
Alhamdulillah acara MoU dan sekaligus pelaksaan
MoA telah dilaksanakan antara Kantor Bea Cukai Kabupaten Bengkalis dan STAIN
Bengkalis. Hadir langsung Kepala Kantor Bea Cukai, bapak Agus Widodo. Dari Kantor
Bea Cukai ada cukup banyak. Saya lupa menghitungnya. Sekitar 14 orang. Beberapa yang
saya kenal antara lain: Mas Haris, Mas Ari, Mas Yoga, Bang Badia, Mas Tama, Mas
Iwan dan lain-lain. wilayah kerja Kantor Bea Cukai Sampai Kabupaten Kepulauan
Meranti. Saya lihat beberapa hari lalu, pak Agus juga sudah silaturahim dengan Wakil
Bupati Kepulauan Meranti, bapak Muzamil.
Pertama bertemu kami langsung ngobrol. Pakai
bahasa formal, bahasa Indonesia. Tapi lama-kelamaan logat Jawa Timur nya
keluar. Saya tanya asalnya, ternyata dari Kediri. Suasana formal jadi hilang. Isinya
guyon. Karena guyon terus, maka saya memanggil sahabat-sahabat ku dari Bea
Cukai dengan panggilan “mas”. Lebih akrab. Apalagi sama Mas Yoga yang punya
badan bongsor, asli Tegal istrinya Banyumas. Logat “ngapak”nya gampang
keluar. Tapi intonasi-nya agak lembut karena pernah lama kuliah di Yogyakarta.
Mas Agus ternyata sangat dekat dengan dunia
pesantren. Ia lahir di kediri. Rumahnya sebrang jalan dekat Pesantren Lirboyo. Dari
pihak istrinya, masih punya hubungan saudara dengan ulama besar kediri yaitu
almarhum KH. Douglas Toha Yahya atau Gus Lik. Ia merupakan ulama karismatik
yang sangat dicintai oleh umat Islam di berbagai penjuru tanah air. Ia
merupakan ulama yang sangat zuhud, sederhana. Setiap kajian ilmu, yang hadir
ribuan jamaah nya. Ia ulama yang sangat langka di tengah-tengah kehidupan yang
sangat hedonisme saat sekarang ini. Para muhibin sungguh sangat kehilangan
sosok ulama panutan.
“Selesai MoU, kita lanjutkan kegiatan ngopi”
kata Mas Agus. Saya mengangguk tertawa tanda setuju. Ma’lum, saya menemukan
pejabat yang punya kesukaan sama, yaitu sama-sama suka ngopi.
Sebagai orang yang pernah hidup di
lingkungan sekitar pesantren dan keluarga nya juga masih dari kalangan santri
tentu kisah-kisah kehidupan santri sudah sangat familiar. Apalagi sebagai Pegawai
Bea Cukai yang sudah keliling berbagai daerah di Indonesia , tentu sudah
mengenal watak manusia yang beragam.
“Wes ora kaget aku mas delok perilaku
manusia” kata Mas
Agus.
Saya kira apa yang dikatakan oleh Mas Agus adalah
filosofis orang tua dulu. Dalam hidup “ora usah gumunan” dan “ora
usah kagetan”. Yang penting dalam hidup harus “eling” dan “waspodo”.
Perilaku eling sebagai simbol kesadaran diri kepada Tuhan sebagai Sang
Pencipta. Dan simbol waspada sebagai bentuk kesadaran hidup terhadap perubahan
zaman yang sangat dinamis.
Berkaitan ajaran “eling”, KH.Helmi Muhammad
menulis ajaran eling almaghfurllah KH. Ali Maksum Pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta
sebagai berikut:
“eling-eling siro manungso, nemenono gonmu
ngaji, mumpung durung katekanan malaikat juru pati” (ingatlah wahai manusia,
bersungguh-sungguh dalam belajar agama. Selagi masih hidup).
Awak-awak wangsulono, pitakonku marang
siro, seko ngendi siro iku, menyang endi tujuanmu ( coba saya mau bertanya kepada mu, kamu
darimana dan akan kemana?).
Masih cukup banyak nasehat tentang sangkan
paraning dumadi dari KH. Ali Maksum. Dan orang tua dulu, bentuk nasehat
hampir mirip-mirip. Tidak jauh dari tiga hal: ojo lali karo sing gawe urip
(tidak boleh lupa sama Allah), ojo lali nyambut gawe (jangan lupa bekerja),
dan ojo lali bagus karo menungso (berbuat baik kepada sesama manusia).
Para orang tua masa dulu, meskipun
mempunyai kemampuan memakai dalil Al-Qur’an dan dalil-dalil hadist jarang
digunakan dalam kehidupan sosial. Orang tua dulu, atau para ulama dulu mendidik
masyarakat dengan menggunakan pendekatan ajaran kemanusiaan. Ia menyampaikan
saripati syariat yang dijabarkan dalam fiqh, tauhid, akhlak dan tasawuf. Mereka
mampu meracik nasehat dan membumikan ajaran Islam dalam wujud ucapan, sikap dan
perilaku sehari-hari. Sehingga orang tua-tua dulu segala ucapan dan
perbuatannya “digugu” dan “ditiru”. Tirakat mereka telah
melahirkan anak-anak yang kemudian hari menjadi generasi baik di masa nya.
Di akhir obrolan saat manusia sudah sangat
fasih membaca ayat-ayat suci, kami sangat gelisah terhadap kondisi yang terjadi
di masyarakat. Ada bayang-bayang kelam masa
depan generasi muda berupa narkoba dan pergaulan bebas. Ini bukan ilusi atau
hayalan semata, tapi fakta yang sangat meresahkan masyarakat terutama para
orang tua saat sekarang ini.
Sedih mendengar kisah tersebut. Kami pun
sama-sama berharap dan berdoa, semoga keluarga kita dijauhkan dari hal-hal tersebut.
Pertemuan hari ini ditutup saling mendoakan kebaikan. Semoga Mas Agus Widodo dan
teman-teman nya senantiasa sukses dalam menjalankan tugas nya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
MHD SHODIQ
Terbaik
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872