sangat sulit untuk ditanami pohon-pohon senyum,
tertawa ria, semedulur, dan empati terhadap orang-orang di sekitarnya. Sebuah pemandangan
menyedihkan yang sering terlihat ketika kita melakukan perjalanan spiritual dan
emosional dalam kehidupan sosial.
Namun tentu saja bukan berarti kita
menyerah begitu saja. Bangsa Indonesia seutuhnya masih mempunyai Tanah Subur ‘mata
batin’ yang masih bisa berbicara kebaikan-kebaikan di hati yang paling dalam,
dan bangsa ini juga masih mempunyai stok “mata air’ intelektual yang melimpah
untuk menyirami tanah-tanah tersebut supaya subur kembali. Kesadaran kolektif
untuk membangun kembali menjadi bumi kehidupan yang ‘loh jinawi toto tentrem
kerto raharjo’ masih punya harapan terbuka
lebar. Semoga kita bisa kembali ke fitrah dan segara terwujud suasana bahagia
dengan hadirnya senyum-senyum natural warga Indonesia seutuhnya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13569
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2988
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884