Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Agus Widodo, Pimpinan Bea Cukai dari Keluarga Santri



Kamis , 15 Mei 2025



Telah dibaca :  1087

Alhamdulillah acara MoU dan sekaligus pelaksaan MoA telah dilaksanakan antara Kantor Bea Cukai Kabupaten Bengkalis dan STAIN Bengkalis. Hadir langsung Kepala Kantor Bea Cukai, bapak Agus Widodo. Dari Kantor Bea Cukai ada cukup banyak. Saya lupa menghitungnya. Sekitar 14 orang. Beberapa yang saya kenal antara lain: Mas Haris, Mas Ari, Mas Yoga, Bang Badia, Mas Tama, Mas Iwan dan lain-lain. wilayah kerja Kantor Bea Cukai Sampai Kabupaten Kepulauan Meranti. Saya lihat beberapa hari lalu, pak Agus  juga sudah silaturahim dengan Wakil Bupati Kepulauan Meranti, bapak Muzamil.

Pertama bertemu kami langsung ngobrol. Pakai bahasa formal, bahasa Indonesia. Tapi lama-kelamaan logat Jawa Timur nya keluar. Saya tanya asalnya, ternyata dari Kediri. Suasana formal jadi hilang. Isinya guyon. Karena guyon terus, maka saya memanggil sahabat-sahabat ku dari Bea Cukai dengan panggilan “mas”. Lebih akrab. Apalagi sama Mas Yoga yang punya badan bongsor, asli Tegal istrinya Banyumas. Logat “ngapak”nya gampang keluar. Tapi intonasi-nya agak lembut karena pernah lama kuliah di Yogyakarta.

Mas Agus ternyata sangat dekat dengan dunia pesantren. Ia lahir di kediri. Rumahnya sebrang jalan dekat Pesantren Lirboyo. Dari pihak istrinya, masih punya hubungan saudara dengan ulama besar kediri yaitu almarhum KH. Douglas Toha Yahya atau Gus Lik. Ia merupakan ulama karismatik yang sangat dicintai oleh umat Islam di berbagai penjuru tanah air. Ia merupakan ulama yang sangat zuhud, sederhana. Setiap kajian ilmu, yang hadir ribuan jamaah nya. Ia ulama yang sangat langka di tengah-tengah kehidupan yang sangat hedonisme saat sekarang ini. Para muhibin sungguh sangat kehilangan sosok ulama panutan.

“Selesai MoU, kita lanjutkan kegiatan ngopi” kata Mas Agus. Saya mengangguk tertawa tanda setuju. Ma’lum, saya menemukan pejabat yang punya kesukaan sama, yaitu sama-sama suka ngopi.

Sebagai orang yang pernah hidup di lingkungan sekitar pesantren dan keluarga nya juga masih dari kalangan santri tentu kisah-kisah kehidupan santri sudah sangat familiar. Apalagi sebagai Pegawai Bea Cukai yang sudah keliling berbagai daerah di Indonesia , tentu sudah mengenal watak manusia yang beragam.

“Wes ora kaget aku mas delok perilaku manusia” kata Mas Agus.

Saya kira apa yang dikatakan oleh Mas Agus adalah filosofis orang tua dulu. Dalam hidup “ora usah gumunan” dan “ora usah kagetan”. Yang penting dalam hidup harus “eling” dan “waspodo”. Perilaku eling sebagai simbol kesadaran diri kepada Tuhan sebagai Sang Pencipta. Dan simbol waspada sebagai bentuk kesadaran hidup terhadap perubahan zaman yang sangat dinamis.

Berkaitan ajaran “eling”, KH.Helmi Muhammad menulis ajaran eling almaghfurllah KH. Ali Maksum Pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta sebagai berikut:

“eling-eling siro manungso, nemenono gonmu ngaji, mumpung durung katekanan malaikat juru pati” (ingatlah wahai manusia, bersungguh-sungguh dalam belajar agama. Selagi masih hidup).

Awak-awak wangsulono, pitakonku marang siro, seko ngendi siro iku, menyang endi tujuanmu ( coba saya mau bertanya kepada mu, kamu darimana dan akan kemana?).

Masih cukup banyak nasehat tentang sangkan paraning dumadi dari KH. Ali Maksum. Dan orang tua dulu, bentuk nasehat hampir mirip-mirip. Tidak jauh dari tiga hal: ojo lali karo sing gawe urip (tidak boleh lupa sama Allah), ojo lali nyambut gawe (jangan lupa bekerja), dan ojo lali bagus karo menungso (berbuat baik kepada sesama manusia).

Para orang tua masa dulu, meskipun mempunyai kemampuan memakai dalil Al-Qur’an dan dalil-dalil hadist jarang digunakan dalam kehidupan sosial. Orang tua dulu, atau para ulama dulu mendidik masyarakat dengan menggunakan pendekatan ajaran kemanusiaan. Ia menyampaikan saripati syariat yang dijabarkan dalam fiqh, tauhid, akhlak dan tasawuf. Mereka mampu meracik nasehat dan membumikan ajaran Islam dalam wujud ucapan, sikap dan perilaku sehari-hari. Sehingga orang tua-tua dulu segala ucapan dan perbuatannya “digugu” dan “ditiru”. Tirakat mereka telah melahirkan anak-anak yang kemudian hari menjadi generasi baik di masa nya.

Di akhir obrolan saat manusia sudah sangat fasih membaca ayat-ayat suci, kami sangat gelisah terhadap kondisi yang terjadi di masyarakat. Ada bayang-bayang  kelam masa depan generasi muda berupa narkoba dan pergaulan bebas. Ini bukan ilusi atau hayalan semata, tapi fakta yang sangat meresahkan masyarakat terutama para orang tua saat sekarang ini.

Sedih mendengar kisah tersebut. Kami pun sama-sama berharap dan berdoa, semoga keluarga kita dijauhkan dari hal-hal tersebut. Pertemuan hari ini ditutup saling mendoakan kebaikan. Semoga Mas Agus Widodo dan teman-teman nya senantiasa sukses dalam menjalankan tugas nya. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

MHD SHODIQ

Terbaik

   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872