
Selesai sesi perlombaan KTIQ, semua peserta
yang masuk final dan guru-guru pendampingnya menyalami dewan hakim. Satu-persatu
gantian bersalaman. Setelah selesai, dewan hakim pun duduk di kursi
masing-masing. Ada satu peserta putri datang kepadaku dan mengatakan bahwa dia
telah membaca beberapa tulisan saya di Riau Pos. Saya kaget. Satu sisi saya
senang mendengar ada orang yang suka membaca tulisanku. Berarti ada manfaatnya.
Tapi satu sisi saya kagum, betapa kreatif peserta tadi dalam
menggali sumber-sumber literasi, rujukan, atau hanya sebatas untuk menambah
wawasan ilmu pengetahuan agama. Termasuk tulisan-tulisan yang pernah ditulis
oleh para dewan hakim tadi.
Pak Said Nur, MA salah satu sahabat saya
yang baik hati, dan kebetulan sama-sama
menjadi dewan hakim membisiki telinga kiri ku, ‘Peserta tadi adalah mahasiswi berpretasi
dan teladan di Malang. Juara debat tingkat nasional, dan juara dua di Singapura”.
Saya salut atas prestasinya. Namun saya lupa namanya dan nomor urutnya. Saya memang
gampang lupa mengingat nama dan nomor urut di setiap perlombaan KTIQ. Namun dalam
hati saya mengagumi penampilannya. Dari cara menyampaikan presentasi, kelihatannya
dia cukup banyak membaca buku dan bahan-bahan bacaan lainya, ditambah lagi
kemampuannya menguasai emosionalnya di panggung, sehingga paparan cukup baik dalam
menyampaikan argumentasi-argumentasi setiap pertanyaan yang diberikan oleh para
dewan hakim KTIQ.
Sebenarnya kisah di atas sebatas prolog untuk
mengatakan bahwa membangun kepribadian terpuji dan menebarkan kebaikan yang sering
disebut dengan kata suri tauladan di masa saat sekarang ini ternyata
tidak sebatas pada ucapan dan perilaku face to face secara langsung. Namun juga
di era digitalisasi saat ini, hidup kita sudah seperti rumah kaca yang
tembus-pandang. Siapapun sudah bisa menilai kita melalui catatan-catatan yang
tertinggal di “slempitan” internet dengan sangat mudah. Bahkan sudah
dihapus pun bisa dicari dan dihidupkan kembali seperti semula.
Berkaitan dengan suri tauladan yang
menurut orang-orang ahli agama mengambil dari sabda Nabi, “Saya diutus tiada
lain untuk menyempurnakan akhlak al-karimah”. Suri tauladan atau akhlak
karimah adalah wujud dari perilaku secara spontanitas keseharian kita. Bukan
hasil dari rekayasa pribadi agar terlihat baik dihadapan orang, tapi dihadapan
kelompok tertentu melakukan sebaliknya. Akhlak benar-benar penggambungan lahir
dan batin. Perilaku ini akan memancar secara alamiah dari tubuhnya. Orang-orang
yang dekat denganya akan dengan mudah bisa mengambil pelajaran hidup. Sebab duduk,
bicara, perbuatan dan bahkan diamnya menjadi ilmu. Itulah akhlak. Tidak peduli
siapa kita, pejabat, ulama, atau rakyat jelata. Ketika menemukan orang seperti
ini, berarti kita masuk dalam pertamanan Surga yang kata nabi kualitas taman
ini lebih memberi berkah daripada sholat sunnah seribu rokaat.
Akhlak sebagai cermin kualitas diri adalah
perilaku yang tidak lepas dari apa yang di sebut trial and eror, mencoba
secara terus-menerus dan kadang mengalami suatu kesalahan. Ini wajar dan pasti
terjadi pada diri manusia. Kita tidak bisa menuntut orang yang kita cintai atau
tokoh yang kita puja seperti dewa dan tidak ada cacat sama sekali. Itu tidak
mungkin. Sebab manusia diciptakan bukan untuk menjadi malaikat, dan bukan juga
untuk menjadi iblis. Manusia yang sering disebut dengan “ahsanitaqwim” adalah
manusia yang paling sempurna desain fisik dan komponennya. Kita boleh
mengartikan apa saja, boleh. Ahmad Dani mengartikan sebagai “Makhluk Tuhan Yang
Paling Seksi”. Sebab dia melihat dari sudut wanita dan sensualitasnya mulai
dari ujung rambut sampai pada ujung kaki. Apapun tafsir tentang manusia,
manusia ada dua komponen; nafsu dan akal. Nafsu selalu mengajak pada perbuatan
yang tidak terpuji, sedangkan akal senantiasa mengajak kepada perbuatan
terpuji. Semua diberi porsi sama oleh Allah s.w.t. Sedangkan manusia diberi
kebebasan untuk mengoperasionalkan keduanya dengan cara yang benar. Dari sini Tuhan
memberi kesempatan kepada manusia untuk senantiasa melatih diri cara
mengendalikan nafsu dengan strategi yang ada pada dirinya.
Seperti anak kecil yang berumur 14 tahun
saat di bulan Ramadhan, dia terasa berat untuk melanjutkan puasa saat memasuki
tengah hari. Udara panas, dan di depan nya tersedia air putih bisa mengubah cara
berfikir. Karena kondisi ini, dia melihat air putih di gelas kaca berubah
menjadi minuman yang sangat enak sekali. Ironis lagi, jika sudah ada sedikit
rasa sakit di perut, bisikan hati pun muncul, “minum air putih lebih baik
daripada meneruskan puasa jika berakibat sakit lebih parah.” Akhirnya dia pun
minum. Puasa hari itu gagal. Setelah minum dia menyesal. Tapi penyesalan sudah
tidak ada gunanya. Bagaimanapun, anak tadi harus belajar lagi menahan nafsu
agar puasanya bisa selesai. Sehingga dia akan mendapatkan kebahagiaan yang
luarbiasa saat berbuka. Dia bisa bercerita kepada orang tua, saudara, dan
teman-temanya. Secara psikologi dia semakin bahagia bisa melaksanakan puasa,
sehingga badan pun semakin sehat[walaupun saat puasa dia lemas]. Sebab salah
satu sumber kesehatan adalah kebahagiaan yang lahir dari jiwa yang paling
dalam. Seluruh komponen tubuh berjalan dengan normal, semua berdzikir dan
mengharapkan ampunan serta selamat dunia dan akhirat.
Akhlak adalah sebuah proses perjalanan
hidup. Jatuh bangun menuju kesempurnaan selalu penuh ujian dan rintangan. Satu lembar
Tisu untuk mengusap air mata penyesalan atas segala dosa akan akan menjadi baju
yang bisa menutup panasnya jilatan Api Neraka. Semoga memasuki bulan romadhan
nanti, kita benar-benar sudah siap menerima ilmu-ilmu akhlak dan bisa
diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amin.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2982
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884