Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Akhlak dan Selembar Kertas Tisu



Kamis , 16 Maret 2023



Telah dibaca :  287

Selesai sesi perlombaan KTIQ, semua peserta yang masuk final dan guru-guru pendampingnya menyalami dewan hakim. Satu-persatu gantian bersalaman. Setelah selesai, dewan hakim pun duduk di kursi masing-masing. Ada satu peserta putri datang kepadaku dan mengatakan bahwa dia telah membaca beberapa tulisan saya di Riau Pos. Saya kaget. Satu sisi saya senang mendengar ada orang yang suka membaca tulisanku. Berarti ada manfaatnya. Tapi satu sisi saya kagum, betapa kreatif peserta tadi dalam menggali sumber-sumber literasi, rujukan, atau hanya sebatas untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan agama. Termasuk tulisan-tulisan yang pernah ditulis oleh para dewan hakim tadi.

Pak Said Nur, MA salah satu sahabat saya yang baik hati, dan kebetulan  sama-sama menjadi dewan hakim membisiki telinga kiri ku, ‘Peserta tadi adalah mahasiswi berpretasi dan teladan di Malang. Juara debat tingkat nasional, dan juara dua di Singapura”. Saya salut atas prestasinya. Namun saya lupa namanya dan nomor urutnya. Saya memang gampang lupa mengingat nama dan nomor urut di setiap perlombaan KTIQ. Namun dalam hati saya mengagumi penampilannya. Dari cara menyampaikan presentasi, kelihatannya dia cukup banyak membaca buku dan bahan-bahan bacaan lainya, ditambah lagi kemampuannya menguasai emosionalnya di panggung, sehingga paparan cukup baik dalam menyampaikan argumentasi-argumentasi setiap pertanyaan yang diberikan oleh para dewan hakim KTIQ.

Sebenarnya kisah di atas sebatas prolog untuk mengatakan bahwa membangun kepribadian terpuji dan menebarkan kebaikan yang sering disebut dengan kata suri tauladan di masa saat sekarang ini ternyata tidak sebatas pada ucapan dan perilaku face to face secara langsung. Namun juga di era digitalisasi saat ini, hidup kita sudah seperti rumah kaca yang tembus-pandang. Siapapun sudah bisa menilai kita melalui catatan-catatan yang tertinggal di “slempitan” internet dengan sangat mudah. Bahkan sudah dihapus pun bisa dicari dan dihidupkan kembali seperti semula.

Berkaitan dengan suri tauladan yang menurut orang-orang ahli agama mengambil dari sabda Nabi, “Saya diutus tiada lain untuk menyempurnakan akhlak al-karimah”. Suri tauladan atau akhlak karimah adalah wujud dari perilaku secara spontanitas keseharian kita. Bukan hasil dari rekayasa pribadi agar terlihat baik dihadapan orang, tapi dihadapan kelompok tertentu melakukan sebaliknya. Akhlak benar-benar penggambungan lahir dan batin. Perilaku ini akan memancar secara alamiah dari tubuhnya. Orang-orang yang dekat denganya akan dengan mudah bisa mengambil pelajaran hidup. Sebab duduk, bicara, perbuatan dan bahkan diamnya menjadi ilmu. Itulah akhlak. Tidak peduli siapa kita, pejabat, ulama, atau rakyat jelata. Ketika menemukan orang seperti ini, berarti kita masuk dalam pertamanan Surga yang kata nabi kualitas taman ini lebih memberi berkah daripada sholat sunnah seribu rokaat.

Akhlak sebagai cermin kualitas diri adalah perilaku yang tidak lepas dari apa yang di sebut trial and eror, mencoba secara terus-menerus dan kadang mengalami suatu kesalahan. Ini wajar dan pasti terjadi pada diri manusia. Kita tidak bisa menuntut orang yang kita cintai atau tokoh yang kita puja seperti dewa dan tidak ada cacat sama sekali. Itu tidak mungkin. Sebab manusia diciptakan bukan untuk menjadi malaikat, dan bukan juga untuk menjadi iblis. Manusia yang sering disebut dengan “ahsanitaqwim” adalah manusia yang paling sempurna desain fisik dan komponennya. Kita boleh mengartikan apa saja, boleh. Ahmad Dani mengartikan sebagai “Makhluk Tuhan Yang Paling Seksi”. Sebab dia melihat dari sudut wanita dan sensualitasnya mulai dari ujung rambut sampai pada ujung kaki. Apapun tafsir tentang manusia, manusia ada dua komponen; nafsu dan akal. Nafsu selalu mengajak pada perbuatan yang tidak terpuji, sedangkan akal senantiasa mengajak kepada perbuatan terpuji. Semua diberi porsi sama oleh Allah s.w.t. Sedangkan manusia diberi kebebasan untuk mengoperasionalkan keduanya dengan cara yang benar. Dari sini Tuhan memberi kesempatan kepada manusia untuk senantiasa melatih diri cara mengendalikan nafsu dengan strategi yang ada pada dirinya.

Seperti anak kecil yang berumur 14 tahun saat di bulan Ramadhan, dia terasa berat untuk melanjutkan puasa saat memasuki tengah hari. Udara panas, dan di depan nya tersedia air putih bisa mengubah cara berfikir. Karena kondisi ini, dia melihat air putih di gelas kaca berubah menjadi minuman yang sangat enak sekali. Ironis lagi, jika sudah ada sedikit rasa sakit di perut, bisikan hati pun muncul, “minum air putih lebih baik daripada meneruskan puasa jika berakibat sakit lebih parah.” Akhirnya dia pun minum. Puasa hari itu gagal. Setelah minum dia menyesal. Tapi penyesalan sudah tidak ada gunanya. Bagaimanapun, anak tadi harus belajar lagi menahan nafsu agar puasanya bisa selesai. Sehingga dia akan mendapatkan kebahagiaan yang luarbiasa saat berbuka. Dia bisa bercerita kepada orang tua, saudara, dan teman-temanya. Secara psikologi dia semakin bahagia bisa melaksanakan puasa, sehingga badan pun semakin sehat[walaupun saat puasa dia lemas]. Sebab salah satu sumber kesehatan adalah kebahagiaan yang lahir dari jiwa yang paling dalam. Seluruh komponen tubuh berjalan dengan normal, semua berdzikir dan mengharapkan ampunan serta selamat dunia dan akhirat.

Akhlak adalah sebuah proses perjalanan hidup. Jatuh bangun menuju kesempurnaan selalu penuh ujian dan rintangan. Satu lembar Tisu untuk mengusap air mata penyesalan atas segala dosa akan akan menjadi baju yang bisa menutup panasnya jilatan Api Neraka. Semoga memasuki bulan romadhan nanti, kita benar-benar sudah siap menerima ilmu-ilmu akhlak dan bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884